Rabu, 28 Desember 2016

Chapter 6 : Dancing Witrh The Prince II (Teaser) Twin Princess 'Anastasia'

Dancing With the Prince. Siapa nih yang pengen berdansa dengan Pangeran? Andaikan aku hidup di negara yang masih memakai sistem Monarki, pastilah aku juga pengen dong ya bisa berdansa dengan Pangeran hehehe ^.^ Well, siapa sih yang gak pengen jadi kayak Cinderella? Menikah dengan Pangeran dan hidup bahagia selamanya. Dongeng banget hehehe ^.^ Tapi berhubung ini memang temanya “Fantasy Romance” dan aku selaku penulis memang terinspirasi Disney Princess jadi ya wajar kale ya kalau kisahnya mirip-mirip kisah para Putri Disney hehehe ^.^

New Cover 2026

Ada yang penasaran gak sama kelanjutan cerita ini? Sekedar mengingatkan sih, cerita lengkapnya bisa dibaca di blog milik penulis yang lain yaitu: Liana Land. Happy Reading...



“Ahhh... Sepatu ini membuatku lelah,” ujar Anastasia seraya berjalan keluar dari dalam aula pesta dan terduduk di tepi kolam ikan yang memancarkan air terjun buatan yang sangat indah seraya melepas sepatunya.

Merasa kagum dengan banyaknya lampu yang indah, bunga-bunga, air mancur, hiasan-hiasan taman ditambah dengan bintang-bintang yang bersinar indah di langit malam. Anastasia mulai bernyanyi dengan riang. Yup, Annie love sing and she has a beautiful voice too.

Dancing bears, painted wings.
Things I almost remember, and a song someone sings,
Once upon a December.
Someone holds me safe and warm.
Horses prance through a silver storm.
Figures dancing gracefully, across my memory...
Far away, long ago, glowing dim as an ember,
Things my heart used to know, once upon a December,”

(Anastasia – Once Upon A December) 

Anastasia bernyanyi dengan riang dan penuh perasaan, mengungkapkan kerinduannya memiliki sebuah keluarga, keluarga yang selama ini selalu diimpikannya. Dia tidak sadar jika ada sepasang mata yang selalu mengawasinya hingga saat ini.

PLOK PLOK PLOK... Suara tepuk tangan menyadarkan Anastasia dari dunia mimpinya, dia menoleh dan melihat sumber suara tepuk tangan itu saat melihat si pria pelayan muncul di sana.

“Kau?” tanya Anastasia malu saat ada orang yang mendengar nyanyiannya. 
“Suaramu sangat merdu.” puji pria muda berambut pirang itu sambil berjalan mendekatinya dan meletakkan nampan berisi minuman yang dibawanya di salah satu kursi kayu di taman belakang Istana.

Saat berjalan mendekatinya, dari dalam aula terdengar suara alunan melodi yang indah. 
“Apa kau bersedia berdansa denganku?” tanya si pelayan tampan seraya mengulurkan tangan kirinya dan membungkukkan sedikit badannya. Anastasia terdiam bingung sesaat. Dia tak pernah berdansa, dia tak tahu bagaimana caranya.

“Kenapa? Apa kau hanya ingin berdansa dengan Pangeran dan tak mau berdansa dengan pelayan?” kalimat yang terdengar seperti sindiran halus keluar dari mulut si pelayan sambil menatap penuh arti pada Malaikat cantik di hadapannya.

“Tidak. Bukan begitu. Aku bahkan tak berani berharap bisa berdansa dengan Pangeran karena aku sendiri juga pelayan. Hanya saja aku tak bisa berdansa.” jawab Anastasia dengan lancar dan jujur.

Si pelayan tersenyum senang karena itu berarti gadis itu benar-benar baik dan tidak materialistis seperti gadis-gadis pada umumnya.

“Kau tak berharap akan berdansa dengan Pangeran lalu untuk apa kau datang ke Istana?” tanya si pelayan bingung.

