Rabu, 28 Desember 2016

Chapter 5 : Pesta Dansa Istana II (Teaser) Twin Princess 'Anastasia'

Pesta Dansa Istana. Siapa nih yang ngarep diundang ke Pesta Dansa Istana lalu berdansa dengan Pangeran? Cinderella wanna be, ya hehehe ^.^ Sudah chapter 5 nih cuplikannya. Berhubung penulis sedang berbaik hati, ditambah karya ini adalah pemenang Wattys Awards 2016 plus masih dalam masa promosi, jadi aku putuskan untuk memberi cuplikan 8 chapter dalam blog ini, sisa ceritanya bisa dibaca di blogku yang satu lagi ya, namanya Liana Land! Happy Reading~



Keesokan harinya, saat ibu dan kedua saudara tirinya sedang pergi berbelanja keperluan pesta, pintu rumah Anastasia diketuk dan seorang pria muda datang dengan mengantarkan sebuah bungkusan untuknya.

“Miss Anastasia Catherine Mauntbatten Lockhart?” tanya pria muda itu seraya membaca kartu yang di tangannya.

“Ya itu aku.” jawab Anastasia dengan bingung. 
“Ini paket untuk Anda, Nona. Silakan tanda tangan di sini.” ujarnya seraya menyerahkan paket itu dan menyuruhnya untuk membubuhkan tanda tangannya. Dengan bingung, Anastasia menandatanganinya dan menerima paket atas namanya itu.

“Pengirim paket itu berkata nanti malam pukul delapan, dia akan mengirim kereta kuda untuk mengantar Anda ke Pesta Dansa Istana.” ujar si pengantar paket, menyampaikan pesan dari Malaikat yang baik hati itu.

“Apa?” Anastasia tercekat mendengarnya. Siapa orang yang begitu baik memberikannya hadiah serta bersedia mengirimkan kereta kuda untuknya?

“Katakan terima kasihku padanya. Aku benar-benar berterima kasih.” ujar Anastasia gugup dengan jantung berdebar kencang.

Dan setelah mengucapkan terima kasih, Anastasia segera membuka paket itu di ruang tamu dengan penasaran dan matanya terbelalak lebar saat melihat apa isi paket itu.

“Sebuah gaun pesta berwarna putih dengan sayap pasangan di punggungnya, sebuah topeng dari emas yang akan menutupi matanya, sepatu pesta dan beberapa perhiasan mahal. Ini semua untukku? Tapi siapa yang...” Anastasia tak mampu menebak siapa pengirimnya karena memang tak ada tulisan apa pun di sana. Dia hanya mampu memandang takjub dan berterima kasih pada Tuhan.

“Tak ada Ibu Peri tapi aku memiliki Malaikat Pribadi Rahasiaku. Siapa pun dirimu, terima kasih banyak sudah mewujudkan mimpiku.” gumam  Anastasia seraya memeluk gaun indah berwarna putih itu dengan airmata bahagia. 

Dia tak menyadari jika ada seorang pria yang diam-diam mengamatinya dari balik pohon rindang di depan rumahnya. Anastasia menari-nari bahagia seraya memeluk gaun itu tanpa repot-repot menutup lebih dulu pintu rumahnya.

“Aku tak bisa mengubahmu menjadi seorang Putri selamanya, tapi setidaknya aku bisa mengubahmu menjadi Cinderella walau hanya semalam saja. Terima kasih sudah menyelamatkan nyawaku, anggap saja ini sebagai ganti hutangku padamu.” ujar sosok itu sambil tersenyum senang karena Anastasia menyukai hadiahnya, lalu pergi dari sana dengan cepat sebelum gadis itu mengetahui keberadaannya.

Anastasia terdiam saat ibu dan kedua saudara tirinya pulang ke rumah. 
“Nanti malam kami akan pergi ke pesta dansa istana. Kau tak berpikir untuk ikut, kan?” tanya ibu tirinya dengan gaya menyelidik, sudah menebak bahwa Annie pasti melihat pengumumannya di sepanjang jalan.

“Tidak.” jawabnya singkat. Dia tak ingin mereka tahu karena tahu mereka pasti akan menghancurkan rencananya karena itu Anastasia berpura-pura tidak peduli.

“Bagus.” jawab ibu tirinya senang, tanpa curiga sedikitpun. 
Malam berlalu cepat dan Ibu serta kedua saudara tirinya pun sudah bersiap menuju kereta kuda yang akan membawa mereka ke Istana.

“Kami tidak akan kembali hingga tengah malam. Baik-baiklah menjaga rumah.” ujar si ibu tiri sebelum mereka pergi. 
“Baik.” jawab Anastasia singkat, menurut. Dalam hatinya dia memang ingin mereka segera pergi.

