Jumat, 24 Februari 2017

Kelemahan (Kerugian) Nonton Live Badminton di Arena Pertandingan

Masih tentang seputar Djarum Superliga yang kebetulan kali ini diadakan di kotaku tercinta, Surabaya. Djarum Superliga 2017 diadakan di Surabaya pada tanggal 19 Februari – 26 Februari 2017, bertempat di DBL Arena Surabaya. Para atlit yang ikut bertanding ditempatkan di sebuah wilayah hunian eksklusif dan mewah di daerah Surabaya Barat yaitu Ciputra World Surabaya. Sebuah wilayah elite, eksklusif dan High Class yang saling berhubungan satu sama lain antara Hotel, Mall dan Apartement.

Tapi kali ini penulis ingin sekedar berbagi tentang suka dan duka selama menonton pertandingan badminton secara live, yang jujur, penulis gak pernah sekalipun ngelive tapi setelah mendengar penuturan dari seorang teman dekat, mendadak berubah jadi ilfil. Namun ini mungkin hanya berlaku untuk penonton yang hanya menonton SEORANG DIRI alias GAK PUNYA TEMAN NONTON, dan  gak berlaku untuk para BL yang nontonya bergerombol.



Setelah mendengar bahwa Tim Musica Champion akan memboyong Lee Yong Dae yang merupakan pemain badminton favorite penulis ke Surabaya dalam rangka mengikuti turnament Djarum Superliga pada tanggal 19-26 Februari 2017.

Rencana semula adalah ingin menonton pertandingan bulutangkis pada tanggal 24 Februari 2017 dengan harapan Tim Musica Champion akan melaju dengan lancar ke Semifinal dan Lee Yong Dae yang timnya menang akan merasa seneng hingga gampang dimintai foto.

Yang untungnya gak jadi karena ternyata hari rabu tanggal 22 Februari 2017 lalu, penulis sudah berhasil mendapatkan foto bareng Lee Yong Dae di Ciputra World Mall karena kebetulan si Yong Dae gak ada jadwal main alias nganggur tuh seharian. Jadi memanfaatkan kesempatan emas si Yong Dae gak ada kerjaan, dan ngarep do’i bakal jalan-jalan di Mall untuk mengisi waktu luang, penulis pun nekat ke sana dan alhasil ternyata beneran, Yong Dae-nya jalan-jalan sante ke Mall hahaha ^.^ Lucky banget gue...Sekali langsung dapet. Dapetnya gak nyangka pula. Pasrah banget, gak dapet ya uda...Gak ada ambisi apa gtu...

Lee Yong Dae at Juanda International Airport 18.02.2017

Dan syukurlah karena pada tanggal 24 Februari 2017 (hari ini saat artikel ini dibuat), Tim putra Musica Champion akan bertanding mulai pukul 18.00 malam yang bisa dipastikan kalau aku jadi nonton pasti bakal pulang sampai malem. Hhhhmmm..jarak antara DBL Arena ke rumahku jauh banget. Kalau beneran nungguin Yong Dae kelar main, sampai jam berapa tuh? Besoknya kerja pula, yang ada capek semua plus dimarahin ortu karena gak ada transport di malam hari dan ujung-ujungnya papa yang jemput hihihi ^.^

Tapi emang rencana nge-live di DBL Arena udah kubuang jauh-jauh hari sebelumnya dan berganti berencana nungguin di Mall atau hotelnya aja setelah salah seorang teman dekat yang sudah berpengalaman menonton badminton di Jakarta mengatakan kalau ada beberapa kerugian atau bisa dibilang ada sisi gak enaknya kalau nonton live di DBL Arena (KHUSUSNYA BAGI YANG NONTON SENDIRIAN ALIAS GAK PUNYA TEMAN), yaitu :

1. Tiket yang sudah dibeli tidak serta merta menjadikan nomor kursi yang tertera di tiket menjadi milik kita hingga akhir.
Dengan kata lain, begitu kita pergi ke toilet atau begitu kita meninggalkan tempat duduk untuk membeli makanan/minuman, pasti akan ada orang-orang tak tahu malu yang akan menduduki kursi yang kita tinggalkan.

Lah? Kalau nonton sendirian bakal susah dong? Masalahnya penulis tak punya teman yang bisa diajak nonton pertandingan badminton live. Kalau ditinggal pipis, tuh tempat duduk bakal ditempatin orang dong? Masak dari awal sampai akhir gak pipis sama sekali? Kencing batu dong ya kalau ditahan?

Lalu apa gunanya beli tiket VVIP atau VIP kalau begitu kita tinggal sebentar langsung diduduki orang lain yang mungkin bisa saja awalnya membeli tiket biasa yang murahan?

Bukankah orang membeli tiket VVIP/VIP karena ingin mendapat tempat eksklusif yang pemandangannya pas? Kalau ujung-ujungnya hak istimewa kita dirampas orang lain yang mungkin hanya membeli tiket murahan pada awalnya, lalu untuk apa gunanya kita beli tiket mahal-mahal?

