Minggu, 28 Februari 2016

My Personal Angel : Chapter 4



Upppzz...Sepertinya berperang melawan Iblis adalah tugas yang jauh lebih muda bagi Michael daripada harus berhadapan dengan seorang wanita, benarkan? But well, suka atau tidak, Michael harus tetap melaksanakan tugas tersebut karena itu adalah perintah dari Yang Maha Kuasa. Sanggupkah Michael, Sang Panglima Tertinggi Bala Tentara Surgawi menyelesaikan tugas ini?

“My Personal Angel : Chapter 4”
 




“Dear Michael”

Roh Lily sedang berjalan tanpa arah, begitu bimbang dan tak tahu harus berbuat apa. Dia kasihan pada ibunya yang tak bisa melihat, tapi dia juga takut untuk kembali hidup setelah mengetahui apa yang sebenarnya. Mereka semua membencinya, mereka semua menginginkan kematiannya. Apa gunanya dia hidup jika hanya untuk disakiti saja? Mungkin mati jauh lebih baik, pikirnya saat itu.

Dia sedang duduk di tengah taman Rumah Sakit saat tiba-tiba sebuah cahaya menyilaukan menyinarinya. Roh Lily mengangkat kedua tangannya menutupi matanya yang silau karena cahaya itu, cahaya yang seolah sengaja diarahkan padanya. Lalu sekejap kemudian dia melihat sebuah tangga berwarna putih yang sangat panjang, menjulang tinggi hingga ke langit. Penasaran, Lily pun menghampiri tangga itu dan menaikinya. Selangkah demi selangkah, hingga akhirnya dia sampai di sebuah tempat yang sangat aneh. Sebuah tempat yang terletak diantara awan-awan putih yang indah, begitu menyilaukan, dari jauh dia bisa melihat sebuah istana putih yang indah dan besar, tampak banyak pepohonan tumbuh di sini, juga ada sebuah sungai dengan air yang begitu bersih, bunga-bunga bertebaran berwarna-warni, terdengar nyanyian yang begitu merdu, entah dari mana datangnya. Tapi yang pasti, di tempat ini dia merasakan kedamaian.

“Tempat apa ini?” batinnya tak mengerti, seraya mengamati sekelilingnya dengan bingung.

Tak jauh dari sana, dia melihat seorang pria berwajah tampan yang berpakaian serba putih sedang duduk di bawah salah satu pohon di tengah lapangan luas ini, menuliskan sesuatu di dalam sebuah buku kecil dengan asyiknya, rambut pirangnya yang keemasan terpantul terkena cahaya matahari dan membuatnya semakin terlihat menyilaukan, sayap putihnya yang lebar terkembang menutupi kepalanya, seolah sengaja melindunginya dari terik sinar matahari.

Lily terkesiap. “Sayap? Apa dia seorang Malaikat? Yang benar saja? Ini pasti hanya mimpi kan?” batinnya seraya perlahan mendekatinya.

“Tempat apa ini? Apa ini Surga?” batinnya sekali lagi, masih tak percaya sambil mengamati keadaan di sekelilingnya. Sunyi sekali. Dan sangat menyilaukan. Ada banyak sekali pohon, sungai, bunga-bunga yang indah, nyanyian merdu, juga kupu-kupu dan burung-burung di sana tapi dia tak melihat ada orang lain di sana selain pria itu.

“Apa yang terjadi? Kenapa aku ada di sini?” batinnya lagi. 
“Hi, apa yang kau lakukan disini? Kau belum waktunya mati, Nona!” sebuah suara yang lembut tapi terdengar canggung menyapanya ramah. Lily tersadar dan melihat pria tampan berbaju putih itu sedang menatapnya penuh tanya. Matanya yang berwarna biru langit, memancarkan sebuah kehangatan.

“Aku...Aku tidak tahu kenapa aku ada di sini. Aku hanya menaiki sebuah tangga yang sangat panjang yang tadi terbentang di hadapanku. Tempat apa ini? Dan siapa kau?” tanyanya bingung. Benar-benar tak mengerti sama sekali.

