Selasa, 23 Desember 2014

Chapter 2 : Memories Left Behind II Rain And Teaser

Welcome To Taipei. Berhubung setting novel "Rain and Tears" ini settingnya di Taipei, Taiwan so pasti aku akan mengajak Anda berjalan-jalan mengelilingi Taipei melalui Novel ini. The first one is Sun Yat Sen Memorial Hall, Taipei - Taiwan. Hhmm...sebenarnya sih dalam Novel aslinya banyak bertaburan bahasa Mandarin juga, tapi dalam tester aku ganti bahasa Indonesia semua.


Tetes hujan berjatuhan dari ranting pohon di taman yang dilewati Rainy meskipun hujan sudah reda sedari tadi. Ingin menghilangkan kepenatan, Rainy memutuskan untuk pulang berjalan kaki dari kampusnya. Dalam perjalanan pulang, dia melewati sebuah taman kecil yang berlokasi tak jauh dari Sun Yat Sen Memorial Hall.

Sebuah taman yang indah, nyaman, bersih, dan aman. Gedung yang terletak di jantung kota Taipei ini dibangun untuk mengenang jasa Dr. Sun Yat Sen sebagai Bapak Proklamator Republik Of China. Sun Yat Sen Memoriall Hall dibangun pada tahun 1964, awalnya gedung ini berfungsi sebagai tempat untuk menampilkan peninggalan sejarah kehidupan Dr. Sun, tapi kemudian seiring berjalannya waktu gedung ini sering digunakan sebagai tempat untuk menyelenggarakan berbagai even besar seperti pameran tingkat nasional, juga acara movie award paling bergengsi di Taiwan, namun begitu, fungsi utama sebagai pusat konservasi sejarah tak pernah terabaikan.

Dikelilingi oleh taman yang asri lengkap dengan bench-bench yang terawat kebersihannya membuat tempat ini begitu mempesona tidak hanya sebagai tempat bersejarah tapi juga tempat rekreasi. 

Rainy berhenti sejenak dan mengamati anak-anak kecil yang berlarian riang di taman itu. Mereka terlihat begitu gembira. Mereka tertawa seraya berlarian kesana kemari, merepotkan orang tua mereka.

“Andai saja aku masih punya orang tua pasti akan lain ceritanya.” batin Rainy sedih sambil tersenyum pilu. Tapi dia berusaha tetap tersenyum. 

Rainy baru saja berniat pergi dari sana saat tiba-tiba suasana disekelilingnya berubah menjadi gelap, samar-samar terdengar suara rintik hujan, dan tak jauh di hadapannya, dia melihat seorang gadis kecil berlutut sambil menangis di hadapan dua sosok tubuh yang sudah tidak bernyawa.

Gadis kecil itu menangis pilu seraya memanggil-manggil kedua orang tuanya yang tergeletak bersimbah darah. Rainy membekap mulutnya saat melihat pemandangan mengerikan itu, airmata menetes pelan dari kedua matanya. 

Tak lama kemudian, gadis kecil itu berdiri dan berlari kearah yang lain, dia kembali berlutut di depan tubuh seorang anak laki-laki yang berlumuran darah seraya terus mengguncang-guncangkan tubuhnya dengan putus asa. Rainy memicingkan matanya, mencoba melihat lebih banyak lagi saat tiba-tiba seseorang menepuk lembut pundaknya dan membuyarkan lamunannya.

“Nak, kau tidak apa-apa? Wajahmu pucat sekali. Apa perlu kuantar ke dokter?” tanya seorang wanita tua yang baik hati. Rainy tersadar dan segera menggeleng pelan. 

“Tidak perlu. Aku baik-baik saja. Terima kasih.” ujar Rainy sopan lalu segera berlari pergi dari sana.

“Tak ada hujan. Langit sudah kembali cerah. Tak ada kecelakaan, juga tak ada gadis kecil yang menangis pilu menangisi keluarganya. Lalu apa yang kulihat tadi? Apa itu bagian dari kenanganku yang hilang?” batin Rainy sambil berjalan pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, Rainy segera menghampiri Ibunya dan meminta Ibunya untuk mengantarkannya ke Rumah Sakit sekarang juga.

“Apa kau sakit, sayang?” Seorang wanita berusia lima puluh tahunan, berambut hitam sebahu, bermata sipit dan memliki wajah khas asia, menatap Rainy dengan cemas sambil menarik tangannya duduk dan membelai rambutnya lembut.