Pesta topeng adalah tema pesta dansa malam ini. Sempurna. Dengan memakai topeng itu, ibu dan saudara tirinya tidak akan mengenalinya kan? Anastasia tersenyum membayangkan rencananya.

“Sampai jumpa di Istana, Ibu.” batin Anastasia sambil tersenyum saat melihat kereta kuda yang membawa mereka sudah menghilang.

Istana Mendroza... 
“Pesta topeng. Sempurna. Dengan memakai topeng ini, tidak akan ada yang mengenaliku dan aku bisa menyamar dengan mudah. Well, aku ingin tahu siapa pria yang akan dinikahkan denganku, dan pesta dansa ini membuat segalanya menjadi lebih mudah.” ujar seorang gadis berambut pirang dan bermata biru seraya melangkah keluar dari dalam kereta kuda yang mengantarnya ke sana.

Di halaman depan berdiri banyak sekali pria berseragam merah yang tampak seperti prajurit yang berjejer menunggu para tamu yang datang dan mengantarkan mereka masuk.

Begitu juga saat dia turun dari kereta kudanya, seorang pria berseragam segera menyambutnya dan menunduk hormat seraya mengulurkan tangannya dan membawanya masuk ke dalam Istana. Pria berseragam itu adalah pria yang ditugaskan untuk mengantar setiap gadis yang hadir menuju aula tempat pesta itu diadakan.

“Terima kasih.” ujar gadis berambut pirang itu dengan anggun saat pria berseragam itu telah mengantarnya ke pintu aula.

Di depan pintu itu dua orang pria berseragam lain telah berdiri menunggu setiap tamu yang datang untuk membukakan pintu untuk mereka.

Gadis itu tersenyum kagum saat melihat betapa megahnya Istana Kerajaan Mendroza. Dengan anggun dia melangkah masuk dan mengamati sekelilingnya. Banyak sekali tamu undangan yang datang malam ini, seluruh gadis dari penjuru negeri sepertinya sedang ingin mencoba peruntungan malam ini.

Dia tersenyum dan mencoba mencari sesuatu. Tapi sepertinya tahta yang terletak beberapa meter di hadapannya itu masih kosong. Jelas terlihat bahwa keluarga Kerajaan belum ada yang hadir untuk menyapa para tamu.

Aula itu penuh sesak, jadi dia memutuskan untuk sejenak menghirup udara segar dengan berjalan ke beranda Istana hingga pesta itu dimulai. 

Sementara itu, seorang gadis lain datang dengan menggunakan kereta kuda yang dikirimkan oleh seseorang yang tidak diketahui identitasnya, dia mengenakan gaun yang begitu indah.

Sebuah gaun berwarna putih tanpa lengan dengan belahan dada yang rendah yang memamerkan kulitnya yang putih dan mulus, gaunnya berbentuk melebar di bagian bawah dan menjuntai hingga ke tanah dengan sepasang sayap putih di punggungnya dan sepatu pesta yang berwarna senada dengan gaunnya.

Rambutnya yang pirang, panjang dan lurus diikat ke tengah dan dibiarkannya terurai di punggungnya. Dia menarik napas sejenak sebelum mengenakan topeng di wajahnya, memulai penyamarannya.

Malam ini sepertinya akan menjadi malam yang panjang.” ujarnya dalam hati saat melangkah masuk ke dalam Aula tempat pesta itu diadakan setelah pria berseragam mengantarnya ke depan pintu aula.

Dua pria berseragam lain telah membukakan pintu untuknya tapi dia tetap terdiam bingung. Rasanya begitu menakjubkan bisa berada di tengah pesta dansa istana, bagaikan mimpi yang jadi nyata.

Tanpa dia ketahui, pria yang tadi mengantarnya masuk adalah Pangeran itu sendiri yang memang sengaja menyamar menjadi prajurit agar bisa melihat dari jarak dekat para gadis yang akan dipilihnya nanti.

Begitu gugupnya dia hingga tak sengaja telah menabrak seorang pelayan yang berdiri di belakangnya.
“Maafkan aku.” ujarnya sopan dan segera berlutut membantunya mengambil gelas-gelas yang terjatuh ke lantai aula.

Saat dia membungkuk, belahan dadanya terlihat semakin jelas hingga membuat hati pria yang ditabraknya berdesir tak karuan, apalagi saat mata mereka bertatapan, pria itu seperti pernah melihat mata itu sebelumnya. Tapi di mana dia tidak ingat.

“Kau...Pria es krim?” ujar gadis itu saat melihat pria yang kemarin siang ditabraknya. Pria pelayan itu hanya menunduk dan tersenyum sopan.

“Biar kubantu.” ujar Anastasia lalu kembali menunduk untuk memunguti gelas itu. 
“Tidak perlu. Sungguh. Kau seorang tamu di sini. Ini sudah tugasku,” jawab si pria pelayan dengan tidak enak hati tapi Anastasia hanya tersenyum tulus seraya menyerahkan gelasnya pada pria itu.

