Tampilkan postingan dengan label Novel - Rain And Tears. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Novel - Rain And Tears. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Juni 2015

(Novel) Rain And Tears, ajang pembuktian pada diri sendiri

Novel pertama saya yang saya terbitkan melalui Nulisbuku.com tahun lalu bertepatan dengan kompetisi Bulan Narasi 2014. Walaupun hanya melalui Self Publishing, saya sama sekali tidak merasa malu. Kenapa? Karena novel ini adalah ajang pembuktian pada diri saya sendiri bahwa saya mampu menghasilkan sebuah karya di tengah halangan dan rintangan yang menerpa saya. Faktanya, tidak semua orang mampu menyelesaikan tulisan yang mereka buat, kebanyakan dari mereka justru hanya memulai tanpa mampu menyelesaikannya. Berbagai alasan mulai dari tak punya waktu, writer block hingga malas, kerap menghampiri diri kita. Jadi novel ini saya anggap sebagai ajang pembuktian kepada diri saya sendiri bahwa saya mampu menyelesaikan apa yang telah saya mulai...

“(Novel) Rain And Tears, ajang pembuktian pada diri sendiri”

New cover

Old Cover


Rain And Tears : Memories Of The Rain, give me so many, many beautiful memories. Mulai dari kompetisi sebulan yang menegangkan, pesaing yang begitu banyak (813 peserta tahun lalu), berkenalan dengan banyak teman, hingga sebagai ajang pembuktian diri bahwa saya mampu menyelesaikan apa yang telah saya mulai. Novel pertama yang meninggalkan banyak kenanga indah. Tapi syukurlah, walaupun hanya terbit secara Self Publishing, tetapi pembaca setia saya, mereka yang menyebut diri mereka “The Real Friends” bersedia membeli novel ini dan bahkan bukan hanya yang ini, melainkan semua novel yang telah saya terbitkan melalui NulisBuku.com yaitu : I Cook The Haters For You dan Return Of The Living Dead (yang sekarang masih saya tarik karena ingin revisi).



So, bagi kalian yang bermimpi untuk menjadi seorang penulis. Mulailah hari ini...Tak perlu harus Penerbit Besar, Self Publishing pun tak masalah sebagai ajang untuk melatih kemampuan kalian kelak, sebagai ajang promosi nama kalian juga sebagai ajang uji coba pasar.

So, bagi yang kalian yang ingin mengetahui tentang Novel “Rain and Tears : Memories Of The Rain” ini, akan saya rangkum menjadi satu agar kalian lebih mudah membacanya :



#NulisRandom2015

Sabtu, 30 Mei 2015

Thank you Readers, Muuaaahh ^.^

Sebagai penulis novel, apalagi kalau sudah memiliki novel cetak dan ada yang membelinya, tentu rasanya sangat bangga dan menyenangkan. Walaupun sebenarnya hasil tulisanku sejujurnya masih jauh dari kata sempurna, dan mayoritas semua novel ini dicetak melalui Self Publishing, tapi gak apa-apalah ya, yang penting pernah merasakan punya novel cetak dan ada yang beli ^_^

Kali ini, untuk berterima kasih kepada teman-teman yang sudah bersedia membeli novelku dan menjadi pembaca setiaku, aku akan memposting foto-foto mereka. Tentunya ini sudah melalui ijin dari mereka semua ya.

I’m Nothing Without Them *love love* Temen-temen di sini bener-bener temen loh, yang aku kenal dengan deket dan bisa aku mintain foto, kalau orang lain yang gak kenal dan kebetulan beli novelku melalui platform, ya gak bisalah aku mintain foto, kan?

Hhhmmm... dari berbagai novel nih kayaknya, yang sayangnya juga banyak yang ilang, tersimpan di memori SIM tapi memori SIM-nya rusak hiks T___T Padahal belum dipindah ke laptop. Mau minta mereka foto lagi tapi kok sungkan? Jadi anggep aja memposting foto mereka di blog adalah salah satu cara untuk menyimpan kenangan sekaligus melindungi file/foto dari kemungkinan memori SIM rusak seperti sebelumnya. Paling aman memang disimpan di blog. So, here some photos from My Lovely Readers with My Novel ^.^




























NB : All the Picture belongs to the owner.. Thank you Readers for reading my Novel. I Love You so ^.^ Buat yang merasa fotonya muncul di sini, gak papalah sekalian numpang tenar wkwkwkwk ^.^

Selasa, 23 Desember 2014

Chapter 4 : Polaris In My Heart II Rain And Tears

The Last Teaser... Sisanya kalau penasaran bisa kalian baca di blogku yang lain secara gratis. Sebelumnya novel ini pernah diterbitkan oleh Nulisbuku.com dan Diandra Creative, namun kini aku memutuskan untuk mempostingnya ulang secara gratis. 


