Tampilkan postingan dengan label Novel - Winter Tears. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Novel - Winter Tears. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Agustus 2015

Winter Tears : Dinginnya salju hangatnya cinta, saat salju yang dingin menjadi saksi jatuhnya airmata

Maaf Readers, sebenarnya saya ingin menepati janji dengan memberi 4 bab teaser sama seperti novel-novel yang lain, tapi entah kenapa sudah ngetik banyak-banyak, ujung-ujungnya saat diposting malah muncul halaman putih semua -___- Mendadak tulisannya ilang semua. Uda nyoba diedit berkali-kali tapi hasilnya tetap sama T__T Daripada bloggernya bete sendiri, mending saya hapus aja lagi. Hhhhmmm...Mungkin Jing Tian dan Xue Jian gak mau kalian baca gratisan dan pengen kalian beli novelnya (Hello, jaman gini masih minta gratisan?? Ckckck...) Jadi buat kalian yang penasaran dengan kisah si gadis salju ini, bisa dipesan melalui Nulis Buku.com... Tinggal masuk ke situsnya Nulis Buku terus ketik nama “Liliana Tan” dan disitu tar pasti muncul semua deh karya saya hehehe =) Gampang kok, tapi kalau kalian minat sih...Tapi kalau emank kalian prinsip hidupnya pengen gratisan, ya susah dah hahaha =) Kalau gratisan ya Cuma segini aja yang bisa saya kasih hehehe =)



“Winter Tears : Dinginnya salju hangatnya cinta, saat salju yang dingin menjadi saksi jatuhnya airmata”



Harus diakui jika novel ini adalah kisah yang terinspirasi dari Chinese Paladin 3. Terinspirasi di sini adalah saya sengaja meminjam nama kedua tokoh utamanya karena tidak terima denga ending yang bikin nyesek. I Love Jing Tian and Xue Jian, so I dedicated this novel for all Hu Ge – Yang Mi fans cause I imagined Hu Ge when I wrote Yu Jing Tian’s character and I imagined Yang Mi when I wrote Yang Xue Jian’s character hehehe =) Dilatarbelakangi musim dingin di Shanghai, dengan hamparan salju putih mewarnai sepanjang kisah ini, seri pertama dari Tetralogi 4 Musim ini tentu akan sayang untuk dilewatkan.. 

Winter Tears”


Sinopsis :
Dinginnya salju, hangatnya cinta...Saat salju yang dingin menjadi saksi jatuhnya airmata.

Natal, seharusnya menjadi hari yang indah bagi semua orang. Tapi tidak bagi si “Gadis Salju”, Yang Xue Jian (). Natal menyimpan kisah sedih dalam hatinya. Di hari Natal itu, dengan kejam Ayahnya melempar dia dan Ibunya dari rumah tempat dia dilahirkan dan dibesarkan. Di hari Natal, enam tahun kemudian, dia harus menyaksikan Ibunya tewas tertabrak. Tak berhenti disitu, di hari Natal dua tahun kemudian, Panti Asuhan tempat dia dirawat terbakar.

“Aku tidak akan percaya siapapun lagi, tidak akan bergantung pada siapapun lagi, tidak akan membuka hatiku untuk siapapun lagi juga takkan mencintai siapapun lagi,” sumpah Xue Jian dalam hati seraya menatap salju yang turun dari langit di Kota Shanghai dengan perasaan pedih.

“Tapi salju tak selamanya ada, jika musim semi tiba, salju akan mencair dan udara akan menjadi hangat. Aku sangat berharap aku bisa mencairkan salju di hatimu dan sedikit menghangatkannya,”

Kehadiran Yu Jing Tian (雨晴天), seorang pemuda ceria dan baik hati, perlahan mencairkan hatinya yang dingin, membuatnya merasa Musim Salju kali ini tak begitu dingin... Mampukah kehangatan Musim Semi itu mencairkan hati Xue Jian yang dingin selamanya ataukah Musim Salju kali ini akan menjadi lebih dingin dari sebelumnya?

Untuk memudahkan kalian membaca, saya akan berikan link hidup yang memudahkan kalian... Happy Reading ^.^





(Teaser) Winter Tears : Chapter 3

And the story goes... Salju, seolah menjadi simbol cinta mereka berdua. Beberapa tahun yang lalu, keduanya bertemu di tengah hutan gelap yang tertutup salju, dan beberapa tahun kemudian, keduanya bertemu lagi di sebuah gereja kecil karena menghindari badai salju yang turun di luar sana. Akankah takdir membawa mereka kembali bersama ataukah kembali memisahkan mereka seperti sebelumnya? Saat salju yang dingin menjadi saksi jatuhnya air mata...



“Tidak. Jing Tian, kau sudah berjanji pada Ibumu untuk menjalani hidup ini dengan gembira. Jika kau seperti ini, Ibumu di Surga pasti takkan merasa tenang. Tersenyumlah! Jangan sampai dinginnya salju ini membuat hatimu dingin juga,”

@@@@@@@

FLASHBACK...
“Apa yang kau lakukan di sini? Apa Suster Kepala yang menyuruhmu mencariku?” kenangan tentang seorang gadis kecil bermantel putih di dalam hutan yang tertutup salju perlahan mulai muncul.

“Aku tersesat. Tempat apa ini? Aku mau keluar. Apa yang kau lakukan di tempat sedingin ini?” seorang anak laki-laki balik bertanya padanya. Dia gadis kecil yang aneh, di saat anak-anak lainnya sedang merayakan Natal bersama di dalam rumah dan makan makanan yang enak, dia justru berada di dalam hutan yang dingin dan gelap.

“Aku sedang mencari Peri Salju. Peri Salju hanya muncul saat malam Natal dan akan mengabulkan permintaan anak yang selalu bersikap baik,” jawab si gadis kecil sambil tersenyum, saat menoleh, rambut hitamnya yang lurus dan tergerai sepanjang pinggang tampak berkibar ditiup angin musim dingin yang berhembus.

