Tampilkan postingan dengan label Writing Competition. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Writing Competition. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 November 2016

Winner Of Wattys Awards 2016 : Anastasia, Princess In Disguise

Hi, I’m back *lambai tangan* Apa ada yang nyari’in bloggernya? Kalau gak ada, ya udah. Toh aku juga jarang banget buka yang ini dan lebih aktif buka yang satunya hehehe =) Bingung mau nulis apa kalau di blog yang ini, tapi kayaknya bentar lagi, aku berencana untuk memposting sedikit cerita dari novel terbaru saya yang juga kebetulan memenangkan “Penghargaan Wattys Awatds 2016”. Well, teaser kayak biasanya gitu deh. Gak banyak, paling cuma 4 bab doang kayak biasanya. Kalau mau agak banyak, baca di Wattpad atau beli novelnya ya hehehe =) Soalnya di Wattpad pun hanya setengah doang.


Well, hari ini aku sedang ingin berbagi kebahagiaan dengan semua pembaca setia blog ini. Sabtu lalu, tepatnya tanggal 5 November 2016, aku mendapat kabar yang bagiku sangat menyenangkan yaitu salah satu ceritaku yang aku ikutkan dalam kompetisi menulis online terbesar di Indonesia yaitu Wattys Awards 2016 tanpa disangka terpilih menjadi salah satu pemenang kompetisi tersebut.

Postingan ini adalah ungkapan terima kasih kepada Dewan Juri Wattpad atas kesempatan yang mereka berikan dan sebagai wujud kegembiraan saya. Jika ada di antara kalian yang gak suka liat bloggernya happy karena menangin penghargaan menulis, yaudah, tutup aja gak perlu dibaca hehehe =) This is my blog anyway and I have all the right to posted whatever I want to write...





Sebelumnya, aku ucapkan Terima Kasih banyak kepada para Dewan Juri Wattpad Indonesia (@WattysID) yang telah memilih “Twin Princess – Anastasia, Princesss In Disguise” sebagai salah satu PEMENANG WATTYS AWARD 2016 untuk Kategori “Hidden Gems” atau “Cerita Kurang Dikenal”. Bangga dan bahagia rasanya bisa terpilih di antara 140.000 karya yang diikutsertakan dalam Kompetisi Menulis Online Terbesar di Indonesia tahun ini.




Beberapa bulan yang lalu, cerita ini sempat dibashing dan membuatku down sehingga malas untuk melanjutkan cerita ini karena melihat begitu banyaknya pemaki. Cerita yang awalnya ingin aku abaikan, ternyata justru MEMENANGKAN PENGHARGAAN WATTYS AWARDS 2016. Jujur, aku sama sekali tidak menyangka dan tidak berharap sama sekali akan terpilih menjadi salah satu pemenang Wattys Awards 2016.

Terima kasih kepada @WattysID yang telah mengembalikan kepercayaan diri dan juga semangatku, sehingga aku memiliki semangat baru dalam melanjutkan cerita ini. Terima kasih untuk kesempatan dan juga pengakuan yang kalian berikan *bow*


Untuk semua Readers setiaku di Wattpad. Thank you for read, vote and comment. Khususnya bagi yang vote, terima kasih banyak *bow* Dan untuk semua Unfollowers, walau kalian telah meng-unfoll aku, aku tetap mengucapkan Terima Kasih, karena sekarang itu justru memberi semangat padaku agar membuat karya yang lebih bagus lagi agar gak ada yang unfoll lagi untuk ke depannya, amin. Bagaimanapun juga, UNFOLLOWERS tetap pernah menjadi bagian dari pembacaku. Dear Unfollowers, Penulis yang kalian Unfoll sekarang jadi Pemenang Wattys loh hehehe ^.^ 

Once again, Thank you so much for Panitia Wattpad Indonesia (@WattysID), thank you for giving me a chance *bow*.

“Impian itu memang tidak mudah diraih. Bila mudah diraih bukan impian namanya. Tak peduli walau harus berulang kali terjatuh dan gagal, selama masih ada kesempatan, kita harus tetap mencoba. Try Again, NEVER STOP BELIEVING!!! It’s NOT HOW YOU FALL, it’s HOW YOU GET BACK UP.”

Salam, Liliana Tan

Sabtu, 30 Mei 2015

Winter Tears : The First From My “4 Seasons” Series

Bulan Narasi 2015 kembali diselenggarakan, sejak 1 Mei 2015 yang lalu, tapi sayang sepertinya kompetisi tahun ini tak banyak yang tahu. Mungkin karena  twitter @bulan_narasi tak lagi aktif di twitter jadi tak banyak yang tahu. Jika dibandingkan tahun lalu dimana peserta Bulan Narasi 2014 mencapai 813 orang, tahun ini hanya sekitar 40 orang saja (termasuk saya). Yang ditakutkan adalah kompetisi ini akan dibatalkan mengingat jumlah peserta sangat sedikit dan tidak memenuhi persyaratan. Semoga nggak deh ya, amin.. Secara gue da bela-belain nyelesaiin nih novel buat ikutan Bulan Narasi 2015. Yup, tahun ini gue ikut lagi hehehe ^.^ Menang atau nggak, itu urusan belakang, walau sebenarnya setiap peserta pastilah mengharapkan kemenangan. Tapi kalau gak menang pun, nih naskah kan tetap bisa diterbitkan di www.nulisbuku.com jadi gak ada yang perlu disesalkan.

Jika tahun lalu saya mengambil tema “Hujan”, tahun ini saya mengambil tema “Salju” alias “Winter”. Yup, saya merencanakan novel ini akan menjadi bagian pertama dari Tetralogi 4 Musim yang memiliki kisah dan tokoh yang berbeda tapi masih terdapat benang merah yang menyatukan semuanya.




Seperti yang kukatakan di atas, jika “Winter Tears” ini akan menjadi seri yang pertama dari Tetralogi 4 Musimku, sama seperti Ilana Tan yang juga membuat Tetralogi 4 Musim, aku juga terinspirasi untuk membuat tema serupa. Tapi dijamin, kisahnya BERBEDA SAMA SEKALI dan HANYA TEMA 4 MUSIM yang sama. Secara jujur, aku gak pernah baca karya 4 Musimnya Ilana Tan, hanya pernah liat di toko buku aja terpampang hehehe ^.^

Diawali di Musim Dingin dan akan diakhiri di Musim Gugur. Jadi nanti urutan Tetralogi 4 Musim saya adalah : Winter, Spring, Summer dan Autumn. Di mana Autumn Rainbow sendiri, teasernya sudah ada di sini *tunjuk-tunjuk blog* Kalian ublek-ublek aja di labelnya “Autumn Rainbow” kalau penasaran hehehe =)

Covernya, seperti biasa aku sendiri yang mendesainnya hehehe ^.^ Mungkin tidak sebagus desain cover yang didesain oleh desainer sampul profesional yang bekerja di Penerbit-penerbit terkemuka, tapi untuk ukuran seorang pemula, aku rasa cover ini sudah mencerminkan keinginan hatiku dan pesan yang ingin disampaikan dalam cerita.