Hari berlalu cepat, hubungan Rainy dan Yin Feng pun semakin dekat dan akhirnya hari di mana Yin Feng mengajak kencan Rainy pun tiba. Dengan hati gembira Yin Feng membayangkan kencan pertamanya dengan gadis itu, entah sejak kapan dia merasa gadis itu sangat istimewa, ada sesuatu dalam dirinya yang membuat Yin Feng terpesona, bukan uang, bukan wajah cantiknya, bukan bakatnya atau juga kepintarannya tapi entah apa, Yin Feng merasa gadis itu membuatnya sangat penasaran. Awalnya dia hanya ingin mengenal Rainy lebih dalam, tapi sekarang sepertinya dia benar-benar sudah terjerat dengan pesona si Gadis ‘Hujan’.

“Semoga tidak turun hujan. Belakangan ini hujan turun tanpa bisa diduga. Apalagi kau malah membawaku kemari.” ujar Rainy saat Yin Feng membawanya ke sebuah lapangan luas untuk bermain kembang api.

Yin Feng memandang langit yang bertabur bintang lalu menjawab dengan penuh percaya diri.

“Kurasa malam ini takkan turun hujan. Lihat! Bintangnya banyak sekali kan?” ujarnya ceria sambil kembali menyalakan kembang apinya. Rainy tertawa senang, seperti anak kecil yang tak pernah bermain kembang api sebelumnya. Dia menyalakan kembang apinya dan membawanya berlari berputar-putar dengan gembira.

“Apa kau senang?” tanya Yin Feng pada Rainy saat mereka lelah bermain kembang api dan sekarang berbaring telentang di tengah lapangan luas itu. Rainy mengangguk mantap.

“Senang sekali. Aku tak pernah bermain kembang api sebelumnya. Terima kasih.” jawabnya tulus sambil menoleh pada Yin Feng yang tampak kaget.

“Apa? Kau bercanda kan? Tak pernah bermain kembang api? Saat kecil pun tak pernah? Bagaimana mungkin?” Yin Feng berseru tak percaya sementara Rainy hanya terdiam.

“Saat kecil aku bahkan tak mampu bicara, aku hanya menatap kosong hujan yang turun dari langit tanpa mengatakan apapun. Aku bahkan selalu dikurung disebuah ruangan yang kecil dan suram. Semua orang menganggap aku gila. Bermain kembang api? Aku bahkan takut cahaya.” batin Rainy perih seraya mengenang masa kecilnya yang suram.

Melihat situasi mulai berubah canggung dan memahami bahwa Rainy tak ingin menceritakan masa kecilnya, apalagi jika melihat raut kegembiraan di wajah gadis itu tergantikan oleh tatapan mata yang sedih, Yin Feng akhirnya teringat bahwa dia punya sesuatu yang mungkin bisa menghibur gadis ini, dia pun berdiri dan mengambil sesuatu dalam bagasi mobilnya. Sebuah teropong bintang. Dengan ceria dia membawa teropong bintang itu ke tempat Rainy berbaring.

“Untukmu.” ujarnya pada Rainy seraya menyerahkan teropong bintang itu. Rainy menatapnya bingung dan perlahan mulai duduk. 

“Teropong bintang? Tapi untuk apa?” tanya Rainy bingung walau tanpa sadar dia meraihnya.

“Untuk melihat MARS. Aku tahu kalau malam hari tidak bisa dilihat. Tapi besok pagi kau pasti bisa melihatnya. Mars yang berwarna merah, kadang bisa terlihat di pagi hari, bergantian dengan bintang Fajar, Venus.” jawab Yin Feng lembut. 

“MARS?” tanya Rainy bingung dan tersentuh.

“Benar. Aku berharap kau bisa menemukan kehidupan baru yang kau inginkan di Mars. Kalau kau merasa kehidupan barumu ada di Mars, kurasa tak ada salahnya kalau kau pakai teropong itu untuk melihat Mars sambil membayangkan sebuah kehidupan yang kau inginkan.” terang Yin Feng dengan lembut dan penuh perhatian.

Rainy sangat tersentuh mendengarnya, tak pernah dalam hidupnya ada orang yang sangat memperhatikannya seperti ini, bahkan tidak Ibu angkatnya. 

“Kau tahu tidak? Sepertinya aku sudah menemukan itu sekarang.” jawab Rainy sambil tersenyum penuh arti, dia merasakan sesuatu yang aneh dari dalam hatinya.