“My Name is Michael. And you?” jawabnya ramah, keramahan yang terlihat canggung, dia berusaha tersenyum semanis mungkin untuk menghilangkan kecanggungannya, tapi sikapnya itu justru membuatnya semakin manis. Seperti anak remaja yang malu-malu saat melihat gadis yang ditaksirnya.

Lily terkikik dalam hati, “Mungkin pria ini belum pernah berhadapan dengan seorang wanita cantik sepertiku sebelumnya, itu sebabnya dia terlihat salah tingkah.” Batin Lily geli dengan pikirannya sendiri dan geli melihat sikap pria muda itu.

“Michael. Apa aku tak salah dengar? Bukankah itu nama seorang Malaikat yang dulu pernah melempar Lucifer dari Surga ke bumi.” Batin Lily lagi sambil mengamati pemuda tampan di hadapannya.

“Michael nama yang indah. Bukankah Michael berarti “Dia yang seperti Tuhan”? Namamu sangat mirip dengan nama salah satu Malaikat Utama Tuhan, The Prince Of Seraphim, The Leader of Army of God, Archangel Michael. Kurasa sekarang aku sedang bermimpi indah, benarkan?” sahutnya sambil tertawa canggung. Michael ikut tertawa melihat gadis itu tertawa, suara tawa yang mungkin hanya bisa didengar dalam mimpi terindah gadis itu.

“Well, it’s actually me. Welcome to Heaven!” jawabnya seraya tersenyum manis, lagi, dengan sikapnya yang canggung dan salah tingkah, membuat hati Lily berdebar kencang, saat itulah dia sadar, dia pernah melihat pemuda itu sebelumnya.

“Kau yang tadi ada di bawah jendela kamarku kan?” tanyanya lagi, penasaran.
"Sepertinya begitu.” Jawab Michael ramah, masih kaku tapi sudah tidak begitu canggung.
“Kau bisa melihatku?” tanya Lily skeptis seraya memicingkan matanya curiga.
“Menurutmu bagaimana?” Michael balik bertanya iseng. 

“Tunggu! Benarkah kau seorang Malaikat? Kau benar-benar Archangel Michael yang itu? Ini benar-benar Surga?”Lily benar-benar masih sulit percaya, dia memelototkan matanya seraya menuding pemandangan di sekitarnya.

“Wow! Banyak orang yang membenciku di dunia, kupikir itu pasti karena aku sangat jahat. Kupikir aku akan berada di neraka, tapi ternyata Tuhan menempatkanku di Surga. Ini hebat! Aku seperti sedang menonton film Fantasy.” Ujar Lily sambil tersenyum senang.

“TIDAK! Siapa bilang kau akan masuk Surga? Kau belum saatnya mati, Nona. Aku akan membawamu kembali ke dunia.” Ujar Michael, kembali bersikap formal. Dia benar-benar bingung bagaimana menghadapi seorang wanita.

“Tapi aku tak mau hidup lagi. Mereka semua membenciku. Mereka semua ingin aku mati. Aku tak mau kembali.” Jawab Lily menolak tegas.

“Oh ya? Dan apa kau yang putuskan semua itu? Aku tak suka manusia sombong sepertimu. Kau pikir kau siapa? Kau hanya satu dari sekian banyak manusia yang beruntung karena pernah bertemu denganku, Archangel Michael. Tapi itu tidak membuatmu istimewa. Tuhan yang putuskan kau harus bagaimana.” Jawab Michael tak senang. Gadis ini memang cantik tapi sangat angkuh dan keras kepala, dia juga sangat aneh. Disaat semua orang berjuang untuk tetap hidup, gadis manja ini malah menginginkan kematian.

“Kau tampan tapi sangat kasar.” Ujar Lily kesal. 
“Dengar gadis manja! Kalau saja aku tidak merasa bersalah...” Michael spontan terdiam, sedikit lagi dia hampir saja keceplosan.

“Tidak! Dia tidak boleh tahu kalau gara-gara aku dia jadi seperti ini. Kalau dia tahu, dia akan lebih sulit diajak bekerja sama. Manusia memang merepotkan. Kalau saja dia bukan wanita, aku sudah mengajaknya berkelahi.” Batin Michael pasrah. Ini salahnya, ini tanggung jawabnya. Jadi walau sepertinya gadis ini sangat sulit diajak bekerja sama, dia tidak akan menyerah.

