Rabu, 28 Desember 2016

Chapter 8: Where Am I? II (Teaser) Twin Princess 'Anastasia'

Teaser terakhir di blog ini. Sampai jumpa di Novel cetak ya. Itupun kalau ada yang ingin berniat mengoleksi versi cetaknya agar bisa dipeluk. Kalau pengen gratisan karena keuangan terbatas dan ada hal lain yang lebih penting untuk dibeli, cerita lengkapnya tetap bisa dinikmati secara gratis dalam blog milik penulis yang lain yaitu: Liana Land. 


Novel "Anastasia – Princess In Disguise" ini termasuk salah satu pemenang "Wattys Awards 2016" loh. Jadi gak rugi deh dibeli atau dibaca. Happy Reading...



Kerajaan Everla... 
Anastasia membuka matanya perlahan saat menyadari dia berada di sebuah tempat yang sama sekali asing. Dia berbaring di sebuah ranjang yang sangat besar dan empuk, kamarnya sangat besar dan terang dan aroma di kamar itu sangat harum bagaikan berada di sebuah taman bunga. Dengan perlahan Anastasia mencoba duduk di ranjangnya, dia masih mencoba cari tahu apa yang terjadi saat tiba-tiba sebuah suara mengagetkannya.

“Anda sudah sadar, Yang Mulia?” tanya suara itu lembut dan perhatian. Seorang pria muda tampan berambut coklat ikal dengan bola mata berwarna hazel berdiri di samping ranjangnya.

“Jangan panggil aku Yang Mulia. Kalian sudah salah mengenali orang. Sekarang aku ingin pulang.” ujar Anastasia lalu segera bangkit dari ranjangnya dan berjalan pergi dengan menjinjing sepatunya seperti sebelumnya. Tapi pria muda itu terus mengikutinya dan berusaha menghalanginya.

“Jangan ikuti aku! Sudah kubilang aku bukan dia! Aku BUKAN Putri Analiece. Sekarang biarkan aku pergi!” ujar Anastasia kesal. Dia benar-benar harus pulang jika tidak ingin Ibu tirinya menghukumnya.

“Tapi ini adalah rumah Anda, Yang Mulia. Anda ingin pulang ke mana lagi?” tanya pria muda itu khawatir.
“Terserah kau mau percaya atau tidak, yang penting aku harus segera pergi dari sini. Di mana pintu keluarnya?” tanya Anastasia kebingungan saat menyadari tempat ini aangatlah besar.

Namun dia tetap melangkah lurus ke depan hingga tiba di sebuah Aula yang sangat besar. Tahu bahwa dia telah salah masuk ruangan, dia ingin bergegas pergi tapi sesuatu di tengah ruangan menahan langkahnya.

Anastasia melihat ke dinding sebelah kiri aula besar itu, ada sebuah lukisan seorang gadis muda yang sangat cantik dengan rambut pirang dan mata birunya, dengan Gaun berwarna Pink yang sangat indah dan mahkota di kepalanya sedang tersenyum manis dari dalam lukisan.

Anastasia terdiam. Itu rambutnya, itu matanya, itu senyumnya dan itu wajahnya. Tapi bagaimana bisa? Anastasia mendekati lukisan itu, menelusuri setiap lukisan dirinya atau yang dia anggap sebagai dirinya dengan rasa penasaran. Saat matanya menangkap sebuah tulisan di bawah lukisan itu.

Her Royal Highnesses Crown Princess Analiece Elizabeth Windsor. 
“Tidak mungkin. Siapa dia?” gumannya, terlalu keras untuk sebuah gumaman. 
“Itu adalah Anda, Yang Mulia.” jawab si pria muda yang mengikutinya sedari tadi. 
“APA?” lagi, hanya itu kalimat yang mampu keluar dari bibir mungil Anastasia.

Kerajaan Mendroza... 
Analiece terbangun dengan kaget saat seseorang menarik rambutnya dengan kasar. 
“Arrrgghh!” Analiece mengerang sakit saat rambut pirang kesayangannya ditarik dengan kasar oleh seseorang. Dia terbangun spontan dan mendorong siapa pun itu yang telah berani menjambak rambut pirang indah kesayangannya.

“KURANG AJAR! BERANINYA KALIAN MENJAMBAK RAMBUTKU!” raung Analiece murka, memandang penyerangnya dan dia melihat tiga orang wanita jahat yang kemarin membekap mulutnya dan menculiknya sekarang berdiri di hadapannya dengan berkacak pinggang.

“DAN BERANINYA KAU MEMBENTAK KAMI SEKARANG?” jawab Debora dengan kemarahan yang sama.
“Lalu kenapa aku harus takut pada kalian?” tantang Analiece dengan berani. Ini penghinaaan untuknya. Tak pernah ada seorangpun yang berani menjambak rambutnya seperti tadi.

“Sejak kapan kau menjadi begitu berani melawan kami, Annie? Kau sudah melakukan kesalahan besar dengan menghadiri pesta dansa itu tanpa seijin kami, harusnya kau meminta maaf dan berlutut memohon ampun sekarang.” ujar Debora marah.