Berada di dekat pria muda ini membuatnya merasa sangat hangat, dia merasa seolah lubang dalam hatinya mendadak penuh seketika. Yin Feng memandangnya dengan heran.

“Sebenarnya apa yang sedang kau pandang?” tanya Yin Feng seraya mencari tahu kemana arah tatapan Rainy.

“Bintang Utara.“ jawab Rainy pelan sambil menunjuk kerah langit. Yin Feng tersenyum mengetahui arah pandangan Rainy.

“Maksudmu Andromeda? Apa kau sedang memandang Andromeda?” tanya Yin Feng seraya menunjuk kearah yang sama. 

Rainy menoleh bingung kearahnya. “Jadi namanya Andromeda? Bukankah Andromeda adalah nama Galaksi tetangga di sebelah Galaksi Bima Sakti kita?“ tanyanya dengan mata berkilat penasaran.

Yin Feng tersenyum dan berkata “Andromeda bukan hanya nama sebuah Galaksi tapi juga nama sebuah Rasi Bintang di Langit Utara. Langit Utara bukan hanya punya satu Rasi Bintang tapi banyak sekali bintang-bintang didalamnya, tapi memang hanya beberapa yang bersinar sangat terang, salah satu contohnya adalah Rasi Bintang Andromeda dan Bintang POLARIS.“ jawabnya menerangkan.

“Itu! Disana! Bintang  yang bersinar terang disana, tidak jauh dari Andromeda adalah bintang Polaris. Polaris disebut juga Bintang Utara, Para Pelaut menjadikannya sebagai Penunjuk arah Utara. Kau tahu kenapa?” tanya Yin Feng sambil memandang Rainy. Rainy menggeleng lagi.

“Kenapa harus Polaris? Bukankah kau bilang di langit Utara ada banyak sekali bintang yang lain? Kenapa bukan Andromeda saja yang dijadikan Penunjuk Arah Utara? Bukankah mereka sama-sama terletak di langit Utara dan sama-sama bersinar terang?” tanya Rainy ingin tahu.

Yin Feng tersenyum sambil menjelaskan “Karena Polaris terletak tepat di kutub utara bumi, sehingga walaupun bumi bergerak mengelilingi matahari dan menyebabkan benda-benda langit disekitarnya seolah-olah ikut berpindah, tapi hanya Polaris yang tetap diam di tempatnya. Andromeda pun ikut berpindah seiring dengan perputaran Bumi terhadap Matahari, karena andromeda  terletak tidak tepat di sumbu utara bumi sehingga Andromeda berpindah tempat, tapi Polaris tetap diam disana.” jawab Yin Feng seraya menunjuk ke langit malam yang bertabur bintang.

“Polaris juga melambangkan sebuah harapan yang kuat. Mungkin karena posisi Polaris yang tetap diam ditempatnya tidak peduli apapun yang terjadi, tidak peduli walau semua hal disekitarnya berputar dan terus berubah, hanya Polaris satu-satunya yang tidak akan pernah berpindah tempat.” Yin Feng menjelaskan tentang Polaris dengan penuh semangat, matanya menatap lekat kearah langit utara.

Walau musim berganti seiring dengan perubahan bintang-bintang itu, tapi Polaris tidak akan pernah berubah sedikitpun. Musim Panas, Musim Semi, Musim Gugur, ataupun Musim Dingin, kita akan tetap melihat Polaris di langit utara tetap diam ditempatnya. Selamanya tidak berubah. Itulah keistimewaan Polaris dibanding bintang-bintang lainnya. Jika kau merasa putus asa, tataplah Polaris maka kau pasti akan merasa harapanmu akan muncul kembali.” lanjut Yin Feng menjelaskan.

“Polaris, Sang Bintang Utara Yang Melambangkan Harapan. Wah, ternyata kau tahu banyak ya?” puji Rainy kagum sambil tersenyum senang.

“Aku suka astronomi.“ jawab Yin Feng singkat sambil tetap memandang langit. 
“Oh ya, Apa kau tahu kalau Andromeda punya sebuah kisah?“ tanya Yin Feng lagi sambil menunjuk Rasi Bintang yang tidak jauh dari Polaris.

Rainy lagi-lagi menggeleng. “Aku tidak tahu. Ceritakan! Aku ingin mendengarnya darimu.“ ujar Rainy dengan penuh semangat dan mata berbinar penasaran.