“PERI SALJU?” ulang si anak laki-laki bingung.
“Benar. Peri Salju,” jawab gadis kecil itu lagi.
“Kau dengar omong kosong itu dari mana? Lucu sekali?” cibir si anak laki-laki, menertawakannya.

“Anak orang kaya sepertimu, yang selalu mendapatkan apa yang mereka inginkan, memang tidak butuh Peri Salju untuk mengabulkan keinginanmu, benarkan? Tapi tidak begitu denganku. Ibuku meninggal dan ayahku membuangku. Kau tahu kenapa aku ingin menemukan si Peri Salju? Karena aku ingin dia membantuku membawa kembali Ayahku!” jawab gadis kecil itu, tiba-tiba menangis pelan.

Melihat airmatanya, perasaan bersalah mencengkeram si anak laki-laki.  “Maaf. Aku benar-benar minta maaf,” si anak laki-laki meminta maaf karena merasa bersalah telah membuat gadis kecil itu menangis.

“Kau ingin keluar dari hutan ini kan?” tanya si gadis kecil tiba-tiba seraya menghapus airmatanya.

“Ikutilah jalan setapak itu dan berjalanlah lurus tanpa berhenti sampai kau melihat sebuah pondok kecil. Jika kau sudah sampai di pondok kecil itu maka kau sudah bisa melihat Panti Asuhanku. Bila masih bingung, kau pandanglah bintang itu, maka dia pasti akan membantumu menemukan jalan pulang,” lanjutnya lagi seraya menuding ke langit malam.

“Bintang?” ulang si anak laki-laki bingung.
“Bintang Polaris, bintang yang cantik di langit utara  yang dijadikan penanda arah utara. Ikuti bintang itu maka kau akan bisa keluar dari hutan ini,” jawabnya lagi.

“Lalu kau?” tanya si anak laki-laki.
“Aku akan mencari Peri Salju dan aku tidak akan kembali sebelum menemukannya. Kau pergilah dulu! Sampai jumpa!” jawab si gadis kecil singkat lalu berjalan ke arah hutan.

“Tapi sekarang sudah malam, tidakkah sebaiknya kau cari dia besok pagi saja? Kita pulang bersama,“ tawar si anak laki-laki padanya.

“TIDAK! Peri Salju hanya muncul saat Natal, jika malam ini aku tidak menemukannya, aku harus menunggu tahun depan. Itu terlalu lama. Siapa yang tahu apa yang akan terjadi besok? Bagaimana jika seandainya besok aku mati? Aku harus menemukan Peri Salju sekarang juga,” jawabnya keras kepala.

“Tapi...” Si anak laki-laki berusaha memprotes tapi gadis kecil itu memotong kalimatnya.
“Setidaknya aku sudah berusaha kan? Walau gagal aku tidak akan menyesal. Sampaikan terima kasih pada Ayahmu untuk semua kebaikannya. Kami menikmati pesta Natalnya. Dan baju-baju yang dibelikannya untuk kami juga sangat indah,” jawabnya lagi sambil tersenyum manis.

“Sama-sama. Boleh aku tahu namamu?” tanya anak laki-laki itu ingin tahu.
Gadis kecil itu tersenyum dan menjawab “Little Snow,” ujarnya lalu menghilang ke dalam hutan.

Begitu dia pergi, anak laki-laki itu menyadari sesuatu terjatuh dari tempat gadis kecil itu berdiri tadi. Dia memungut benda yang berkilauan itu dan menatapnya. Sebuah kalung berliontin bintang separuh yang mirip dengan miliknya sendiri tapi di belakang liontin itu terukir sebuah huruf Xue () yang berarti “Salju”.

“Kenapa sangat mirip dengan milikku?” ujar si anak laki-laki seraya menatap heran kalung itu, kemudian dia teringat sesuatu, “Little Snow, kalungmu...” teriak si anak laki-laki tapi sepertinya si gadis kecil itu sudah tidak mendengar lagi

“Gadis yang aneh tapi sangat berani,” batin si anak laki-laki saat itu. Siapa yang menyangka gadis kecil berusia sekitar sepuluh tahun berani masuk ke dalam hutan sendirian malam-malam begini. Perlahan anak laki-laki itu berjalan mengikuti jalan setapak yang diberitahukan gadis kecil itu padanya tadi sambil sesekali menatap langit. Dan benar, tak lama kemudian, dia menemukan sebuah pondok kecil dan panti asuhan itupun mulai terlihat.

“Little Snow, terima kasih. Aku berhutang padamu,” ujar si anak laki-laki dalam hati seraya mencengkeram erat kalungnya.  

“Untunglah kau sudah kembali, Jing Tian. Kami semua sangat cemas. Apa kau bertemu Xiao Xue?” tanya Ibu Kepala Panti padanya sambil melirik di balik punggung Jing Tian. Jing Tian mengangguk pelan “Dia yang memberitahuku jalan keluar, tapi dia tidak ingin keluar bersamaku karena ingin mencari Peri Salju,” jawab si anak laki-laki, Jing Tian, dengan jujur.

“Xiao Xue. Kenapa gadis itu sangat keras kepala? Berapa kali harus kukatakan padanya kalau Peri Salju itu tidak ada? Tahun lalu kami menemukannya hampir mati kedinginan dalam hutan,” sahut Ibu Kepala Panti dengan cemas.

“Suster, tolong telepon Tim Sar sekarang. Kita harus menemukan Xiao Xue sebelum dia mati membeku di dalam hutan sana,” perintahnya pada Suster yang lain, sambil berlari masuk ke dalam hutan dan tak memberi Jing Tian kesempatan mengembalikan kalung itu.

“Kalungnya...” ujar Jing Tian kecil tanpa mampu melanjutkan kalimatnya karena Suster Kepala sudah menghilang ke dalam hutan diikuti oleh tukang kebun dan para suster yang lain. Jing Tian memasukkan kalung itu ke dalam saku mantelnya, saat dia menyadari bahwa miliknya sendiri tak ada bersamanya.