“Hahaha...Lucu sekali. Seumur hidup ini oranglah yang selalu berlutut padaku, bukan sebaliknya! Kalian tidak tahu siapa aku? Aku adalah Putri Mahkota Analiece dari Kerajaan Everla dan aku adalah tunangan Putra Mahkota William Alvan Philips Mendroza yang itu berarti aku adalah Calon Ratu Mendroza.” ujar Analiece memperkenalkan dirinya.

Tapi ketiga wanita jahat itu hanya melongo mendengarnya lalu tertawa terbahak-bahak sesaat kemudian, “Kau ini bicara apa? Sejak kapan anak yatim piatu yang bahkan tidak tahu siapa ayah kandungnya menjadi seorang Putri Mahkota? Sungguh lucu. Annie, apa kau sudah gila sekarang? Apa kau kecewa karena pada akhirnya Pangeran tidak memilih siapa pun kemarin malam, itu sebabnya kau berkhayal seperti ini?” Lidya bicara sambil tertawa mengejek.

“Anak yatim piatu?” ulang Analiece bingung. 
“Seharusnya ayah tiri kami tak pernah mengadopsimu dari Panti Asuhan St Paulo itu. Mengadopsimu adalah kesalahan terbesarnya.” ujar Lidya lagi.

Sebuah fakta baru terungkap bahwa Anastasia, gadis yang berwajah mirip dengannya itu hanyalah seorang anak angkat yang diadopsi oleh keluarga Lockhart dari sebuah Panti Asuhan bernama St Paulo.

“Tidak usah banyak bicara. Pergi dan siapkan makanan untuk kami sekarang! Lalu bersihkan seluruh rumah, cabut rumput di halaman, bersihkan seluruh jendela dan pintu, dan cuci semua baju kami. Jangan malas!” perintah Debora dengan culas.

“APA? Kalian ingin aku yang melakukannya? Kalian pikir aku pelayan?” jawab Analiece tak percaya. Tak pernah terbayangkan dalam hidupnya, tidak dalam mimpinya yang paling buruk sekalipun, dia akan melakukan itu semua.

“Lalu kau pikir siapa lagi, hah? Kami? Yang benar saja? Kau memang pelayan di sini, bukan lagi Nona Besar! Cepat kerjakan sebelum kami mengusirmu dari sini!” ujar Debora lagi dengan kasar.

“Well, Annie, sayang, jangan lupa kalau kau masih ada di sini karena kebaikanku. Karena jika aku mau, aku bisa menendangmu keluar ke jalanan tepat setelah ayah angkatmu meninggal lima tahun yang lalu. Kau sudah dewasa, kau tidak bisa kembali lagi ke Panti Asuhan itu. Kau juga tak mau tidur di jalanan, kan? Sedang kau tak tahu di mana Ayah kandungmu berada.” ujar Ibu tiri Anastasia, seorang wanita setengah baya dengan sanggul yang tinggi menjulang di kepalanya dan terlihat seperti seorang wanita berkelas.

“Ibu, mungkin Annie sayang lebih suka pergi ke alam baka bersama ibunya.” ujar Lidya dengan jahat. 
“Kalian mengenakan gaun mahal, perhiasan mahal dan berdandan seperti wanita berkelas, tapi kelakuan kalian bahkan lebih buruk dari tikus jalanan.” sergah Analiece dingin dan tegas.

“Jadi seperti ini hidup Anastasia? Ibunya meninggal dan ayahnya entah di mana, lalu dia diadopsi oleh ayah angkatnya yang akhirnya menikah lagi dengan nenek sihir ini dan meninggalkannya dengan ibu tiri dan saudara tiri yang jahat. Ya ampun, Benar-benar seperti kisah Cinderella. Cinderella yang malang.” ujar Analiece dalam hatinya, prihatin.

“Bawa dia keluar, anak-anak. Sepertinya Annie sayang sudah mulai belajar untuk melawan,” perintah Sang Ibu dengan dingin tanpa perasaan.

“Hei, kalian mau apa? Lepaskan aku!” Analiece tersentak kaget saat kedua gadis jahat itu menarik kedua lengannya dan berusaha menyeretnya, dia mencoba memberontak dan melepaskan dirinya, tapi tentu saja, dia takkan sanggup melawan dua orang.

“Cepat siapkan makanan untuk kami!” ujar Debora seraya mendorongnya ke arah dapur dengan keras dan membuat kepala Analiece membentur pinggiran meja makan dengan keras.

“Aaahhh....” Analiece memegangi keningnya yang sakit. 
“Owh, maaf kakak sayang. Siapa suruh jalan tidak hati-hati? Coba kulihat lukamu!” ujar Lidya seraya menjambak rambut pirang Analiece, berpura-pura melihat luka di keningnya.

PLAAAKKK... Sebuah tamparan keras terdengar. Lidya terdorong mundur ke arah kakaknya dengan memegangi pipinya saat Analiece menampar gadis itu keras ketika Lidya menjambak rambutnya.