“Aku kan juga diundang. Aku datang karena aku tak pernah merasakan pesta itu seperti apa, aku tak pernah merasakan mengenakan gaun yang indah seperti sekarang. Aku datang sebenarnya karena aku penasaran. Aku sama sekali tak berharap Pangeran akan melirikku.” jawab Anastasia jujur dengan matanya yang polos.

“Kenapa? Kau cantik dan baik hati, kenapa kau tak berharap Pangeran akan melirikmu?” tanya si pelayan mengorek lebih jauh lagi.

“Kau bercanda. Pangeran hanya akan menikah dengan Putri, bukan dengan rakyat jelata. Aku hanya seorang pelayan, siapalah aku ini dibandingkan Pangeran? Lagipula, ada begitu banyak gadis cantik dan berkelas di sini, bagaimana bisa Pangeran melirikku di antara ratusan atau bahkan ribuan gadis yang ada? Itu mimpi yang terlalu indah untuk jadi nyata.” jawab Anastasia sambil tertawa.
 
Suara tawanya yang renyah terdengar bagai melodi yang indah di telinga si pelayan itu. Rambutnya yang pirang panjang berkibar-kibar tertiup angin malam yang berhembus sepoi.

“Jadi, kau tak keberatan berdansa denganku kan walau aku seorang pelayan?” tanya si pelayan tampan itu masih berharap.

“Tapi aku tak bisa berdansa. Bagaimana jika nanti aku menginjak kakimu?” tanya Anastasia khawatir dengan ekspresi wajah yang lucu.

“Hahaha...Tidak akan. Aku akan mengajarimu pelan-pelan.” jawab si pelayan seraya kembali membungkuk dan mengulurkan tangan kirinya.

Anastasia tersenyum manis lalu menyambut uluran tangan itu. Begitu lembut. Itu yang dirasakan si pelayan tampan saat pertama kali mereka bersentuhan.

“Jangan marah jika aku menginjak kakimu, ya.” canda Anastasia sambil kembali tersenyum. 
“Aku tidak keberatan jika yang menginjak kakiku adalah seorang gadis cantik.” ujar si pelayan yang membuat pipi gadis itu memerah.

Dengan perlahan mereka berdansa dengan iringan musik dari dalam aula yang terdengar samar-samar. Walau awalnya kaku dan canggung namun Anastasia yang memang gadis yang pintar mampu belajar dengan cepat. Mereka berdansa dengan nyaman sambil sesekali diselingi obrolan dan candaan.

“Aku merasa seperti Putri Cinderella yang berdansa dengan Pangeran,” ujar Anastasia sambil berdansa diiringi alunan lembut suara musik dari dalam aula.

“Kenapa?” tanya si pelayan seraya tersenyum penuh arti. 
“Putri Cinderella dan Sang Pangeran juga berdansa di luar Aula Istana, kan? Mereka juga berdansa di taman Istana, hanya berdua dan bukan di tengah kerumunan orang.” jawab Anastasia ceria.

“Kalau begitu apa kau juga akan menghilang seperti Cinderella dan membuat Pangeran kesulitan menemukanmu?” tanya si pelayan lirih, lebih terdengar sedih.
“APA?” tanya Anastasia dengan bingung.

Si pelayan tampan itu segera menggeleng cepat, meralat ucapannya, “Tidak. Aku hanya iseng saja. Lupakan pertanyaanku yang tadi. Hei, kau cepat belajar, ya. Kau cepat menyesuaikan tariannya.” Alvan mengalihkan pembicaraan. Anastasia memerah malu mendengar pujiannya.

“Itu karena gurunya sangat pintar.” jawab Anastasia malu-malu. Pria muda itu tersenyum, di matanya, gadis itu begitu manis.

“Pertama kali bertemu denganmu kupikir kau adalah orang kaya yang menyebalkan, tidak kusangka kau hanya seorang pelayan yang baik hati dan ramah.” ujar Anastasia polos, yang membuat si pelayan hampir saja tersedak jika saja saat itu dia sedang memakan sesuatu.

“Hhhmmm, iya. Maaf aku sudah kasar padamu sebelumnya.” Hanya itu, karena si pirang tampan itu benar-benar tidak tahu harus menjawab apa.