“Menurut Legenda, Andromeda adalah Seorang Putri Raja yang cantik dan baik hati yang merupakan anak tunggal dari Raja Cepheus dari Kerajaan Ethiopia dan Ratu Cassiopeia adalah Ibunya. Ratu Cassiopeia sangat cantik tapi juga sangat sombong. Dia bahkan berani memproklamirkan dirinya Lebih Cantik dari Dewi Cinta Aphrodite dan Putri Nereids, Putri Dewa Laut Poseidon. Tidak terima karena Putrinya di hina, Dewa Laut Posseidon menjadi marah dan mengirimkan seekor monster laut bernama Cetus untuk menghancurkan pesisir Pantai Etiophia dan Kerajaan. Kemudian Para orang bijak mengumumkan bahwa Raja harus mengorbankan Putrinya kepada si Monster Laut untuk menghentikan kutukan itu.“ Yin Feng berhenti sejenak untuk melihat reaksi Rainy.

“Hhhaaahh...Putri Andromeda kasihan sekali, dia harus membayar kesalahan yang diperbuat Ibunya yang sombong. Ini semua kan gara-gara Ratu Cassiopeia sangat sombong sehingga Dewa Laut Poseidon sangat murka. Lalu bagaimana selanjutnya? Apa Putri Andromeda jadi di korbankan?” tanyanya antusias dengan mata berkilat ingin tahu.

Yin Feng senang Rainy tertarik pada ceritanya, lalu dia pun melanjutkan. 
“Keesokannya, Putri Andromeda di rantai pada batu karang di tepi pantai. Menunggu Sang Monster Laut datang untuk membunuhnya, tapi tiba-tiba seorang Pemuda bernama Perseus, yang jatuh cinta pada Putri Andromeda datang dan berusaha menyelamatkannya.“ lanjut Yin Feng.

“Benarkah? Apa Perseus berhasil? Aku tahu pasti akan ada seorang Pangeran tampan yang akan menyelamatkan sang Putri.“ ujar Rainy bersemangat. 

“Perseus lalu pergi mencari Medusa dan membunuhnya, kemudian mengambil kepalanya.“ jawab Yin Feng lalu Rainy memotongnya “Siapa Medusa?” tanyanya bingung.

Medusa adalah seorang wanita berambut ular dan siapapun yang menatap matanya akan berubah menjadi batu.“ jawab Yin Feng lembut.

Rainy mulai mengerti maksudnya. “Aku tahu. Jadi Perseus ingin menggunakan kepala Medusa untuk dihadapkan pada Cetus, supaya Monster Laut itu berubah menjadi batu saat dia menatap mata Medusa, benarkan?” Rainy menebak dengan antusias.

Yin Feng mengangguk. “Tepat sekali! Karena memang itulah satu-satunya cara untuk membunuh Cetus. Akhirnya setelah melalui berbagai perjuangan, Perseus berhasil mengalahkan si Monster Laut dan menyelamatkan Putri Andromeda lalu melepaskannya dari rantai pada batu karang ditepi laut itu.“ jawabnya sambil tersenyum.

“Dan akhirnya mereka menikah dan hidup bahagia selamanya. Benarkan?” tanya Rainy, puas dengan hasil akhirnya. Yin Feng mengangguk mantap.

“Setelah berbagai kesulitan dan rintangan akhirnya mereka bisa menikah dan bahagia selamanya. Saat meninggal, Andromeda pun ditempatkan di langit, sebagai Galaksi yang paling dekat dengan bumi juga sebagai Rasi Bintang yang menyala terang. Pada malam-malam cerah yang berbintang sangat mudah melihatnya.” jawab Yin Feng sambil memandang bintang di langit Utara.

“Itu sebabnya disekitar Rasi Bintang Andromeda ada bintang Perseus yang menyala terang, legenda itu mengatakan bahwa Perseus ada disamping Andromeda untuk selalu melindunginya. Bintang Cepheus dan Bintang Cassiopeia juga ada di sekeliling Andromeda. Mereka bersinar bersama dengan terang, walau mungkin tidak seterang Sang Putri itu sendiri, Andromeda.“ ujar Yin Feng mengakhiri kisahnya.

“Kisah yang romantis. Kisah tentang Pangeran yang menyelamatkan Sang Putri saat Putri itu hampir dibunuh Monster. Apa aku juga bisa seperti Putri Andromeda, ada Seorang Pangeran yang datang menyelamatkan aku saat aku terikat di batu karang? Mungkin bukan Pangeran Berkuda Putih yang sebenarnya ataupun ksatria gagah dengan pedangnya seperti dalam dongeng, tapi seorang Pria yang akan mencintaiku sepenuh hati dan akan selalu siap melindungiku.“ ujar Rainy lirih sambil terus menatap langit.