Rainy menggeleng pelan. “Tidak apa-apa, Ibu. Aku hanya ingin bertemu dengan dokter itu. Dokter yang merawatku saat aku masih kecil dulu. Bisakah Ibu mengantarku sekarang? Aku mohon. Ada sesuatu yang ingin kutanyakan padanya.” Rainy memohon pada Ibu angkatnya.

“Kau tidak perlu lagi kembali ke tempat itu. Kau sudah sembuh, sayang.” ujar wanita setengah baya itu terlihat tak suka. 

“Kumohon, Ibu. Aku baik-baik saja. Kembali ke sana bukan berarti aku gila kan?”ujar Rainy kembali memohon.

“Kau tidak gila. Jangan pernah bilang kalau kau gila. Putri Ibu tidak gila.” seru wanita itu lalu menarik Rainy kedalam pelukannya dan memeluknya lembut. 

“Tapi aku berbeda. Mereka bilang aku bahkan tak mampu memandang cermin, aku tak mau bermain, aku tak mau bicara, yang kulakukan hanyalah duduk diam seraya memandang kosong kearah langit. Karena Ayah dan Ibulah aku bisa sembuh kembali. Jika Ibu sayang padaku dan ingin aku sembuh total, tolong antar aku kesana. Mimpi buruk itu selalu menghantuiku, Ibu. Aku hanya ingin tahu apakah yang kulihat itu hanya khayalanku atau benar-benar terjadi saat itu, karena aku tak ingat apapun.” ujar Rainy frustasi.

“Mereka mengatakan terjadi sesuatu yang mengerikan hari itu, tapi aku tak ingat apapun, bahkan hal yang paling kecil sekalipun. Mereka bilang aku mungkin mengalami shock, aku kehilangan sebagian ingatanku, sebagian kehidupan masa laluku pergi begitu saja. Tak ada yang kuingat tentang hari itu atau hari-hari sebelumnya.” Rainy terdiam sejenak, mencoba mengingat masa lalunya yang entah sekarang menghilang kemana. 

“Bagaikan melihat pantulan samar di air keruh kolam yang dalam, aku bisa melihat riak-riak air itu, tapi aku tidak tahu pasti apa yang terjadi hari itu, peristiwa itu ataupun orang-orang yang ada didalamnya. Mereka mengatakan suatu hari ingatanku akan pulih dengan sendirinya, tapi aku ingin bisa mengingat sekarang juga.” Rainy menatap Ibu angkatnya penuh harap, seraya menggenggam tangan wanita setengah baya itu, memohon padanya.

“Aku selalu melihat bayangan seorang anak laki-laki yang tergeletak bersimbah darah. Aku hanya ingin tahu dia nyata atau hanya khayalanku saja. Ibu, tolonglah aku.” Rainy terus memohon pada Ibu angkatnya. Akhirnya tak tega melihat putri kesayangannya terus memohon seperti itu, diapun menyetujuinya. 

“Baiklah. Tapi hanya sekali ini saja. Ibu benar-benar tak ingin melihatmu kembali ke sana.” ujar wanita setengah baya itu. Rainy tersenyum senang lalu spontan memeluknya hangat.

“Terima kasih. Aku sayang Ibu. Sayang sekali.” ucapnya tulus seraya memeluk ibunya manja, spontan membuat wanita itu meneteskan airmata haru. Terlihat jelas dia sangat menyayangi Rainy, walau tak ada hubungan darah diantara mereka, tapi dia menyayangi Rainy seperti putrinya sendiri, putri yang sudah lama pergi meninggalkannya.

“Ibu juga sayang padamu sayang. Sayang sekali.” ujarnya lembut sambil membalas pelukan Rainy.

=======

“Dokter, Anda bohong kan? Aku belum disembuhkan. Aku masih sakit. Seharusnya kalian tidak mengeluarkan aku dari sini.” ujar Rainy pahit saat menemui Dokter Ahli Jiwa yang dulu pernah merawatnya. 

“Luka di fisik, tak sama dengan luka di hati. Ini bukan masalah bisa disembuhkan atau tidak, tapi masalah kau bisa menghadapinya atau tidak. Kau bukan sakit, kau hanya trauma. Dan trauma yang kau alami bukanlah trauma biasa. Rasa sakit akibat kehilangan, seumur hidup tak akan mungkin bisa disembuhkan.” jawab Dokter itu dengan sabar.

