Malam turun seperti tirai beludru di sebuah restoran mewah yang lampunya redup namun tak pernah benar-benar gelap.
Zlata Restaurace, Praha memang merupakan tempat yang romantis bagi pasangan kekasih untuk menikmati makan malam yang romantis.
Di antara aroma mentega hangat dan gelas berkilau, seorang gadis cantik dengan wajah oriental yang terlihat anggun, duduk dengan tenang seraya menatap jendela kaca di sampingnya yang menampilkan pemandangan indah kota Praha dari atas restoran.
Dari meja terbaik di ruang makan utama restoran mewah itu, Tang Xing Yuan bisa melihat lampu gantung berkilau di atas meja-meja lain, gelas-gelas bening yang saling bersentuhan setiap kali tawa pecah, dan senyum para tamu yang seolah selalu punya alasan untuk menghangatkan diri.
"Kenapa Yi Chen belum datang juga? Dia bilang dia hanya akan mengambil sesuatu yang tertinggal dan menyuruhku datang lebih dulu dan menunggunya. Tapi kenapa sampai sekarang belum tiba?"
Tak terhitung berapa kali Tang Xing Yuan menoleh ke arah pintu setiap kali dia mendengar langkah kaki seseorang di kejauhan, namun setiap kali pula dia dikecewakan.
Detik demi detik berlalu. Tanpa terasa sudah dua jam dia menunggu Seiring berlalunya waktu, kegelisahan dalam hatinya semakin dalam.
"Apa mungkin terjadi sesuatu padanya?"
Seolah mengerti kegundahan hatinya, langit yang tadinya cerah mendadak turun hujan. Pemandangan kota yang awalnya indah dengan cahaya lampu berkelap-kelip dari gedung-gedung bertingkat kini sepenuhnya tertutup kabut tipis yang mengaburkan pandangan.
Entah sudah berapa kali dia menekan layar ponselnya, berharap seseorang di ujung sana mengangkat dan menjawab telepon darinya. Tapi tidak peduli berapa kali dia berusaha menghubungi nomor tersebut, yang ada hanyalah kehampaan.
-----
Shanghai, China...
Seorang pria muda bertubuh tinggi dan berwajah tampan, dengan mengenakan setelan jas mahal, sedang berdiri di balkon seraya memandang bintang seorang diri. Setelan jas mahal yang dikenakannya menunjukkan bahwa dia memiliki status sosial yang tinggi.
Namun walau memiliki wajah yang luar biasa tampan, sayangnya pria muda itu memiliki aura suram yang membuatnya terlihat sangat susah didekati. Segelas anggur merah tergenggam di tangan kirinya namun sepertinya dia tidak berniat meminumnya.
Suara musik samar-samar terdengar dari dalam ruangan. Di dalam ruangan itu, tampak sekumpulan orang berpakaian mewah, mereka tertawa, berbincang dengan senyuman dan bahkan ada yang sibuk berdansa. Semuanya bergembira, semuanya, kecuali dirinya.
"Xuan Feng, apa yang kau lakukan di sini? Kenapa kau tidak masuk ke dalam perjamuan? Banyak mitra bisnis yang mencarimu untuk menawarkan kerja sama. Dan banyak gadis muda yang berharap bisa berdansa denganmu."
Seorang pria muda lain berjalan keluar. Dia tampak tak kalah tampannya dengan pria muda yang berdiri di balkon saat ini.
"Dia pasti sudah melamarnya, kan?" nada suara penuh kepahitan itu terdengar sangat jelas.
"Seharusnya seperti itu." sahut si pria muda yang baru saja melangkah ke balkon seraya melirik temannya dengan tatapan iba. Dua pria muda berwajah tampan berdiri di balkon alih-alih berada di tengah pesta perjamuan.
"Aku berharap mereka bahagia." Walau mengucapkan doa yang tulus, namun nada sakit hati itu terdengar begitu jelas. Si tampan itu menundukkan kepalanya, berusaha menyembunyikan kesedihan dan rasa sakit di hatinya.
"Xuan Feng, aku sungguh tidak mengerti denganmu! Jika kau menyukai Yuanyuan, kenapa kau tidak mengejarnya? Kenapa kau hanya diam saja melihat mereka bersama?"
"Apakah jika aku mengejarnya, dia akan menyukaiku? Di dalam hatinya sudah ada Song Yi Chen."