So, here is the First Novel from My “4 Seasons” Series – “WINTER TEARS” :


By : Liliana Tan

Selasa, 12 Mei 2015

Senja Terakhir di Pantai Kuta

Writing Competition : “Friendship Never Ends”
With :  Tiket.com dan Nulis Buku 


Senja Terakhir di Pantai Kuta





Seorang gadis muda berdiri menatap kosong hamparan laut di hadapannya. Matanya menerawang menatap matahari senja yang baru saja tenggelam ke peraduannya, Pantai Kuta, pantai matahari terbenam, begitu semua orang menyebutnya, matahari senja di Pantai Kuta tampak begitu indah, Di Pantai Kuta, malam datang agak terlambat. Cahaya merah bercampur kuning berkilauan dan debur ombak yang berkejar-kejaran tampak bagai sebuah pertunjukan tanpa naskah. Pantai pasir yang lembut dan sisa basah sapuan ombak tampak mengkilat seperti kaca. Diatas pasir, gadis itu menulis sebuah nama. Enam huruf. Dia berharap angin bisa menyampaikan padanya betapa dia merindukannya. Kini dan nanti. Tapi berkali-kali gadis itu menulisnya, berkali-kali pula ombak menghempasnya.

Akhirnya dia hanya bisa pasrah dan kembali memandang kosong kearah lautan yang perlahan menjadi gelap. Kicauan burung camar terdengar bersahut-sahutan, angin malam mulai menghembus tubuh rampingnya yang hanya terbalut sebuah cardigan tipis berwarna jingga, rambut panjangnya berkibaran menerpa wajahnya karena hembusan angin malam yang dingin menerpa.

Samar-samar  terdengar  suara lembut alunan lagu yang berasal dari arah ponselnya. 
“Menatap lembayung di langit Bali dan kusadari betapa berharga kenanganmu.” 
Dengan enggan gadis itu meraih ponselnya dan menjawab lirih “Hallo.”  ujarnya tak bersemangat.

“Aku tahu.Aku akan segera kembali.” jawabnya pada si penelepon seraya memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya.

“Tunggulah aku. Tak lama lagi, kita akan kembali bertemu. Kau masih menungguku kan?” gumamnya seraya menatap langit Bali yang bertabur bintang dengan berkaca-kaca seraya menyentuh dadanya dengan sebelah tangannya. Gadis itu berbalik dan berniat pergi saat tiba-tiba tubuhnya jatuh tersungkur kearah pasir dan jatuh berlutut, bercak merah darah memercik mengenai butiran pasir di pantai itu.

“Aarrgghh.”  erang gadis muda itu seraya memegangi dadanya menahan sakit.
“Intan.” panggil seseorang seraya berlari mendekatinya dan menatapnya cemas. Gadis itu hanya tersenyum menenangkan seraya berkata lirih “Aku baik-baik saja. Kurasa Gilang tak sabar ingin segera bertemu denganku.” jawabnya dengan mata berkaca-kaca.

“Bicara apa kau ini?” ujar gadis muda yang lain, jelas terlihat dia berusaha menahan tangisnya.

“Masih ada harapan. Bukankah Dokter bilang kau masih bisa disembuhkan?” ujar gadis itu memberi harapan. Tapi Intan hanya menggeleng pelan.

“Sudah selesai. Waktuku sudah habis. Kemoterapi dan radiasi sudah tak ada artinya lagi. Hanya cangkok sumsum tulang belakang yang bisa menyelamatkan aku, tapi anak yatim piatu seperti kita tak punya keluarga, darimana aku dapatkan cangkok sumsum itu? Aku sudah memenuhi janjiku pada Gilang, sekarang saatnya aku melepaskan semuanya dan pergi dari dunia ini.” jawab Intan seraya meraih saputangan dari saku celananya dan mengelap bibirnya yang bersimbah darah.

“Aku tak suka kau bicara seperti itu. Kau bukan akan mati besok pagi,” serunya marah, seraya membantu Intan berdiri.

“Jangan menangis Dini. Kau harus hidup tanpa menangis.” hibur Intan tulus seraya mengusap airmata sahabatnya.

“Setelah aku tak ada, berjanjilah kau akan hidup demi dirimu sendiri. Selama ini demi aku, kau tak pernah pikirkan dirimu sendiri, kau setia merawatku, mendampingiku menjalani semua pengobatan ini, tanpa kau, mungkin aku sudah menyerah sejak dulu. Terima kasih, teman. Aku beruntung bisa mengenalmu.” jawab Intan tulus.
“Kau belum memenuhi janjimu pada Gilang. Kau bilang kau tidak akan menyerah sebelum impianmu terwujud.”  ujar Dini tak terima.

“Aku sudah penuhi janjiku. Apa kau tidak lihat bahwa semua novelku ada di jajaran Best Seller?” jawab Intan seraya berjalan perlahan dengan Dini memapahnya.

“Itu belum cukup, Tan.Hanya tiga yang sudah kau terbitkan. Gilang ingin kau membuat lebih banyak.” ujar Dini berusaha menyemangati teman baiknya.

“Gilang pasti mengerti. Aku sudah tak sanggup lagi. Selama ini aku bertahan hanya demi memenuhi janjiku padanya, janji bahwa aku harus mengejar impianku tidak peduli walaupun aku harus terjatuh berulang kali.” jawab Intan dengan ekspresi sedih, seraya berjalan beriringan di sepanjang Pantai Kuta, Bali.

======== 

“Menatap lembayung di langit Bali dan ku sadari betapa berharga kenanganmu..Bilakah kuhentikan pasir waktu, tak terbangun dari khayal, keajaiban ini, Mimpi.”  Terdengar suara alunan lembut Sarasdewi – Lembayung Bali. Lagu Favorit Gilang saat dia masih hidup. Intan menarik napas dan kembali menatap kosong langit malam, tanpa sadar kenangannya membawanya kembali ke masa-masa dimana Gilang masih ada.

“Waktu. Andai aku bisa menghentikan pasir waktu, aku ingin lebih lama bersamamu.” ujar Intan dalam hati.

Flashback.
“Kenapa kau tak pernah mengatakan padaku kalau kau mengidap penyakit ini? Kenapa kau selalu menanggung semuanya sendiri?” Intan berseru marah pada pria yang kini terbaring tak berdaya di hadapannya.
“Aku tidak apa-apa. Ini hanya Kanker Darah, bukan sesuatu yang besar.” Jawab Gilang setengah bercanda.

“Hanya kanker darah? Apa kau pikir ini sesuatu yang lucu? Kenapa kau begitu tenang?” Intan berteriak marah. Marah pada dirinya karena tak mengetahui ini semua, marah pada takdir, marah pada hidup yang seolah tak adil. 