“Ibu, dia berani menamparku.” raung Lidya pada Ibunya seraya memegangi pipinya yang merah. 
“Sudah kubilang aku bukan Anastasia yang bisa kalian siksa. Aku akan mengingat penghinaan ini seumur hidupku. Aku pastikan kalian tidak akan lepas begitu saja!” ujar Analiece murka. Dia benar-benar sudah kehabisan kesabaran.

PLAAKKK...Tamparan lain terdengar dan Ibu tiri Anastasia menampar Analiece untuk membalaskan sakit hati anaknya. “Pergi kau dari sini! Aku takkan peduli jika kau tinggal di jalanan. CEPAT PERGI!” usirnya marah. Analiece menatap mata wanita itu dengan kemarahan dalam hatinya seraya memegangi pipinya yang merah karena tamparan.

“Aku akan mengingat ini. Aku akan kembali untuk membalas semua ini.” ancamnya dingin lalu berjalan pergi dengan kesal.

“MINGGIR!” serunya kasar pada Debora yang menghalangi jalannya. Dia mendorong Debora dengan kuat dan membuat gadis itu jatuh menabrak ibunya dengan bingung.

“Dia seperti bukan Anastasia. Ada apa dengannya?” tanya Debora bingung. 
“Ibu, jika dia benar-benar pergi, lalu siapa yang akan membersihkan seluruh rumah? Mencuci, memasak, belanja di pasar, dan yang lainnya?” tanya Lidya panik.

“Dia benar-benar berani pergi? Kupikir tadi dia akan berlutut dan menangis agar aku tidak mengusirnya.” jawab sang Ibu lalu berjalan mengikuti Analiece tapi sudah tidak menemukannya di mana pun. Gadis itu merasa sudah cukup.

Dihantui rasa penasaran, Analiece memutuskan pergi ke Panti Asuhan St Paulo untuk mencari tahu lebih banyak tentang Anastasia.

Sebelumnya, dia kembali ke penginapan dan menyadari jika semua pengawalnya sudah tidak ada. 
“Ke mana mereka?” awalnya Analiece terlihat bingung, tapi dia menepis semua itu dan berpikir jika sendiri lebih baik. Itu berarti dia tidak perlu menjelaskan pada Dimitri tentang misinya kali ini.

“Setelah aku menemukan sesuatu tentang Annie, aku akan segera pulang, Ayah.” janji Analiece saat dia mengemasi semua barang-barangnya dan pergi menuju Panti Asuhan itu.

“Aku tak tahu Anastasia yang asli ada di mana, tapi di manapun dia berada, aku berharap dia tidak kembali ke rumah terkutuk itu.” ujar Analiece dalam hatinya, prihatin pada nasib gadis itu.

To be continued....


NOTE : WINNER OF WATTYS AWARDS 2016 for Category “Hidden Gems” alias “Permata Yang Tersembunyi (Cerita Kurang Dikenal)". 