Saya bisa aja dong awalnya beli tiket murahan terus keliling mulu di tengah pertandingan ke tempat VVIP, sapa tahu ada tempat kosong gtu, terus begitu ada kursi kosong di VVIP yang ditinggalin pemiliknya, langsung saya tempatin. Kan siapapun boleh duduk di sana walau gak punya tiket. Kok gak enak gitu ya? Jadi males banget nonton live kalau sendiri kayak gini -__-

Kalau nonton konser kan, walau ditinggal pipis kek, beli minum kek, kursi kita gak bakal ada yang nempatin. Lah kok ngelive badminton kayak gini? Langsung mendadak ilfill (-_-)

2. Tidak boleh membawa makanan/minuman ke dalam DBL Arena. 
Nah, masalah yang sama seperti yang nomor 1. 
Me : “Kalau haus gimana dong?” 
Answer : “Ya beli dong mbak. Di dalam DBL juga ada yang jual minuman.” 
Me : “Lalu gimana dengan tempat dudukku, kan aku nonton sendiri? Kalau ditinggal kan bisa ditempatin orang tuh?” 
Answer : “Yah titipin orang yang duduk di sebelah mbak dong, taroh tasnya di situ.”

Pertanyaannya : Aku gak kenal orang yang duduk di sebelahku. Walaupun kenalan dulu, tapi di jaman sekarang ini percayakah Anda pada orang yang baru Anda kenal beberapa menit?

Kalau seandainya Anda pergi membeli minuman/makanan, ada jaminankah kalau Anda kembali tas/ataupun isinya masih ada di tempat semula? Bagaimana jika seandainya saat Anda kembali, tas/isinya tersebut hilang dicuri orang? Siapa yang akan bertanggung jawab?

Teman yang baru Anda kenal yang duduk di sebelah Anda, bisa saja menjawab, “Waduh, saya gak tahu mbak. Saya tadi fokus ke pertandingan.” Nah, kalau Ada kasus kayak gtu, gimana coba?


3. Berisik. 
Well, wajar aja sih sebagai supporter ingin memberi dukungan bagi atlit favoritnya. Tapi kok bagiku malah terkesan norak, lebay, alay dan kampungan ya? Jujur, liat di TV aja uda berisik banget, apalagi kalau ngelive langsung di DBL Arena?

Maaf bagi yang tersinggung dengan kata “Norak, lebay, alay dan kampungan”, mungkin itu adalah cara anda mengekspresikan dukungan Anda, tapi alangkah baiknya dan enaknya (telinga) jika semua penonton bisa menonton dengan tertib dan tenang dan hanya bersorak senang jika pemain kesayangan kalian mendapatkan angka.

Bukan terus berteriak bahkan ketika pertandingan berlangsung, yang mana itu bukan hanya merusak dan mengganggu konsentrasi pemain tapi juga mengganggu telinga teman sebelah anda yang lebih menyukai ketenangan. Tidak semua orang menyukai keributan seperti anda-anda yang suka berteriak-teriak. Jujur, kalau diliat di TV kesannya kampungan banget.

Tidak bisakah Indonesia menjadi suppporter yang sedikit lebih elegan, berkelas dan High Class dengan mengurangi teriakan-teriakan yang tidak perlu? Penonton negara maju tidak bersikap seperti itu. Tapi yasudahlah, setiap orang memiliki cara masing-masing untuk mengekspresikan dukungan mereka walau dengan cara kampungan sekalipun.

Anda ingin memaki penulisnya? Maki aja lah...toh orang indonesia kan emang demen banget maki-maki orang. Presiden aja dimaki...udah gak heran xixixi ^.^ Tapi kalau Anda memaki penulisnya, berarti yang dikatakan penulis adalah benar. Buat apa marah kalau gak benar, iya gak?

4. Lee Yong Dae susah dimintain foto saat di Lapangan atau Arena. 
Karena aku adalah fansnya Lee Yong Dae so pasti yang jadi perhatianku adalah kebiasaan Lee Yong Dae setelah main dong ya. Penulis tidak mengetahui tentang kebiasaan para atlit lain karena penulis hanya ngefans ma Lee Yong Dae. Jadi mungkin yang keempat ini beda-beda antar setiap individu, jadi jangan disamakan.

Teman dekatku yang sering nge-live di Jakarta tersebut bercerita kalau Yong Dae tuh orangnya moody-an. Kalau do’i menang, berarti moodnya bagus, mungkin ada kemungkinan bakal nerima permintaan foto. Tapi kalau do’i kebetulan kalah, berarti moodnya ancur abis alias bad mood, dan orang yang lagi bad mood banyakan emang gak mau diganggu, termasuk si Yong Dae ini.

Lee Yong Dae at DBL Arena. Why are you walking so fast?