Mereka bertiga, Intan, Gilang dan Dini adalah teman baik yang tumbuh bersama di Panti Asuhan. Selama ini mereka selalu bersama-sama kemana-mana. Mereka sama-sama dibuang dan dicampakkan oleh orang tua kandung mereka sejak masih bayi, dibesarkan di Panti Asuhan dengan segala kekurangan, membuat mereka bertiga tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan selalu berjuang meraih mimpi demi kehidupan yang lebih baik. Saat mereka sudah dewasa dan sudah saatnya meninggalkan Panti Asuhan itu, mereka bekerja keras agar dapat bertahan hidup. Tidak peduli sesulit apapun, mereka selalu saling membantu. Tahun lalu, sebuah penyataan cinta dari Gilang pada Intan spontan mengubah hubungan persahabatan mereka. Semuanya terasa indah pada awalnya, tapi ternyata takdir tidak mengizinkan mereka bersama saat sebuah kenyataan pahit menghampiri Gilang. Sebuah penyakit ganas diam-diam menggerogoti tubuhnya. Tak ingin kekasihnya menjadi sedih, dia menyimpan semuanya sendiri, hingga pada akhirnya dia tak sanggup lagi menyembunyikan semua ini.

“Aku tahu kau akan bereaksi seperti ini jika tahu yang sebenarnya, itu sebabnya aku memilih tak mengatakan apa-apa. Jika aku tak ada lagi disisimu, berjanjilah kau akan tetap hidup dengan baik.  Tetaplah mengejar mimpimu, tak peduli sesulit apapun itu.Aku tahu kau gadis yang kuat, jadi kau pasti akan berhasil karena kau punya semangat.” Pesannya lirih.

“Aku tak bisa. Aku kuat karena kau ada bersamaku. Kau yang selalu memberiku semangat. Kau yang selalu mendukungku saat aku jatuh, Kau orang pertama yang selalu ada untuk menghiburku. Jika tak ada kau, aku tak tahu apakah aku..” kata-kata Intan terhenti karena Gilang memotongnya lebih dulu.

“Intan, kau tak boleh menyerah dalam mengejar mimpimu. Tak peduli walau harus berkali-kali terjatuh dan gagal, selama masih ada kesempatan, kau harus tetap mencoba. Mengirim dan mengirim lagi, berulang-ulang sampai dapat diterima. Itulah yang namanya impian. Harus dikejar dan terus dikejar. Kau mengerti kan? Jangan menyerah Intan.” ujar Gilang memberi semangat walau dia sudah terlihat sangat lemah.

“Tapi tanpamu...” lagi-lagi kalimat Intan terputus.
“Kau tahu apa yang kusukai darimu?” tanya Gilang sambil tersenyum tulus. Intan menggeleng pelan, berusaha menahan airmatanya.

“Semangatmu itu.Itulah yang kusukai darimu. Aku sungguh berharap kita berdua bisa meraih mimpi bersama. Kau dan aku, kita berdua, pasti bisa membuat sebuah karya hebat dengan aku sebagai Sutradaranya dan kau penulis skenarionya. Tapi sayangnya aku tak punya banyak waktu lagi, Jadi aku ingin, kau menggantikan aku meraih mimpi itu. Jangan menyerah. Aku ingin kau bisa mengembangkan bakatmu dan menghasilkan karya hebat. Aku akan selalu mengawasimu dari Surga.” ujar Gilang tulus.

“Jangan bicara seperti itu. Kau bukan akan mati besok pagi.” Ujar Intan sambil menangis.
“Minimal tiga Novel. Aku ingin kau bisa menerbitkan minimal tiga novel. Aku tahu kau sangat ingin karyamu bisa dibaca dan disukai banyak orang, jadi inilah saatnya. Berjuanglah! Jangan menyerah walau harus terjatuh berulang kali. Bukankah kau pernah bilang padaku bahwa tak ada seorangpun yang bisa mengajarimu untuk menyerah? Buktikan padaku! Teruslah maju dan kejarlah mimpimu. Demi aku, demi dirimu, demi impian kita. Waktu, itulah yang tak kumiliki sekarang.” ujar Gilang lagi, dengan mata berkaca-kaca.

“Gilang...” Intan bahkan tak sanggup bicara.
“Berjanjilah padaku, Intan. Atau aku takkan mau melihatmu lagi.” Ujar Gilang dengan nada mengancam.
“Aku berjanji.” akhirnya dengan berat hati, Intan menyanggupi permintaan terakhir Gilang.

Gilang tahu waktunya tak lama lagi, dia meminta Intan menemaninya berlibur ke Pulau Bali. Pantai Kuta, adalah tempat terakhir mereka berbagi kenangan indah. Bermain pasir bersama, melihat matahari terbit dan terbenam, membangun istana pasir, memandang bintang  dan membakar ikan di tepi pantai seraya melihat ombak berkejar-kejaran di laut yang terhampar indah di hadapan mereka.

“Aku suka lagu ini.” Ujar Gilang saat mereka sedang menikmati makan malam di sebuah restoran mewah malam itu. Makan malam terakhir mereka.

“Lembayung Bali?” tanya Intan saat restoran itu memutar Lembayung Bali-nya Sarasdewi. 
“Menatap lembayung di langit Bali dan kusadari betapa berharga kenanganmu... Hingga masih bisa kurangkul kalian, sosok yang mengaliri cawan hidupku. Bilakah kita menangis bersama, tegar melawan tempaan, semangatmu itu. Bukankah lagu ini sangat pas untuk situasi kita sekarang?” ujar Gilang mengucapkan sebait lirik dari lagu itu. Intan mengangguk pilu.

“Karena kau dan Dini, aku tak merasa kesepian walau orang tuaku sudah membuangku. Terima kasih untuk semuanya, khususnya kau, Permataku. Aku mencintaimu.” ujar Gilang lembut.

“Aku juga mencintaimu. Terima kasih karena sudah menyukaiku.” Ujar Intan sambil menghapus airmatanya.
“Kau ini cengeng sekali. Bagaimana bisa aku meninggalkanmu sendiri?” Gilang menarik Intan dan memeluk serta membelai rambutnya lembut.

“Apa kau tahu kenapa aku suka dengan Batu Intan?” tanya Gilang setelah pelukannya terlepas. Intan mengangguk pelan.
“Karena itu adalah namaku, benarkan?” jawab Intan bangga. Gilang tersenyum mendengarnya.

“Ya dan tidak. Intan, nama lain dari Berlian adalah batu permata yang terindah, termahal dan terkuat dimuka bumi. Intan dalam bahasa Yunani artinya tak tertaklukkan,” ujar Gilang dengan berseri-seri menjelaskan tentang batu favoritnya.

“Aku ingin kau menjadi seperti namamu, tetap kuat, berjuang terus tanpa menyerah,” jawab Gilang, tetap memberi semangat di saat-saat terakhir hidupnya. Intan hanya mampu meneteskan airmata tanpa bisa mengatakan apa-apa. 