<<<< Update 2026: Cerita Lengkap bisa dibaca di blog Liana Land karena penulis TIDAK BEKERJA SAMA LAGI dengan PENERBIT DIANDRA! Jika Pihak Diandra masih menjual secara sepihak, sudah dipastikan mereka melakukan tindak pidana pencurian Hak Cipta! >>>>>>

~~~~~

* Promo Akhir Tahun 2016 E-Book Version Only IDR 11 Ribu by Penerbit Diandra: 
Hai hai hai... Bagi yang suka dengan cerita Anastasia – Princess In Disguise, yang kantongnya bolong tapi pengen ngebaca kelanjutannya, ada promo besar nih di akhir tahun. Tapi hanya berlaku untuk E-Book ya. Dari yang awalnya seharga Rp 55.000 sekarang hanya jadi Rp 11.000 loh. Tunggu apalagi? Yuk buruan dibeli mumpung lagi ada promo nih.

 Harga Asli : 55.000
 Harga Promo : IDR 11.000

Tinggal buka Google Play/Play Store lalu ketik nama “Liliana Tan” ==> Pilih “Judulnya” ==> Lalu klik “Beli” dan anda bisa memilih membayar dengan Debet/Kredit/potong pulsa.

Note : Promo HANYA BERLAKU sejak bulan November hingga Desember 2016 !!!
Terima kasih

Chapter 7 : Putri Yang Tertukar II (Teaser) Twin Princess 'Anastasia'

Mulailah kisah Sang Putri Yang Tertukar. Wah, dua orang gadis berwajah mirip barada di satu tempat yang sama. Wah, wah, wah, bakal timbul kesalahpahaman nih. Gimana ya kisah si gadis kembar Anastasia dan Analiece ini? Ada yang penasaran gak? 

New Cover 2026

Novel "Anastasia – Princess In Disguise" ini termasuk salah satu pemenang Wattys Awards 2016 loh. Bagi kalian yang gak sempet mengoleksi versi novel cetaknya, kini bisa dibaca secara lengkap di blog milik penulis yang lainnya yaitu: Liana Land. Happy Reading...



Arthur berkeliling di seluruh aula mencari gadis berkostum Malaikat yang sudah menarik hatinya, tapi dia tidak menemukannya di mana pun juga. Namun tiba-tiba ekor matanya menangkap siluet seorang gadis berambut pirang panjang dan memiliki bentuk tubuh yang mirip dengan gadis yang dicarinya. Hanya satu yang membuatnya tak yakin, yaitu warna gaunnya.

“Pink? Bukankah tadi dia mengenakan warna putih dengan sayap di punggungnya?” ujar Arthur dalam hati.

Tapi diam-diam tetap mengikuti gadis itu. Dia melihat gadis itu berjalan dengan terburu-buru di antara para tamu yang hadir dan tak sengaja menabrak seorang pelayan yang membawa nampan.

“Maaf.” ujarnya lirih, dan mengundang tatapan kaget dari para tamu yang lain. Tanpa disadari Arthur, tak hanya dia yang mengawasi sosok itu tapi juga tiga orang wanita yang berdiri di kerumunan para tamu.

“Ibu, itu Annie!” erang Debora Carden geram bercampur kaget. 
“Benar. Itu suaranya! Aku yakin sekali. Dan rambut pirang menyebalkan itu adalah rambutnya. Kenapa dia bisa ada di sini?” ujar Lidya Carden tak kalah kesal.

“Dari mana dia mendapatkan gaun pink yang indah itu?” tanya Ibunya ikut bingung. 
“Ibu, bagaimana jika Pangeran Kedua melihatnya lalu menjadikannya istri?” Debora Carden berseru panik pada ibunya.

“Kalau begitu kita harus membawanya pulang dengan paksa. Dia tak boleh terlihat oleh Pangeran Kedua,” ujar Sang Ibu lalu berjalan mengikuti si gadis bergaun pink yang berjalan ke arah pintu depan aula.

“Aduh, di mana Dimitri? Sepatu ini membuat kakiku sakit. Aku harus kembali ke kereta kudaku dan menggantinya dengan yang baru.” ujar gadis bergaun pink itu dengan kesal. Dia Analiece, Sang Putri Everla.

Analiece berjalan cepat tanpa tahu bahwa ada tiga pasang kaki yang diam-diam mengikutinya berjalan ke arah kereta kudanya yang diparkirkan cukup jauh dari pintu depan Istana.

Well, well... Apa kau sedang ingin bermain menjadi Cinderella, Anastasia sayang?” sindir seorang wanita setengah baya pada Analiece.

Analiece memutar tubuhnya dan memandang bingung tiga orang wanita yang kini berdiri di hadapannya. 
“Kalian siapa? Apa kalian bicara padaku?” tanyanya bingung seraya menuding dirinya sendiri.
“Lihat, Ibu! Dia bersikap seolah tidak mengenali kita. Hebat sekali, Anastasia. Apa kau sudah bertemu Pangeranmu?” sindir Debora Carden tajam.

“APA? ANASTASIA?” ulang Analiece. 
Siapa itu Anastasia? Kenapa mereka memanggilnya Anastasia? 

“Kau harus pulang, kakak sayang. Tidak baik berada di luar rumah malam-malam begini, benarkan Ibu?” ujar Lidya Carden seraya menoleh pada Ibunya yang segera mengeluarkan saputangan dari dalam tas mungilnya.

Wanita itu berjalan mendekati Analiece dan membekap mulutnya, gadis itu berontak sesaat namun beberapa menit kemudian terjatuh lemas karena serangan obat bius yang menyerangnya.

*****
    
Analiece terbangun bingung saat menyadari dirinya berada di sebuah kamar yang sempit, berdebu, dan sangat suram dengan ranjang yang sangat kecil dan keras.