“Maafkan aku, ya.” ujarnya lagi dengan sopan sebelum pergi berbaur dengan tamu lain. Pria berambut pirang itu terdiam membatu dan hanya mengangguk singkat.

“Hei, kau seperti melihat hantu saja. What’s up, Bro?” tanya seorang pria muda berambut coklat terang dan berseragam prajurit yang tiba-tiba menepuk pundaknya. Tampak jelas dia sangat terkejut dengan kedatangan pria muda itu dan hanya menggumam pelan, “Kau mengagetkan aku.” ujar si pirang lirih.

“Apa kau sedang melihat Malaikat itu?” tanya pria berseragam prajurit dengan iseng. Si pelayan terdiam.
“Hei, dia favoritku. Kau tahu aku yang mengantarkannya masuk tadi. Kulitnya sangat lembut, mata birunya terlihat sangat menawan walau dia memakai topeng sekalipun.” ujar si prajurit berseragam merah dengan menerawang.

“Bukankah dia bilang dia tak bisa datang? Lalu gaun itu dia dapat dari mana? Harus kukatakan dia memiliki lekuk tubuh yang sempurna.” lanjut pria berseragam pengawal.

“Dan dia juga sangat baik, lembut dan sopan.” lanjut si pelayan dengan kagum. 
“Kak, kau kan sudah memiliki tunangan? Pesta ini untukku. Enak saja kau ingin mengambil gadisku.” protes si prajurit tak terima. Ternyata pelayan itu juga seorang Pangeran yang menyamar.

“Aku menentang perjodohan itu. Kau pikir untuk apa aku repot-repot menyamar menjadi pelayan seperti ini dan berkeliling ke sana kemari jika bukan untuk mencari calon istri?” sahut Sang kakak tak peduli.
“Lagipula, ada begitu banyak gadis di sini, kan? Berikan satu padaku kurasa tak masalah.” lanjut si kakak.

“Iya, tapi bukan yang satu itu. That Angel is mine!” jawab si prajurit tak mau mengalah. 
“Begini saja, kita bersaing secara adil siapa yang akan dipilih gadis itu, okay?” usul kakaknya. 
“Kau bicara seperti itu seolah-olah kita sudah tahu siapa dia.” jawab si adik dengan tertawa. 
“Kau ingin memilihnya malam ini? Apa kau yakin dia akan mau kau pilih?” ujar si kakak berteka-teki lalu langsung menghilang di tengah kerumunan para tamu Kerajaan.

To be continued...

NOTE : WINNER OF WATTYS AWARDS 2016 for Category “Hidden Gems” alias “Permata Yang Tersembunyi” (Cerita Kurang Dikenal). 