“Kau masih punya kesempatan untuk hidup tapi kau malah meminta mati, apa kau tahu kalau masih banyak orang di luar sana yang berjuang demi hidup mereka sendiri? Banyak orang di bumi ini yang lebih menderita daripada kau, tapi mereka tetap berjuang demi hidupnya tanpa kenal menyerah. Tapi lihat dirimu! Kau punya segalanya, tapi kau malah lebih memilih mengakhirinya? Begitu saja? Apa kau tak pernah berpikir bahwa hidupmu adalah anugerah?” tanya Michael kesal. Gadis ini benar-benar tak mengerti bahwa hidup itu sangatlah berharga.

“Tuhan sudah berbaik hati menciptakanmu dan memberimu napas kehidupan, enak saja kau tidak menghargai pemberian-Nya. Jangan jadi seperti Lucifer, atau aku akan mengangkat pedangku dan melemparmu ke Jurang Maut.” Ancam Michael lagi, membuat wajah Lily seketika pucat pasi.

“Hei, mana ada Malaikat yang sepertimu? Bukankah Malaikat itu seharusnya lembut dan baik?” Lily terlihat gentar, suaranya yang tadi sombong berubah menjadi pelan dan gemetar. Pria tampan di depannya mendadak berubah menjadi menakutkan.

“Benar. Aku memang seperti ini. Aku bukan Gabriel atau Raphael yang ramah, jika aku sebaik mereka, mana bisa aku bertempur melawan Iblis? Dan kau, bahkan lebih memusingkan dari Iblis.” Jawab Michael cuek. Dia yang awalnya berusaha bersikap ramah merasa tak bisa lagi berpura-pura. Itu bukan dirinya. Aneh rasanya jika harus tersenyum manis, berbicara lembut dan mengucapkan kalimat yang indah di depan seorang wanita. Rasanya canggung sekali saat harus bersikap lembut seperti tadi. Benar-benar bukan seperti Michael si Panglima Perang Tertinggi Bala Tentara Surgawi.

“Kalau begitu aku mau pergi. Aku tak mau bertemu dengan Malaikat galak sepertimu. Beginikah sikap seorang Archangel?” ujar Lily kesal, lalu berbalik pergi dan berniat mencari tangga yang tadi.

“Aku bukan hanya Archangel tapi Panglima Perang Tentara Surgawi dan aku selalu memang dalam setiap pertempuran, jadi aku takkan biarkan gadis manja, egois, dan keras kepala sepertimu membuat tugasku berantakan. Tugasku adalah membawamu kembali ke bumi dan membuatmu mengerti apa arti kehidupan yang sebenarnya.” Jawab Michael tegas dan dalam, mendadak muncul di hadapan gadis itu dan menghalangi jalannya.

“Jadi apa yang kau inginkan dariku, Malaikat galak?” tantang Lily dengan berani, menatap tajam mata Michael yang sebiru langit yang cerah.
“Galak tapi sangat tampan, benarkan?” goda Michael, membuat Lily seketika merona dan memalingkan wajahnya jengah.

“Siapa bilang kau tampan?” sangkal Lily salah tingkah. 
“Aku Malaikat. Aku tahu apa yang kau pikirkan.” Jawab Michael singkat dan tegas, dengan gayanya yang mengintimidasi yang biasanya sukses membuat lawannya gentar.
“Lalu apa maumu sekarang?” tanya Lily mulai tak nyaman dengan gaya mengintimidasi Michael.

“Kau bilang hidupmu menderita kan? Sekarang aku akan tunjukkan padamu apa arti penderitaan yang sebenarnya. Kematian ayahmu, Ibumu yang buta dan pengkhianatan tunangan dan sahabatmu bukanlah apa-apa dibanding penderitaan mereka. Ikut aku! Gadis manja sepertimu sekali-kali harus melihat arti penderitaan yang sesungguhnya.” Ujar Michael seraya menarik tangan Lily dan mencengkeramnya erat lalu membawanya terbang bersamanya.