“Di mana aku? Kenapa gelap sekali?” tanyanya bingung seraya mengamati keadaan di sekeliling kamar itu. Tak ada penerangan yang layak di kamar itu selain sebuah lampu kecil di atas tempat tidur dan dari jendela kecil yang ada di sebelah kiri kamar itu. Jendela yang bahkan mungkin hanya cukup dimasuki oleh seekor tikus.

Lalu dia melihat sebuah lemari di sebelah kanan tempat tidur dan sebuah meja rias yang lagi-lagi sangat mungil. Dengan bingung dia melangkah ke arah lemari hanya untuk menemukan beberapa baju yang terlihat sangat tidak layak. Warnanya sudah kusam, bau apek lemari mendominasi, serta banyak sekali tambalan di sana-sini. Singkat kata, gaun itu hanya cocok dikenakan oleh pengemis di pinggir jalan.

Analiece melangkah ke arah pintu dan mulai membukanya tapi pintu itu sudah terkunci dari luar. “Hei, lepaskan aku! Aku bukan Anastasia atau siapapun lah namanya. Kalian salah menangkap orang. Aku adalah Putri Mahkota Analiece dari Kerajaan Everla, beraninya kalian menangkapku seperti ini!” teriaknya keras, namun tak ada reaksi.

Tentu saja. Ibu tiri dan kedua saudara tiri Anastasia pasti segera kembali ke pesta dansa itu setelah mengurung Anastasia atau yang mereka kira Anastasia.

Lelah berteriak, akhirnya Analiece memutuskan untuk duduk sejenak di kursi kecil yang ada di depan meja rias itu saat matanya menangkap sesuatu yang membuatnya tak percaya.

Dia melihat sebuah foto seorang gadis cantik berambut pirang dan bermata biru yang mirip dengannya, tersenyum dari dalam foto itu. Itu matanya, rambutnya, hidungnya, alisnya. Singkat kata itu adalah wajahnya. Hanya saja gaun yang dikenakan gadis dalam foto itu terlihat sangat lusuh dan banyak tambalan di mana-mana. Analiece tertegun sesaat. TIDAK. Bagaimana bisa? Siapa dia?

Bingung dan penasaran. Analiece segera membongkar semua laci di meja rias itu untuk mencari sesuatu, entah apa itu, yang bisa memberinya sebuah jawaban. Dan akhirnya pencariannya terjawab saat dia melihat sebuah tanda pengenal ada di dalam laci sebelah kanan meja riasnya.
 
Anastasia Catherine Maunbatten Lockhart.” bacanya di kartu tanda pengenal itu dengan terkejut. Lebih terkejut lagi saat mengetahui bahwa gadis yang berwajah mirip dengannya itu lahir di hari, bulan dan tahun yang sama dengannya. “TIDAK MUNGKIN!” hanya itu kalimat yang mampu dia ucapkan.

*****
    
Anastasia sedang berjalan tergesa-gesa menuju rumahnya seraya mengangkat gaun putihnya dan sebelah tangannya menjinjing sepatu high heels yang semalam dikenakannya, berharap dengan bertelanjang kaki dia akan lebih mudah berjalan atau bahkan berlari.

Dia sudah membayangkan jika Ibu tirinya pasti akan memarahinya dan menghukumnya dengan berat jika mengetahui bahwa dia diam-diam menghadiri Pesta Dansa Istana dan bahkan menginap di Istana itu bersama seorang pria tidak dikenal, walaupun tidak terjadi apa pun di antara mereka.

Saat itu masih dini hari, matahari belum menampakkan sinarnya. Masih ada beberapa jam sebelum dia tertangkap basah tidak pulang ke rumah. Demi agar cepat sampai ke rumahnya, Anastasia memilih melewati jalan pintas yang melewati sebuah perkampungan kecil yang terletak bersebelahan dengan sebuah hutan di sebelah selatan perkampungan. Tanpa menyadari bahwa ada beberapa pasang mata yang sedari tadi setia mengawasinya.

“Itu Putri Mahkota Analiece!” Anastasia mendengar teriakan seorang pria yang berada tidak jauh di belakangnya, tapi dia memilih mengabaikannya karena merasa panggilan itu bukan untuknya.

Namun dia salah, derap langkah kaki itu semakin mendekat ke arahnya disertai seruan, “Putri Mahkota Analiece, sekarang saatnya Anda pulang!” ujar pria berseragam biru dan hitam yang terlihat seperti seorang pengawal.

“APA?” hanya itu kalimat yang mampu terucap dari bibir Anastasia yang kebingungan, saat tiba-tiba sekelompok pria tidak dikenal mendadak muncul di hadapannya dan mengepungnya, membuatnya tak mampu melangkah ke mana- mana.

“Tuan, aku tak ada waktu berurusan denganmu. Jika aku tidak segera pulang, Ibu tiriku pasti akan menghukumku. Tolonglah! Dia tidak boleh tahu jika semalaman aku tidak ada di rumah.” pinta Anastasia memelas, tapi sekumpulan orang itu justru berjalan lebih dekat ke arahnya. 

My Apologize, Your Highnesses. Tapi Yang Mulia Raja berpesan jika Anda tak ingin pulang, kami berhak memaksa Anda.” jawab si pengawal yang berdiri di hadapannya seraya membekap mulutnya, lalu sedetik kemudian Anastasia merasa tubuhnya sangat lemas.

To be continued... 


NOTE : WINNER OF WATTYS AWARDS 2016 for Category “Hidden Gems” alias “Permata Yang Tersembunyi (Cerita Kurang Dikenal)". 

<<<< Update 2026: Cerita Lengkap bisa dibaca di blog Liana Land karena penulis TIDAK BEKERJA SAMA LAGI dengan PENERBIT DIANDRA! Jika Pihak Diandra masih menjual secara sepihak, sudah dipastikan mereka melakukan tindak pidana pencurian Hak Cipta! >>>>>>