<<<< Update 2026: Cerita Lengkap bisa dibaca di blog Liana Land karena penulis TIDAK BEKERJA SAMA LAGI dengan PENERBIT DIANDRA! Jika Pihak Diandra masih menjual secara sepihak, sudah dipastikan mereka melakukan tindak pidana pencurian Hak Cipta! >>>>>>

~~~~~~

* Promo Akhir Tahun 2016 E-Book Version Only IDR 11 Ribu by Penerbit Diandra:
Hai hai hai... Bagi yang suka dengan cerita Anastasia – Princess In Disguise, yang kantongnya bolong tapi pengen ngebaca kelanjutannya, ada promo besar nih di akhir tahun. Tapi hanya berlaku untuk E-Book ya. Dari yang awalnya seharga Rp 55.000 sekarang hanya jadi Rp 11.000 loh... Tunggu apalagi? Yuk buruan dibeli mumpung lagi ada promo nih.

 Harga Asli : IDR 55.000
 Harga Promo : IDR 11.000

Tinggal buka Google Play/Play Store lalu ketik nama “Liliana Tan” ==> Pilih “Judulnya” ==> Lalu klik “Beli” dan anda bisa memilih membayar dengan Debet/Kredit/potong pulsa.

Note : Promo HANYA BERLAKU sejak bulan November hingga Desember 2016 !!!

Terima kasih.


Chapter 4 : Once Upon A December II (Teaser) Twin Princess 'Anastasia'

Suatu hari di bulan Desember. Judul chapternya pas banget dengan saat di mana penulis memposting ulang cerita ini di blog. Settingnya emank di bulan Desember sih. Dalam suasana Natal yang penuh kedamaian dan sukacita. Adakah yang tertarik dengan kisah si Putri Kembar yang satu ini? Kalian bisa membaca cerita lengkapnya di blog Liana Land!



Flashback... 
Seorang gadis kecil berambut pirang lurus, berwajah cantik dengan bola mata berwarna biru terang, berusia sekitar sembilan tahun sedang duduk termenung di bawah pohon seraya memandang sedih ke arah langit dengan airmata menetes pelan.

Saat itu adalah musim dingin di bulan ke-12, Desember. Bulan yang seharusnya menjadi bulan favoritnya. Bulan Desember adalah bulan dia dilahirkan, Desember juga hari perayaan Natal, dia menyukai butiran-butiran salju yang turun di Bulan Desember. Sangat dingin namun indah dan lembut. Sama seperti hatinya yang entah sejak kapan menjadi dingin, mungkin sejak ibunya meninggal dua hari yang lalu. Dunianya serasa porak poranda, gadis yang awalnya ceria mendadak menjadi pendiam dan pemurung.

“Ibu, kenapa Ibu harus tinggalkan aku sendiri? Ini tidak adil. Bukankah Ibu bilang akan membantuku mencari Ayah kandungku?” ucap gadis kecil itu sambil terisak pelan dan menghapus airmata yang menetes di pipinya.

Salju perlahan turun dari langit, membuat udara semakin dingin mencekam. Angin musim dingin yang berhembus membuat kulitnya meremang, dia segera mengeratkan mantel hitam yang dikenakannya, mencoba untuk mengalahkan rasa dingin itu. Namun gadis itu sama sekali tidak berniat untuk beranjak.

“Ibu akan berubah menjadi bintang, yang akan selalu membimbingmu mencari jalan pulang, jadi  jangan menangis, sayang. Kalung itu adalah jalan untukmu pulang.” kenang gadis kecil itu pada ucapan terakhir ibunya sebelum wanita itu menghembuskan napas terakhirnya dua hari yang lalu.

Spontan gadis kecil itu menggenggam sebuah kalung dengan liontin bintang yang bertuliskan sebuah nama di belakangnya “Anastasia”. Yah, itulah namanya.

Apa kalung itu adalah petunjuk untuk menemukan ayah kandungnya? Entahlah. Dia juga tidak yakin. Tapi satu yang pasti, dia tahu bahwa selama hidupnya Ibunya selalu menyembunyikan sesuatu darinya. Dipandanginya kalung itu saat secara tak sengaja dia mendengar suara teriakan dari arah yang tak jauh darinya.

“AARRGGGHHH!” suara anak laki-laki. Annie, begitu biasanya Sang Ibu memanggilnya, segera berlari ke arah sumber suara dan dia melihat seorang anak laki-laki yang kira-kira dua atau tiga tahun lebih tua darinya jatuh tertimpa dahan sebuah pohon yang sepertinya cukup berat. Kaki kanannya terjepit dahan pohon itu, tak mampu bergerak.

“Tolong aku! Bisakah kau membantuku memindahkan dahan ini? Sakit sekali.” erangnya memelas seraya menatap Anastasia dengan mata berkaca-kaca.

Tanpa banyak bicara, Anastasia segera menghampirinya dan mencoba memindahkan dahan pohon yang cukup berat itu. Anatasia menarik napas. Dia gagal di percobaan pertama. Bocah laki-laki itu semakin mengernyit sakit saat dahan pohon itu kembali menggelincir mengenai kaki kanannya.