“Aku sangat iri pada Andromeda. Aku sangat ingin menemukan Perseusku sendiri. Pangeran Berkuda Putih milikku. Menurutmu akankah aku menemukannya?” tanya Rainy sambil menatap mata Yin Feng dengan mata bersinar lembut.

“Ijinkan aku menjadi Perseusmu? Aku ingin menjadi Pangeran Berkuda Putih untukmu, ksatria yang akan selalu siap melindungimu. Bisakah?“ pinta Yin Feng sambil menatap mata Rainy dengan penuh cinta. Jantung Rainy berdetak kencang, tidak menyangka Yin Feng akan menyatakan perasaannya, disini, sekarang.

Kak Feng, tidakkah ini terlalu cepat? Kita baru kenal dan...” Rainy tak bisa meneruskan kata-katanya karena Yin Feng memotong kalimatnya. 

“Tapi entah kenapa aku merasa seperti telah lama mengenalmu. Rainy, apa kau percaya pada cinta pada pandangan pertama? Sepertinya aku sudah jatuh cinta padamu sejak hari pertama aku melihatmu di ruang seni hari itu. Bisakah kau beri aku kesempatan?” pinta Yin Feng memohon seraya menggenggam tangan Rainy erat.

Dia membelai lembut rambut Rainy dan berbisik lirih “Kurasa kita memang ditakdirkan untuk bersama. Kau adalah hujan dan aku adalah angin, tanpa angin tak mungkin ada hujan, karena anginlah yang menerbangkan awan sehingga hujan pun turun ke bumi. Aku ingin kau tahu bahwa walau musim telah berganti, hujan di hatiku tetap akan ada dan membawa kesejukan dalam hati. Karena tanpa angin, takkan pernah ada hujan. Rainy Yang Thien Yu, I think I like you.” ujarnya dengan mata berkilat penuh cinta.

Rainy terdiam malu, semburat merah muda muncul di pipinya dan jika saja saat ini bukan malam hari, pasti rona merah muda di pipinya sudah terlihat sangat jelas.

“I like you and I need your answer.” ujar Yin Feng lagi dengan napas memburu. Rainy hanya menjawab dengan mengangguk malu karena mendadak lidahnya terasa kelu. Dia tahu ini terlalu cepat, tapi dia tak bisa memungkiri bahwa hatinya pun mengharapkan hal yang sama. Yin Feng tersenyum dan menarik Rainy ke dalam pelukannya dan memeluknya lembut.

“Andromedaku. Aku ingin kau menjadi Andromedaku.” ujar Yin Feng lagi sambil membelai lembut rambut Rainy dan masih memeluknya erat.