Jawaban itu membuat pria muda di sampingnya tak mampu berkata-kata.
"Setidaknya kau sudah berusaha."
Entah kenapa, rasanya dia ingin membantah ucapan sahabatnya ini. Kenapa harus menyerah begitu saja? Kejarlah! Rebutlah dia! Kenapa harus membuat dirimu sendiri menderita? Ahhh, rasanya dia ingin membenturkan kepala sahabatnya ini ke dinding agar dia sadar.
"Apa kau tahu, Ling Xiao? Cinta akan menjadi mulia bila tidak mengharapkan apa-apa. Asalkan dia tersenyum bahagia, aku akan bahagia untuknya." Seulas senyuman tulus namun pahit tersungging di bibirnya.
"Bodoh!" umpat Ye Ling Xiao kesal.
Dia dan Lu Xuan Feng adalah sahabat sejak kecil, sebenarnya tak hanya mereka berdua tapi mereka berempat: Lu Xuan Feng, Ye Ling Xiao, Song Yi Chen dan Jiang Wu Yu. Mereka berempat adalah pewaris generasi kedua keluarga konglomerat yang kaya raya di Shanghai, bahkan Tiongkok, namun ironisnya, dua dari mereka kebetulan menyukai gadis yang sama, Tang Xing Yuan.
Dan sialnya lagi, Lu Xuan Feng adalah type pria yang pendiam, seorang introvert yang tidak banyak bicara dan tak tahu bagaimana cara menunjukkan perasaannya. Itu sebabnya dia kalah telak dengan Song Yi Chen, sang sahabat yang memiliki kepribadian extrovert dan lebih pandai bergaul.
Dan malam ini, seharusnya menjadi hari di mana Song Yi Chen melamar Tang Xing Yuan. Itu sebabnya Lu Xuan Feng tampak sangat muram dan dingin. Gadis yang diam-diam dicintainya akan menikah dengan sahabatnya sendiri, pria mana yang tidak patah hati?
"Aku masih berharap ada satu keajaiban dan kau akan mendapatkan kesempatan untuk mengejarnya." Ye Ling Xiao tak menyerah, dia masih berharap sahabatnya Xuan Feng bisa mendapatkan kesempatan untuk bersaing sekali lagi.
Zlata Restaurace, Praha memang merupakan tempat yang romantis bagi pasangan kekasih untuk menikmati makan malam yang romantis.
Di antara aroma mentega hangat dan gelas berkilau, seorang gadis cantik dengan wajah oriental yang terlihat anggun, duduk dengan tenang seraya menatap jendela kaca di sampingnya yang menampilkan pemandangan indah kota Praha dari atas restoran.
Dari meja terbaik di ruang makan utama restoran mewah itu, Tang Xing Yuan bisa melihat lampu gantung berkilau di atas meja-meja lain, gelas-gelas bening yang saling bersentuhan setiap kali tawa pecah, dan senyum para tamu yang seolah selalu punya alasan untuk menghangatkan diri.
Dalam keheningan, ia menatap jam tangan yang jarumnya bergerak pelan, perlahan rasa gelisah mulai merasuki hatinya.
"Kenapa Yi Chen belum datang juga? Dia bilang dia hanya akan mengambil sesuatu yang tertinggal dan menyuruhku datang lebih dulu dan menunggunya. Tapi kenapa sampai sekarang belum tiba?"
Tak terhitung berapa kali Tang Xing Yuan menoleh ke arah pintu setiap kali dia mendengar langkah kaki seseorang di kejauhan, namun setiap kali pula dia dikecewakan.
Detik demi detik berlalu. Tanpa terasa sudah dua jam dia menunggu Seiring berlalunya waktu, kegelisahan dalam hatinya semakin dalam.
"Apa mungkin terjadi sesuatu padanya?"
Seolah mengerti kegundahan hatinya, langit yang tadinya cerah mendadak turun hujan. Pemandangan kota yang awalnya indah dengan cahaya lampu berkelap-kelip dari gedung-gedung bertingkat kini sepenuhnya tertutup kabut tipis yang mengaburkan pandangan.
Entah sudah berapa kali dia menekan layar ponselnya, berharap seseorang di ujung sana mengangkat dan menjawab telepon darinya. Tapi tidak peduli berapa kali dia berusaha menghubungi nomor tersebut, yang ada hanyalah kehampaan.