Dan resiko meminta foto di arena pertandingan (Entah itu Istora atau DBL Arena) adalah penonton gak bakal tahu sang atlit idola kalah atau menang sebelum pertandingan dimainkan, benarkan? Jadi kesempatannya masih 50-50 gtu... Dan lagi, teman tersebut juga mengatakan kalau Lee Yong Dae selalu berjalan terburu-buru setiap kali sehabis pertandingan entah menang atau kalah, jadi lebih sulit meminta foto saat di Arena pertandingan dibandingkan di tempat lainnya.

@@@@@@@@

Well, itulah beberapa alasan yang kayaknya membuatku berpikir kalau nge-live sendirian tuh gak enak banget. Tempat diambil orang begitu ditinggal pergi sebentar aja, gak boleh bawa makanan/minuman (konser musik juga gak boleh bawa makanan/minuman tapi setidaknya tempat duduk gak dirampas orang waktu penonton pergi beli makanan/minuman) dan Yong Dae pun kemungkinan besar menolak untuk dimintai foto sesudah pertandingan karena capek.

So apa solusinya dong? 
Teman tersebut menyarankan agar aku menunggu Yong Dae di hotelnya saja jika dia sedang tidak bertanding alias gak ada jadwal, karena Yong Dae pasti bakalan mondar-mandir keliling hotel (pengalaman temen waktu di Hotel Sultan) jadi kesempatan minta fotonya jauh lebih besar.

Atau bisa jadi, karena Ciputra World Surabaya berhubungan langsung dengan Mall, jadi kemungkinan besar selain mondar-mandir di hotel, do’i juga kemungkinan besar cuci mata ke Mall atau setidaknya membeli makan siang di tempat favoritenya, yaitu Restoran Jepang Y*s*i*o*a, yang berada tak jauh dari Hypermarket Ciputra.

Berdasarkan saran dari teman itulah, akhirnya penulis langsung bertekad ke Ciputra World Surabaya begitu mendengar kabar kalau tanggal 22 Februari 2017 lalu do’i tidak dijadwalkan untuk bertanding meskipun tim Musica Champion tetap bermain pukul 18.00 malam. Yong Dae pasti datang untuk mendukung timnya, tapi dia baru akan berangkat jika jamnya sudah mendekati jadwal dan siang harinya pun do’i punya banyak waktu luang karena tidak harus latihan mengingat do’i tidak diturunkan malam harinya.


Dan ternyata hal tersebut terbukti benar, Yong Dae nongol di Mallnya membeli minuman. Well, sekarang rasanya gak ada gunanya lagi nonton ngelive di DBL Arena. Buat apa? Misi sudah terpenuhi, kan? Ditambah lagi, jadwal tim pria Musica Champion yang selalu malam hari (mungkin sengaja biar penonton gak pulang nungguin Yong Dae) membuat penulis sangat tidak mungkin menonton live di sana. Capek banget habis pulang kantor masih nge-live sampai malem, besoknya kerja lagi. Hadoh...ampun...Belum tentu dapat pula fotonya -__-

Well, sekian sharing dari saya. Bagi yang merasa sering nge-live dan baik-baik aja dan gak setuju dengan artikel ini ya sah-sah aja. Mungkin Anda ngelive-nya bergerombol jadi ada yang bantu jagain tempat duduk anda saat anda meninggalkan tempat duduk tersebut, tapi penulis kan sendirian jadi emang ada resikonya gitu. Dan ingat, artikel ini memang KHUSUS UNTUK MEREKA YANG NONTON SEORANG DIRI alias SINGLE FIGHTER seperti penulis.

Regards,

Liliana Tan

First Time Meeting You, Lee Yong Dae – The Badminton Prince from South Korea

Berhubung Djarum Superliga 2017 sedang diadakan di kota kelahiranku yaitu Surabaya, yang tumben-tumbenan nih diadakan di kota lain selain Jakarta, biasanya Jakarta mulu sampe bosen, kan? Jadi, aku ingin membagi pengalaman berharga, istimewa dan membahagiakan bagiku selama turnament bergengsi di tanah air tersebut diadakan di Surabaya. Pengalaman berharga bagiku karena pada akhirnya setelah bertahun-tahun hanya mampu mupeng, iri dan dongkol ngeliat teman-teman badminton lovers lain pamer foto bareng Lee Yong Dae saat INA OPEN diadakan di Jakarta tahun-tahun sebelumnya, akhirnya impianku untuk ketemu langsung dan foto bareng Yong Dae pun kesampaian juga tahun ini, yaitu tepatnya tanggal 22 Februari 2017 lalu di Surabaya. Terima kasih kepada Djarum Superliga khususnya Musica Champion yang telah memboyong Lee Yong Dae ke Surabaya.