“Hei, kau mau bawa aku ke mana?” Lily terlihat takut saat Michael mendekapnya dalam pelukannya dan mengajaknya terbang bersama, tapi dalam hati, ada sebuah perasaan aneh yang menerobos masuk hatinya. Sebuah perasaan hangat, aman, terlindungi, dan nyaman mendadak memenuhi hatinya yang tadinya terasa dingin. Dengan hati berdebar kencang, sesekali dia melirik Michael yang tampak serius saat sedang terbang, merasakan pelukan hangat lengannya yang kokoh dan terbang bersamanya menembus awan putih yang indah, terbang luas mengelilingi angkasa.

“Malaikatku...Andai saja aku bisa selamanya seperti ini, berada dalam dekapan sayapmu yang hangat, walau harus menderita di neraka karena perasaanku yang lancang, aku tidak keberatan.” Batin Lily, seraya menatap wajah tampan Michael yang terlihat sangat serius saat sedang terbang.

To Be Continued...

My Personal Angel : Chapter 3



Michael, Pemimpin Bala Tentara Surgawi yang biasanya hanya bertugas untuk memimpin tentara Surga berperang dengan pasukan Iblis, kini diutus Yang Maha Kuasa untuk turun ke bumi dan menyelesaikan sebuah misi. Akankah Michael sanggup menyelesaikan misi ini? Let’s check it out...

“My Personal Angel : Chapter 3”


“Meeting Her!”

“Apa yang sedang kau lakukan di sini?” tanya seorang pria berambut ikal keemasan pada temannya yang tampak asyik memperhatikan sesuatu di dalam cermin di hadapannya, cermin itu berukuran sangat besar, sebesar ukuran tubuhnya dan dari dalam cermin itu tampak sebuah pergerakan aneh, seperti sebuah video yang menampakkan adegan demi adegan.

“Apa yang terjadi dengannya? Ini tidak seperti Michael. Bagaimana bisa dia melakukan sesuatu yang ceroboh seperti ini? Gadis itu kini hampir mati karena kecerobohannya.” Ujar pria tampan yang satu lagi dengan cemas, memandang sesuatu dari dalam cermin besar itu.

“Apa kau sedang melihat Michael, Gabriel?” tanya pria berambut ikal keemasan itu seraya berjalan lebih mendekat. Pria tampan yang dipanggilnya Gabriel itu mengangguk singkat.

“Apa yang dilakukan Michael di sana? Kenapa dia hanya diam saja mengintip dari balik pilar penyangga? Dia harus segera bertindak dan memperbaiki kesalahannya kan? Dekati roh gadis itu dan lakukan sesuatu!” ujar pria berambut ikal keemasan itu tampak heran.

“Itulah yang kumaksud Raphael. Dia hanya diam saja dan melihat. Dia tampak...” Gabriel terdiam sejenak.
“Kebingungan.” Lanjut Raphael menyambung kalimatnya. Gabriel mengangguk singkat.

“Apa perlu kita turun dan membantunya? Michael tak familiar dengan tugas ini. Kitalah yang lebih sering berhubungan dengan manusia kan? Sedang dia hanya bertugas melawan Iblis, jadi kupikir wajar jika dia kebingungan seperti ini.” Sahut Raphael mengerti. Tapi Gabriel menggeleng mantap.

“TIDAK! Ini ujian untuknya. Tuhan pasti memiliki rencana khusus hingga mengirimnya turun ke bumi. Bagi kita tugas ini sederhana, tapi bagi Michael ini tugas yang sulit dan membingungkan. Tapi aku yakin Michael pasti melaksanakan tugasnya dengan baik.” Ujar Gabriel dengan penuh keyakinan pada kawannya.

“Bagaimana dengan Lucifer? Sementara Michael tak ada di sini, kita yang harus mengambil alih tugasnya sementara. Keselamatan Surga adalah tanggung jawab kita.” Ujar Gabriel sambil tetap menatap cermin kehidupan di hadapannya.

“Kudengar pasukan Iblis sedang mencari seorang wanita. Dia adalah pemegang kunci Neraka. Lucifer menginginkannya, jika sampai wanita ini jatuh ke tangan Lucifer dan Lucifer berhasil merebut kuncinya, maka...” Raphael terdiam sejenak membayangkan bencana apa yang akan terjadi jika hal itu sampai terjadi.