“Selamat tinggal, Intan. Batu permataku yang paling indah, kejarlah mimpimu dan jangan menyerah.” Ujar Gilang dalam hatinya. Dan seminggu setelah kencan mereka di Pantai Kuta, Gilang menghembuskan napasnya yang terakhir. Intan  hampir saja kehilangan semangat hidupnya andai saja dia tidak teringat janjinya pada Gilang.

“Tetaplah hidup tanpa menangis, Intan. Kejarlah mimpimu dan jangan menyerah. Gantikan aku meraih mimpi yang belum sempat kuwujudkan.” Itulah pesan terakhir Gilang yang dijadikannya sebagai pegangan hidup.

End Of Flashback.

Sejak itu Intan tak menyerah. Berbagai kompetisi menulis dia ikuti. Tak peduli walau harus gagal berkali-kali, hingga akhirnya setelah hampir tujuh tahun mencoba, satu karyanya berhasil memenangkan Novel Fiksi terbaik. Satu kesuksesan membawanya pada kesuksesan yang lain. Tiga Novelnya berhasil menjadi Best Seller dan membuatnya meraih banyak sekali penghargaan. Bahkan sebuah stasiun televisi swasta berniat mengangkat novelnya ke dalam film. Royalti yang diterimanya cukup membuat hidupnya menjadi lebih baik. Secara finansial, Intan tak perlu diragukan lagi, tapi semua itu tak membuatnya bahagia. Hingga akhirnya sekitar setahun yang lalu, dia mengetahui bahwa dia juga menderita penyakit yang dulu merenggut nyawa Gilang, cinta pertamanya. Kemoterapi dan radiasi dia jalani, tapi semuanya tak kunjung membaik. Intan merasa waktunya tak lama lagi.

“Jika seandainya aku pergi, aku ingin 70% royaltiku kau sumbangkan pada Yayasan Kanker dan Panti Asuhan. Sisanya aku ingin kau gunakan sebagai modal untuk meraih mimpimu. Bukankah kau ingin kuliah desain di luar negeri dan menjadi desainer kelas dunia? Gunakan uangku untuk meraih mimpimu. Dini, terima kasih banyak. Maaf, aku tak bisa menemanimu lagi. Gilang sudah menungguku di sana.” tulis Intan di surat wasiatnya.

Dia merasakan sakit itu kembali menyerangnya, dengan napas tersengal-sengal, Intan berjalan kearah balkon kamar hotelnya di Pantai Kuta, untuk yang terakhir kalinya memandang lepas kearah langit malam yang bertabur bintang.

“Andai ada satu cara, untuk kembali menatap agung suryamu.” ujarnya dalam hati  seraya memeluk foto Gilang didadanya, cairan merah yang keluar dari hidung dan mulutnya menjadi penanda bahwa hidupnya takkan lama. Dengan senyuman tersungging dibibirnya, Intan dudu dikursi balkon itu seraya menatap kelangit malam yang bertabur bintang.

“Sudah selesai.” Batinnya seraya perlahan memejamkan matanya. Tertidur untuk selamanya.

==========

“Terima kasih untuk semua sumbangan ini. Intan Permata penulis yang hebat, sayang sekali dia harus meninggal di usia  muda. Kudengar dia adalah gadis yang baik dan penulis yang berbakat. Aku percaya dia pasti bahagia bisa berada disisi Tuhan di Surga.” Ujar Dokter Kepala Yayasan Kanker saat Dini menyerahkan uang sumbangan hasil royalti Intan pada Rumah Sakit itu sesuai permintaan terakhir Intan.

Dini menghapus airmatanya dan mengucapkan “Sama-sama. Aku senang bisa membantu. Temanku berharap bisa membantu semua anak-anak itu agar mereka bisa hidup lebih lama dan mengejar mimpi mereka.” Ujarnya dengan airmata menetes pelan. Beberapa hari ini dia sibuk membagikan sumbangan ke beberapa Rumah Sakit Kanker dan Panti Asuhan untuk memenuhi wasiat terakhir Intan, walau sulit melepas kepergian temannya, tapi dia tahu inilah yang terbaik untuknya.

“Gilang, Intan, sekarang kalian sudah bersama di Surga. Kalian pasti sangat bahagia kan? Tunggulah aku. Akan tiba saatnya aku akan menyusul kalian, dan selama menunggu saat itu tiba, aku akan berjuang meraih impianku dan aku takkan pernah mengecewakanmu, sahabat. Aku takkan menyerah. Selamat tinggal, teman terbaikku. Aku menyayangimu, Intan, Batu Permataku.” Ujar Dini seraya berdiri menatap kosong hamparan laut di hadapannya dan merentangkan tangannya ke arah lautan menaburkan abu Intan disana, lalu berjalan meninggalkan Pantai Kuta seraya menggenggam sebuah buku di tangannya, karya terakhir Intan.

Senja mulai muncul di Pantai Kuta, sore sudah menjelang dan malam perlahan akan datang. Dari kejauhan gadis itu melihat beberapa orang begitu asyik menyisir ombak-ombak dengan sebuah papan. Deru ombak seperti orkestra yang menghentak-hentakan kenangan. Perasaan itu mulai muncul dan membuatnya tak mampu merasakan apapun. 

“Kita terlahir untuk mati. Jadi tak perlu bersedih lagi. Semua impianmu bisa menjadi kenyataan bila kau memiliki kemauan untuk mengejarnya. Segalanya akan menjadi mungkin bila kau percaya. Jadi, janganlah menyerah!” Dini mengingat surat wasiat yang ditulis Intan untuknya, dalam hati dia bersumpah tidak akan menyerah untuk mengejar impiannya, walau saat ini dia harus melangkah sendirian.

==========

Cerpen ini ditulis dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen dari Tiket.com dan Nulis Buku #FriendshipNeverEnds #TiketBelitungGratis

Sabtu, 27 Desember 2014

Surat Untuk Penghuni Surga : Angel Will Replace Us To Love You

Hadiah Natal terindah tahun ini adalah sebuah Novel Antalogi #Surat_Untuk_Penghuni_Surga yang kupersembahkan khusus untuk kakak laki-lakiku tersayang, Erwin Adi Irwanto yang sekarang sudah beristirahat dengan tenang di alam sana. Novel Antalogi yang berisi kumpulan surat-surat terpilih untuk seseorang yang telah berada di Surga ini merupakan kompetisi menulis yang bertujuan untuk amal yang diselenggarakan oleh Nulis Buku dan resmi diluncurkan pada tanggal 13 Desember 2014 lalu di Jakarta.


“Surat Untuk Penghuni Surga (Buku Empat) : Angel Will Replace Us To Love You.”


My Brother is so handsome, right? Erwin Adi Irwanto, My Lovely Brother in Heaven, this Novel I Dedicated for you....



Dear My Lovely Brother In Heaven, I just want you to know that starting from that day, from the last day in your life, Angel will replace us to love you but I hope you to never forget that we always love you forever and Ever...