Sepertinya tanggal 22 Februari 2017 akan menjadi hari bersejarah bagiku. Kayaknya mungkin ini yang disebut “DREAM COME TRUE” alias mimpi yang jadi kenyataan. Setelah ngefans dengan pemain bulutangkis berwajah tampan yang berasal dari Korea Selatan, Lee Yong Dae selama bertahun-tahun lamanya, tepatnya 9 tahun lamanya sejak pertama kali melihatnya di Beijing Olympic 2008 saat do’i memenangkan Medali Emas Olimpiade Beijing 2008 di sektor Ganda Campuran, akhinya pada tanggal 22 Februari 2017 lalu, penantianku selama 9 tahun terbayar sudah.

First, I wanna say thank you so much to Djarum Superliga 2017, khususnya Tim Musica Champion yang telah memboyong Lee Yong Dae ke Surabaya, Indonesia. Setelah 9 tahun lamanya hanya mampu memendam rasa iri, mupeng dan nyesek dalam hati setiap kali ngeliat temen-temen badminton lovers Jakarta pamer foto bareng Lee Yong Dae di Turnament Indonesia Open tahun-tahun sebelumnya, tahun ini giliranku yang akhirnya sempat merasakan ketemu dengan sang Idola, Lee Yong Dae di kota kelahiranku yaitu Surabaya.


Lee Yong Dae tiba di Bandara International Juanda pada tanggal 18 Februari 2017 dengan menumpang pesawat Garuda dan tiba di terminal T2 Juanda Surabaya pada pukul 10.45 WIB. Kedatangan atlit tampan ini sudah ditunggu kurang lebih sekitar 50 orang fans yang sudah menunggunya sejak jam 9 pagi. Namun sayang, situasi yang awalnya kondusif dan tertib mendadak menjadi rusuh saat tiba-tiba serombongan  ABG tidak mau tertib meminta foto hingga akhirnya terjadi saling dorong dan tarik-menarik hingga membuat Lee Yong Dae akhirnya bersembunyi di toilet.


Djarum Superliga 2017 diadakan di Surabaya pada tanggal 19 Februari – 26 Februari 2017, bertempat di DBL Arena Surabaya. Para atlit yang ikut bertanding ditempatkan di sebuah wilayah hunian eksklusif dan mewah di daerah Surabaya Barat yaitu Ciputra World Surabaya. Sebuah wilayah elite, eksklusif dan High Class yang saling berhubungan satu sama lain antara Hotel, Mall dan Apartement.


Walaupun rencana awalnya ingin menonton pertandingan live di DBL Arena dengan harapan bisa meminta foto bareng Lee Yong Dae sesudah pertandingan, tapi karena seorang teman yang sudah berpengalaman menceritakan suka dan duka selama nonton Live (yang akan dituliskan nanti di bawah artikel ini) maka akhirnya aku memutuskan untuk mengubah rencana menjadi menunggu Lee Yong Dae di Hotel aja hehehe ^.^

Ciputra World Surabaya

Seperti yang penulis katakan, kalau Ciputra World Surabaya adalah wilayah eksklusif, Mewah dan High Class di daerah Surabaya Barat. Umumnya yang berkunjung ke sana adalah para orang kaya seperti nonik-nonik China dan koko-koko ganteng berkulit putih yang bikin minder orang berkulit sawo matang sepertiku yang notabene-nya bukan orang kaya. Tapi demi Yong Dae, ya apa boleh buat deh.

Dan karena mendengar cerita dari beberapa teman di grup Lee Yong Dae yang mengatakan kalau mereka baru saja diusir dari Hotel oleh satpamnya, yasudah, akhirnya rencana berubah lagi dan aku memutuskan untuk menunggu Yong Dae di Mallnya.

 

Kabar burung menyebutkan kalau Yong Dae punya sebuah tempat makan favorite yang selalu dia kunjungi setiap hari karena suka banget ama makanannya, sebuah restoran Jepang bernama Y*s*i*o*a (tidak boleh menyebut merk). Dengan info tersebut akhirnya aku memutuskan untuk menuju ke sana dan menunggu di depan restoran tersebut yang kebetulan memang disediakan banyak tempat duduk di sana.

Sebelumnya, penulis sempat bertanya kepada pramusaji restoran tersebut, “Maaf mbak, apa Lee Yong Dae sudah ke sini hari ini?” *sambil tunjukin foto* dan setelah mendapatkan informasi tentang jam berapa Yong Dae biasa datang untuk makan dsb dari mbak pramusaji tersebut, akhirnya aku memutuskan untuk duduk manis di sana dan menunggu dengan sabar.



Wah...dan ternyata benar. Setelah berharap-harap cemas selama 30 menit lamanya duduk di depan restoran Jepang tersebut, ada kabar lagi dari teman-teman di grup kalau Yong Dae sedang berjalan menuju lokasi di mana penulis stand by sejak tadi. Tak mau berlama-lama, penulis segera berdiri dan berbalik arah mencari Yong Dae yang ternyata sedang berdiri menunggu di sebuah konter minuman C*a*i*e (tidak boleh menyebut merk).