“Bagaimana keadaan Charlotte?” tanyanya lagi, terdengar cemas. 
“Sudah baikan. Terima kasih atas pertolonganmu waktu itu.” jawab si pelayan lembut. 
“Sama-sama.” jawab Anastasia tulus. 
“Kami belum membalas kebaikanmu.” ujar si pelayan lagi. Mendengar itu, Anastasia menjadi kesal.

Dia mendadak menghentikan dansa mereka dan memandang kesal pada pelayan itu, “Sudah kubilang aku tak mau kalian membicarakannya. Memang kapan aku meminta kalian membalas budi? Apa kau pikir aku menolong adikmu karena aku menginginkan pamrih? Apa kau pikir aku serendah itu?” kesal, Anastasia melepaskan tangan pria tampan yang tadi menggenggamnya saat berdansa dan terduduk dengan kesal di kursi kayu tempat pelayan itu meletakkan nampannya.

“Maaf. Aku tak menyangka aku akan membuatmu kesal.” ujar si pelayan seraya duduk di sampingnya. 
Mendengar Anastasia tidak menjawab, dia lalu mengambil salah satu gelas sampagne yang diletakkan di sampingnya dan menyodorkannya pada gadis itu.

“Apa kau ingin minum? Mungkin saja kau haus setelah bernyanyi dan berdansa.” tawarnya ramah pada Anastasia.

“Terima kasih.” jawab Anastasia seraya meraih gelas dari tangan pria itu dengan cemberut lalu meminumnya, tak tahu jika minuman di gelas itu berisi alkohol yang lumayan keras.

“Suaramu sangat indah.” lagi, pujian si pelayan tampan itu, membuat pipi gadis itu memerah. Spontan kekesalannya menguap bagai asap.

“Boleh aku mengajukan beberapa pertanyaan padamu?” tanya si pria dengan ragu-ragu. 
Anastasia menatapnya penuh tanya, “Aku juga memiliki beberapa pertanyaan untukmu. Boleh aku bertanya lebih dulu?” tanya Anastasia pada pria tampan itu yang mengangguk tanpa berpikir lama.

“Saat aku menabrakmu, kupikir kau adalah orang kaya melihat dari pakaian yang kau kenakan. Tapi sekarang kenapa kau berpakaian seperti pelayan?” tanya Anastasia bingung.

“Aku bekerja di Istana, sudah tentu mereka membayarku sangat mahal. Jadi kurasa wajar jika aku memakai pakaian yang bagus dan mahal. Jika pelayan Istana berpakaian seperti pengemis, bukankah nama baik Keluarga Kerajaan akan tercoreng? Jika mereka tidak bisa mengurus pelayan, lalu bagaimana mereka akan mengurus seluruh rakyat?” ujar si pelayan dengan gayanya yang meyakinkan dan membuat Annie percaya.

“Kau benar.” Jawab Anastasia sambil tertawa canggung dan kembali meneguk minumannya. 
“Siapa namamu?” tanya si pelayan memulai berkenalan dengan resmi. 
“Anastasia.” jawab Anastasia singkat sambil tersenyum manis.

Pria tampan berambut pirang itu hanya menatapnya tanpa berkedip, “Nama yang sama. Aku Sangat berharap kau adalah dia.” ujarnya dalam hati, tersenyum sedih.
“Lalu kau?” tanya Anastasia padanya. 
“Alvan.” jawabnya singkat. 

Sekarang, Annie yang terdiam dan memandangnya penuh kerinduan, “Nama yang sama. Aku Sangat berharap kau adalah dia.” ujar Anastasia dalam hati, mengucapkan kalimat yang sama seraya tersenyum sedih.

“Kenapa memandangku seperti itu?” tanya si pelayan dengan bingung saat melihat Anastasia menatapnya lekat tanpa berkedip.

“Namamu mirip dengan seseorang. Tapi kurasa nama seperti itu memang banyak yang memakainya, kan?” jawab Anastasia seraya memandang ke langit malam dengan sedih.