“Aaarggghhh!” erangnya kesakitan. 
“Maafkan aku!” ujar Anastasia merasa bersalah. Peluh berjatuhan di keningnya, dia sendiri kelelahan karena tak kuat memindahkan dahan pohon itu saat sebuah ide terlintas di kepalanya.

“Aku punya ide. Tunggu sebentar!” ujarnya segera berlari menjauh ke suatu tempat. 
Dia berlari ke bawah pohon tempat dia duduk tadi dan meraih seutas tali yang sempat ingin digunakannya untuk gantung diri, tapi tidak jadi.

Dia segera kembali ke tempat bocah laki-laki itu terduduk kesakitan dan segera mengikatkan tali tambang itu di dahan pohon yang menimpa kaki bocah laki-laki itu sekuat mungkin lalu melemparnya ke dahan sebuah pohon yang tak jauh di belakang mereka, mengikatnya kuat di sana.

Lalu perlahan-lahan dia menarik dahan pohon yang menimpa kaki kanan bocah itu melalui tali tambang yang sudah diikat di pohon itu. Awalnya berat, tapi perlahan namun pasti, dahan yang menimpa dahan pohon itu kembali terangkat.

“Jika aku bilang ‘sekarang!’, kau bergeserlah ke samping dengan cepat, ya! Aku tak mampu menahannya lebih lama lagi, ini sangat berat.” ujar Anastasia dengan tangan berkeringat. Bocah itu mengangguk mengerti dan menyerukan “Aku mengerti.” dengan lantang.

“Sekarang! Bergeserlah sedikit!” Anastasia memberi instruksi. 
Melihat dahan pohon itu terangkat dari kakinya, bocah itu segera menyeret tubuhnya ke samping dengan susah payah, setelah merasa cukup jauh, dia berteriak memberi tanda, “Sudah.” ujarnya lantang.

Anastasia mengangguk lalu segera melepaskan talinya dan dahan pohon itu kembali terjatuh ke tanah dengan keras.

Anastasia hampir mati kelelahan. Tapi dia segera berlari ke arah bocah laki-laki itu dan bertanya khawatir, “Kau tidak apa-apa?” tanyanya cemas.

“Ah, kakimu berdarah. Ini buruk!” ujar Anastasia lalu segera merobek gaunnya dan membalutkannya di kaki kanan si bocah laki-laki yang hanya memandangnya tanpa berkedip. 
Dia cantik. Cantik dan baik hati.” ujar si bocah laki-laki dalam hatinya.

“Kau bisa berdiri? Aku akan memapahmu ke rumahku. Di sana kau bisa menghubungi keluargamu. Yang penting kita segera keluar dari hutan ini.” suara Anastasia yang renyah membuyarkan lamunan si bocah laki-laki yang hanya bisa menjawab gugup, “Kurasa bisa jika kau memapahku.” ujarnya canggung dengan jantung memburu.

Anastasia mengangguk lalu melingkarkan lengannya di pinggang bocah laki-laki itu sementara si bocah laki-laki itu meletakkan tangannya di pundak gadis itu. Berdua, mereka berjalan tertatih-tatih keluar dari dalam hutan itu.

“Terima kasih sudah membantuku. Suatu saat nanti aku akan membalas kebaikanmu.” ujar si bocah laki-laki.

Anastasia tersenyum mendengar kalimatnya, “Ibuku bilang, kita harus menolong orang tanpa pamrih.” jawabnya rendah hati, membuat bocah laki-laki itu semakin kagum.

Anastasia merawat bocah laki-laki itu di rumahnya, rumah yang ditinggalinya bersama Ibunya dan kini hanya menjadi rumahnya seorang begitu ibunya meninggal. 
“Kau tinggal sendirian?” tanya si bocah laki-laki bingung karena tak melihat siapa pun di sana. 
“Ibuku meninggal dua hari yang lalu.” jawab Anastasia sedih. 
“Kau tak punya keluarga lain?” tanya si bocah lagi. 
“Hanya ibu satu-satunya keluargaku.” jawabnya dengan murung. Oh, hati si bocah laki-laki semakin sakit.

Dia gadis yang baik tapi Sangat malang. Apa yang bisa kulakukan untuk membalas kebaikanmu?” ujar si bocah laki-laki itu dalam hati.

“Siapa namamu?” tanya si bocah laki-laki itu sekali lagi. 
“Annie.” jawab Anastasia seraya mengambilkan kotak obat yang selama ini disimpan Ibunya dan membawanya ke tempat bocah laki-laki itu terduduk tadi.

“Lalu Ayahmu di mana?” tanya bocah laki-laki itu lagi seraya mengeryit kesakitan saat Anastasia membubuhkan tumbuh-tumbuhan obat di kaki kanannya dan membalutnya lembut.

“Aku tak pernah mengenal Ayah kandungku. Ibu tak pernah menceritakannya sepanjang hidupnya. Tapi sesaat sebelum Ibu meninggal, Ibu menyuruhku mencari Ayah dengan petunjuk kalung ini.” jawabnya seraya menunjukkan sebuah kalung berliontin bintang di lehernya.