Do’i tampak mengenakan kaos olahraga berwarna merah bertuliskan “Lee YD Musica Champion” di punggungnya, dengan memakai sepatu olahraga berwarna merah, dan memakai celana hitam, Yong Dae tampak sibuk memesan minuman dan dengan sabar menunggu gilirannya. Well, saat itulah akhirnya aku langsung meminta foto yang segera ditanggapi dengan ramah oleh Yong Dae sendiri.


Rasanya seperti mimpi yang jadi nyata saat do’i berdiri di sampingku. Wow...Ternyata Lee Yong Dae 10 kali lipat lebih ganteng, lebih tinggi dan lebih putih dari yang tampak di TV. Jujur deh, aku malu sebenarnya mau posting foto di sini, karena aku merasa gak cantik (edisi SADAR DIRI dan juga bukan orang narcis yang hobi pamer foto di medsos) dan juga sangat imut (kalau gak mau dibilang pendek) saat berdiri di samping Lee Yong Dae.
 
Tapi untuk membuktikan bahwa penulis benar-benar ketemu Lee Yong Dae dan biar gak ada bilang ngibul atau semacamnya, jadi ya terpaksa diposting aja deh tapi wajah penulis terpaksa di blur aja hehehe ^.^ Dari pada kalian tar muntah darah liat penampakan “Handsome (not beauty) and the beast” dan sejumlah makian mengalir ke blog ini karena gak suka liat wajahnya penulis, jadi ya demi kebaikan semua orang, yang penting keliatan Yong Dae-nya aja. Itu aku dan Lee Yong Dae, terserah kalian mau percaya atau nggak.

With Lee Yong Dae. Bonus: Hendra Setiawan

Note : Wajah penulis disamarkan karena memang penulis tidak suka wajahnya diketahui oleh orang-orang di dunia maya. Ditambah lagi penulisnya gak pede dan sadar diri kalau gak cantik hahaha ^.^ Kasian tar readerku pada sakit mata semua xixixi ^.^

Selain aku, juga ada beberapa fans yang datang meminta foto, namun sayang, fans yang meminta foto di akhir-akhir mendapatkan penolakan dari Yong Dae yang menolak dengan mengatakan "No more. No more. Sorry." seraya menundukkan kepalanya meminta maaf dan melambai-lambaikan tangannya menolak (paham kan maksudku kayak gimana?) dan setelah mendapatkan minuman yang dipesannya, do'i langsung kabur setengah berlari balik ke hotel yang langsung terhubung dengan Mallnya.

Oh ya, selain Lee Yong Dae, aku juga gak sengaja bertemu dengan Hendra Setiawan (foto atas) yang kebetulan lewat di depan Food Court saat aku sedang duduk-duduk di sana memutuskan apakah harus tetap ke hotelnya atau menunggu Yong Dae di Mallnya aja. Dan tanpa disangka, Hendra Setiawan lewat depan mata.


Food Court Ciputra World Surabaya...duduk-duduk di sini waktu gak sengaja Hendra Setiawan lewat depan mata hehehe ^.^ Setelah dapetin foto Yong Dae baru deh balik lagi ke sini buat makan.

Walau sejujurnya aku bukan fans Hendra Setiawan, tapi yang terpikirkan saat itu adalah “Karena belum dapat Lee Yong Dae, maka embat aja semua yang lewat depan mata. Siapapun itu, asalkan pemain badminton yang lumayan terkenal dan ganteng, embat aja dah. Dari pada pulang dengan tangan kosong andaikan gak dapet Yong Dae, dapet Hendra Setiawan pun lumayan.” Eh ternyata dapet dua-duanya. Terima kasih, Tuhan. (Ceritanya tuh dapet Hendra dulu, baru Yong Dae belakangan)

Mungkin Tuhan tahu kalau penulis gak bakal ngejar Yong Dae ke Jakarta kalau do’i dateng ke Asian Games tahun depan, jadi dikasih kesempatan sekali langsung dapet deh. Anggap aja ini adalah keberuntungan Fans yang selama ini hanya bisa menatap iri teman-teman di Jakarta yang tiap tahun pamer foto bareng Yong Dae.


Anggap aja keberuntungan ini untuk sekali seumur hidup. Syukur-syukur Lee Yong Dae datang lagi ke Surabaya tahun depan. Tapi kalau nggak pun, nggak masalah juga. Setidaknya aku pernah dapat kesempatan foto bareng sekali, kan? Aku akan mengingat kenangan indah ini dan akan selalu menyimpannya dalam lubuk hatiku yang paling dalam.

Well, bagiku ini cukup untuk dijadikan kenangan indah seumur hidup. Jadi orang jangan serakah, syukuri apa yang ada. Lebih baik dapat 1 kesempatan foto bareng, daripada tidak sama sekali, benarkan? Terima kasih untuk kenangan yang indah ini, walaupun hanya beberapa menit setidaknya pernah ketemu yang namanya idola dari dekat dan bukan hanya memandang dari layar kaca semata. Thank you Lee Yong Dae for coming to my city and taking a picture with me... Hope you will comeback next time, amen... See You again next time (Bila Tuhan mengijinkan...) 