“Kalau begitu kenapa kalian mengeluarkan aku? Kenapa kalian tidak terus merawatku? Kenapa tidak berusaha lebih keras menyembuhkan aku?” protes Rainy frustasi. 

“Saat pertama kali kau dibawa kemari, keadaanmu sangat parah. Kau tak mau bicara, kau tak mau makan, kau tak mau melakukan apa-apa. Kau hanya diam, kau menatap semua orang dengan pandangan kosong, seolah tak ada lagi tanda-tanda kehidupan dalam dirimu. Kau bahkan tak bisa mengenali dirimu sendiri. Tapi perlahan-lahan kau mulai memberikan reaksi terhadap sekitarmu. Walau kau tetap tak mau bicara, tapi kau mau melukis. Itu sudah merupakan kemajuan.” Dokter itu menjelaskan keadaan gadis itu saat pertama kali dia ditemukan dan dirawat di tempat ini.

“Saat kau mulai bicara, saat kau mulai berlarian seperti anak-anak pada umumnya. Saat itulah aku memutuskan bahwa kau sudah boleh dibawa pulang. Secara kedokteran kau sudah sembuh, tapi di dalam hatimu, hanya kau sendirilah yang tahu.” Dokter itu menjelaskan panjang lebar dengan sabar pada Rainy. Dan akhirnya Rainy menyadari bahwa semua ini bukan tergantung pada ilmu kedokteran atau pada siapapun melainkan tergantung pada dirinya sendiri.

To be continued...
 
Sebelumnya novel ini pernah diterbitkan oleh Nulisbuku.com namun kini aku memutuskan untuk mempostingnya ulang secara gratis. 

<<<< Cerita lengkap bisa dibaca di blogku yang lain yaitu: Liana Land! >>>>

Salam, 

Liliana Tan

Chapter 1 : I'm Not Miss Perfect! II Rain And Tears

So, here is the first one. Cuplikan pertama dari empat cuplikan (teaser) yang akan aku bagikan sebagai tester untuk kalian semua. Sebelumnya novel ini pernah diterbitkan oleh Nulisbuku.com dan Diandra Creative, namun kini aku memutuskan untuk mempostingnya ulang secara gratis di blogku yang lain. 



National Taiwan University...
Seorang gadis cantik bertubuh tinggi semampai dan berambut panjang, hitam dan lurus berdiri termenung memandang awan hitam yang ada di luar jendela, kearah langit yang perlahan-lahan menjadi gelap dan tak mampu lagi menahan tetes hujan yang perlahan turun membasahi bumi.

Pagi ini, hujan masih menghias kota dimana aku tinggal, Taipei. Banyak orang bilang hari hujan membuat sedih, seseorang di suatu tempat mungkin sedang menangis.” gumamnya lirih sambil terus menatap tetes-tetes air hujan yang menempel di kaca jendela ruangan itu. Sendiri. Gadis itu hanya berdiri seorang diri didepan jendela ruang seni di National Taiwan University tempat gadis itu belajar.

Taipei, ibukota Taiwan yang terletak di Taiwan bagian utara yang merupakan pusat pemerintahan dan ekonomi sejak dulu. Taipei adalah kota metropolitan yang bersifat international yang berpopulasi sekitar 2,6 juta penduduk, di mana disini juga terdapat gedung tertinggi kedua di dunia yaitu, Taipei 101 Tower.

Taipei seperti sebuah mangkok yang di kelilingi pegunungan, beriklim tropis dengan tingkat kelembaban yang tinggi. Musim panas di Taipei memang identik dengan hujan, hujan yang turun hampir setiap hari.

Gadis muda itu sedang asyik memandang tetes-tetes hujan itu saat tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka dan seorang pria muda muncul dan mengagetkannya.

“Hujannya deras sekali.” seorang pria muda bertubuh tinggi, berambut coklat sedikit panjang dan berwajah tampan setengah berlari masuk ke dalam ruangan dan dengan cepat menutup pintunya. Gadis muda itu terlonjak, tidak mengantisipasi kehadiran orang lain disana.

“Apa yang kau lakukan di ruang seni?” tanya gadis itu terkejut. Pria muda yang setengah basah kuyup itu terlonjak kaget saat mengetahui dia tidak sendiri.