“Kenapa aku merasa pusing? Ini minuman apa?” tanya Anastasia  beberapa saat kemudian yang merasa kepalanya sudah mulai berputar-putar.
“Ini sampagne. Kau tak pernah minum sampagne?” tanya si pelayan tak enak hati. 
“Tidak. Aku pusing sekarang.” ujar Anastasia lalu ambruk dalam beberapa menit kemudian.

“Anastasia.” panggil si pelayan dengan cemas saat melihat gadis itu terjatuh pingsan di rerumputan di taman belakang istana. Tak tahu harus berbuat apa, si pelayan segera menggendong Anastasia dan mendekapnya erat dalam dadanya dan membawa gadis itu ke kamarnya.

Sepertinya ini akan menjadi malam yang berat untukku,” ujar si pelayan dalam hatinya saat memandang wajah Anastasia yang tertidur dengan damai di atas ranjangnya yang empuk.

Tapi setidaknya dengan begini, Arthur tidak akan memiliki kesempatan untuk memilih gadis ini menjadi pasangan hidupnya.” lanjutnya dalam hati dengan seulas senyum tersungging di bibirnya.

To be continued...


NOTE : WINNER OF WATTYS AWARDS 2016 for Category “Hidden Gems” alias “Permata Yang Tersembunyi” (Cerita Kurang Dikenal). 