“Aku menulis surat ini untukmu agar kau tahu betapa aku sangat merindukanmu.
Aku masih ingat hari itu, hari minggu yang cerah, 26 Januari 2014.
Setelah hujan membasahi bumi semalaman,
akhirnya pagi itu matahari kembali menampakkan sinarnya.
Tak pernah terlintas dalam pikiranku akan mendengar berita,
yang akan menjungkir balikkan duniaku yang penuh warna.
Pagi itu aku membuka mata penuh sukacita,
Mendengar cicit burung di pagi hari,
Yang berkicau riang tanda pagi kembali datang.
Tapi sebuah dering telepon sontak mengubah segalanya.

“Li, kokomu Erwin sudah gak ada.
Koko meninggal pagi ini pukul 04.00 pagi karena pembuluh darahnya pecah.”
Aku ingat papa berkata padaku dengan mata berkaca-kaca.
Mama spontan menangis tersedu mendengar berita itu.
Dan aku hanya bisa terdiam membisu...."


Novel ini sebagai tanda penghormatan terakhirku untukmu, untuk seseorang yang sudah pergi ke tempat yang jauh. Tempat yang takkan pernah bisa kuraih...


Tak pernah terpikir untuk menang dan terpilih menjadi salah satu peserta yang suratnya dibukukan, diantara ribuan surat yang masuk, rasanya sangat bangga dan bahagia. Awalnya murni karena sebuah kerinduan pada kakak laki-laki tercinta yang telah berpulang ke rumah Bapa, aku menulis surat ini dan kupersembahkan khusus untuknya, Koko Erwin, orang yang tak pernah kubayangkan akan pergi secepat ini, tanpa kata, tanpa pesan dan tanpa ucapan selamat tinggal.




Tapi dengan adanya kompetisi menulis “Surat Untuk Penghuni Surga” ini akhirnya aku dapat menuangkan segala kesedihan dan kerinduanku pada sosoknya yang takkan pernah tergantikan. Terima kasih Nulis Buku, karena dengan adanya kompetisi ini, kami peserta bukan hanya bisa menyampaikan rasa rindu kami yang menyesak dalam dada tapi juga sekalian dapat beramal kepada orang yang membutuhkan.




Nyesek banget rasanya saat membaca lembar demi lembar surat yang ditulis oleh para peserta terpilih dalam buku ini, dan akhirnya aku menyadari bahwa kematian adalah salah satu cara Tuhan menyayangi umat-Nya. Kematian takkan pernah mengakhiri cinta. Karena walau fisik sudah tiada, mereka akan selalu ada di dalam hati orang-orang yang menyayanginya.




Koko Erwin, kupersembahkan buku ini untukmu. Mulai sekarang, Malaikat akan menggantikan kami untuk menyayangimu. Rest In Peace, Ko. Damailah bersama Allah Bapa, Tuhan Yesus, dan para Malaikat di Surga. Hanya ini yang bisa kulakukan agar seluruh dunia tahu bahwa aku menyayangimu selamanya. We Love You Forever....


With Love,

Your Little Sister...

=========

Nb : Inilah Daftar Lengkap Proyek Menulis "Surat Untuk Penghuni Surga" : Antalogi "Surat Untuk Penghuni Surga"
Jika kalian ingin mengoleksi Novel Antalogi "Surat Untuk Penghuni Surga" ini, Anda bisa memesannya disini : Surat Untuk Penghuni Surga

Senin, 22 Desember 2014

PENJIPLAKAN JUDUL NASKAH oleh #ShintaLestari41, bentuk Kekecewaan lain Terhadap #Gramedia_Writing_Project BATCH 2 Bulan Desember 2014

Gramedia Writing Project adalah sebuah kompetisi terbuka untuk mencari 10 penulis berbakat untuk akhirnya dipilih agar bisa dibimbing secara langsung oleh Para Penulis Utama Gramedia dimana pemilihan naskah tersebut dipilih secara langsung oleh Editor diantara banyaknya naskah yang masuk. Sekilas terlihat sangat menjanjikan, banyak sekali keuntungan yang didapat dari mengikuti kompetisi terbuka seperti ini, seperti misalnya : dapat saling mengenal sesama penulis dan bertukar pandangan tentang hobi yang sama, selain itu juga dapat melihat bagaimana reaksi pasar terhadap karya kita dan seberapa banyak nama kita dikenal.

Tapi itu semua ternyata hanya terjadi di awal-awal kompetisi saja. Perlu diketahui jika kompetisi ini berlangsung sejak tanggal 20 November hingga 20 Desember 2014, walau pendaftarannya sudah dibuka sejak tanggal 20 Oktober 2014. Tapi ternyata persaingan sehat, HANYA TERJADI DI BULAN OKTOBER dan NOVEMBER Saja. 

Setelah masuknya bulan Desember dan banyak penulis baru yang berdatangan, situasi kompetisi di Gramedia Writing Project berubah menjadi ajang persaingan KOTOR untuk menjadi yang terbaik aka Penulis nomor 1, point yang bertambah secara ajaib HANYA DALAM 1 MALAM saja, itu adalah salah satu contohnya. Tapi yang paling membuat sakit hati adalah saat mengetahui bahwa ada satu peserta yang memakai username : ShintaLestari41 ternyata memakai judul naskah yang SAMA PERSIS dengan saya. Well, saya rasa saya tidak bisa diam lagi kan? Bagaimana jika Anda ada di posisi saya?


“PENJIPLAKAN JUDUL NASKAH oleh #ShintaLestari41, bentuk Kekecewaan lain Terhadap #Gramedia_Writing_Project BATCH 2 Bulan Desember 2014”





Gramedia Writing Project Batch 2 yang diselenggarakan sejak tanggal 20 November dan berakhir tanggal 20 Desember 2014 ini meninggalkan BANYAK SEKALI LUKA dalam HATI saya. Bagaimana tidak? Setelah saya dikalahkan dengan cara curang oleh salah satu peserta yang dengan ajaib bisa menambah jumlah pointnya HANYA DALAM 1 MALAM saja (Well, saya punya buktinya dan akan saya beberkan di postingan berikutnya... Karena menuduh tanpa bukti adalah Fitnah, benarkan? Tapi saya punya BUKTI kok, tenang aja hehehe ^.^ ) Sekarang giliran seorang peserta baru yang baru saja memposting karyanya yang PERTAMA tanggal 21 Desember 2014 kemarin dengan judul naskah yang SAMA PERSIS dengan naskah saya yaitu  “THE TWINS PRINCESS”.


Liliana Tan "THE TWINS PRINCESS" upload tanggal 5 November 2014...

 ShintaLestari41 "THE TWINS PRINCESS" upload tanggal 21 Desember 2014... Orang bodoh pun bisa lihat siapa yang PENJIPLAK !!!!


Hhhhmmm.... Saya update naskah itu tanggal 5 November loh, berarti saya donk yang pertama. Apalagi saya adalah penulis nomor 2 di Bulan Desember dan Penulis Nomor 1 di bulan November, itu berarti gampang donk anda melihat profil saya dan melihat semua naskah saya. Jadi salahkah saya jika saya berkata, “SHINTA LESTARI MENJIPLAK JUDUL NASKAH SAYA” ?? Ini buktinya....