“Sayangnya aku tidak ingin menjadi Andromeda untuk Perseus, atau Juliet untuk Romeo, tidak juga Cinderella untuk Pangeran. Aku hanya ingin menjadi ‘Hujan’ untuk ‘Angin’. Bisakah itu? Aku bukan gadis yang sempurna. Jika saatnya tiba, aku ingin kau tahu segalanya dan saat itu, jika kau memilih meninggalkan aku, aku takkan melarang.” ujar Rainy pengertian, sadar bahwa dia memiliki masa lalu yang sangat gelap, segelap awan mendung saat akan turun hujan, namun menolak untuk menjelaskan lebih jauh, meninggalkan tanda tanya besar di hati Yin Feng, tapi pria itu tak ingin bertanya lebih jauh, dia ingin Rainy menceritakannya sendiri jika saatnya sudah tiba.

~~~~~~

NB : Penasaran dengan kelanjutan kisah ini? Rahasia apakah yang disimpan Rainy? Apakah kisah cinta mereka akan berakhir bahagia seperti Andromeda dan Perseus ataukah sebaliknya? Ingatlah bahwa “Tanpa awan dan angin, takkan pernah ada hujan. Tapi jika awan, angin dan hujan bersama, bukankah akan timbul badai besar?”

<<<< Cerita lengkap bisa dibaca di blogku yang lain yaitu: Liana Land! >>>>

Salam, 

Liliana Tan

Chapter 3 : Rainy Day II Rain And Tears

Lanjut ke tester ketiga. Tetap dengan "Rain and Tears" yang bertabur hujan setiap hari, biar sesuai ma judulnya gitu hehehe =) Cocok banget kan untuk dinikmati di musim hujan seperti sekarang ini, makin kerasa deh feelnya xixixi =) 

Tahu gak readers, saat aku menulis ini saya sambil dengerin lagu jadulnya Jimmy Lin - Sin Yin (Awan Dihati), makanya karakter cowoknya namanya "Awan" kan alias "Yin". Berhubung ini temanya Hujan, so aku sengaja mencari nama yang mewakili semua fenomena alam yang menyertai terjadinya hujan kayak : Rainy yang berarti "hujan", Yin Feng yang berarti "Awan dan Angin", nanti juga di bagian tengah muncul karakter lain bernama "Yin Xi" yang sekali lagi, Yin dari kata "Awan" hehehe =) jadi biar feelnya kerasa gitu, dan gak sembarangan asal comot nama. 


Setengah berlari, Rainy menuju ke arah halte bus saat merasakan setitik demi setitik air yang menetes dari langit. Tepat saat kakinya menginjak lantai halte, gerimis telah berubah menjadi hujan. Sambil terus memandang rintik hujan yang turun, angan Rainy kembali melayang.

Hujan...Hal yang paling disukai oleh kakaknya, namun justru menjadi musuh terbesar dalam hidupnya. Tanpa terasa setetes air membasahi wajahnya, tentu saja bukan karena hujan.

Air itu turun dari mata beningnya. Hujan selalu memberikan kenangan tersendiri dalam hidupnya. Kenangan paling menyakitkan sekaligus paling membahagiakan yang takkan pernah di lupakan seumur hidupnya. 

“Aku ingat kakakku sangat menyukai hujan, tapi aku justru kehilangan dia ditengah hujan.” gumam Rainy seraya menghapus airmata di pipinya.

“Hei, kita bertemu lagi, Gadis ‘Hujan’? Apa kau sedang mencari inspirasi di tengah hujan?” tanya seorang laki-laki muda dari dalam mobil yang mendadak berhenti di depannya. 

Rainy memicingkan matanya, mencoba melihat pemilik mobil itu yang terhalang oleh tirai tipis air hujan. Dia. Laki-laki misterius yang ditemuinya di ruang seni waktu itu.

“Kau mau kuantar pulang? Atau mungkin kau sedang menunggu sopirmu menjemputmu?” tanyanya lagi saat melihat Rainy tak merespon. Rainy menggeleng pelan. 
“Aku tak suka diantar sopir, aku lebih suka pulang sendiri.” jawab Rainy pelan.

“Kalau begitu masuklah. Hujan begitu deras, kurasa busmu tidak akan datang.” tawarnya ramah, Rainy berpikir sejenak seraya memandang langit. Hujan yang turun saat ini memang tidak menampakkan tanda-tanda akan berhenti. 

Akhirnya tak punya pilihan, Rainy memilih menerima tawaran pria muda itu dan masuk ke dalam mobilnya. Tanpa mereka sadari beberapa orang gadis sedang mengamati mereka dengan pandangan iri.

“Hei, bukankah itu Lu Yin Feng, mahasiswa jurusan Hukum dan Ketua Senat kita? Dia Pangeran Kampus, mau apa Rainy masuk ke dalam mobilnya? Apa diam-diam mereka pacaran? Cindy, bukankah kau sahabat Rainy, apa kau tahu tentang hal ini?” tanya salah seorang gadis berbaju merah pada Cindy yang saat ini sedang menatap kesal pada sahabatnya. 

“Aku tidak tahu apa-apa. Kurasa itu hanya kebetulan.” jawab Cindy, menutupi kekesalannya.