“Boleh aku lihat?” tanya si bocah laki-laki seraya menyodorkan tangan kanannya. Anastasia tersenyum lalu melepas kalung di lehernya dan memperlihatkannya pada bocah laki-laki itu yang segera mengamatinya dengan serius.

“Anastasia. Jadi itu nama panjangmu?” lagi, dia bertanya dan gadis itu mengangguk pelan. 
“Nama yang bagus. Anastasia berarti kebangkitan. Jadi sesuai dengan namamu, kau harus segera bangkit dari keterpurukan atas meninggalnya Ibumu.” hibur si bocah laki-laki sambil tersenyum.

“Bisakah? Aku tak punya siapa pun di dunia ini. Kurasa tidak mudah untuk menemukan Ayah kandungku.” jawab Anastasia sedih.

“Sudah selesai.” lanjutnya, memberitahu bahwa dia telah selesai mengobati luka bocah laki-laki itu. 
“Terima kasih.” jawab si bocah laki-laki itu dengan malu.

“Kalung ini sangat bagus. Ini benar-benar emas putih asli, ukiran nama di belakangnya menunjukkan bahwa kalung ini bukanlah kalung sembarangan yang dijual di pasar-pasar. Bentuknya sangat unik, dan rantai kalung ini pun bisa terbilang berat, ini kalung mahal. Mungkin saja ayah kandungmu sebenarnya orang kaya atau bahkan bangsawan,” lanjut si bocah laki-laki mengamati kalung itu dengan kagum. Dia sudah biasa melihat perhiasan mahal seperti itu, jadi dia bisa membedakan mana yang asli dan mana yang palsu.

“Benarkah?” Anastasia bertanya dengan mata berbinar. 
“Oh iya, aku belum tahu siapa namamu.” lanjutnya lagi malu-malu.

Bocah laki-laki itu mengulurkan tangannya sambil tersenyum hangat. 
“Namaku Alvan. Terima kasih telah menolongku. Aku berhutang nyawa padamu. Aku berjanji jika kau butuh bantuan, kau bisa mencariku dan aku akan mengabulkan permintaanmu, apa pun itu.” jawab Alvan dan Anastasia meraih uluran tangan itu dan mereka bersalaman sambil tersenyum.

“Benarkah? Termasuk mencari Ayah kandungku. Apa kau bisa membantuku?” tanya Anastasia berharap dengan mata berbinar.

“Aku tidak bisa. Aku masih kecil. Tapi kurasa Ayahku pasti bisa. Setelah aku sembuh nanti, aku akan meminta keluargaku untuk menjemputku dan akan kuminta Ayahku untuk membawamu tinggal bersama kami dan membantumu mencari Ayah kandungmu.” ujar si bocah laki-laki, Alvan sambil tersenyum manis.

“Tapi bisakah aku tinggal bersamamu?” tanya Anastasia ragu. 
“Tentu saja. Kau tak punya siapa pun di sini. Sangat berbahaya bagi seorang gadis kecil tinggal sendirian di desa terpencil ini. Akan lebih aman bila kau bisa ikut bersama kami. Ayahku pasti takkan menolak, karena bagaimanapun juga, aku sudah berhutang nyawa padamu, kan?” jawab Alvan berjanji.

“Kalau begitu kaitkan jari dulu. Kau harus berjanji akan menjemputku di sini dan membantuku mencari Ayah kandungku.” ujar Anastasia mengulurkan kelingkingnya ke depan.

Alvan tersenyum lalu mengkaitkan kelingking mereka sebagai perjanjian seraya berkata mantap, “Aku berjanji aku akan kembali untuk menjemputmu.” ujarnya sambil tersenyum.

Tak terasa sudah satu minggu Alvan tinggal di rumah mungil itu. Anastasia sangat senang karena dia memiliki seorang teman dan dia tidak kesepian lagi sekarang. Selama seminggu ini, mereka makan dari bahan makanan yang sudah disimpan oleh Ibu Anastasia sebelum dia meninggal. 

Tapi sayangnya tidak peduli sebanyak apa pun bahan makanan yang sudah disimpan oleh Ibunya, jika dimakan terus tentu suatu saat pasti akan habis juga.

Alvan dan Anastasia menjadi teman baik. Mereka tertawa dan bermain bersama. Membuat manusia salju, bermain ice skeating, lempar-lemparan bola salju, memandang bintang saat malam, atau hanya sekedar berjalan-jalan di tepi sungai sambil bergandengan tangan. Alvan merasa kaki kanannya sudah sembuh, dan sudah saatnya dia pulang. Dia sudah mengirim burung merpati dan memberitahu keberadaannya pada keluarganya agar mereka bisa segera menjemputnya.

Hari itu, Anastasia duduk sambil termenung sedih saat melihat beras yang disimpan Ibunya hanya tinggal sedikit. Alvan yang melihatnya segera berjalan mendekatinya dan duduk di sampingnya.

“Kau kenapa?” tanya Alvan lirih. 
“Bahan makanan sudah hampir habis. Bagaimana ini? Aku tak punya uang untuk membeli bahan makanan. Aku ingin bekerja tapi adakah tempat yang mau mempekerjakan gadis kecil berumur sembilan tahun?” tanya Anastasia sedih dengan airmata mengalir pelan.