~~~~~~

* Promo Akhir Tahun 2016 E-Book Version Only IDR 11 Ribu by Penerbit Diandra :
Hai hai hai... Bagi yang suka dengan cerita Anastasia – Princess In Disguise, yang kantongnya bolong tapi pengen ngebaca kelanjutannya, ada promo besar nih di akhir tahun. Tapi hanya berlaku untuk E-Book ya. Dari yang awalnya seharga Rp 55.000 sekarang hanya jadi Rp 11.000 loh. Tunggu apalagi? Yuk buruan dibeli mumpung lagi ada promo nih.
 
 Harga Asli : IDR 55.000
 Harga Promo : IDR 11.000

Tinggal buka Google Play/Play Store lalu ketik nama “Liliana Tan” ==> Pilih “Judulnya” ==> Lalu klik “Beli” dan anda bisa memilih membayar dengan Debet/Kredit/potong pulsa.

Note : Promo HANYA BERLAKU sejak bulan November hingga Desember 2016 !!!

Terima kasih

Chapter 6 : Dancing Witrh The Prince II (Teaser) Twin Princess 'Anastasia'

Dancing With the Prince. Siapa nih yang pengen berdansa dengan Pangeran? Andaikan aku hidup di negara yang masih memakai sistem Monarki, pastilah aku juga pengen dong ya bisa berdansa dengan Pangeran hehehe ^.^ Well, siapa sih yang gak pengen jadi kayak Cinderella? Menikah dengan Pangeran dan hidup bahagia selamanya. Dongeng banget hehehe ^.^ Tapi berhubung ini memang temanya “Fantasy Romance” dan aku selaku penulis memang terinspirasi Disney Princess jadi ya wajar kale ya kalau kisahnya mirip-mirip kisah para Putri Disney hehehe ^.^

New Cover 2026

Ada yang penasaran gak sama kelanjutan cerita ini? Sekedar mengingatkan sih, cerita lengkapnya bisa dibaca di blog milik penulis yang lain yaitu: Liana Land. Happy Reading...



“Ahhh... Sepatu ini membuatku lelah,” ujar Anastasia seraya berjalan keluar dari dalam aula pesta dan terduduk di tepi kolam ikan yang memancarkan air terjun buatan yang sangat indah seraya melepas sepatunya.

Merasa kagum dengan banyaknya lampu yang indah, bunga-bunga, air mancur, hiasan-hiasan taman ditambah dengan bintang-bintang yang bersinar indah di langit malam. Anastasia mulai bernyanyi dengan riang. Yup, Annie love sing and she has a beautiful voice too.

Dancing bears, painted wings.
Things I almost remember, and a song someone sings,
Once upon a December.
Someone holds me safe and warm.
Horses prance through a silver storm.
Figures dancing gracefully, across my memory...
Far away, long ago, glowing dim as an ember,
Things my heart used to know, once upon a December,”

(Anastasia – Once Upon A December) 

Anastasia bernyanyi dengan riang dan penuh perasaan, mengungkapkan kerinduannya memiliki sebuah keluarga, keluarga yang selama ini selalu diimpikannya. Dia tidak sadar jika ada sepasang mata yang selalu mengawasinya hingga saat ini.

PLOK PLOK PLOK... Suara tepuk tangan menyadarkan Anastasia dari dunia mimpinya, dia menoleh dan melihat sumber suara tepuk tangan itu saat melihat si pria pelayan muncul di sana.

“Kau?” tanya Anastasia malu saat ada orang yang mendengar nyanyiannya. 
“Suaramu sangat merdu.” puji pria muda berambut pirang itu sambil berjalan mendekatinya dan meletakkan nampan berisi minuman yang dibawanya di salah satu kursi kayu di taman belakang Istana.

Saat berjalan mendekatinya, dari dalam aula terdengar suara alunan melodi yang indah. 
“Apa kau bersedia berdansa denganku?” tanya si pelayan tampan seraya mengulurkan tangan kirinya dan membungkukkan sedikit badannya. Anastasia terdiam bingung sesaat. Dia tak pernah berdansa, dia tak tahu bagaimana caranya.

“Kenapa? Apa kau hanya ingin berdansa dengan Pangeran dan tak mau berdansa dengan pelayan?” kalimat yang terdengar seperti sindiran halus keluar dari mulut si pelayan sambil menatap penuh arti pada Malaikat cantik di hadapannya.

“Tidak. Bukan begitu. Aku bahkan tak berani berharap bisa berdansa dengan Pangeran karena aku sendiri juga pelayan. Hanya saja aku tak bisa berdansa.” jawab Anastasia dengan lancar dan jujur.

Si pelayan tersenyum senang karena itu berarti gadis itu benar-benar baik dan tidak materialistis seperti gadis-gadis pada umumnya.

“Kau tak berharap akan berdansa dengan Pangeran lalu untuk apa kau datang ke Istana?” tanya si pelayan bingung.

“Aku kan juga diundang. Aku datang karena aku tak pernah merasakan pesta itu seperti apa, aku tak pernah merasakan mengenakan gaun yang indah seperti sekarang. Aku datang sebenarnya karena aku penasaran. Aku sama sekali tak berharap Pangeran akan melirikku.” jawab Anastasia jujur dengan matanya yang polos.

“Kenapa? Kau cantik dan baik hati, kenapa kau tak berharap Pangeran akan melirikmu?” tanya si pelayan mengorek lebih jauh lagi.