“Kebetulan? Kemarin aku juga melihat Kak Feng masuk ke dalam ruang seni menemui Rainy. Apa yang kemarin juga kebetulan? Wah, terlalu banyak kebetulan.” sindir yang lain sinis, seorang gadis berambut ikal menatap kesal kearah mobil Yin Feng yang berlalu pergi. Semakin membuat Cindy menjadi kesal. 

“Memangnya kenapa kalau mereka benar pacaran? Kalian ini sirik sekali. Rainy Yang bagaikan seorang Putri, dia memiliki segalanya, cantik, kaya, populer, tentu saja mereka pasti jadi pasangan yang serasi jika Rainy menjadi kekasih Yin Feng. Di bandingkan dengan Rainy, kita bukan siapa-siapa karena kita memang tidak memiliki apa-apa.” ujar yang satu lagi membela, gadis berambut coklat itu memandang heran teman-temannya yang suka sekali mencampuri urusan orang.

“Hahh...Kenapa sepertinya Tuhan sangat tidak adil pada kita? Kenapa bisa ada orang yang sempurna seperti Rainy? Benar-benar membuat orang iri saja.” celetuk gadis berambut ikal sekali lagi, mengungkapkan kecemburuannya. 

“Sudahlah. Daripada terus saja iri pada Rainy, lebih baik kita pulang dan bersyukur saja. Kalian terus iri pun tidak akan mengubah apapun kan?” ujar si rambut coklat sekali lagi, seraya mengacungkan tangannya memanggil taksi. Beramai-ramai para gadis itu masuk ke dalam taksi karena merasa busnya akan datang terlambat di cuaca seperti ini.

Sementara yang lain sedang sibuk bercanda, Cindy terus saja menatap kosong ke arah jendela, ke arah rintik-rintik hujan yang jatuh dari langit. 

“Banyak orang bilang hari hujan membuat sedih, seseorang di suatu tempat mungkin sedang menangis. Benar Rainy, akulah orang itu.” batin Cindy pahit seraya perlahan menghapus airmata di pipinya mengenang ucapan Rainy.

=====

Hujan baru saja mereda ketika semburat pelangi muncul di angkasa. Seorang gadis terdiam menatapnya dari balik kaca jendela kamarnya. Berharap lukisan langit itu tidak cepat memudar. 

“Indah kan, Thien Yu?” tanya seorang gadis lain yang kini sudah ada disampingnya. Cindy hanya memanggil Rainy dengan nama aslinya bila mereka hanya berdua. Rainy mengangguk pelan tanpa menoleh.

“Ya.Pemandangan langit setelah hujan reda memang sangat indah. Walau kadang tak nampak pelangi, tapi aku merasa tenang hanya dengan melihat kabut sisa hujan, daun-daun dan tanah yang basah, juga aroma hujan yang khas. Itu sebabnya kenapa aku…” 

“Sangat menyukai hujan.” sela gadis yang satu lagi sambil tersenyum.

“Setiap hujan tiba, kau pasti duduk di dekat jendela kamarmu untuk memandang butiran hujan. Lalu setelah hujan itu reda, kau akan keluar menuju balkon, untuk memandang langit, menunggu pelangi, atau hanya sekedar mengangumi kabut yang menyelimuti rumah ini. Aku tahu semua kebiasaanmu. Kau menyukai kesendirian.” jelasnya panjang lebar, membuat Rainy terdiam. 

“Aku tak pernah menyangka, kau akan terus mengingat kebiasaanku itu.” ujar Rainy tersentuh sambil menatap sahabatnya, Cindy Huang Xin Ling.

“Kau memang sahabat terbaikku, Xin Ling. Tanpamu, aku tak merasa kesepian lagi.” lanjut Rainy dengan tulus. 

“Sahabat? Bukankah aku hanya anak seorang pelayan? Harusnya aku memanggilmu Nona, benarkan?” Cindy mendadak berubah menjadi sinis. Rainy terkejut melihat sikap Cindy berubah dalam sekejap.

“Kenapa kau bicara seperti itu? Aku tak pernah menganggapmu seorang pelayan. Kau sudah kuanggap seperti saudaraku sendiri.” Rainy tampak terluka dengan jawaban Cindy yang seolah meragukan ketulusannya. 

“Tapi aku memang putri seorang pelayan. Ayahku bekerja sebagai sopir di keluarga ini, ibuku sebagai pelayan yang memasak untukmu setiap hari, kau adalah majikan di rumah ini, bukankah itu berarti aku adalah pelayanmu juga?” ujar Cindy mendadak sinis saat dia mengingat Rainy pulang bersama Yin Feng tadi siang.

“Aku tak mengerti kau bicara apa. Apa ada masalah?” Rainy mencoba mengerti perasaan sahabatnya. 

“Tidak ada. Maaf. Aku kemari karena Nyonya Besar, Ibu Anda, memintaku untuk memberitahu Anda bahwa makan malam sudah siap.” jawab Cindy pahit lalu berniat akan pergi saat tiba-tiba Rainy menarik tangannya.

“Ada apa? Katakan padaku. Kau sedang ada masalah?” tanya Rainy dengan sabar. Awalnya Cindy hanya menggeleng pelan, tapi saat menatap mata Rainy yang tak bisa dibantah akhirnya Cindy menjawab dengan pelan.