“Aku rindu Ibuku.” lanjutnya lagi. Alvan segera meraih tubuh gadis itu dan memeluknya erat. 
“Jangan khawatir. Kau tidak sendiri. Kalau Ayahku datang, aku akan membawamu pergi bersamaku. Kita akan tinggal bersama jadi kau takkan kesepian.” hibur Alvan dan kedua anak kecil itupun berpelukan hangat.

Tak lama kemudian terdengar pintu diketuk pelan. Dengan mengusap airmatanya, Anastasia berjalan ke arah pintu dan membukanya dan dia melihat dua orang pria berbadan besar berdiri di depan pintunya, dia sampai harus mendongakkan kepalanya saat melihat kedua pria itu.

“Paman siapa?” tanya Anastasia dengan bingung. Salah satu dari pria itu berlutut sehingga sama tinggi dengan gadis kecil itu.

“Gadis kecil, apa Ibumu ada?” tanyanya sopan. 
Anastasia menggeleng pelan dan sedih, “Ibuku sudah meninggal.” jawab Anastasia dengan airmata mengalir.

“Oh maaf.” sahut pria itu dengan kasihan. 
“Kalau begitu apa Ayahmu ada?” tanyanya lagi. 
Lagi-lagi Anastasia menggeleng pelan sambil tetap menangis, “Aku tak punya Ayah.” jawabnya sedih.

“Ya ampun. Gadis kecil yang malang, lalu kau tinggal di sini dengan siapa? Aku mencari seorang anak laki-laki berusia sebelas tahun yang tinggal di sekitar sini. Mungkin kau tahu.” tanya pria itu dan Anastasia akhirnya mengerti apa maksud kedatangan pria itu.

“Apa kalian mencari Alvan?” tanya Anastasia dengan polos. 
“Alvan? Beraninya kau memanggilnya dengan nama? Apa kau tidak tahu jika beliau adalah....” kalimat pria kedua terpotong oleh ucapan si pria yang sedang berlutut itu.

“Sudahlah. Dia masih kecil. Tidak perlu begitu perhitungan dengan seorang gadis kecil yang tak tahu apa-apa.” ujar si pria yang berlutut dengan sabar. 
“Benar, sayang. Kami mencari Alvan. Apa kau mengenalnya?” tanya si pria yang berlutut itu dengan sabar.

Anastasia mengangguk lalu berkata riang, “Tunggu sebentar, Paman. Akan kupanggilkan!” jawabnya lalu segera berlari ke dalam rumah. Beberapa menit kemudian dia kembali dengan Alvan berjalan di sampingnya.

“Paman.” ujar Alvan senang dan berjalan ke arah mereka. 
“Akhirnya kami menemukan Anda, Pa....” kalimat pria yang berlutut tadi dihentikan oleh Alvan.

“Iya. Annie telah menyelamatkan aku saat aku tersesat dan terluka di dalam hutan. Aku berhutang nyawa padanya, Paman.  Bisakah dia ikut kita pulang? Annie tak punya siapa-siapa lagi.” pinta Alvan pada pria pertama lalu memberinya tanda agar lebih menunduk.

“Dia tak tahu siapa aku. Panggil saja aku Tuan Muda, mengerti?” perintah Alvan yang hanya dijawab dengan anggukan kepala mengerti.

“Baik, Pa...Eh, Tuan Muda.” jawabnya patuh dan Alvan tersenyum. Pria pertama lalu membisikkan kalimat yang sama di telinga temannya.

“Bagaimana? Apa kita bisa pulang sekarang? Jika iya, aku akan minta Annie berkemas.” ujar Alvan penuh harap seraya menggenggam tangan Anastasia.

Kedua pria hanya bisa saling pandang dan dengan raut wajah menyesal berkata, “Maafkan hamba, Pa...Eh, Tuan Muda, tapi tanpa seijin Ayah Anda, kami tak berani membuat keputusan. Bagaimana jika kita pulang dulu ke rumah lalu rundingkan ini dengan Ayah Anda, baru jika beliau setuju maka kita bisa menjemputnya di sini.” usul si pria pertama.

“Aku sudah tahu akan seperti ini.” gerutu Alvan. 
“Tidak apa-apa. Kau pulanglah dulu dan minta ijin pada Ayahmu. Aku akan menunggumu di sini.” jawab Anastasia pengertian.

“Tapi....” Alvan tampak tak rela. Tapi Anastasia berkeras meyakinkannya kalau dia baik-baik saja. 
“Aku baik-baik saja. Pergilah. Cepat pergi dan cepat kembali.” ujar Anastasia sambil tersenyum manis. Alvan terdiam berpikir lalu kemudian dia memberi perintah pada kedua bawahannya untuk lebih dulu membeli bahan makanan untuk Anastasia yang akan cukup dimakannya hingga dia kembali lagi.

Kedua pria itu segera melesat pergi dan kembali dengan membawa banyak sekali bahan makanan yang mereka beli di pasar dan meletakkannya di lemari penyimpanan makanan. Ada daging sapi, daging ayam, keju, susu, mie kering, telur, beras, gula, garam, minyak dll.
       
“Ini banyak sekali. Kau tak perlu melakukan ini, Alvan?” ujar Anastasia dengan sungkan.       