NB : Kabarnya akan ada Meet and Greet with Lee Yong Dae, tapi masih belum ditentukan hari dan jamnya. Bagi fans Lee Yong Dae yang berdomisili di Surabaya, pantengin aja akun IG Djarum : @DjarumBadminton untuk info lebih lanjut.

Regards,

Liliana Tan, 
Memories of 22 Februari 2017

Rabu, 28 Desember 2016

Chapter 8: Where Am I? II (Teaser) Twin Princess 'Anastasia'

Teaser terakhir di blog ini. Sampai jumpa di Novel cetak ya. Itupun kalau ada yang ingin berniat mengoleksi versi cetaknya agar bisa dipeluk. Kalau pengen gratisan karena keuangan terbatas dan ada hal lain yang lebih penting untuk dibeli, cerita lengkapnya tetap bisa dinikmati secara gratis dalam blog milik penulis yang lain yaitu: Liana Land. 


Novel "Anastasia – Princess In Disguise" ini termasuk salah satu pemenang "Wattys Awards 2016" loh. Jadi gak rugi deh dibeli atau dibaca. Happy Reading...



Kerajaan Everla... 
Anastasia membuka matanya perlahan saat menyadari dia berada di sebuah tempat yang sama sekali asing. Dia berbaring di sebuah ranjang yang sangat besar dan empuk, kamarnya sangat besar dan terang dan aroma di kamar itu sangat harum bagaikan berada di sebuah taman bunga. Dengan perlahan Anastasia mencoba duduk di ranjangnya, dia masih mencoba cari tahu apa yang terjadi saat tiba-tiba sebuah suara mengagetkannya.

“Anda sudah sadar, Yang Mulia?” tanya suara itu lembut dan perhatian. Seorang pria muda tampan berambut coklat ikal dengan bola mata berwarna hazel berdiri di samping ranjangnya.

“Jangan panggil aku Yang Mulia. Kalian sudah salah mengenali orang. Sekarang aku ingin pulang.” ujar Anastasia lalu segera bangkit dari ranjangnya dan berjalan pergi dengan menjinjing sepatunya seperti sebelumnya. Tapi pria muda itu terus mengikutinya dan berusaha menghalanginya.

“Jangan ikuti aku! Sudah kubilang aku bukan dia! Aku BUKAN Putri Analiece. Sekarang biarkan aku pergi!” ujar Anastasia kesal. Dia benar-benar harus pulang jika tidak ingin Ibu tirinya menghukumnya.

“Tapi ini adalah rumah Anda, Yang Mulia. Anda ingin pulang ke mana lagi?” tanya pria muda itu khawatir.
“Terserah kau mau percaya atau tidak, yang penting aku harus segera pergi dari sini. Di mana pintu keluarnya?” tanya Anastasia kebingungan saat menyadari tempat ini aangatlah besar.

Namun dia tetap melangkah lurus ke depan hingga tiba di sebuah Aula yang sangat besar. Tahu bahwa dia telah salah masuk ruangan, dia ingin bergegas pergi tapi sesuatu di tengah ruangan menahan langkahnya.

Anastasia melihat ke dinding sebelah kiri aula besar itu, ada sebuah lukisan seorang gadis muda yang sangat cantik dengan rambut pirang dan mata birunya, dengan Gaun berwarna Pink yang sangat indah dan mahkota di kepalanya sedang tersenyum manis dari dalam lukisan.

Anastasia terdiam. Itu rambutnya, itu matanya, itu senyumnya dan itu wajahnya. Tapi bagaimana bisa? Anastasia mendekati lukisan itu, menelusuri setiap lukisan dirinya atau yang dia anggap sebagai dirinya dengan rasa penasaran. Saat matanya menangkap sebuah tulisan di bawah lukisan itu.

Her Royal Highnesses Crown Princess Analiece Elizabeth Windsor. 
“Tidak mungkin. Siapa dia?” gumannya, terlalu keras untuk sebuah gumaman. 
“Itu adalah Anda, Yang Mulia.” jawab si pria muda yang mengikutinya sedari tadi. 
“APA?” lagi, hanya itu kalimat yang mampu keluar dari bibir mungil Anastasia.

Kerajaan Mendroza... 
Analiece terbangun dengan kaget saat seseorang menarik rambutnya dengan kasar. 
“Arrrgghh!” Analiece mengerang sakit saat rambut pirang kesayangannya ditarik dengan kasar oleh seseorang. Dia terbangun spontan dan mendorong siapa pun itu yang telah berani menjambak rambut pirang indah kesayangannya.

“KURANG AJAR! BERANINYA KALIAN MENJAMBAK RAMBUTKU!” raung Analiece murka, memandang penyerangnya dan dia melihat tiga orang wanita jahat yang kemarin membekap mulutnya dan menculiknya sekarang berdiri di hadapannya dengan berkacak pinggang.