“Ah...Maaf. Kupikir tak ada orang lain disini. Diluar hujan turun sangat deras, payungku ada didalam mobil dan mobilku kuparkirkan jauh dari sini, jadi terpaksa aku kembali kemari.” Jawabnya canggung, dia benar-benar tidak enak karena menerobos masuk tanpa permisi.

Kulihat hanya pintu ruang seni yang terbuka, kupikir mereka lupa menguncinya jadi aku ingin menumpang berteduh sejenak. Kau sendiri, apa yang kau lakukan disini?” tanya pria muda itu pada gadis muda di hadapannya.

Gadis itu hanya terdiam dan duduk di salah satu kursi yang kosong yang ada di tengah ruangan, dihadapannya terdapat sebuah kanvas melukis yang berukuran besar. Tanpa suara gadis itu segera mengambil sebuah kuas dan mulai melukiskan sesuatu disana.

“Aku menghabiskan hari-hariku disini sejak semester pertamaku di kampus ini.” jawabnya singkat sambil mulai melukis sesuatu. Pria muda itu perlahan mendekatinya sambil menatapnya penasaran dan setelah dia berdiri dibelakang gadis itu dan melihat lukisannya barulah dia berseru tertahan.

“Kurasa aku tahu siapa kau. Apa kau Rainy Yang Thien Yu? Si Gadis ‘Hujan’ yang populer itu? Kau gadis berbakat itu kan? Mahasiswa Fakultas Seni dan Ketua Klub Kesenian, benar tidak?” tebaknya saat melihat lukisan gadis itu.

Lukisan yang dipajang di kantin kampus kita, itu lukisanmu kan? Mereka bilang kau gadis yang sempurna. Tapi kurasa kau biasa saja.” lanjut pria muda itu dengan polosnya.

“Oh ya, Aku Yin Feng... Lu Yin Feng, Yin () yang berarti ‘Awan’ dan Feng () yang berarti ‘Angin’. Ketua Senat. Apa kau tidak mengenalku? Omong-omong, aku harus memanggilmu siapa? Rainy atau Thien Yu? Bukankah kau lebih populer dengan nama Rainy Yang?” tanyanya lagi. Dia terlihat seperti berusaha menarik perhatian gadis itu yang sedari tadi hanya terdiam.

“Hei, bukankah namamu berasal dari kata Langit dan Hujan? ‘Thien ()’ yang berarti Langit dan ‘Yu ()’ yang berarti Hujan.” lanjut pria muda itu memperkenalkan dirinya, tapi Rainy hanya diam saja.

“Terserah kau saja. Yang mana pun tak masalah. jawab Rainy dengan santai.
“Benar. Apalah artinya sebuah nama? Rainy atau Thien Yu, kau tetaplah kau. Gadis yang sempurna. Kaya, pintar, berbakat dan cantik. Gadis yang membuat iri semua orang. Bagaimana kalau kupanggil Rainy saja?” ujar Yin Feng memuji. Gadis itu hanya tersenyum kecil mendengar semua pujian yang ditujukan untuknya.

“Sempurna? Andai saja mereka tahu bahwa hidupku tidak sesempurna yang mereka kira.” jawabnya kecil dengan tersenyum pahit.

Tetes-tetes air di luar jendela terlihat mulai berkurang, tanda hujan sudah mulai reda. Gadis itu tersenyum singkat lalu segera membereskan barang-barangnya dan berlalu pergi. Tapi saat dia berdiri, secarik kertas terjatuh dari dalam tasnya. Yin Feng spontan memungutnya dan memandangnya dengan kagum.

“Apa ini milikmu? Indah sekali. Apa ini?” tanyanya, spontan menghentikan langkah gadis itu. Dengan perlahan Rainy menoleh dan tersenyum tipis.

“M-A-R-S. Mars. Huo Xing (Planet Merah) atau Zhan Shen (Dewa Perang)?” Yin Feng membaca keterangan di sketsa itu dan bertanya singkat.

Huo Xing. Planet Merah. Mars yang membara. Mars yang bersemangat. Mars yang selalu menimbulkan pertanyaan banyak orang tentang misteri kehidupan di dalamnya. Mars, sebuah misteri bagi dunia yang sampai sekarang masih belum ditemukan jawabannya.” jawab Rainy, menjelaskan apa yang dilukisnya.