“Kau bercanda. Pangeran hanya akan menikah dengan Putri, bukan dengan rakyat jelata. Aku hanya seorang pelayan, siapalah aku ini dibandingkan Pangeran? Lagipula, ada begitu banyak gadis cantik dan berkelas di sini, bagaimana bisa Pangeran melirikku di antara ratusan atau bahkan ribuan gadis yang ada? Itu mimpi yang terlalu indah untuk jadi nyata.” jawab Anastasia sambil tertawa.
 
Suara tawanya yang renyah terdengar bagai melodi yang indah di telinga si pelayan itu. Rambutnya yang pirang panjang berkibar-kibar tertiup angin malam yang berhembus sepoi.

“Jadi, kau tak keberatan berdansa denganku kan walau aku seorang pelayan?” tanya si pelayan tampan itu masih berharap.

“Tapi aku tak bisa berdansa. Bagaimana jika nanti aku menginjak kakimu?” tanya Anastasia khawatir dengan ekspresi wajah yang lucu.

“Hahaha...Tidak akan. Aku akan mengajarimu pelan-pelan.” jawab si pelayan seraya kembali membungkuk dan mengulurkan tangan kirinya.

Anastasia tersenyum manis lalu menyambut uluran tangan itu. Begitu lembut. Itu yang dirasakan si pelayan tampan saat pertama kali mereka bersentuhan.

“Jangan marah jika aku menginjak kakimu, ya.” canda Anastasia sambil kembali tersenyum. 
“Aku tidak keberatan jika yang menginjak kakiku adalah seorang gadis cantik.” ujar si pelayan yang membuat pipi gadis itu memerah.

Dengan perlahan mereka berdansa dengan iringan musik dari dalam aula yang terdengar samar-samar. Walau awalnya kaku dan canggung namun Anastasia yang memang gadis yang pintar mampu belajar dengan cepat. Mereka berdansa dengan nyaman sambil sesekali diselingi obrolan dan candaan.

“Aku merasa seperti Putri Cinderella yang berdansa dengan Pangeran,” ujar Anastasia sambil berdansa diiringi alunan lembut suara musik dari dalam aula.

“Kenapa?” tanya si pelayan seraya tersenyum penuh arti. 
“Putri Cinderella dan Sang Pangeran juga berdansa di luar Aula Istana, kan? Mereka juga berdansa di taman Istana, hanya berdua dan bukan di tengah kerumunan orang.” jawab Anastasia ceria.

“Kalau begitu apa kau juga akan menghilang seperti Cinderella dan membuat Pangeran kesulitan menemukanmu?” tanya si pelayan lirih, lebih terdengar sedih.
“APA?” tanya Anastasia dengan bingung.

Si pelayan tampan itu segera menggeleng cepat, meralat ucapannya, “Tidak. Aku hanya iseng saja. Lupakan pertanyaanku yang tadi. Hei, kau cepat belajar, ya. Kau cepat menyesuaikan tariannya.” Alvan mengalihkan pembicaraan. Anastasia memerah malu mendengar pujiannya.

“Itu karena gurunya sangat pintar.” jawab Anastasia malu-malu. Pria muda itu tersenyum, di matanya, gadis itu begitu manis.

“Pertama kali bertemu denganmu kupikir kau adalah orang kaya yang menyebalkan, tidak kusangka kau hanya seorang pelayan yang baik hati dan ramah.” ujar Anastasia polos, yang membuat si pelayan hampir saja tersedak jika saja saat itu dia sedang memakan sesuatu.

“Hhhmmm, iya. Maaf aku sudah kasar padamu sebelumnya.” Hanya itu, karena si pirang tampan itu benar-benar tidak tahu harus menjawab apa.

“Bagaimana keadaan Charlotte?” tanyanya lagi, terdengar cemas. 
“Sudah baikan. Terima kasih atas pertolonganmu waktu itu.” jawab si pelayan lembut. 
“Sama-sama.” jawab Anastasia tulus. 
“Kami belum membalas kebaikanmu.” ujar si pelayan lagi. Mendengar itu, Anastasia menjadi kesal.

Dia mendadak menghentikan dansa mereka dan memandang kesal pada pelayan itu, “Sudah kubilang aku tak mau kalian membicarakannya. Memang kapan aku meminta kalian membalas budi? Apa kau pikir aku menolong adikmu karena aku menginginkan pamrih? Apa kau pikir aku serendah itu?” kesal, Anastasia melepaskan tangan pria tampan yang tadi menggenggamnya saat berdansa dan terduduk dengan kesal di kursi kayu tempat pelayan itu meletakkan nampannya.

“Maaf. Aku tak menyangka aku akan membuatmu kesal.” ujar si pelayan seraya duduk di sampingnya. 
Mendengar Anastasia tidak menjawab, dia lalu mengambil salah satu gelas sampagne yang diletakkan di sampingnya dan menyodorkannya pada gadis itu.

“Apa kau ingin minum? Mungkin saja kau haus setelah bernyanyi dan berdansa.” tawarnya ramah pada Anastasia.

“Terima kasih.” jawab Anastasia seraya meraih gelas dari tangan pria itu dengan cemberut lalu meminumnya, tak tahu jika minuman di gelas itu berisi alkohol yang lumayan keras.