“Eh...Mana kalungku?” batinnya bingung seraya panik mencari kalung pemberian ibunya di tengah timbunan salju.

“Jing Tian, apa yang kau lakukan?” tanya seorang wanita yang tampak seperti seorang wanita berkelas.

“Kalung yang Ibu berikan padaku hilang. Ibu, aku takut sekali. Akankah hilangnya kalung itu berarti pertanda buruk?” ujar Jing Tian kecil dengan cemas menatap ibunya yang hanya tersenyum lembut.

“Tidak akan. Tidak apa-apa. Ibu akan belikan lagi kalung yang lain untukmu. Ayo pulang!” ujar wanita berkelas itu seraya menggandeng tangan putranya yang terlihat tidak rela pergi dari sana. Dan benar saja, saat dalam perjalanan pulang dari Panti Asuhan itu, sebuah kecelakaan terjadi, dan kecelakaan itu menewaskan orang tua Jing Tian dan mengubah hidup Jing Tian sepenuhnya. Malam Natal, orang tua Jing Tian meninggal tepat di Malam Natal.

End Of Flashback...

Jing Tian akhirnya berhasil mengingat kenangan masa kecilnya saat dia tersesat di dalam hutan di malam Natal di tengah hujan salju yang dingin mencekam. Pertemua pertamanya dengan seorang gadis kecil yang aneh di tengah hutan yang berselimut salju, kalungnya yang hilang dan juga kecelakaan yang menewaskan orang tuanya.

"Andai kalungku tidak hilang, mungkin ayah dan ibu masih ada di sini bersamaku sekarang. Aku sudah bisa merasakan bahwa hilangnya kalung itu adalah sebuah pertanda," ujar Jing Tian dalam hati, sedih setiap kali mengingat peristiwa di malam Natal itu. Itulah sebabnya dia datang kemari hari ini, karena hari ini juga adalah hari peringatan kematian orang tua Jing Tian.

"Tidak. Jing Tian, kau sudah berjanji pada Ibumu untuk menjalani hidup ini denga gembira. Jika kau seperti ini, Ibumu di Surga pasti takkan merasa tenang. Tersenyumlah! Jangan sampai dinginnya salju ini membuat hatimu dingin juga," gumamnya lagi sambil berusaha kembali tersenyum dengan ceria. Tapi kenangan lain kembali melintas. Gadis salju itu, mungkinkah dia yang yang ada di hadapannya sekarang?

"Little Snow, Xiao Xue, apa itu kau?" batin Jing Tian sambil kembali memperhatikan gadis cantik yang berdiri di depan jendela dan memandang sedih salju yang turun di luar sana. Dia ingin menanyakan tentang hal itu, tapi dia tahu gadis itu pasti takkan mengatakan apapun.

"Benarkah kau Xiao Xue? Jika kau bukan XIao Xue, kenapa kau tahu soal Peri Salju itu?" batinnya ingin tahu.

"Jika aku bertanya, kau pasti takkan menjawab. Baik. Aku akan mencari tahu sendiri tentangmu. Benarkah kau gadis kecil yang menolongku malam itu? Jika benar, aku punya hutang padamu yang belum sempat kubayar. Terima kasih karena telah membawaku keluar dari dalam kegelapan," Jing Tian bertekad dia harus mencari tahu yang sebenarnya.

To be continued...

(Teaser) Winter Tears : Chapter 2

“Xue Jian, meet me in the next life...” 2000 years have passed, now they meet again in Shanghai on the Christmas Night. That right !!! Jing Tian dan Xue Jian, kedua tokoh utama novel ini memang terinpirasi dari serial wuxia popular “CHINESE PALADIN 3” yang pernah SUKSES BESAR dan meraih rating tinggi di China sana. Karena tidak terima dengan endingnya yang menurut saya gak enak alias sedih, jadi saya memutuskan membuat kisah cinta mereka versi saya sendiri. Dikisahkah, Jing Tian dan Xue Jian (played by : Hu Ge dan Yang Mi) akhirnya bertemu kembali di kehidupan berikutnya. Mampukah kisah cinta mereka yang sempat terputus di kehidupan sebelumnya kini bersatu kembali? Dont worry, dalam novel sudah saya sertakan DISCLAIMERNYA !!!! Jadi saya sudah mengaku loh ya, kalau saya hanya meminjam nama karakter “Jing Tian dan Xue Jian” karena terinspirasi oleh kisah Chinese Paladin 3...


想对你说 Merry Christmas
Ingin mengucapkan padamu “Selamat Natal”

身边却没有最爱的你
Walaupun bukan aku, orang terkasih yang ada di sisimu...”

@@@@@@@

Hari Natal, 25 Desember, enam tahun kemudian...
"Ibu, aku datang. Bagaimana kabar Ibu di sana? Apa Ibu tahu aku sangat merindukanmu?” ujar seorang gadis muda berwajah cantik, berhidung mancung, berusia sekitar delapan belas tahun, berambut panjang, hitam dan lurus, mengenakan sebuah mantel berwarna merah muda serta syal dan topi berwarna senada, sambil mengusap airmata di pipinya seraya meletakkan rangkaian bunga mawar ungu di atas sebuah makam dan membersihkan butiran salju yang jatuh di atasnya.

“Aku suka mawar ungu. Apa Ibu tahu kalau mawar ungu melambangkan keabadian? Sama seperti cintaku pada Ibu yang akan abadi selamanya walaupun Ibu tak ada lagi di sini bersamaku. Xue Jian sayang Ibu. Sayang sekali...” ujarnya dengan airmata mengalir di pipi. Kemudian dia menelungkupkan kedua tangannya yang terbungkus sarung tangan putih di depan dada dan mengambil sikap berdoa, dia memejamkan matanya dan mulai berdoa dengan segenap hatinya, untuk arwah ibunya di Surga.