-----
Shanghai, China...
Seorang pria muda bertubuh tinggi dan berwajah tampan, dengan mengenakan setelan jas mahal, sedang berdiri di balkon seraya memandang bintang seorang diri. Setelan jas mahal yang dikenakannya menunjukkan bahwa dia memiliki status sosial yang tinggi.
Namun walau memiliki wajah yang luar biasa tampan, sayangnya pria muda itu memiliki aura suram yang membuatnya terlihat sangat susah didekati. Segelas anggur merah tergenggam di tangan kirinya namun sepertinya dia tidak berniat meminumnya.
Suara musik samar-samar terdengar dari dalam ruangan. Di dalam ruangan itu, tampak sekumpulan orang berpakaian mewah, mereka tertawa, berbincang dengan senyuman dan bahkan ada yang sibuk berdansa. Semuanya bergembira, semuanya, kecuali dirinya.
"Xuan Feng, apa yang kau lakukan di sini? Kenapa kau tidak masuk ke dalam perjamuan? Banyak mitra bisnis yang mencarimu untuk menawarkan kerja sama. Dan banyak gadis muda yang berharap bisa berdansa denganmu."
Seorang pria muda lain berjalan keluar. Dia tampak tak kalah tampannya dengan pria muda yang berdiri di balkon saat ini.
"Dia pasti sudah melamarnya, kan?" nada suara penuh kepahitan itu terdengar sangat jelas.
"Seharusnya seperti itu." sahut si pria muda yang baru saja melangkah ke balkon seraya melirik temannya dengan tatapan iba. Dua pria muda berwajah tampan berdiri di balkon alih-alih berada di tengah pesta perjamuan.
"Aku berharap mereka bahagia." Walau mengucapkan doa yang tulus, namun nada sakit hati itu terdengar begitu jelas. Si tampan itu menundukkan kepalanya, berusaha menyembunyikan kesedihan dan rasa sakit di hatinya.
"Xuan Feng, aku sungguh tidak mengerti denganmu! Jika kau menyukai Yuanyuan, kenapa kau tidak mengejarnya? Kenapa kau hanya diam saja melihat mereka bersama?"
"Apakah jika aku mengejarnya, dia akan menyukaiku? Di dalam hatinya sudah ada Song Yi Chen."
Jawaban itu membuat pria muda di sampingnya tak mampu berkata-kata.
"Setidaknya kau sudah berusaha."
Entah kenapa, rasanya dia ingin membantah ucapan sahabatnya ini. Kenapa harus menyerah begitu saja? Kejarlah! Rebutlah dia! Kenapa harus membuat dirimu sendiri menderita? Ahhh, rasanya dia ingin membenturkan kepala sahabatnya ini ke dinding agar dia sadar.
"Apa kau tahu, Ling Xiao? Cinta akan menjadi mulia bila tidak mengharapkan apa-apa. Asalkan dia tersenyum bahagia, aku akan bahagia untuknya." Seulas senyuman tulus namun pahit tersungging di bibirnya.
"Bodoh!" umpat Ye Ling Xiao kesal.
Dia dan Lu Xuan Feng adalah sahabat sejak kecil, sebenarnya tak hanya mereka berdua tapi mereka berempat: Lu Xuan Feng, Ye Ling Xiao, Song Yi Chen dan Jiang Wu Yu. Mereka berempat adalah pewaris generasi kedua keluarga konglomerat yang kaya raya di Shanghai, bahkan Tiongkok, namun ironisnya, dua dari mereka kebetulan menyukai gadis yang sama, Tang Xing Yuan.
Dan sialnya lagi, Lu Xuan Feng adalah type pria yang pendiam, seorang introvert yang tidak banyak bicara dan tak tahu bagaimana cara menunjukkan perasaannya. Itu sebabnya dia kalah telak dengan Song Yi Chen, sang sahabat yang memiliki kepribadian extrovert dan lebih pandai bergaul.
Dan malam ini, seharusnya menjadi hari di mana Song Yi Chen melamar Tang Xing Yuan. Itu sebabnya Lu Xuan Feng tampak sangat muram dan dingin. Gadis yang diam-diam dicintainya akan menikah dengan sahabatnya sendiri, pria mana yang tidak patah hati?