“Maka dia akan membebaskan sebagian pasukan Iblis yang dulu pernah dikalahkan Michael dan dikurungnya di jurang maut, lalu kemudian membentuk pasukan Iblis yang lebih kuat untuk menyerang kita, benarkan?” lanjut Gabriel, menebak.

“Jadi kita harus menemukan wanita itu sebelum Lucifer menemukannya, begitu kan seharusnya?” lanjut Gabriel lagi, kali ini dia memusatkan perhatiannya pada Raphael dan tak lagi memandang cermin. Raphael mengangguk singkat.

“We need Michael. Saat seperti ini seharusnya dia bersama kita untuk mencari solusi.” Ujar Raphael sedih, menatap temannya melalui cermin kehidupan itu.
“Seorang wanita? Tunggu! Mungkinkah...” sebuah ide tiba-tiba melintas di kepala Gabriel, dia menatap temannya dengan penuh rasa penasaran tapi masih tak berani menyuarakan apa yang ada di pikirannya.

Gabriel terdiam, berpikir. “Tentu. Michael, sang Malaikat Utama. Malaikat Kepercayaan Tuhan, Tangan Kanan Tuhan, mana mungkin Tuhan mengirimnya ke bumi untuk tujuan yang tidak jelas? Pasti Tuhan punya alasan. Mungkinkah...” Gabriel hanya terdiam sambil mengamati cermin kehidupan itu tanpa berani berpikir macam-macam lebih dulu. Dia akan menunggu. Menunggu hingga semuanya jelas. 

=====

“Maaf, Nyonya. Kami sudah berusaha tapi sepertinya putri Anda tidak memiliki semangat hidup lagi. Tubuhnya menolak semua pengobatan yang kami berikan. Semuanya sia-sia saja! Kami rasa hanya keajaiban dan cinta dari keluargalah yang bisa membantunya saat ini. Pasien yang dalam keadaan koma, masih bisa mendengar apa yang kita katakan, katakan padanya bahwa kalian masih menginginkannya untuk sembuh dan ada bersama kalian, katakan padanya betapa kalian menyayanginya, mungkin itu bisa membantu.” Ujar seorang pria setengah baya yang memakai jubah putih itu. Seorang wanita tua menangis tak berdaya di samping tubuh putri semata wayangnya yang kini terbaring lemah di ranjang. Semakin tak berdaya saat mendengar bahwa semua dokter sudah menyerah.

“Berapa yang kalian inginkan? Aku akan membayarnya! Asalkan kalian bisa menyelamatkan nyawa putriku, berapa pun akan kuberikan!” ujarnya sambil menangis histeris, wanita tua itu bangkit dari kursinya dan mengarahkan tangannya ke depan, meraba-raba keberadaan dokter itu.

“Aahh...” ujarnya saat tak sengaja dia tersandung kursi yang tadi didudukinya.
“Bibi, hati-hati!” ujar seorang gadis berambut merah dengan lembut, tapi itu semua palsu. Kebaikannya ternyata palsu yang sayangnya tak ada seorangpun yang menyadari hal itu. Dia segera memapah wanita tua yang buta itu dan membawanya ke arah Dokter itu.

Dokter itu menyambut tangan wanita tua itu dan berkata lembut “Maaf, Nyonya. Ini bukan soal uang, tapi kemauan untuk hidup dari sang pasien sendiri.” Jawab Dokter itu lembut, sambil menepuk-nepuk pundak wanita tua itu menenangkannya.

“Tidak! Putriku gadis yang baik. Kenapa harus begini? Tak lama lagi dia akan menikah, kenapa ini bisa terjadi? Lily, bangunlah sayang. Jangan tinggalkan Ibu sendirian di dunia ini.” Wanita itu kembali menangis tersedu di bahu gadis berambut merah itu.

“Bibi tidak sendiri. Bibi masih punya aku kan? Aku bisa menggantikan Lily menjadi putri Bibi.” Bujuk si gadis rambut merah dengan keramahan yang dibuat-buat.