Tak jauh dari sana, seorang pemuda tampan bermantel bulu putih juga duduk berlutut di sebuah makam, memandang kosong makam itu dengan rasa sedih terpancar di matanya. Di belakangnya, gadis muda itu berjalan melewatinya. Dia berjalan meninggalkan komplek pemakaman di atas bukit itu dan berjalan menuruni tangga demi tangga, tapi ternyata hujan salju yang turun malah semakin lebat.

Gadis itu menengadah memandang hujan salju yang turun semakin lebat dari langit dan dia tahu badai salju akan turun tak lama lagi. Dia menghembuskan napas pasrah dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling wilayah itu dan senyumnya mengembang saat melihat sebuah gereja kecil tak jauh dari sana.

“Lebih baik aku menginap di gereja itu hingga badai saljunya reda. Aku tidak mau mati kedinginan di tengah hujan salju yang dingin mencekam,” putusnya lalu segera berlari kecil ke arah gereja kecil itu.

“Ada orang di dalam? Bolehkah aku menumpang masuk Tuan? Di luar akan ada badai salju, bolehkah aku menumpang sebentar saja?” tanyanya nyaring di depan pintu. Tak ada jawaban. Sekitar lima belas menit dia menunggu dan tak ada jawaban sama sekali dari dalam gereja itu.

Gadis itu mencoba membuka pintunya dan melongokkan kepalanya ke dalam, mengintip. “Sepertinya tak ada orang,” gumamnya pada dirinya sendiri saat menyadari tempat itu kosong.

“Baguslah,” lanjutnya senang lalu segera masuk ke dalam dan berlindung. Gereja itu tidak terlalu besar tapi juga tidak terlalu kecil. Ada sebuah piano di tengah ruangan, tepat di samping altar gereja. Di depan altar itu ada beberapa kursi yang biasa digunakan para jemaat untuk berdoa, terbagi menjadi dua sisi dan di tengahnya ada sebuah jalan setapak sebagai tempat untuk berjalan menuju Altar.

Tak jauh dari piano itu berada berdiri sebuah pohon Natal yang lumayan besar lengkap dengan pernak-perniknya yang indah dan berkelap-kelip, di bawah pohon Natal itu juga diletakkan beberapa kado Natal dan di sekeliling ruangan ini juga dihias berbagai macam hiasan Natal yang mayoritas berwarna merah dan emas, sangat indah dan memberikan kesan hangat.

“Sepertinya siang tadi, gereja ini sempat digunakan untuk perayaan Natal. Dekorasinya masih terpasang dengan indah di seluruh ruangan,” ujar gadis itu dalam hati seraya berjalan perlahan mengamati seisi gereja itu.

“Rumah Tuhan. Tidak ada tempat yang lebih aman selain di Rumah Tuhan,” batinnya tenang, lalu dia berjalan ke arah piano itu dan duduk di atas kursinya dan mulai memainkan sebuah nada. Merasa tak ada seorangpun yang akan mendengarnya, diapun mulai bernyanyi sambil memainkan piano itu.

Suaranya yang merdu ditambah melodi yang indah dari piano itu akan membuat siapa pun yang mendengarnya terpana.


去年今天你送的红色围巾
Chi nien cing thien ni sung te hung she wei chin
Tahun lalu di hari yang sama, kau menghadiahiku sebuah scarf merah

和当初承诺的那一份感情
He thang chu cheng nuo te na yi fen kan ching
Disertai sebuah janji bahwa perasaan yang kita miliki saat itu...

一起飘散在风里
Yi chi piao san cai fung li
Akan berhembus seirama dengan hembusan angin...

陪我走在热闹人群里
Phei wo chou cai ren nao ren chin li
Menemaniku berjalan bersama di tengah kerumunan orang...

到处充满爱意的圣诞夜里
Tao chu chung man ai yi te, sheng tan ye li
Hari Natal adalah hari yang identik dengan cinta...

我竖走衣领假装可以忘记
Wo shu chou yi ling chia chuang khe yi wang chi
Aku tak bisa berpura-pura lupa atas semua yang pernah kita alami bersama...

泪水却情不自禁 动摇我的平静
Lei suei cuei ching pu che chin, tung yao wo te ping chin
Airmata ini tak bisa kutahan lagi, jatuh berderai di pipiku

想对你说 Merry Christmas
Siang tuei ni suo Merry Christmas
Ingin mengucapkan padamu “Selamat Natal”
  
身边却没有最爱的你
Sen pien cuei mei yu cuei ai te ni
Walaupun bukan aku, orang terkasih yang ada di sisimu

这是一场 Lonely Christmas
Che she yi chang Lonely Christmas
Bagiku ini adalah “Natal yang Sepi”

拥挤的街落单的回忆
Yung chi te cie luo tan te huei yi
Kerumunan orang di jalan-jalan justru membawa kembali kenangan yang menyakitkan itu

失去你的 Lonely Christmas
Se chi ni te Lonely Christmas
Di hari “Natal Yang Sepi” ini, aku telah kehilanganmu

最最漫长的爱情冬季
Cuei cuei man chang te ai ching tung chi
Musim dingin tahun ini adalah musim dingin yang paling panjang

不论你今夜留在谁的怀里
Pu luen ni ching ye liu cai sei te huai li
Tidak peduli kau ada bersama siapa malam ini...

我会用爱过你的心祝福你
Wo huei yung ai kuo ni te sin chu fu ni
Aku akan tetap mendoakan yang terbaik untukmu dari lubuk hatiku

爱不能再重来
Ai pu neng cai chung lai
Cinta tak bisa diulang kembali
  
断线的风筝 不能回来
Tuan sien te fung cheng pu neng huei lai
Layang-layang yang telah putus tak bisa ditarik kembali

问路过的云 问路过的风
Wen lu kuo te yun, wen lu kuo te feng
Aku bertanya pada awan, aku bertanya pada angin...