“Tidak apa-apa. Bukankah tadi kau bilang bahwa persediaan makananmu hampir habis. Setidaknya ini cukup untuk persediaan makan selama sebulan. Aku tidak tahu berapa lama aku bisa membujuk Ayah, tapi aku berjanji, berhasil atau gagal, dalam satu bulan aku akan kembali untukmu, My Forever Friend.” janji Alvan.

“Teman selamanya.” sahut Anastasia sambil tersenyum seraya mengulurkan kelingkingnya. 
“Benar. Kita teman selamanya.” ujar Alvan menegaskan lalu mengkaitkan kelingking mereka dan kemudian memeluk Anastasia sambil menangis.

“Aku akan merindukanmu. Kau tunggu aku, ya. Aku pasti kembali untukmu.” ujar Alvan seraya memeluk Anastasia dengan erat.

“Aku akan menunggumu. Selamanya menunggumu. Aku akan menunggu hingga bunga menjadi layu.” janji Anastasia dengan airmata menetes pelan.

Lalu setelah mengucapkan janji bahwa mereka akan bertemu lagi, kedua pria itupun membawa Alvan pergi dari sana. Anastasia mengantar kepergian temannya sambil menangis, dia tampak tak rela, karena dengan perginya Alvan, dia akan kembali sendirian.

Hujan salju turut mengiringi kepergian Alvan yang tampak tak rela meninggalkan gadisnya. Dia berulang kali menoleh ke belakang dan melambaikan tangannya disertai janji, “Aku akan kembali.

Menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti minggu dan minggu berganti bulan, Satu bulan sudah berlalu, persediaan makanan yang diberikan Alvan untuknya juga mulai habis. Anastasia termenung sedih menatap salju yang turun di akhir bulan Desember, saat tiba-tiba pintunya diketuk dengan keras. 

“Alvan.” Anastasia berseru senang dan berlari membuka pintunya dengan penuh harapan, berharap bahwa itu adalah Alvannya. Tapi begitu kecewanya dia saat yang muncul di hadapannya adalah Kepala Desa beserta seorang wanita dan tiga orang pria berbadan besar.

“Annie sayang, karena kau yatim piatu dan tak punya siapa-siapa, mulai sekarang kau akan tinggal bersama mereka.” ujar si kepala desa seraya menunjuk pada empat orang yang berdiri di belakangnya.

“Siapa mereka?” tanya Anastasia dengan polos. 
“Mereka adalah orang-orang dari Panti Asuhan. Mulai sekarang kau akan tinggal bersama mereka. Di sana, kau akan bertemu dengan teman-teman sebayamu yang bernasib sama denganmu jadi kau takkan sendirian lagi sekarang.” bujuk kepala desa itu.

Anastasia terhenyak dan diam. Panti Asuhan. Pergi dari rumah tempat dia tinggal selama sembilan tahun lamanya? Tempat yang penuh dengan kenangan Ibunya dan tempat di mana Alvan berjanji akan menjemputnya? TIDAK. Anastasia menolak keras.

Tapi tidak peduli sekeras apa pun dia menolak, keempat orang dewasa itu tetap memaksanya pergi dari sana, dengan alasan dia tidak punya siapa pun yang akan akan menjaganya. Akhirnya karena tak mampu memberontak, Anastasia pun ikut mereka ke Panti Asuhan itu, meninggalkan semua kenangannya di tempat ini.

“Ibu, aku akan kembali.” ujar Anastasia berjanji seraya memandang rumah mungilnya dari dalam kaca kereta kuda yang membawanya pergi.
 “Alvan, aku berharap kita akan bertemu lagi suatu hari nanti.” tambahnya perih.

End Of Flashback...

To be continued...



NOTE : WINNER OF WATTYS AWARDS 2016 for Category “Hidden Gems” alias “Permata Yang Tersembunyi” (Cerita Kurang Dikenal)

<<<< Update 2026: Cerita Lengkap bisa dibaca di blog Liana Land karena penulis TIDAK BEKERJA SAMA LAGI dengan PENERBIT DIANDRA! Jika Pihak Diandra masih menjual secara sepihak, sudah dipastikan mereka melakukan tindak pidana pencurian Hak Cipta! >>>>>>

~~~~~

* Promo Akhir Tahun 2016 E-Book Version Only IDR 11 Ribu by Penerbit Diandra:
Hai hai hai... Bagi yang suka dengan cerita Anastasia – Princess In Disguise, yang kantongnya bolong tapi pengen ngebaca kelanjutannya, ada promo besar nih di akhir tahun. Tapi hanya berlaku untuk E-Book ya. Dari yang awalnya seharga Rp 55.000 sekarang hanya jadi Rp 11.000 loh... Tunggu apalagi? Yuk buruan dibeli mumpung lagi ada promo nih.

 Harga Asli : IDR 55.000
 Harga Promo : IDR 11.000

Tinggal buka Google Play/Play Store lalu ketik nama “Liliana Tan” ==> Pilih “Judulnya” ==> Lalu klik “Beli” dan anda bisa memilih membayar dengan Debet/Kredit/potong pulsa.

Note : Promo HANYA BERLAKU sejak bulan November hingga Desember 2016 !!!

Terima kasih.