Liliana Tan "THE TWINS PRINCESS" Part 2 upload tanggal 2 Desember 2014...

 Liliana Tan "THE TWINS PRINCESS" Part 5 - 7 upload tanggal 19 Desember 2014...


Sang pelaku tentu bisa berdalih dengan kalimat “HANYA KEBETULAN”, tapi coba pikir deh, mana ada kebetulan yang begitu kebetulan? Sebagai seorang Penulis, masak sih gak bisa bikin judul lain? Saya yakin Anda tidak akan sebodoh itu sampai gak bisa mencari judul yang lain dan menggunakan JUDUL YANG SAMA PERSIS dengan karya LILIANA TAN...

Saya bahkan sudah meninggalkan komentar ketidakpuasan saya di ceritanya di GWP2 tapi masih belum mendapat tanggapan. Seorang peserta lain bahkan juga sudah meninggalkan komentar yang intinya serupa dengan saya “KENAPA HARUS MEMAKAI JUDUL YANG SAMA PERSIS DENGAN LILIANA TAN?” Tapi juga belum mendapat tanggapan. 
Ini Screenshotnya :




So, what do you think readers? Pantas tidak jika saya marah? Saya merasa GWP2 SUDAH MERAMPAS HAK INTELEKTUAL Saya sebagai seorang Penulis dengan membiarkan seorang PENJIPLAK BERKELIARAN SEPERTI INI !!! Walau mungkin hanya judulnya saja, tapi ini jelas melanggar UU Hak Cipta. Tidak bisakah SI SHINTA LESTARI itu menggunakan judul lain yang mencerminkan ciri khas dia sendiri? Dari segi ceritanya pun hampir mirip tentang seorang gadis yang memiliki wajah yang mirip dengan seorang Putri dan menyamar menjadi Putri Yang Hilang itu. Tema “PUTRI YANG HILANG dan PUTRI YANG MENYAMAR” pun hampir mirip.

TOLONGLAH HARGAILAH SESAMA PENULIS, bisa kan? Bagaimana jika seandainya karya anda yang dijiplak? Relakah Anda? Jika hal sederhana seperti JUDUL saja HARUS MENJIPLAK, apalagi ceritanya? TIDAK MALUKAH ANDA? Kecuali kalau urat malu anda udah putus sih,, gak tahu lagi saya...

Yang Pasti, GRAMEDIA WRITING PROJECT BATCH 2 BENAR-BENAR MENGECEWAKAN !!! Karena adminnya terlihat masa bodoh dalam menangani keluhan para peserta. Terima kasih atas pengalamannya yang menyakitkan ini. Tahun depan saya tak sudi ikut kompetisi KOTOR seperti ini.

Salam,

Dari Peserta yang merasa Hak Intelektualnya dirampas.
 

Minggu, 27 April 2014

Untaian Cinta di Nusa Dua (Writing Competition)



Writing Competition : “Letter Of Happiness” 
With : @Thebaybali and @nulisbuku 






Semilir angin menerbangkan rambut panjang Lilian yang hitam lurus. Dari kejauhan  terdengar suara debur ombak yang berkejar-kejaran dan suara kicau burung di pantai yang indah itu. Nusa Dua, tempat yang memberikannya banyak sekali kenangan indah tapi juga tempat dimana dia harus membuang semua mimpi dan cintanya. Berdiri di atas tebing seraya memandang kosong ke arah matahari terbit yang baru saja menampakkan sinarnya, gadis itu tenggelam dalam lamunannya hingga tak sadar ada seseorang yang perlahan mendekatinya.


“Kami mencarimu kemana-mana, apa yang kau lakukan disini pagi-pagi begini?” Seorang pria muda berjalan mendekatinya dan kemudian berdiri di sampingnya.

“Apa kalian berpikir aku akan melompat dari sini?” tanya gadis itu datar dan tanpa ekspresi.


“Belum terlambat untuk membatalkan semuanya. Jika kau berkata tidak, aku akan membatalkan pernikahan ini dan kembali padamu. Kita bisa pergi ke tempat dimana tak seorangpun mengenal kita.” ujar pria muda itu. Gadis itu terdiam dan menarik napas berat, sambil tetap memandang kosong ke depan.


“Kau ingat bagaimana kita pertama kali bertemu?” tanya gadis muda itu.

“Kau menuduhku sebagai pencopet dan walau kau tak menemukan bukti apapun, kau tetap bersikeras akulah yang mencopet tasmu. Akhirnya, warga pun beramai-ramai menyeretku ke kantor polisi.” kenang  pria itu sambil tersenyum mengenang.


“Dan sejak saat itu, kita pun semakin dekat. Mungkin jika aku tak datang ke Bali, aku tak mungkin bertemu denganmu.” ujar si gadis lagi.

“Benar. Kurasa Tuhan memang mentakdirkan kita untuk bertemu dan saling mencintai.” jawab si pria.


“Ditakdirkan untuk bertemu dan saling mencintai tapi tidak untuk bersama. Dan entah sejak kapan, jodoh kita sudah berakhir sejak lama.” jawab si gadis pahit.


“Lilian, kenapa kita tidak memperjuangkan cinta kita? Kita saling mencintai, tapi kenapa kau justru menyuruhku menikah dengan kakakmu? Ini gila. Katakan padaku ini hanya kesalahan. Kau tak tau apa yang kau inginkan sebenarnya. Semuanya belum terlambat. Katakan padaku jangan pergi dan aku pasti akan kembali padamu, takkan ada pernikahan lagi.” pinta pria muda itu, seraya memegang erat pundak gadis itu.


“Lalu, setelah itu aku akan membuat kakakku meninggal karena shock? Dia sakit. Dia membutuhkanmu. Tanpamu, aku masih bisa hidup. Tapi kakak, tidak bisa. Waktu. Itulah yang tidak dia miliki sekarang. Kembalilah padanya. Bukankah masih banyak yang harus dipersiapkan sebelum pernikahan kalian?” jawab gadis itu dingin seraya menampik tangan pria itu yang memegang pundaknya.


“Aku tidak percaya kau bisa bicara seperti itu. Bahkan sampai akhir, kau tetap bersikeras melepaskan aku. Apa salahku?” tanya si pria tak percaya.


“Kau tak bersalah. Tidak ada seorangpun diantara kita yang bersalah. Keadaanlah yang membuat kita seperti ini. Aku tak punya pilihan. Kakakku sedang sekarat, dia membutuhkanmu, lebih daripada aku. Aku tak boleh egois mengikatmu sedangkan dia disana sangat mengharapkanmu.Aku hanya ingin kakakku bahagia. Hanya itu.”