最后只有忍着感伤离开
Cuei hou che yu ren she shang kan li khai
Akhirnya yang kudapatkan hanyalah luka yang menyakitkan

爱不能再重来
Ai pu neng cai chung lai
Cinta tak bisa diulang kembali

熄灭的温柔 蓝色圣诞
Shi mie te wen rou lan she sheng tan
Tak bisa lagi merasakan kelembutan dan kehangatan Malam Natal

心却一遍遍的喊
Sin cuei yi pien pien te han
Hatiku hanya bisa menangis dan menyesalinya



Plok plok plok...Suara tepuk tangan menyadarkan gadis itu bahwa dia tidak sendirian di tempat itu, dengan terkejut dia menoleh ke arah tepuk tangan itu berasal, dan di sana dia melihat seorang pemuda tampan bermantel putih dan bertubuh tinggi dengan hidungnya yang mancung dan senyumnya yang menawan sedang berdiri di pintu masuk dan memandangnya kagum.

"Lagu yang indah tapi sangat sedih. Natal yang sepi? Apa kau merasa kesepian di Malam Natal ini? Well, kalau begitu aku akan menemanimu agar kau tak lagi merasa sepi," ujar pemuda itu sambil tersenyum ramah seraya berjalan mendekati gadis bermantel merah muda yang duduk di depan piano. Mendengar langkah kaki yang semakin mendekat, gadis itu menoleh dengan tajam.

"Apa aku memintamu mendekat?" tanyanya sedingin salju yang turun di luar sana. Spontan langkah kaki pemuda itu langsung tertahan, dengan salah tingkah dia menggaruk bagian kepalanya yang sebenarnya tidak gatal lalu tertawa canggung.

"Maaf, aku tidak bermaksud mengejutkanmu Nona. Aku hanya sedang mencari tempat berlindung dari badai salju saat tiba-tiba aku mendengar suara merdu nyanyianmu dan alunan melodi pianomu. Maaf jika aku mengejutkanmu," ujarnya sopan. Saat dia bicara, lesung pipi terlihat di wajahnya yang tampan, poinya yang tergerai jatuh menutupi mata memberikan kesan misterius tapi matanya yang memancarkan kehangatan, memberikan kesan sebaliknya. Dia pria yang ramah, siapapun bisa melihatnya walau hanya sekilas.

Gadis itu hanya menatapnya sekilas dengan dingin lalu kembali melanjutkan permainan pianonya.

"Tidak apa-apa," jawabnya sedingin es, singkat dan tegas. Pria muda itu terkesiap dengan sikapnya yang dingin, tidak biasanya ada gadis yang bersikap seperti ini padanya. Biasanya para gadis tu selalu menjerit histeris bila melihatnya, bukan menatap dan bicara dengannya dengan nada sedingin ini. Sekilas dia bisa melihat sorot mata penuh kesedihan dari mata gadis itu. Gadis kembali memainkan lagu yang lain.

"Itu adalah simfoni keenam belas, benarkan?" tebak pria muda itu, mencoba mencairkan suasana sambil berjalan semakin mendekat.
"Benar," lagi, gadis itu hanya menjawab singkat.
"Kau seorang seniman?" tanya pria muda itu lagi, mencoba beramah tamah.

"Aku suka main musik," jawab si gadis muda lagi, masih dengan jawaban singkat. Pria muda itu tersenyum tipis mendengarnya.

"Aku juga suka main musik. Aku bisa main biola, piano, gitar, drm, harpa dan masih banyak yang lain," pria muda itu membanggakan dirinya. Gadis itu bukannya terpesona tapi justru memandangnya dengan tajam.

"Tidak bisakah kau berhenti bicara? Kenapa keu cerewet sekali? Apa kau tahu kaus udah mengganggu konsentrasiku?" tanya si gadis dingin lalu segera bangkit berdiri meninggalkan piano itu.

"Maaf. Aku hanya mencoba bersikap ramah. Badai salju di luar sana mungkin tidak akan reda sampai nanti malam dan hanya ada kita berdua di sini. Aku tidak mau kau takut padaku," ujar si pria muda menjelaskan.

Gadis itu hanya terdiam, tidak mengatakan apapun. Dan begitulah akhirnya, mereka terus duduk dalam diam dalam jarak yang berjauhan di sisi yang berseberangan di gereja itu. Pria muda itu hanya mengamatinya dalam diam di tengah cahaya lampu gereja yang remang-remang.

"Dia cantik, tinggi, dan seksi. Rambutnya yang hitam, panjang dan lurus semakin membingkai sempurna wajah cantiknya. Dia sempurna untuk seorang wanita, hanya satu yang kurang, dia begitu dingin dan tertutup. Sorot matanya bahkan lebih dingin dari salju yang turun di luar sana," ujar pria muda itu dalam hatinya seraya mengamati gadis itu dalam diam di tengah keremangan cahaya lampu.

"Peri Salju? Apa kau memang ada?" gumam  gadis itu lirih, namun masih dapat ditangkap oleh pria muda itu. Perlahan gadis itu mulai berdiri lalu berjalan ke arah jendela, mengamati badai salju yang turun di luar sana, ekspresinya mendadak sedih. Dia menempelkan kedua tangannya di kaca jendela dengan setitik air jatuh dari matanya.

"Peri Salju? Di mana aku pernah mendengarnya? Kenapa sepertinya aku pernah mendengarnya di suatu tempat?" si pria muda itu menelengkan kepalanya mengingat. Dia merasa pernah mendengar ini sebelumnya. Kalimat "Peri Salju" itu seolah membangunkan kembali kenangan masa kecilnya yang selama ini tertidur lama.

To be continued...
 

(Teaser) Winter Tears : Chapter 1

Christmas...All I want for Christmas is You. Mungkin itu sangat cocok menggambarkan suasana hati sang pemeran utama novel ini, Yang Xue Jian, si gadis salju yang dingin dan kesepian. Dia kehilangan semua kebahagiaannya di Hari Natal, saat sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa Ibunya. Mampukah Xue Jian bertahan hidup seorang diri di tengah dinginnya salju dan rasa sepi yang mengelilinginya saat ini? Hari Natal...Bukankah seharusnya hari yang penuh dengan sukacita?