“Benar. Kenapa sebelumnya aku tidak menyadarinya? Gunung-gunung ini, lembah-lembah dan sungai-sungai adalah bentuk permukaan Mars. Persis seperti foto yang bertebaran di dunia maya. Hanya saja kau melukisnya menjadi benar-benar hidup. Seolah-olah bila melihat lukisan ini, orang-orang akan merasa memang benar-benar ada kehidupan di Planet Mars. Sebuah kehidupan yang berbeda dari kehidupan kita di bumi. Tapi aku masih tak mengerti, kenapa kau memilih tema ini?” tanya Yin Feng  ingin tahu.

“Karena aku memang berharap ada sebuah kehidupan baru di Planet Mars yang berbeda dari kehidupan di bumi. Itulah alasannya.” jawab Rainy dengan pandangan mata menerawang, sorot mata penuh kesedihan jelas tergambar disana.

To be continued...

<<<< Cerita lengkap bisa dibaca di blogku yang lain yaitu: Liana Land! >>>>

Salam, 

Liliana Tan

Prolog : Is That You? II Rain And Tears

Another teaser from My First Novel "Rain and Tears" just like I promised before. Mungkin aku akan membagi sekitar 4 bab teaser saja, yang tentu saja aslinya dalam novel hanya Bab 1 tapi di sini aku bagi menjadi 4 bab karena di dalam novelnya, satu bab bisa terdiri dari 8-10 halaman. 


“Tanpa awan dan angin, takkan pernah ada hujan. Tapi jika awan, angin dan hujan bersama, bukankah akan timbul badai besar?”

Embun pagi yang dingin membasahi gaun hitamku. Aku tak tahu sejak kapan aku ada di sini. Aku tak tahu untuk apa aku ada di sini. Aku juga tak tahu kenapa aku bisa memakai pakaian ini. Hitam. Aku benci warna hitam. Bagiku, hitam identik dengan kematian. Dan sekarang aku sedang berdiri di tengah upacara kematian seseorang.

Bau tanah lembab area pekuburan menyengat hidungku. Aku benci bau tanah lembab area pekuburan itu. Dengan pandangan kosong, aku memandang lurus ke depan, kulihat sedikit demi sedikit orang-orang itu mulai menurunkan peti matinya ke dalam tanah, setelah Pendeta itu mengucapkan berbagai doa untuknya.

Lalu sebuah benda menarik perhatianku. Seorang wanita setengah baya yang berpakaian hitam itu menangis. Berkali-kali  kulihat dia mengusap airmatanya, lalu sebelah tangannya yang tidak sedang mengusap airmata itu memegang sebuah foto yang berukuran besar. Kutatap foto itu. Lama sekali. Lalu kemudian aku mulai mengenalinya. Pandanganku pun beralih pada peti mati itu. 

“Benarkah itu kau? Apakah kau yang berada dalam peti mati itu? Kenapa mereka menguburmu?” bisikku dalam hati, tiba-tiba aku merasa airmata mengalir pelan di pipiku.

Dengan masih berlinang airmata, aku menatap hujan yang turun dari langit dengan pandangan hampa. Awan hitam seolah enggan untuk pergi. Mereka masih setia menemaniku disini. Walaupun sejak tadi awan mulai menangis, tapi aku masih enggan beranjak dari tempat ini.

“Hujan punya seribu kisah tentang kita.
Hujan yang mempertemukan kita.
Hujan yang menumbuhkan cinta di hati kita.
Hujan pulalah yang memisahkan kita.
Hujan.. Mulai hari ini, hujan dalam hatiku selamanya takkan reda.” tambahku sedih saat melihat mereka mulai menutup peti matinya dengan tanah.

“Banyak orang bilang hari hujan membuat sedih, seseorang di suatu tempat mungkin sedang menangis. Dan akulah orang itu.”

Menghadapi kisah tragis ini membuatku hanyut tak berdaya. Kesunyian berteriak, kesendirian mulai terasa. Tiada hentinya menertawakan aku dan kenangan-kenangan itupun membara. Gambaran yang dulunya polos berubah jadi kejam. Tapi tiada orang akan berkata, sungguh aku menderita, saat di balik kesempurnaan terukir rasa kesepian.   