"Aku masih berharap ada satu keajaiban dan kau akan mendapatkan kesempatan untuk mengejarnya." Ye Ling Xiao tak menyerah, dia masih berharap sahabatnya Xuan Feng bisa mendapatkan kesempatan untuk bersaing sekali lagi.
Seolah Tuhan mendengar harapannya, beberapa saat kemudian Xuan Feng merasakan getaran di ponselnya. Dengan enggan, dia mengeluarkan ponselnya dari saku celananya, ingin melihat siapa orang bodoh yang mengganggu waktunya.
Namun keterkejutan muncul di wajah Xuan Feng setelah melihat identitas sang penelpon.
"Xing'er."
"Kakak Feng, dia menghilang! Aku kehilangan dia!" suara seorang gadis yang menangis sedih dan putus asa terdengar dari ujung saluran.
Kalimat "aku kehilangan dia" membuat Xuan Feng terkejut dan untuk sekejap membuatnya tak mampu berkata-kata.
"Siapa yang hilang? Xing'er, jangan menangis. Ceritakan padaku pelan-pelan." suara Xuan Feng terdengar tenang, namun Tuhan tahu betapa panik dan gelisahnya dia saat dia mendengar gadis yang dicintainya menangis sedih dari seberang saluran.
"Yi Chen! Dia seharusnya datang menemuiku di restoran yang dijanjikan. Dia menyuruhku pergi lebih dulu karena dia ingin mengambil sesuatu. Tapi sudah dua jam aku menunggu, dia tak kunjung tiba."
"Mungkinkah dia kembali ke hotel?" Xuan Feng menyarankan gadis itu untuk menelpon pihak hotel lebih dulu.
"Tidak! Aku sudah menelpon resepsionis dan mereka bilang dia belum kembali ke hotel hingga saat ini." Tang Xing Yuan masih terisak. Dia benar-benar panik saat tiba-tiba saja kekasihnya menghilang.
"Di mana kau sekarang?" ekspresi Xuan Feng semakin muram. Dia mencengkeram erat gagang ponselnya, menunjukkan bahwa dia juga tampak panik dan gelisah saat ini. Terdengar jawaban dari seberang saluran.
"Baik. Aku akan ke sana sekarang! Kau tenanglah dan tunggu aku!" serunya sebelum menelpon asistennya dengan terburu-buru dan memintanya menyiapkan pesawat pribadi.
"Apa yang terjadi?" Ye Ling Xiao yang sedari tadi mendengarkan juga ikut penasaran
"Song Yi Chen menghilang." sahut Lu Xuan Feng.
"APA?" Ye Ling Xiao terkejut, tak menyangka dengan berita ini.
"Pergi cari Wu Yu! Minta dia membawa tim dokter terbaiknya dan ikut denganku sekarang! Aku takut Yi Chen mengalami kecelakaan." Xuan Feng segera bergegas pergi meninggalkan balkon untuk mempersiapkan orang-orangnya.
"Song Yi Chen hilang. Apa ini berarti lamaran itu tertunda?" Ye Ling Xiao tampak menyadari sesuatu.
"Sial! Aku sama sekali tak menyangka harapanku akan menjadi kenyataan." Ye Ling Xiao tampak panik, "Namun walau begitu, tidak adakah cara lain agar lamaran itu tertunda tapi tidak membuat salah satunya terluka? Kalau begini, aku jadi merasa bersalah."
-----
Kembali ke Praha, Czech Republik...
Seorang gadis muda berwajah oriental tampak panik saat melihat seorang pria muda tergeletak bersimbah darah di hadapannya. Tak jauh darinya, tampak sebuah mobil sedan hitam terbalik di dekat pembatas jalan yang kini telah rusak.
Hujan deras yang mengguyur malam ini membuat pandangan semua orang menjadi terbatas. Dan entah apa yang terjadi dengannya saat itu. Dia yang biasanya tenang, mendadak kehilangan konsentrasi dan tidak sengaja menabrak sebuah mobil ketika tiba di sebuah persimpangan.
Demi untuk menghindari dampak yang lebih mengerikan, dia membanting setirnya ke kanan jalan, berusaha menghindari mobil yang tiba-tiba muncul dari arah persimpangan, namun siapa sangka manuvernya itu justru membuat si pengemudi panik hingga menabrak pembatas jalan lalu terguling sejauh lima meter sebelum akhirnya si pengemudi terlempar keluar.