“Hari Natal. Bukankah seharusnya hari yang penuh dengan sukacita? Saat airmata berubah menjadi tetesan darah, saat salju yang putih perlahan menjadi merah, Xue Jian tahu bahwa hidupnya yang keras akan dimulai saat itu juga.”

@@@@@@@

Semuanya berawal dari sini, 25 Desember empat belas tahun yang lalu...Dinginnya salju, hangatnya cinta. Saat salju yang dingin menjadi saksi jatuhnya airmata.

Bunyi lonceng kebahagiaan menggema di seluruh pelosok Shanghai, bahkan dunia. Hari ini, 25 Desember, Natal telah tiba. Warga Shanghai yang ikut merayakan sukacita Natal ini sudah sejak pagi mengikuti misa di Gereja. Tetapi walau begitu, mereka yang tidak ikut merayakan pun tetap ikut larut dalam perayaan sukacita ini, sekedar untuk berbagi kebahagiaan dan ucapan selamat untuk kerabat dan teman-teman mereka yang merayakan. Bukan hanya ucapan selamat, tapi pelukan dan ciuman dari sanak saudara, orang tua, kekasih, teman atau sahabat juga ikut mewarnai hari ini. Semua tersenyum. Semua merasakan kebahagiaan dan keceriaan. Semua orang…Kecuali mereka.

“Pergi kau! Kami tak sudi menerima kau dan anakmu di rumah ini!” ujar seorang wanita yang kira-kira berusia diawal tiga puluhan, berambut ikal merah dan bermata sipit dengan kasar dan kejam, wanita itu menyuruh pelayannya melempar seorang wanita muda dan anak perempuannya ke jalanan di malam hujan salju yang dingin mencekam, mereka berdua berikut barang-barangnya. Di samping wanita berambut merah itu, seorang pria berperawakan sedang, berdiri dan hanya memandang tak peduli.

“Ibu...” tangis anak perempuan berusia empat tahun yang berkuncir kuda dan berpita merah sambil memeluk ibunya ketakutan. Wanita yang dipanggilnya Ibu itu langsung memeluk putri kecilnya erat seraya memunguti barang-barang mereka yang berserakan di tengah hamparan salju yang terus turun dari langit.

“Jangan sampai kami melihat kalian muncul di rumah ini lagi!” seru wanita berambut merah itu sebelum menutup pintu rumah itu dan membantingnya dengan keras seraya memeluk mesra lengan seorang pria yang sedari tadi hanya terdiam melihat. Wanita muda itu perlahan berdiri sambil menggandeng tangan mungil gadis kecilnya seraya menahan tangisnya.

“Ibu, kita akan ke mana? Dingin sekali,” rengek si gadis kecil.
“Ibu tidak tahu, sayang,” jawab wanita muda itu dengan bingung sambil tetap menggandeng tangan putri kecilnya sementara tangannya yang lain menyeret koper mereka. Dan itulah akhir dari mimpi indah wanita muda itu dan putrinya.

Suami yang begitu dicintainya diam-diam berselingkuh dengan wanita lain di belakangnya selama lima tahun lamanya. Dan parahnya saat dia memergoki mereka berdua sedang tidur bersama, bukannya merasa bersalah, suaminya malah memintanya menandatangani surat cerai dan lebih memilih bersama wanita simpanannya, yang ternyata dari hasil perselingkuhan itu, mereka sudah memiliki seorang anak perempuan berusia empat tahun, sebaya dengan putrinya sendiri.

Wanita simpanan itu adalah seorang janda yang sudah memiliki dua anak laki-laki dari pernikahan sebelumnya, entah apa yang membuat suaminya tergila-gila padanya dan lebih memilih wanita itu daripada dia, istri sahnya dan anak mereka yang masih berusia empat tahun. Bukan hanya itu, hanya selang sehari setelah perceraian itu, wanita simpanan brengsek itu segera mengusir dia dan putrinya ke jalanan.

“Akulah yang seharusnya mengusir wanita itu dan anak-anaknya dari rumahku. Itu rumahku. Rumah yang sudah dirampasnya dariku. Dan dia juga sudah merampas suamiku. Tuhan, apa salahku sehingga harus mengalami ini semua?” batin wanita muda itu dengan perih sambil tetap menggandeng tangan putri mungilnya yang mulai menggigil kedinginan di tengah hujan salju yang dingin mencekam.

“Selamat Natal. Semoga kasih Natal bersama kita semua,” seru beberapa orang yang lewat di sekitar mereka saat Ibu dan anak itu berjalan di wilayah Nanjing Road, Shanghai.

Pemandangan kota Shanghai di malam hari terlihat sangat indah. gedung-gedung dihiasi oleh lampu berwarna-warni yang menyala terang, bahkan ada gedung pencakar langit yang dipasangi layar-layar LED berukuran besar untuk menampilkan berbagai macam iklan menarik, layaknya layar raksasa.

Kapal yang berlayar pun dihiasi oleh lampu berwarna-warni dan dari atas kapal itu, semua orang bisa melihat pemandangan dua sisi kota Shanghai, kota lama dan kota baru. Di malam hari, kota lama Shanghai, yaitu area Puxi yang terletak di sebelah barat Sungai tidak kalah menarik dibandingkan dengan kota barunya, yaitu Wilayah Pudong, yang terletak di sebelah timur. 

Menara TV Shanghai yang merupakan icok kota Shanghai juga terlihat sangat cantik di malam hari. Pemerintah China, khususnya pemerintah kota Shanghai benar-benar bisa memanfaatkan aset alam berupa sungai dan aset buatan manusia yaitu gedung-gedung pencakar langit secara maksimal, untuk dijadikan pertunjukan wisata.

Malam itu jam dinding di tengah kota sudah menunjukkan pukul sebelas malam lwat dua puluh menit, tetapi hal tersebut tidak terasa karena masih banyak kerumunan manusia berlalu-lalang di sekitar wilayah Nanjing Road, Shanghai. Di tengah kerumunan manusia tersebut tampak seorang wanita muda dan putrinya yang masih kecil berjalan dengan lesu di sepanjang jalan Nanjing Road yang ramai sesak oleh manusia.