<<<< Update 2026: Cerita Lengkap bisa dibaca di blog Liana Land karena penulis TIDAK BEKERJA SAMA LAGI dengan PENERBIT DIANDRA! Jika Pihak Diandra masih menjual secara sepihak, sudah dipastikan mereka melakukan tindak pidana pencurian Hak Cipta! >>>>>>

~~~~~~

* Promo Akhir Tahun 2016 E-Book Version Only IDR 11 Ribu by Penerbit Diandra :
Hai hai hai... Bagi yang suka dengan cerita Anastasia – Princess In Disguise, yang kantongnya bolong tapi pengen ngebaca kelanjutannya, ada promo besar nih di akhir tahun. Tapi hanya berlaku untuk E-Book ya. Dari yang awalnya seharga Rp 55.000 sekarang hanya jadi Rp 11.000 loh. Tunggu apalagi? Yuk buruan dibeli mumpung lagi ada promo nih.
 
 Harga Asli : IDR 55.000
 Harga Promo : IDR 11.000

Tinggal buka Google Play/Play Store lalu ketik nama “Liliana Tan” ==> Pilih “Judulnya” ==> Lalu klik “Beli” dan anda bisa memilih membayar dengan Debet/Kredit/potong pulsa.

Note : Promo HANYA BERLAKU sejak bulan November hingga Desember 2016 !!!

Terima kasih.

Chapter 5 : Pesta Dansa Istana II (Teaser) Twin Princess 'Anastasia'

Pesta Dansa Istana. Siapa nih yang ngarep diundang ke Pesta Dansa Istana lalu berdansa dengan Pangeran? Cinderella wanna be, ya hehehe ^.^ Sudah chapter 5 nih cuplikannya. Berhubung penulis sedang berbaik hati, ditambah karya ini adalah pemenang Wattys Awards 2016 plus masih dalam masa promosi, jadi aku putuskan untuk memberi cuplikan 8 chapter dalam blog ini, sisa ceritanya bisa dibaca di blogku yang satu lagi ya, namanya Liana Land! Happy Reading~



Keesokan harinya, saat ibu dan kedua saudara tirinya sedang pergi berbelanja keperluan pesta, pintu rumah Anastasia diketuk dan seorang pria muda datang dengan mengantarkan sebuah bungkusan untuknya.

“Miss Anastasia Catherine Mauntbatten Lockhart?” tanya pria muda itu seraya membaca kartu yang di tangannya.

“Ya itu aku.” jawab Anastasia dengan bingung. 
“Ini paket untuk Anda, Nona. Silakan tanda tangan di sini.” ujarnya seraya menyerahkan paket itu dan menyuruhnya untuk membubuhkan tanda tangannya. Dengan bingung, Anastasia menandatanganinya dan menerima paket atas namanya itu.

“Pengirim paket itu berkata nanti malam pukul delapan, dia akan mengirim kereta kuda untuk mengantar Anda ke Pesta Dansa Istana.” ujar si pengantar paket, menyampaikan pesan dari Malaikat yang baik hati itu.

“Apa?” Anastasia tercekat mendengarnya. Siapa orang yang begitu baik memberikannya hadiah serta bersedia mengirimkan kereta kuda untuknya?

“Katakan terima kasihku padanya. Aku benar-benar berterima kasih.” ujar Anastasia gugup dengan jantung berdebar kencang.

Dan setelah mengucapkan terima kasih, Anastasia segera membuka paket itu di ruang tamu dengan penasaran dan matanya terbelalak lebar saat melihat apa isi paket itu.

“Sebuah gaun pesta berwarna putih dengan sayap pasangan di punggungnya, sebuah topeng dari emas yang akan menutupi matanya, sepatu pesta dan beberapa perhiasan mahal. Ini semua untukku? Tapi siapa yang...” Anastasia tak mampu menebak siapa pengirimnya karena memang tak ada tulisan apa pun di sana. Dia hanya mampu memandang takjub dan berterima kasih pada Tuhan.

“Tak ada Ibu Peri tapi aku memiliki Malaikat Pribadi Rahasiaku. Siapa pun dirimu, terima kasih banyak sudah mewujudkan mimpiku.” gumam  Anastasia seraya memeluk gaun indah berwarna putih itu dengan airmata bahagia. 

Dia tak menyadari jika ada seorang pria yang diam-diam mengamatinya dari balik pohon rindang di depan rumahnya. Anastasia menari-nari bahagia seraya memeluk gaun itu tanpa repot-repot menutup lebih dulu pintu rumahnya.

“Aku tak bisa mengubahmu menjadi seorang Putri selamanya, tapi setidaknya aku bisa mengubahmu menjadi Cinderella walau hanya semalam saja. Terima kasih sudah menyelamatkan nyawaku, anggap saja ini sebagai ganti hutangku padamu.” ujar sosok itu sambil tersenyum senang karena Anastasia menyukai hadiahnya, lalu pergi dari sana dengan cepat sebelum gadis itu mengetahui keberadaannya.

Anastasia terdiam saat ibu dan kedua saudara tirinya pulang ke rumah. 