"Cepatlah! Aku takut dia akan mati!" seru gadis itu dengan panik di ponselnya.
Dengan gelisah dia berjalan mondar-mandir di sekitar lokasi kejadian. Hujan deras mengguyur tubuhnya, membuatnya basah kuyup, namun gadis muda itu tampak tak peduli dengan kondisinya dan tetap bertahan menunggu di samping tubuh pria muda itu, alih-alih menunggu di dalam mobilnya.
Untunglah tak lama kemudian, terdengar suara sirine ambulans yang perlahan mendekat. Tak hanya ambulans, polisi pun ada di sana. Dengan lega, gadis muda itu segera berlari menyongsong ke arah mbol ambulans terlebih dahulu.
"Tolong! Tolong segera selamatkan dia!" pintanya dengan panik kepada para medis yang segera bertindak cepat mengangkat pria muda yang tak sadarkan diri itu lalu memasukkan ke dalam ambulans untuk ditangani lebih lanjut.
"Aku akan ikut ke Rumah Sakit. Aku harus memastikan keadaannya terlebih dahulu baru aku ikut kalian ke kantor polisi. Boleh, kan? Aku tidak akan kabur!" desak gadis muda itu kepada para polisi yang meninjau lokasi kejadian.
Akhirnya setelah membuat kesepakatan, gadis muda itupun turut naik ke dalam mobil ambulans dan membiarkan mobilnya yang rusak tetap di tempat kejadian guna penyelidikan polisi. Namun walau begitu, seorang anggota polisi mengikutinya pergi.
Tepat pada saat mobil ambulans tersebut melaju di persimpangan, sebuah taksi lewat di sampingnya. Di dalam taksi tersebut, seorang gadis cantik bergaun putih dan berkebangsaan China tampak memandang kosong ke arah sebuah mobil sedan hitam yang terguling di pinggir jalan.
"Apa yang terjadi?" gumam gadis itu namun sang sopir taksi mendengarnya.
"Sepertinya terjadi kecelakaan di sini. Hujan sangat deras dan pandangan menjadi terbatas." sahut si sopir taksi.
Melihat mobil hitam itu, hati Tang Xing Yuan berdebar kencang, namun dia tidak mengerti sebabnya. Tanpa dia sadari, seseorang yang terbaring di dalam mobil ambulans itu adalah kekasih yang dia cari saat ini.
Next >>>
Namun keterkejutan muncul di wajah Xuan Feng setelah melihat identitas sang penelpon.
"Xing'er."
"Kakak Feng, dia menghilang! Aku kehilangan dia!" suara seorang gadis yang menangis sedih dan putus asa terdengar dari ujung saluran.
Kalimat "aku kehilangan dia" membuat Xuan Feng terkejut dan untuk sekejap membuatnya tak mampu berkata-kata.
"Siapa yang hilang? Xing'er, jangan menangis. Ceritakan padaku pelan-pelan." suara Xuan Feng terdengar tenang, namun Tuhan tahu betapa panik dan gelisahnya dia saat dia mendengar gadis yang dicintainya menangis sedih dari seberang saluran.
"Yi Chen! Dia seharusnya datang menemuiku di restoran yang dijanjikan. Dia menyuruhku pergi lebih dulu karena dia ingin mengambil sesuatu. Tapi sudah dua jam aku menunggu, dia tak kunjung tiba."
"Mungkinkah dia kembali ke hotel?" Xuan Feng menyarankan gadis itu untuk menelpon pihak hotel lebih dulu.
"Tidak! Aku sudah menelpon resepsionis dan mereka bilang dia belum kembali ke hotel hingga saat ini." Tang Xing Yuan masih terisak. Dia benar-benar panik saat tiba-tiba saja kekasihnya menghilang.
"Di mana kau sekarang?" ekspresi Xuan Feng semakin muram. Dia mencengkeram erat gagang ponselnya, menunjukkan bahwa dia juga tampak panik dan gelisah saat ini. Terdengar jawaban dari seberang saluran.
"Baik. Aku akan ke sana sekarang! Kau tenanglah dan tunggu aku!" serunya sebelum menelpon asistennya dengan terburu-buru dan memintanya menyiapkan pesawat pribadi.