Malam ini adalah malam Natal, semua orang tumpah ruah ke jalanan Shanghai untuk merayakan sukacita Natal di jalan-jalan. Sekeliling jalan itu dihias dengan sangat indah, mayoritas penuh dengan warna merah dan emas. Senyum sukacita tergambar di wajah orang=orang itu saat mereka mendengar suara lonceng Natal bergema. Mereka saling berpelukan dan memberikan hadiah Natal kepada orang-orang di samping mereka. Semenatra wanita muda itu hanya tersenyum miris mendengarnya.

“Hari Natal. Bukankah seharusnya hari ini adalah hari yang penuh dengan sukacita? Aku sudah lupa berapa lama aku tidak merayakan Natal bersamanya. Entah berapa lama cintanya padaku sudah menghilang dan digantikan oleh wanita itu. Hari di mana semua orang merayakannya dengan orang terkasih mereka adalah hari di mana kebahagiaanku sudah dirampas dengan kejam. Aku tidak akan pernah melupakan hari ini,” batin wanita itu dengan sakit di hatinya.

“Xue Jian, kau dengar baik-baik. Hari ini ayahmu sudah mencampakkan kita, kelak apa pun yang terjadi kau tidak boleh kembali padanya. Kau mengerti sayang? Mulai hari ini kau anggap ayahmu sudah mati, kau tak punya ayah lagi. Namamu sekarang bukanlah Li Xue Jian melainkan YANG XUE JIAN! Dan kau juga harus ingat satu hal, di dunia ini tak ada cinta sejati. JANGAN PERNAH MENCINTAI SESEORANG karena pada akhirnya orang itu hanya akan menyakitimu. CINTA ITU TAK ADA! Di dunia ini tak ada yang namanya cinta,” wanita muda itu berlutut seraya menasehati putri kecilnya.

Gadis kecil itu hanya menangis melihat ibunya menangis, walau masih tak mengerti artinya, dia hanya bisa mengangguk pelan. Wanita muda itu menangis pelan sambil memeluk putri kecilnya, mulai hari ini mereka akan menghadapi kehidupan yang keras tanpa cinta.

Hari Natal itu adalah hari di mana mereka berdua diusir keluar dari rumah mereka dan enam tahun kemudian di tanggal yang sama, di malam di mana hujan salju juga turun dengan lebat, wanita muda itu menghembuskan napasnya yang terakhir setelah sebuah mobil sedan hitam menabraknya dan melarikan diri begitu saja.

Xue Jian tak pernah lupa hari itu, demi untuk membelikan hadiah Natal untuknya, ibunya rela bekerja keras hingga malam agar bisa memberikannya sebuah boneka beruang yang cantik.

Tepat saat malam Natal, saat Ibu dan anak itu berjalan dengan penuh sukacita sambil bergandengan tangan menuju sebuah toko mainan yang terletak di seberang jalan, sebuah mobil sedan hitam bergerak ke arah mereka dengan kecepatan penuh. Tak ingin putrinya celaka, sang Ibu mendorong putrinya ke tepi jalan dan membiarkan dirinya tertabrak.

“Ibu...” Xue Jian kecil hanya bisa menangis pilu saat melihat mobil hitam itu menabrak ibunya dan pergi begitu saja. Xue Jian kecil yang malang, usianya baru sepuluh tahun ketika dia harus melihat ibunya meninggal tepat di depan matanya saat mobil itu menabrak ibunya dan membuatnya meninggal seketika. Xue Jian kecil hanya bisa menangis pasrah, dia tahu sejak itu hidupnya yang kelam akan segera dimulai.

“Aku tak ingin apa pun. Aku tak mau hadiah Natal apa pun. Tuhan, jika Kau memang ada, tolong kembalikan Ibuku padaku. Aku janji akan jadi anak yang baik. Xue Jian akan jadi anak yang baik. Ibu...Ibu...bangunlah! Jangan tinggalkan Xue Jian sendiri!” raungnya sedih seraya memeluk tubuh ibunya yang bergelimang darah, airmata mengalir deras di pipinya yang seputih salju, jatuh mengenai timbunan salju yang ada di bawah kakinya.

Saat airmata berubah menjadi tetesan darah, saat salju yang putih perlahan menjadi merah, Xue Jian tahu bahwa hidupnya yang keras akan dimulai saat itu juga. Tak lama setelah itu, pemilik apartment tempat dia tinggal membawa Xue Jian ke sebuah panti asuhan. Di sanalah Xue Jian tinggal selama beberapa waktu sebelum akhirnya Panti Asuhan itupun terbakar, lagi-lagi tepat di Hari Natal.

To be continued...

(Teaser) Winter Tears : Prolog

Sama seperti novel-novel yang lainnya, saya juga akan memberi gambaran sekilas alias teaser mengenai Tetralogi 4 Musim pertama saya, yaitu “Winter Tears”. Gak usah banyak-banyak sih, seperti yang sebelum-sebelumnya, Cuma 4 bab aja. Kalau semuanya dibongkar di blog, tar gak ada yang mau beli donk hehehe =) So, please welcome The First From My Four Seasons Series “Winter Tears”



“Apa yang kau lakukan di sini? Apa Suster Kepala yang menyuruhmu mencariku?” tanya seorang gadis kecil berambut panjang dan bermantel putih di dalam hutan yang tertutup salju.     

“Aku tersesat. Tempat apa ini? Aku mau keluar. Apa yang kau lakukan di tempat sedingin ini?” seorang anak laki-laki balik bertanya padanya. Dia gadis kecil yang aneh, di saat anak-anak lainnya sedang merayakan Natal bersama di dalam rumah dan makan makanan yang enak, dia justru berada di dalam hutan yang dingin dan gelap.