“Bagus. Matilah kau, Lily. Setelah itu aku akan menikahi tunanganmu dan menjadi anak dari Ibumu. Sempurna! Aku akan mengambil alih semua harta kekayaanmu. Ini sangat menyenangkan.” Batin si gadis rambut merah seraya menatap culas seorang gadis berambut pirang yang kini terbaring koma di ranjang dengan berbagai selang di tubuhnya.

“Nyonya, sebaiknya Anda pulang dan istirahat sebentar. Baru setelah itu, anda akan memiliki tenaga untuk menemani putri anda.” Usul Dokter itu dengan sabar seraya memberi tanda pada si gadis rambut merah.

“Benar Bibi. Lebih baik kita pulang dulu. Jika Bibi sakit, Lily pasti akan sedih.” Bujuknya sok manis. Dalam diam wanita tua buta itu mengangguk pelan dan menurut saja saat si gadis rambut merah itu memapahnya keluar kamar.

“Kau gadis yang baik, Crystal. Beruntung sekali putriku memiliki sahabat sepertimu.” Ujar wanita tua itu berterima kasih tanpa dia tahu yang sebenarnya terjadi.

“Gadis yang baik? Jangan buat aku tertawa, Ibu! Semua kebaikannya palsu. DIA PENIPU!” batin sesosok tubuh transparan dengan marah bercampur sedih dalam hatinya.

Sesosok tubuh bergaun putih itu menatap wanita tua dan gadis berambut merah itu dengan airmata menetes pelan. Tak percaya dia bisa mendengar dan melihat sendiri bagaimana sahabatnya, orang yang sangat dia percaya ternyata menyimpan kebencian yang sangat dalam di hatinya. Dia tak mempercayai kebodohannya selama bertahun-tahun yang telah berhasil ditipu mentah-mentah oleh Crystal, sahabat yang sudah dianggapnya sebagai saudara. Tatapannya beralih ke arah tubuhnya sendiri yang kini terbaring lemah, dia kembali menangis.

“Aku tak pernah membayangkan ternyata selama ini aku begitu dibenci. Kupikir semua orang mencintaiku, mereka semua bersikap baik di depanku. Tak kusangka semua itu palsu. Hanya demi uangku, hanya demi kekayaanku, mereka berpura-pura manis di depanku. Lily, jadi seperti inikah hidupmu selama ini? Kau begitu menyedihkan. Kau gadis bodoh yang menyedihkan! Tak ada seorangpun yang mencintaimu, apa kau sadar itu?” makinya pada dirinya sendiri yang kini terbaring lemah.

Perlahan dia berjalan ke arah jendela kamarnya, ingin menenangkan pikirannya yang sedang kalut saat tiba-tiba dia melihat seorang pria muda berwajah tampan dengan berpakaian serba putih menatap lembut ke arahnya.

Gadis itu tersentak. Menatap ke arahnya? Dia hanya memandang pria tampan itu dengan terkejut. Lalu kembali menoleh pada tubuh fisiknya yang sedang berbaring lemah di ranjang.

“Apa benar dia sedang menatapku? Tapi bagaimana bisa? Tak ada seorangpun yang bisa melihatku sekarang.” Batinnya tak mengerti. Dia kembali menatap pria tampan di luar sana, seseorang yang berdiri menatap ke arahnya dari bawah jendela.

Pria muda itu hanya menatapnya dalam diam. Lily tersentak, pria itu benar-benar bisa melihatnya, tanpa sadar Lily tersenyum manis padanya. Pada seorang pria berkostum putih yang tak dikenalnya, seorang pria yang menatapnya tanpa ekspesi, tanpa senyuman tapi tatapan matanya memancarkan kesedihan dan penyesalan.

Dia baru saja akan melambaikan tangannya pada pria muda itu saat tiba-tiba pintu kembali terbuka dan Crystal berjalan masuk dengan kesal “Gara-gara wanita tua buta itu aku sampai melupakan tasku. Sial! Kenapa dia tidak mati saja mengikuti putrinya?” ujar Crystal kesal lalu segera meraih tasnya dan berjalan keluar.

Perhatian Lily spontan beralih pada mantan sahabatnya yang berjalan pergi dengan tergesa-gesa, dan setelah dia kembali menoleh ke bawah jendela, pria muda tampan itu sudah menghilang.

To Be Continued...