“Dan bagaimana dengan kebahagiaanmu sendiri? Kau ingin kakakmu bahagia dengan menyuruhku menikahinya, lalu bagaimana dengan kebahagiaanmu sendiri? Tatap mataku dan katakan langsung di hadapanku,benarkah ini yang kau inginkan? Apa kau akan bahagia jika aku menikahinya?” pria muda itu kembali memegang erat pundak gadis muda itu dan menatap tajam matanya. Untuk sesaat, gadis itu tampak ragu-ragu, matanya berkaca-kaca saat dia memandang pria muda itu.


“Bagiku, kebahagiaan itu adalah bila melihat orang yang ku sayangi bahagia. Asalkan kakakku bahagia, aku akan bahagia. Jodoh kita sudah berakhir. Mulai sekarang, tak ada apa-apa lagi diantara kita, semua yang pernah terjadi di antara kita sudah menghilang, Aku memang mencintaimu, tapi itu dulu. Mulai hari ini, aku akan membuang semua perasaanku padamu. Pergilah. Semoga kalian bahagia.” jawab si gadis dengan dingin, walau matanya berkaca-kaca menahan tangisnya.


“Baiklah. Jika itu yang kau inginkan. Kau mungkin bisa memaksaku menikahinya, tapi kau tak bisa memaksaku untuk mencintainya. Aku menikahinya karena kau yang memintaku, karena aku mencintaimu, jadi aku akan lakukan apapun untukmu. Berjanjilah padaku, jika di kehidupan ini kita tak bisa bersama, maka di kehidupan berikutnya, apapun yang terjadi, kau tak boleh melepaskan aku.” jawab pria muda itu akhirnya, dengan perlahan dia menghapus airmata yang menetes di pipinya.


“Rafael, maafkan aku.” ujar si gadis lirih.

“Nusa Dua. Tempat kita bertemu pertama kali, tempat cinta kita bersemi, tapi tidak ku sangka akan menjadi saksi perpisahan kita saat ini. Untuk yang terakhir kalinya, bolehkah aku memelukmu?” pinta si pria mengiba. Gadis itu menatapnya ragu-ragu tapi kemudian mengangguk pelan. Perlahan tapi pasti Rafael mendekati gadis itu dan mereka berpelukan untuk yang terakhir kalinya di iringi suara debur ombak yang berkejar-kejaran dan kicau burung yang bersahut-sahutan.


“Selamat tinggal, Rafael. Semoga bahagia.” ujar Lilian sesaat setelah pelukan itu terpisah, dengan senyum yang dipaksakan dia berlalu meninggalkan cinta pertamanya dan berjalan dengan langkah gontai menuju arah restoran yang tak jauh dari sana.


“Sampai kapan kau akan memandangi Bebek itu?” tanya seorang pria muda lain padanya. Lilian seolah baru terbangun dari lamunannya dan tersadar bahwa dia sama sekali belum menyentuh makanannya.


“Bukankah kau bilang kau ingin makan Bebek Bengil?” tanya pria muda itu lagi.

“Alex, selera makanku tiba-tiba menghilang. Jika kau masih ingin makan, makan saja. Tapi aku ingin kembali ke kamar sekarang” ujar Lilian seraya mengambil satu sendok nasi sebagai syarat lalu berjalan pergi dari sana.


“Apa?Ini kan enak.” gumam pemuda yang dipanggil Alex itu lalu segera berlari menyusul Lilian. Mereka berjalan berdampingan di tepi pantai sambil terdiam.


“Aku mengerti perasaanmu.Pasti rasanya sakit sekali, benarkan? Melepaskan orang yang kau cintai untuk menikah dengan kakakmu sendiri.Apa yang harus ku lakukan untuk menghiburmu?” tanya Alex mengerti.Gadis itu berhenti dan menoleh lalu tersenyum berterima kasih padanya.


“Kau memang temanku yang paling baik.Kalau tak ada kau, mungkin aku akan lebih hancur lagi dari sekarang. Terima kasih, Alex.” ujar Lilian tulus. Alex hanya memandangnya dengan senyum yang dipaksakan.


“Hanya teman?Bagimu aku hanya teman kan? Selamanya hanya teman terbaik.Tahukah kau kalau akulah yang paling sakit saat melihatmu seperti ini?” ujar Alex tiba-tiba, mendadak menjadi sangat serius.


“Apa?” Lilian tampak tak mengerti.

“Kita sudah saling mengenal sejak kecil.Aku tahu semua tentangmu lebih dari yang lain, bahkan lebih dari Rafael mengenalmu.Tapi kau tak pernah melihatku.Walau aku selalu ada disisimu, menemanimu, menghiburmu,melindungimu dan menjagamu, kau tak pernah melihat hal itu.Apa kau tahu itu sangat menyakitkan?” ujarnya dengan ekspresi tak terbaca.

“Aku tidak tahu apa maksudmu Alex.” Lilian masih tampak shock dengan perkataan sahabatnya.


“Aku mencintaimu.Entah sejak kapan.Hanya saja kau tak pernah melihatku.Aku selalu melihatmu, tapi kau selalu melihat kearah yang lain.Aku mencoba berlapang dada dan berpikir bahwa cinta tak selalu harus memiliki.Bagiku asalkan kau bahagia, maka aku juga bahagia. Aku mengalah saat kau memilihnya, kupikir dia bisa membuatmu bahagia, tapi ternyata dia hanya membuatmu menderita. Lupakan dia dan lihatlah aku, Lilian!! Akulah yang ada disisimu dalam suka dan duka, tidak bisakah kau berikan aku satu kesempatan?” ujar Alex memohon. Lilian hanya menatapnya tak percaya.


“Alex, kau mencintaiku?” tanyanya lagi, seolah memastikan telinganya tak salah mendengar.

“Ya.” Jawabnya singkat. “Tapi kau sahabatku.Tak pernah terpikirkan olehku kau akan mencintaiku.” ujar Lilian masih bingung.


“Aku memang sahabatmu, tapi aku juga yang dengan tulus mencintaimu.” jawab Alex tegas dan dalam. “Tapi sayangnya tak pernah ada aku di matamu. Bagimu, aku hanyalah bayang-bayang.” lanjutnya sedih lalu tanpa berkata apa-apa berjalan meninggalkan Lilian sendirian.

Sepanjang siang Lilian hanya berdiri termenung memandang ombak di pantai seraya mengenang pengakuan Alex padanya. Alex adalah sahabatnya sejak kecil, mereka bertetangga sejak umur 9 tahun.Mereka juga teman sekolah sejak SD, SMP, SMU bahkan saat kuliahpun mereka mendaftar di kampus yang sama meskipun di jurusan yang berbeda. Alex lah yang selalu melindungi dan menjaganya setiap kali Lilian di ganggu orang. Perlahan tapi pasti bagaikan potongan film, semua kenangannya bersama Alex muncul dalam ingatannya, saat dia tertawa atau menangis, Alex lah yang selalu ada disisinya, bukan Rafael. Kenapa dia begitu buta? Kenapa dia selalu melihat kearah yang lain jika kebahagiaan yang sebenarnya sudah ada disampingnya sejak lama? Lilian akhirnya tersadar. Dia dan Rafael memang tak berjodoh sejak awal, mereka ditakdirkan untuk bertemu tapi tidak untuk bersama, tapi dengan Alex berbeda. Jodohnya dengan Alex sudah dimulai bahkan sejak mereka masih sangat muda. 