“Aku sedang mencari Peri Salju. Peri Salju hanya muncul saat malam Natal dan akan mengabulkan permintaan anak yang selalu bersikap baik,” jawab si gadis kecil sambil tersenyum, saat menoleh, rambut hitamnya yang lurus dan tergerai sepanjang pinggang tampak berkibar ditiup angin musim dingin yang berhembus.

“PERI SALJU?” ulang si anak laki-laki bingung.
“Benar, Peri Salju,” jawabnya lagi.
“Kau dengar omong kosong itu dari mana? Lucu sekali,” cibir si anak laki-laki, menertawakannya.

“Anak orang kaya sepertimu, yang selalu mendapatkan apa yang mereka inginkan, memang tidak butuh Peri Salju untuk mengabulkan keinginanmu, benarkan? Tapi tidak begitu denganku. Ibuku meninggal dan ayahku membuangku. Kau tahu kenapa aku ingin menemukan si Peri Salju? Karena aku ingin dia membantuku membawa kembali Ayahku!” jawab gadis kecil itu, tiba-tiba menangis pelan.

Melihat airmatanya, perasaan bersalah mencengkeram si anak laki-laki.  “Maaf. Aku benar-benar minta maaf,” si anak laki-laki meminta maaf karena merasa bersalah telah membuat gadis kecil itu menangis.

“Kau ingin keluar dari hutan ini kan?” tanya si gadis kecil tiba-tiba seraya menghapus airmatanya.

“Ikutilah jalan setapak itu dan berjalanlah lurus tanpa berhenti sampai kau melihat sebuah pondok kecil. Jika kau sudah sampai di pondok kecil itu maka kau sudah bisa melihat Panti Asuhanku. Bila masih bingung, kau pandanglah bintang itu, maka dia pasti akan membantumu menemukan jalan pulang,” lanjutnya lagi seraya menuding ke langit malam.

“Bintang?” ulang si anak laki-laki bingung.
“Bintang Polaris, bintang yang cantik di langit utara  yang dijadikan penanda arah utara. Ikuti bintang itu maka kau akan bisa keluar dari hutan ini,” jawabnya lagi.
“Lalu kau?” tanya si anak laki-laki.

“Aku akan mencari Peri Salju dan aku tidak akan kembali sebelum menemukannya. Kau pergilah dulu! Sampai jumpa!” jawab si gadis kecil singkat lalu berjalan ke arah hutan.

“Tapi sekarang sudah malam, tidakkah sebaiknya kau cari dia besok pagi saja? Kita pulang bersama,“ tawar si anak laki-laki padanya.

“TIDAK! Peri Salju hanya muncul saat Natal, jika malam ini aku tidak menemukannya, aku harus menunggu tahun depan. Itu terlalu lama. Siapa yang tahu apa yang akan terjadi besok? Bagaimana jika seandainya besok aku mati? Aku harus menemukan Peri Salju sekarang juga,” jawabnya keras kepala.

“Tapi...” Si anak laki-laki berusaha memprotes tapi gadis kecil itu memotong kalimatnya.
“Setidaknya aku sudah berusaha kan? Walau gagal aku tidak akan menyesal. Sampaikan terima kasih pada Ayahmu untuk semua kebaikannya. Kami menikmati pesta Natalnya. Dan baju-baju yang dibelikannya untuk kami juga sangat indah,” jawabnya lagi sambil tersenyum manis.

“Sama-sama. Boleh aku tahu namamu?” tanya anak laki-laki itu ingin tahu.
Gadis kecil itu tersenyum dan menjawab “Little Snow,” ujarnya lalu menghilang ke dalam hutan.

Begitu dia pergi, anak laki-laki itu menyadari sesuatu terjatuh dari tempat gadis kecil itu berdiri tadi. Dia memungut benda yang berkilauan itu dan menatapnya. Sebuah kalung berliontin bintang separuh yang mirip dengan miliknya sendiri tapi di belakang liontin itu terukir sebuah huruf Xue () yang berarti “Salju”.

“Kenapa sangat mirip dengan milikku?” ujar si anak laki-laki seraya menatap heran kalung itu, kemudian dia teringat sesuatu, “Little Snow, kalungmu...” teriak si anak laki-laki tapi sepertinya si gadis kecil itu sudah tidak mendengar lagi.

To be continued...

Sabtu, 30 Mei 2015

Thank you Readers, Muuaaahh ^.^

Sebagai penulis novel, apalagi kalau sudah memiliki novel cetak dan ada yang membelinya, tentu rasanya sangat bangga dan menyenangkan. Walaupun sebenarnya hasil tulisanku sejujurnya masih jauh dari kata sempurna, dan mayoritas semua novel ini dicetak melalui Self Publishing, tapi gak apa-apalah ya, yang penting pernah merasakan punya novel cetak dan ada yang beli ^_^

Kali ini, untuk berterima kasih kepada teman-teman yang sudah bersedia membeli novelku dan menjadi pembaca setiaku, aku akan memposting foto-foto mereka. Tentunya ini sudah melalui ijin dari mereka semua ya.

I’m Nothing Without Them *love love* Temen-temen di sini bener-bener temen loh, yang aku kenal dengan deket dan bisa aku mintain foto, kalau orang lain yang gak kenal dan kebetulan beli novelku melalui platform, ya gak bisalah aku mintain foto, kan?

Hhhmmm... dari berbagai novel nih kayaknya, yang sayangnya juga banyak yang ilang, tersimpan di memori SIM tapi memori SIM-nya rusak hiks T___T Padahal belum dipindah ke laptop. Mau minta mereka foto lagi tapi kok sungkan? Jadi anggep aja memposting foto mereka di blog adalah salah satu cara untuk menyimpan kenangan sekaligus melindungi file/foto dari kemungkinan memori SIM rusak seperti sebelumnya. Paling aman memang disimpan di blog. So, here some photos from My Lovely Readers with My Novel ^.^




























NB : All the Picture belongs to the owner.. Thank you Readers for reading my Novel. I Love You so ^.^ Buat yang merasa fotonya muncul di sini, gak papalah sekalian numpang tenar wkwkwkwk ^.^