“DAN BERANINYA KAU MEMBENTAK KAMI SEKARANG?” jawab Debora dengan kemarahan yang sama.
“Lalu kenapa aku harus takut pada kalian?” tantang Analiece dengan berani. Ini penghinaaan untuknya. Tak pernah ada seorangpun yang berani menjambak rambutnya seperti tadi.

“Sejak kapan kau menjadi begitu berani melawan kami, Annie? Kau sudah melakukan kesalahan besar dengan menghadiri pesta dansa itu tanpa seijin kami, harusnya kau meminta maaf dan berlutut memohon ampun sekarang.” ujar Debora marah.

“Hahaha...Lucu sekali. Seumur hidup ini oranglah yang selalu berlutut padaku, bukan sebaliknya! Kalian tidak tahu siapa aku? Aku adalah Putri Mahkota Analiece dari Kerajaan Everla dan aku adalah tunangan Putra Mahkota William Alvan Philips Mendroza yang itu berarti aku adalah Calon Ratu Mendroza.” ujar Analiece memperkenalkan dirinya.

Tapi ketiga wanita jahat itu hanya melongo mendengarnya lalu tertawa terbahak-bahak sesaat kemudian, “Kau ini bicara apa? Sejak kapan anak yatim piatu yang bahkan tidak tahu siapa ayah kandungnya menjadi seorang Putri Mahkota? Sungguh lucu. Annie, apa kau sudah gila sekarang? Apa kau kecewa karena pada akhirnya Pangeran tidak memilih siapa pun kemarin malam, itu sebabnya kau berkhayal seperti ini?” Lidya bicara sambil tertawa mengejek.

“Anak yatim piatu?” ulang Analiece bingung. 
“Seharusnya ayah tiri kami tak pernah mengadopsimu dari Panti Asuhan St Paulo itu. Mengadopsimu adalah kesalahan terbesarnya.” ujar Lidya lagi.

Sebuah fakta baru terungkap bahwa Anastasia, gadis yang berwajah mirip dengannya itu hanyalah seorang anak angkat yang diadopsi oleh keluarga Lockhart dari sebuah Panti Asuhan bernama St Paulo.

“Tidak usah banyak bicara. Pergi dan siapkan makanan untuk kami sekarang! Lalu bersihkan seluruh rumah, cabut rumput di halaman, bersihkan seluruh jendela dan pintu, dan cuci semua baju kami. Jangan malas!” perintah Debora dengan culas.

“APA? Kalian ingin aku yang melakukannya? Kalian pikir aku pelayan?” jawab Analiece tak percaya. Tak pernah terbayangkan dalam hidupnya, tidak dalam mimpinya yang paling buruk sekalipun, dia akan melakukan itu semua.

“Lalu kau pikir siapa lagi, hah? Kami? Yang benar saja? Kau memang pelayan di sini, bukan lagi Nona Besar! Cepat kerjakan sebelum kami mengusirmu dari sini!” ujar Debora lagi dengan kasar.

“Well, Annie, sayang, jangan lupa kalau kau masih ada di sini karena kebaikanku. Karena jika aku mau, aku bisa menendangmu keluar ke jalanan tepat setelah ayah angkatmu meninggal lima tahun yang lalu. Kau sudah dewasa, kau tidak bisa kembali lagi ke Panti Asuhan itu. Kau juga tak mau tidur di jalanan, kan? Sedang kau tak tahu di mana Ayah kandungmu berada.” ujar Ibu tiri Anastasia, seorang wanita setengah baya dengan sanggul yang tinggi menjulang di kepalanya dan terlihat seperti seorang wanita berkelas.

“Ibu, mungkin Annie sayang lebih suka pergi ke alam baka bersama ibunya.” ujar Lidya dengan jahat. 
“Kalian mengenakan gaun mahal, perhiasan mahal dan berdandan seperti wanita berkelas, tapi kelakuan kalian bahkan lebih buruk dari tikus jalanan.” sergah Analiece dingin dan tegas.

“Jadi seperti ini hidup Anastasia? Ibunya meninggal dan ayahnya entah di mana, lalu dia diadopsi oleh ayah angkatnya yang akhirnya menikah lagi dengan nenek sihir ini dan meninggalkannya dengan ibu tiri dan saudara tiri yang jahat. Ya ampun, Benar-benar seperti kisah Cinderella. Cinderella yang malang.” ujar Analiece dalam hatinya, prihatin.

“Bawa dia keluar, anak-anak. Sepertinya Annie sayang sudah mulai belajar untuk melawan,” perintah Sang Ibu dengan dingin tanpa perasaan.

“Hei, kalian mau apa? Lepaskan aku!” Analiece tersentak kaget saat kedua gadis jahat itu menarik kedua lengannya dan berusaha menyeretnya, dia mencoba memberontak dan melepaskan dirinya, tapi tentu saja, dia takkan sanggup melawan dua orang.