“Suaramu sangat indah.” lagi, pujian si pelayan tampan itu, membuat pipi gadis itu memerah. Spontan kekesalannya menguap bagai asap.

“Boleh aku mengajukan beberapa pertanyaan padamu?” tanya si pria dengan ragu-ragu. 
Anastasia menatapnya penuh tanya, “Aku juga memiliki beberapa pertanyaan untukmu. Boleh aku bertanya lebih dulu?” tanya Anastasia pada pria tampan itu yang mengangguk tanpa berpikir lama.

“Saat aku menabrakmu, kupikir kau adalah orang kaya melihat dari pakaian yang kau kenakan. Tapi sekarang kenapa kau berpakaian seperti pelayan?” tanya Anastasia bingung.

“Aku bekerja di Istana, sudah tentu mereka membayarku sangat mahal. Jadi kurasa wajar jika aku memakai pakaian yang bagus dan mahal. Jika pelayan Istana berpakaian seperti pengemis, bukankah nama baik Keluarga Kerajaan akan tercoreng? Jika mereka tidak bisa mengurus pelayan, lalu bagaimana mereka akan mengurus seluruh rakyat?” ujar si pelayan dengan gayanya yang meyakinkan dan membuat Annie percaya.

“Kau benar.” Jawab Anastasia sambil tertawa canggung dan kembali meneguk minumannya. 
“Siapa namamu?” tanya si pelayan memulai berkenalan dengan resmi. 
“Anastasia.” jawab Anastasia singkat sambil tersenyum manis.

Pria tampan berambut pirang itu hanya menatapnya tanpa berkedip, “Nama yang sama. Aku Sangat berharap kau adalah dia.” ujarnya dalam hati, tersenyum sedih.
“Lalu kau?” tanya Anastasia padanya. 
“Alvan.” jawabnya singkat. 

Sekarang, Annie yang terdiam dan memandangnya penuh kerinduan, “Nama yang sama. Aku Sangat berharap kau adalah dia.” ujar Anastasia dalam hati, mengucapkan kalimat yang sama seraya tersenyum sedih.

“Kenapa memandangku seperti itu?” tanya si pelayan dengan bingung saat melihat Anastasia menatapnya lekat tanpa berkedip.

“Namamu mirip dengan seseorang. Tapi kurasa nama seperti itu memang banyak yang memakainya, kan?” jawab Anastasia seraya memandang ke langit malam dengan sedih.

“Kenapa aku merasa pusing? Ini minuman apa?” tanya Anastasia  beberapa saat kemudian yang merasa kepalanya sudah mulai berputar-putar.
“Ini sampagne. Kau tak pernah minum sampagne?” tanya si pelayan tak enak hati. 
“Tidak. Aku pusing sekarang.” ujar Anastasia lalu ambruk dalam beberapa menit kemudian.

“Anastasia.” panggil si pelayan dengan cemas saat melihat gadis itu terjatuh pingsan di rerumputan di taman belakang istana. Tak tahu harus berbuat apa, si pelayan segera menggendong Anastasia dan mendekapnya erat dalam dadanya dan membawa gadis itu ke kamarnya.

Sepertinya ini akan menjadi malam yang berat untukku,” ujar si pelayan dalam hatinya saat memandang wajah Anastasia yang tertidur dengan damai di atas ranjangnya yang empuk.

Tapi setidaknya dengan begini, Arthur tidak akan memiliki kesempatan untuk memilih gadis ini menjadi pasangan hidupnya.” lanjutnya dalam hati dengan seulas senyum tersungging di bibirnya.

To be continued...


NOTE : WINNER OF WATTYS AWARDS 2016 for Category “Hidden Gems” alias “Permata Yang Tersembunyi” (Cerita Kurang Dikenal). 

<<<< Update 2026: Cerita Lengkap bisa dibaca di blog Liana Land karena penulis TIDAK BEKERJA SAMA LAGI dengan PENERBIT DIANDRA! Jika Pihak Diandra masih menjual secara sepihak, sudah dipastikan mereka melakukan tindak pidana pencurian Hak Cipta! >>>>>>

~~~~~~

* Promo Akhir Tahun 2016 E-Book Version Only IDR 11 Ribu by Penerbit Diandra :
Hai hai hai... Bagi yang suka dengan cerita Anastasia – Princess In Disguise, yang kantongnya bolong tapi pengen ngebaca kelanjutannya, ada promo besar nih di akhir tahun. Tapi hanya berlaku untuk E-Book ya. Dari yang awalnya seharga Rp 55.000 sekarang hanya jadi Rp 11.000 loh. Tunggu apalagi? Yuk buruan dibeli mumpung lagi ada promo nih.
 
 Harga Asli : IDR 55.000
 Harga Promo : IDR 11.000

Tinggal buka Google Play/Play Store lalu ketik nama “Liliana Tan” ==> Pilih “Judulnya” ==> Lalu klik “Beli” dan anda bisa memilih membayar dengan Debet/Kredit/potong pulsa.

Note : Promo HANYA BERLAKU sejak bulan November hingga Desember 2016 !!!

Terima kasih.