“Nanti malam kami akan pergi ke pesta dansa istana. Kau tak berpikir untuk ikut, kan?” tanya ibu tirinya dengan gaya menyelidik, sudah menebak bahwa Annie pasti melihat pengumumannya di sepanjang jalan.

“Tidak.” jawabnya singkat. Dia tak ingin mereka tahu karena tahu mereka pasti akan menghancurkan rencananya karena itu Anastasia berpura-pura tidak peduli.

“Bagus.” jawab ibu tirinya senang, tanpa curiga sedikitpun. 
Malam berlalu cepat dan Ibu serta kedua saudara tirinya pun sudah bersiap menuju kereta kuda yang akan membawa mereka ke Istana.

“Kami tidak akan kembali hingga tengah malam. Baik-baiklah menjaga rumah.” ujar si ibu tiri sebelum mereka pergi. 
“Baik.” jawab Anastasia singkat, menurut. Dalam hatinya dia memang ingin mereka segera pergi.

Pesta topeng adalah tema pesta dansa malam ini. Sempurna. Dengan memakai topeng itu, ibu dan saudara tirinya tidak akan mengenalinya kan? Anastasia tersenyum membayangkan rencananya.

“Sampai jumpa di Istana, Ibu.” batin Anastasia sambil tersenyum saat melihat kereta kuda yang membawa mereka sudah menghilang.

Istana Mendroza... 
“Pesta topeng. Sempurna. Dengan memakai topeng ini, tidak akan ada yang mengenaliku dan aku bisa menyamar dengan mudah. Well, aku ingin tahu siapa pria yang akan dinikahkan denganku, dan pesta dansa ini membuat segalanya menjadi lebih mudah.” ujar seorang gadis berambut pirang dan bermata biru seraya melangkah keluar dari dalam kereta kuda yang mengantarnya ke sana.

Di halaman depan berdiri banyak sekali pria berseragam merah yang tampak seperti prajurit yang berjejer menunggu para tamu yang datang dan mengantarkan mereka masuk.

Begitu juga saat dia turun dari kereta kudanya, seorang pria berseragam segera menyambutnya dan menunduk hormat seraya mengulurkan tangannya dan membawanya masuk ke dalam Istana. Pria berseragam itu adalah pria yang ditugaskan untuk mengantar setiap gadis yang hadir menuju aula tempat pesta itu diadakan.

“Terima kasih.” ujar gadis berambut pirang itu dengan anggun saat pria berseragam itu telah mengantarnya ke pintu aula.

Di depan pintu itu dua orang pria berseragam lain telah berdiri menunggu setiap tamu yang datang untuk membukakan pintu untuk mereka.

Gadis itu tersenyum kagum saat melihat betapa megahnya Istana Kerajaan Mendroza. Dengan anggun dia melangkah masuk dan mengamati sekelilingnya. Banyak sekali tamu undangan yang datang malam ini, seluruh gadis dari penjuru negeri sepertinya sedang ingin mencoba peruntungan malam ini.

Dia tersenyum dan mencoba mencari sesuatu. Tapi sepertinya tahta yang terletak beberapa meter di hadapannya itu masih kosong. Jelas terlihat bahwa keluarga Kerajaan belum ada yang hadir untuk menyapa para tamu.

Aula itu penuh sesak, jadi dia memutuskan untuk sejenak menghirup udara segar dengan berjalan ke beranda Istana hingga pesta itu dimulai. 

Sementara itu, seorang gadis lain datang dengan menggunakan kereta kuda yang dikirimkan oleh seseorang yang tidak diketahui identitasnya, dia mengenakan gaun yang begitu indah.

Sebuah gaun berwarna putih tanpa lengan dengan belahan dada yang rendah yang memamerkan kulitnya yang putih dan mulus, gaunnya berbentuk melebar di bagian bawah dan menjuntai hingga ke tanah dengan sepasang sayap putih di punggungnya dan sepatu pesta yang berwarna senada dengan gaunnya.

Rambutnya yang pirang, panjang dan lurus diikat ke tengah dan dibiarkannya terurai di punggungnya. Dia menarik napas sejenak sebelum mengenakan topeng di wajahnya, memulai penyamarannya.

Malam ini sepertinya akan menjadi malam yang panjang.” ujarnya dalam hati saat melangkah masuk ke dalam Aula tempat pesta itu diadakan setelah pria berseragam mengantarnya ke depan pintu aula.

Dua pria berseragam lain telah membukakan pintu untuknya tapi dia tetap terdiam bingung. Rasanya begitu menakjubkan bisa berada di tengah pesta dansa istana, bagaikan mimpi yang jadi nyata.

Tanpa dia ketahui, pria yang tadi mengantarnya masuk adalah Pangeran itu sendiri yang memang sengaja menyamar menjadi prajurit agar bisa melihat dari jarak dekat para gadis yang akan dipilihnya nanti.