“Cepat siapkan makanan untuk kami!” ujar Debora seraya mendorongnya ke arah dapur dengan keras dan membuat kepala Analiece membentur pinggiran meja makan dengan keras.

“Aaahhh....” Analiece memegangi keningnya yang sakit. 
“Owh, maaf kakak sayang. Siapa suruh jalan tidak hati-hati? Coba kulihat lukamu!” ujar Lidya seraya menjambak rambut pirang Analiece, berpura-pura melihat luka di keningnya.

PLAAAKKK... Sebuah tamparan keras terdengar. Lidya terdorong mundur ke arah kakaknya dengan memegangi pipinya saat Analiece menampar gadis itu keras ketika Lidya menjambak rambutnya.

“Ibu, dia berani menamparku.” raung Lidya pada Ibunya seraya memegangi pipinya yang merah. 
“Sudah kubilang aku bukan Anastasia yang bisa kalian siksa. Aku akan mengingat penghinaan ini seumur hidupku. Aku pastikan kalian tidak akan lepas begitu saja!” ujar Analiece murka. Dia benar-benar sudah kehabisan kesabaran.

PLAAKKK...Tamparan lain terdengar dan Ibu tiri Anastasia menampar Analiece untuk membalaskan sakit hati anaknya. “Pergi kau dari sini! Aku takkan peduli jika kau tinggal di jalanan. CEPAT PERGI!” usirnya marah. Analiece menatap mata wanita itu dengan kemarahan dalam hatinya seraya memegangi pipinya yang merah karena tamparan.

“Aku akan mengingat ini. Aku akan kembali untuk membalas semua ini.” ancamnya dingin lalu berjalan pergi dengan kesal.

“MINGGIR!” serunya kasar pada Debora yang menghalangi jalannya. Dia mendorong Debora dengan kuat dan membuat gadis itu jatuh menabrak ibunya dengan bingung.

“Dia seperti bukan Anastasia. Ada apa dengannya?” tanya Debora bingung. 
“Ibu, jika dia benar-benar pergi, lalu siapa yang akan membersihkan seluruh rumah? Mencuci, memasak, belanja di pasar, dan yang lainnya?” tanya Lidya panik.

“Dia benar-benar berani pergi? Kupikir tadi dia akan berlutut dan menangis agar aku tidak mengusirnya.” jawab sang Ibu lalu berjalan mengikuti Analiece tapi sudah tidak menemukannya di mana pun. Gadis itu merasa sudah cukup.

Dihantui rasa penasaran, Analiece memutuskan pergi ke Panti Asuhan St Paulo untuk mencari tahu lebih banyak tentang Anastasia.

Sebelumnya, dia kembali ke penginapan dan menyadari jika semua pengawalnya sudah tidak ada. 
“Ke mana mereka?” awalnya Analiece terlihat bingung, tapi dia menepis semua itu dan berpikir jika sendiri lebih baik. Itu berarti dia tidak perlu menjelaskan pada Dimitri tentang misinya kali ini.

“Setelah aku menemukan sesuatu tentang Annie, aku akan segera pulang, Ayah.” janji Analiece saat dia mengemasi semua barang-barangnya dan pergi menuju Panti Asuhan itu.

“Aku tak tahu Anastasia yang asli ada di mana, tapi di manapun dia berada, aku berharap dia tidak kembali ke rumah terkutuk itu.” ujar Analiece dalam hatinya, prihatin pada nasib gadis itu.

To be continued....


NOTE : WINNER OF WATTYS AWARDS 2016 for Category “Hidden Gems” alias “Permata Yang Tersembunyi (Cerita Kurang Dikenal)". 

<<<< Update 2026: Cerita Lengkap bisa dibaca di blog Liana Land karena penulis TIDAK BEKERJA SAMA LAGI dengan PENERBIT DIANDRA! Jika Pihak Diandra masih menjual secara sepihak, sudah dipastikan mereka melakukan tindak pidana pencurian Hak Cipta! >>>>>>

~~~~~

* Promo Akhir Tahun 2016 E-Book Version Only IDR 11 Ribu by Penerbit Diandra: 
Hai hai hai... Bagi yang suka dengan cerita Anastasia – Princess In Disguise, yang kantongnya bolong tapi pengen ngebaca kelanjutannya, ada promo besar nih di akhir tahun. Tapi hanya berlaku untuk E-Book ya. Dari yang awalnya seharga Rp 55.000 sekarang hanya jadi Rp 11.000 loh. Tunggu apalagi? Yuk buruan dibeli mumpung lagi ada promo nih.

 Harga Asli : 55.000
 Harga Promo : IDR 11.000

Tinggal buka Google Play/Play Store lalu ketik nama “Liliana Tan” ==> Pilih “Judulnya” ==> Lalu klik “Beli” dan anda bisa memilih membayar dengan Debet/Kredit/potong pulsa.

Note : Promo HANYA BERLAKU sejak bulan November hingga Desember 2016 !!!
Terima kasih