"Apa yang terjadi?" Ye Ling Xiao yang sedari tadi mendengarkan juga ikut penasaran
"Song Yi Chen menghilang." sahut Lu Xuan Feng.
"APA?" Ye Ling Xiao terkejut, tak menyangka dengan berita ini.
"Pergi cari Wu Yu! Minta dia membawa tim dokter terbaiknya dan ikut denganku sekarang! Aku takut Yi Chen mengalami kecelakaan." Xuan Feng segera bergegas pergi meninggalkan balkon untuk mempersiapkan orang-orangnya.
"Song Yi Chen hilang. Apa ini berarti lamaran itu tertunda?" Ye Ling Xiao tampak menyadari sesuatu.
"Sial! Aku sama sekali tak menyangka harapanku akan menjadi kenyataan." Ye Ling Xiao tampak panik, "Namun walau begitu, tidak adakah cara lain agar lamaran itu tertunda tapi tidak membuat salah satunya terluka? Kalau begini, aku jadi merasa bersalah."
-----
Kembali ke Praha, Czech Republik...
Seorang gadis muda berwajah oriental tampak panik saat melihat seorang pria muda tergeletak bersimbah darah di hadapannya. Tak jauh darinya, tampak sebuah mobil sedan hitam terbalik di dekat pembatas jalan yang kini telah rusak.
Hujan deras yang mengguyur malam ini membuat pandangan semua orang menjadi terbatas. Dan entah apa yang terjadi dengannya saat itu. Dia yang biasanya tenang, mendadak kehilangan konsentrasi dan tidak sengaja menabrak sebuah mobil ketika tiba di sebuah persimpangan.
Demi untuk menghindari dampak yang lebih mengerikan, dia membanting setirnya ke kanan jalan, berusaha menghindari mobil yang tiba-tiba muncul dari arah persimpangan, namun siapa sangka manuvernya itu justru membuat si pengemudi panik hingga menabrak pembatas jalan lalu terguling sejauh lima meter sebelum akhirnya si pengemudi terlempar keluar.
"Cepatlah! Aku takut dia akan mati!" seru gadis itu dengan panik di ponselnya.
Dengan gelisah dia berjalan mondar-mandir di sekitar lokasi kejadian. Hujan deras mengguyur tubuhnya, membuatnya basah kuyup, namun gadis muda itu tampak tak peduli dengan kondisinya dan tetap bertahan menunggu di samping tubuh pria muda itu, alih-alih menunggu di dalam mobilnya.
Untunglah tak lama kemudian, terdengar suara sirine ambulans yang perlahan mendekat. Tak hanya ambulans, polisi pun ada di sana. Dengan lega, gadis muda itu segera berlari menyongsong ke arah mbol ambulans terlebih dahulu.
"Tolong! Tolong segera selamatkan dia!" pintanya dengan panik kepada para medis yang segera bertindak cepat mengangkat pria muda yang tak sadarkan diri itu lalu memasukkan ke dalam ambulans untuk ditangani lebih lanjut.
"Aku akan ikut ke Rumah Sakit. Aku harus memastikan keadaannya terlebih dahulu baru aku ikut kalian ke kantor polisi. Boleh, kan? Aku tidak akan kabur!" desak gadis muda itu kepada para polisi yang meninjau lokasi kejadian.
Akhirnya setelah membuat kesepakatan, gadis muda itupun turut naik ke dalam mobil ambulans dan membiarkan mobilnya yang rusak tetap di tempat kejadian guna penyelidikan polisi. Namun walau begitu, seorang anggota polisi mengikutinya pergi.
Tepat pada saat mobil ambulans tersebut melaju di persimpangan, sebuah taksi lewat di sampingnya. Di dalam taksi tersebut, seorang gadis cantik bergaun putih dan berkebangsaan China tampak memandang kosong ke arah sebuah mobil sedan hitam yang terguling di pinggir jalan.
"Apa yang terjadi?" gumam gadis itu namun sang sopir taksi mendengarnya.
"Sepertinya terjadi kecelakaan di sini. Hujan sangat deras dan pandangan menjadi terbatas." sahut si sopir taksi.
Melihat mobil hitam itu, hati Tang Xing Yuan berdebar kencang, namun dia tidak mengerti sebabnya. Tanpa dia sadari, seseorang yang terbaring di dalam mobil ambulans itu adalah kekasih yang dia cari saat ini.
Next >>>