Begitu gugupnya dia hingga tak sengaja telah menabrak seorang pelayan yang berdiri di belakangnya.
“Maafkan aku.” ujarnya sopan dan segera berlutut membantunya mengambil gelas-gelas yang terjatuh ke lantai aula.

Saat dia membungkuk, belahan dadanya terlihat semakin jelas hingga membuat hati pria yang ditabraknya berdesir tak karuan, apalagi saat mata mereka bertatapan, pria itu seperti pernah melihat mata itu sebelumnya. Tapi di mana dia tidak ingat.

“Kau...Pria es krim?” ujar gadis itu saat melihat pria yang kemarin siang ditabraknya. Pria pelayan itu hanya menunduk dan tersenyum sopan.

“Biar kubantu.” ujar Anastasia lalu kembali menunduk untuk memunguti gelas itu. 
“Tidak perlu. Sungguh. Kau seorang tamu di sini. Ini sudah tugasku,” jawab si pria pelayan dengan tidak enak hati tapi Anastasia hanya tersenyum tulus seraya menyerahkan gelasnya pada pria itu.

“Maafkan aku, ya.” ujarnya lagi dengan sopan sebelum pergi berbaur dengan tamu lain. Pria berambut pirang itu terdiam membatu dan hanya mengangguk singkat.

“Hei, kau seperti melihat hantu saja. What’s up, Bro?” tanya seorang pria muda berambut coklat terang dan berseragam prajurit yang tiba-tiba menepuk pundaknya. Tampak jelas dia sangat terkejut dengan kedatangan pria muda itu dan hanya menggumam pelan, “Kau mengagetkan aku.” ujar si pirang lirih.

“Apa kau sedang melihat Malaikat itu?” tanya pria berseragam prajurit dengan iseng. Si pelayan terdiam.
“Hei, dia favoritku. Kau tahu aku yang mengantarkannya masuk tadi. Kulitnya sangat lembut, mata birunya terlihat sangat menawan walau dia memakai topeng sekalipun.” ujar si prajurit berseragam merah dengan menerawang.

“Bukankah dia bilang dia tak bisa datang? Lalu gaun itu dia dapat dari mana? Harus kukatakan dia memiliki lekuk tubuh yang sempurna.” lanjut pria berseragam pengawal.

“Dan dia juga sangat baik, lembut dan sopan.” lanjut si pelayan dengan kagum. 
“Kak, kau kan sudah memiliki tunangan? Pesta ini untukku. Enak saja kau ingin mengambil gadisku.” protes si prajurit tak terima. Ternyata pelayan itu juga seorang Pangeran yang menyamar.

“Aku menentang perjodohan itu. Kau pikir untuk apa aku repot-repot menyamar menjadi pelayan seperti ini dan berkeliling ke sana kemari jika bukan untuk mencari calon istri?” sahut Sang kakak tak peduli.
“Lagipula, ada begitu banyak gadis di sini, kan? Berikan satu padaku kurasa tak masalah.” lanjut si kakak.

“Iya, tapi bukan yang satu itu. That Angel is mine!” jawab si prajurit tak mau mengalah. 
“Begini saja, kita bersaing secara adil siapa yang akan dipilih gadis itu, okay?” usul kakaknya. 
“Kau bicara seperti itu seolah-olah kita sudah tahu siapa dia.” jawab si adik dengan tertawa. 
“Kau ingin memilihnya malam ini? Apa kau yakin dia akan mau kau pilih?” ujar si kakak berteka-teki lalu langsung menghilang di tengah kerumunan para tamu Kerajaan.

To be continued...

NOTE : WINNER OF WATTYS AWARDS 2016 for Category “Hidden Gems” alias “Permata Yang Tersembunyi” (Cerita Kurang Dikenal). 

<<<< Update 2026: Cerita Lengkap bisa dibaca di blog Liana Land karena penulis TIDAK BEKERJA SAMA LAGI dengan PENERBIT DIANDRA! Jika Pihak Diandra masih menjual secara sepihak, sudah dipastikan mereka melakukan tindak pidana pencurian Hak Cipta! >>>>>>

~~~~~~

* Promo Akhir Tahun 2016 E-Book Version Only IDR 11 Ribu by Penerbit Diandra:
Hai hai hai... Bagi yang suka dengan cerita Anastasia – Princess In Disguise, yang kantongnya bolong tapi pengen ngebaca kelanjutannya, ada promo besar nih di akhir tahun. Tapi hanya berlaku untuk E-Book ya. Dari yang awalnya seharga Rp 55.000 sekarang hanya jadi Rp 11.000 loh... Tunggu apalagi? Yuk buruan dibeli mumpung lagi ada promo nih.

 Harga Asli : IDR 55.000
 Harga Promo : IDR 11.000

Tinggal buka Google Play/Play Store lalu ketik nama “Liliana Tan” ==> Pilih “Judulnya” ==> Lalu klik “Beli” dan anda bisa memilih membayar dengan Debet/Kredit/potong pulsa.

Note : Promo HANYA BERLAKU sejak bulan November hingga Desember 2016 !!!

Terima kasih.