“Tanpa Alex, aku bukan siapa-siapa.Kenapa aku begitu bodoh dan tidak menyadarinya?” Lilian tersadar dan segera mencari Alex di kamarnya. Hari sudah menjelang sore, 2 jam lagi pesta pernikahan kakaknya dan Rafael akan di mulai, tapi Lilian tak peduli, selama ini dia selalu berjuang demi kebahagiaan orang lain, sekarang saatnya dia berjuang untuk kebahagiaannya sendiri. Setelah mencari kesana kemari akhirnya dia melihat Alex sedang duduk di atas pasir seraya memandang matahari senja yang begitu indah. Lilian tersenyum lalu diam-diam duduk di sampingnya.


“Matahari senja terlihat sangat indah, benarkan?” ujarnya sambil tersenyum manis dan duduk di sampingnya. Alex memandangnya dengan heran.

“Apa yang kau lakukan disini? Bukankah seharusnya kau ada di tempat pesta?” tanya Alex canggung.


“Pesta pernikahan itu akan baik-baik saja walau tanpa aku. Aku ingin disini bersamamu. Kau sendiri? Kenapa ada di sini?” tanya Lilian mencoba mencairkan kecanggungan.

“Memandang matahari senja sambil menunggu Polaris muncul di langit utara.” Jawabnya sambil menerawang menatap langit yang perlahan menjadi gelap. Semburat jingga di ufuk cakrawala mulai menghilang dan tergantikan oleh bintang-bintang yang bertaburan di angkasa.


“Terima kasih Alex.” ujar Lilian membuka percakapan.

“Untuk apa?” tanyanya canggung.

“Untuk semua yang sudah kau berikan untukku. Terima kasih sudah hadir dalam hidupku, terima kasih untuk cintamu, terima kasih karena kau tak pernah menyerah hingga akhir.” jawab Lilian tulus.


“Kau ingin menghiburku?” tanya Alex setengah bercanda.

“Eh, bukankah itu Polaris?” ujar Lilian tiba-tiba seraya menunjuk ke arah langit utara. Alex menatap ke arah yang di tunjuknya lalu menjawab dengan riang.


“Benar. Itu Polaris. Sang Bintang Utara yang melambangkan Harapan.Diantara jutaan bintang yang bersinar di Langit Utara. Hanya ada 1 bintang yang bersinar sangat terang melebihi jutaan bintang lainnya. POLARIS, sang Bintang Utara yang melambangkan harapan dan keinginan yang kuat. Saat kau sedang sedih dan putus asa, pandanglah bintang itu maka kau akan merasa harapanmu akan kembali muncul.” jawab Alex sambil tersenyum manis. Alex  menyukai antariksa, Lilian tahu hal itu. Dia sangat mengenal Alex sama seperti Alex sangat mengenalnya.


“Polaris takkan menghilang, benarkan? Tidak peduli walau bumi berputar dan bintang-bintang lainnya akan menghilang seiring perputaran bumi terhadap matahari, tapi Polaris tetap akan diam di tempatnya. Dia akan tetap ada disana. Sama sepertimu. Kau yang selalu ada di sisiku apapun yang terjadi, bagaikan Polaris yang takkan pernah pergi. Sekarang baru kusadari betapa kau sangat berarti.” Jawab Lilian, mengungkapkan perasaannya.


“Lilian, kau ini bicara apa?” Alex mendadak menjadi bingung.

“Saat aku tersesat, saat aku tidak tau kemana harus melangkah, kau datang dan membukakan jalan. Saat aku berjalan dalam kegelapan, kau datang membawa seberkas cahaya lilin dan menemaniku mencari cahaya terang. Saat aku bersedih dan ingin menangis, kau membuka tanganmu dan membiarkan aku menangis di pundakmu. Saat aku jatuh, kaulah yang membuatku bangkit. Kaulah Polarisku, kau bintang harapanku. Maafkan aku yang terlambat menyadari ini. Sekarang aku baru mengerti apa arti kebahagiaan yang sesungguhnya, andai aku mau menoleh sedikit saja, kebahagiaan yang sebenarnya sudah ada di sampingku sejak lama. Alex, bisakah kita mulai semuanya dari awal? Bukankah kau bilang kau mencintaiku? Aku ingin memulai dari awal denganmu. Nusa Dua, akan menjadi saksi cinta kita.” ujar Lilian dengan mata berkaca-kaca penuh harap. Alex hanya menatapnya tak percaya.


“Kau tak sedang bercanda kan? Ini tak lucu Lilian.” ujarnya tak percaya.

“Bukankah kau sangat mengenalku? Apa sekarang aku terlihat sedang bercanda?” Lilian balik bertanya dengan wajah serius. Untuk sesaat Alex mengamati wajah gadis di sampingnya dengan lekat, matanya memancarkan kejujuran dan kepolosan, tak ada tanda-tanda kebohongan.


“Terima kasih, sudah memberiku kesempatan.” ujar Alex lalu menarik gadis itu dalam pelukannya, mereka berpelukan di atas pasir dan di bawah sinar bulan dan kelap-kelip bintang di angkasa.


“Aku yang seharusnya berterima kasih dan aku lah yang seharusnya meminta kesempatan itu. Mulai hari ini, aku hanya akan melihatmu. Kau, sahabatku tapi kau juga yang dengan tulus mencintaiku.” jawab Lilian sambil membalas pelukan Alex, tanpa terasa hatinya menjadi sangat ringan, kehangatan menyeruak ke dalam lubuk hatinya. Setelah sekian menit berpelukan, akhirnya perutnya melontarkan protes keras.Mereka berdua pun tertawa canggung.


“Siapa suruh kau tak habiskan Bebeknya.Sekarang kau kelaparan kan?” goda Alex lalu berdiri sambil menarik tangan Lilian. “Ayo kita makan. Aku juga sudah lapar. Bebek Krispi dengan sambal matah kelihatannya sangat enak.” usul Alex dan mereka berdua pun berjalan bergandengan tangan di sepanjang pantai menuju Restoran The Bay Bali yang terletak di kawasan Nusa Dua, Bali tak jauh dari pantai tempat mereka berada saat ini.


“Bagiku, kebahagiaan itu adalah saat melihat orang yang ku sayangi juga bahagia. Dan andaikan aku mau menoleh sedikit saja kebahagiaan yang sebenarnya sudah ada di sampingku sejak lama.” ujar Lilian dalam hatinya sambil menyandarkan kepalanya dengan manja di lengan Alex saat mereka berjalan menyusuri Pantai Nusa Dua.



*) Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness: Share your happiness with The Bay Bali & Get discovered! (dengan tulisan The Bay Bali yang di link ke website: http://www.thebaybali.com