“Bukan apa-apa. Aku hanya merasa kau sangat beruntung. Aku hanya iri, itu saja. Kadang, aku ingin bisa menjadi sepertimu. Punya orang tua kaya, berbakat, cantik, pintar dan populer…” Cindy terdiam sejenak.

“Sudah kubilang hidupku tak sesempurna yang kau kira.” jawab Rainy untuk yang kesekian kalinya.

Iya, kau sudah mengatakannya berkali-kali. Aku tahu. Maaf. Ayo kita makan.” ujar Cindy, kembali lembut. Tatapan menyesal tampak di matanya. Rainy sudah begitu baik, tapi entah kenapa dia masih saja iri padanya. Kadang Cindy merasa dirinya sangat jahat. 

Xin Ling, apapun yang terjadi, bagiku kau adalah saudaraku, saudara yang tak pernah kumiliki. Aku menyayangimu sepenuh hati dan aku juga tak pernah sekalipun peduli pada statusmu. Bagiku, kau bukanlah pelayan tapi saudara.” Rainy mengingatkan sekali lagi dengan senyuman hangatnya.

“Sebagai saudara, jika aku meminta sesuatu padamu, apa kau akan mengabulkan permintaanku?” tanya Cindy lagi. Rainy mengangguk tanpa ragu. 

“Asal kau bahagia. Pasti akan kukabulkan, asalkan itu tidak melanggar hukum dan bukan kejahatan.” Rainy mengiyakan seraya memberikan syarat.

“Hei, aku tidak akan memintamu merampok demi aku kan?” jawab Cindy dan mereka pun melangkah keluar kamar Rainy sambil tertawa. 

Rainy menatap semua hidangan lezat yang disiapkan untuknya, semua itu adalah makanan favoritnya. Di meja makan itu, orang tua angkatnya telah menunggu dengan senyuman hangat mereka.

Begitu melihat Rainy tiba disana, spontan wanita setengah baya itu berdiri dan menghampirinya. Dia menggenggam tangan Rainy dengan hangat. 

“Sayang, Ibu sudah masakkan makanan favoritmu. Ayo makan.” ujarnya sayang, membuat Rainy meneteskan airmata terharu.

“Makanan favoritku?” ulang Rainy dan wanita setengah baya itu mengangguk mantap. 
“Benar. Makanan favoritmu, Yasang.” jawab wanita itu mantap seraya menuding piring yang berisi daging bebek yang ada di meja makan.

Yasang adalah makanan favorit Rainy, Yasang adalah daging bebek yang diasapkan lalu dikeringkan, mempunyai proses pengasapan yang khas, dengan saus khusus dengan menggunakan tebu sebagai kayu pengasapan sehingga proses pengasapannya sempurna, kemudian dikeringkan oleh angin. 

Rainy menatap makanan favoritnya di atas meja makan, lalu kembali menatap wanita yang dipanggilnya Ibu selama 16 tahun ini dengan penuh rasa haru dalam hatinya.

“Dia bukan Ibu kandungku, tapi dia begitu sayang padaku. Andai Ibu kandungku masih hidup, apa Ibu kandungku juga akan menyayangiku lebih dari ini?” batin Rainy pilu setiap mengingat peristiwa malam itu. 

“Ibu, terima kasih.” ujar Rainy lembut.
“Kau kenapa, sayang? Terjadi sesuatu di kampus?” tanya wanita yang dipanggilnya Ibu dengan cemas seraya menghapus airmata Rainy.

“Tidak. Semua baik-baik saja.” jawab Rainy sambil tersenyum hangat.
“Lalu kenapa kau menangis?” tanya wanita itu lagi, masih cemas. 

“Karena aku sangat merindukan Ibu dan Ayah.” jawab Rainy lembut. Wanita itu langsung menarik tubuh Rainy dan memeluknya sayang.

“Ohh...kau sungguh manis. Ibu juga sayang padamu, Nak.” ujarnya terharu, membuat semua pelayan yang sedang mempersiapkan makanan di ruangan itu ikut terharu. 

“Hei, masih ada Ayah di sini. Kenapa hanya ibumu yang kau peluk?” ujar seorang pria setengah baya dengan nada cemburu, spontan Rainy dan ibunya tertawa mendengarnya.

Rainy melirik Ibunya lalu melepaskan pelukan wanita itu dan berlari menghampiri ayahnya.
“Rainy juga sayang Ayah. Sayang sekali.” ujar Rainy manja dan mereka bertiga pun tertawa bahagia. Dari sudut ruangan itu, Cindy menatap keluarga bahagia itu dengan kesedihan di matanya.

“Sempurna. Betapa inginnya aku jadi sepertimu, Rainy. Andai ada yang bisa kulakukan agar bisa berada di posisimu. Jika ada yang bisa dilakukan untuk kita bertukar tempat, aku takkan ragu.batin Cindy pahit namun tak memperlihatkannya.

To be continued...

Sebelumnya novel ini pernah diterbitkan oleh Nulisbuku.com namun kini aku memutuskan untuk mempostingnya ulang secara gratis. 

<<<< Cerita lengkap bisa dibaca di blogku yang lain yaitu: Liana Land! >>>>

Salam, 

Liliana Tan