Memejamkan mata terbayang lagi kenangan waktu itu, langit yang samar-samar oleh kabut. Di bawah hembusan angin yang begitu dingin, menatap senyuman yang begitu samar.

Tiba-tiba aku merasa seluruh jiwaku juga ikut pergi bersamanya, bersama sang pria ‘angin’, berdua kami akan mengarungi angkasa yang luas tak terbatas.

To be continued...

Sebelumnya novel ini pernah diterbitkan oleh Nulisbuku.com dan Diandra Creative, namun kini aku memutuskan untuk mempostingnya ulang secara gratis. 

<<<< Cerita lengkap bisa dibaca di blogku yang lain yaitu: Liana Land! >>>>

Salam,

Liliana Tan.

Senin, 22 Desember 2014

Rain And Tears Novel : Sinopsis

"Rain And Tears" is My First Novel and I love this novel just like my baby *eventhough I still dont have any baby* Aku akan membagi beberapa teaser dari novel ini agar reader semua bisa mendapatkan gambaran seperti apa kisah yang ada dalam novel ini. Karena versi novel cetaknya sudah tidak tersedia lagi di pasaran mengingat versi novel cetaknya hanya tersisa satu examplar (itupun proofreading punyaku sendiri), maka bagi yang penasaran dengan cerita ini, kalian bisa membacanya secara lengkap di blogku yang lain.


“Tanpa awan dan angin, takkan pernah ada hujan. Tapi jika awan, angin dan hujan bersama, bukankah akan timbul badai besar?”

Sebuah kisah tentang tragedi, cinta, pengkhianatan, kesalahpahaman dan sebuah rahasia besar masa silam.

“Hujan punya seribu kisah tentang kita.
Hujan yang mempertemukan kita.
Hujan yang menumbuhkan cinta di hati kita.
Namun hujan pulalah  yang memisahkan kita.
Hujan... Mulai hari ini, hujan dalam hatiku selamanya takkan reda.”

Saat dibalik kesempurnaan terukir rasa kesepian. Tak ada seorangpun yang menyangka, Rainy Yang Thien Yu (天雨) seorang gadis yang tampak sempurna di mata semua orang, putri tunggal dari pemilik jaringan hotel terbesar di Taiwan ternyata memiliki masa lalu yang gelap, segelap awan mendung di angkasa. 

Tapi sejak pertemuannya dengan Feng (), sang pria ‘Angin’, dia merasa pria itu sudah meniup pergi semua awan gelap dalam hatinya. Namun saat kebahagiaan mulai menghampiri, dia harus menerima kenyataan pahit saat dinding hitam masa silam merintangi cinta mereka. Sebuah rahasia besar terkuak, apakah angin dan hujan dapat bersama mengatasi badai yang menghantam mereka saat ini?

~~~~~

Sebelumnya novel ini pernah diterbitkan oleh Nulisbuku.com dan Diandra Creative, namun kini aku memutuskan untuk mempostingnya ulang secara gratis. 

<<<< Cerita lengkap bisa dibaca di blogku yang lain yaitu: Liana Land! >>>>

Salam,

Liliana Tan

PENJIPLAKAN JUDUL NASKAH oleh #ShintaLestari41, bentuk Kekecewaan lain Terhadap #Gramedia_Writing_Project BATCH 2 Bulan Desember 2014

Gramedia Writing Project adalah sebuah kompetisi terbuka untuk mencari 10 penulis berbakat untuk akhirnya dipilih agar bisa dibimbing secara langsung oleh Para Penulis Utama Gramedia dimana pemilihan naskah tersebut dipilih secara langsung oleh Editor diantara banyaknya naskah yang masuk. Sekilas terlihat sangat menjanjikan, banyak sekali keuntungan yang didapat dari mengikuti kompetisi terbuka seperti ini, seperti misalnya : dapat saling mengenal sesama penulis dan bertukar pandangan tentang hobi yang sama, selain itu juga dapat melihat bagaimana reaksi pasar terhadap karya kita dan seberapa banyak nama kita dikenal.

Tapi itu semua ternyata hanya terjadi di awal-awal kompetisi saja. Perlu diketahui jika kompetisi ini berlangsung sejak tanggal 20 November hingga 20 Desember 2014, walau pendaftarannya sudah dibuka sejak tanggal 20 Oktober 2014. Tapi ternyata persaingan sehat, HANYA TERJADI DI BULAN OKTOBER dan NOVEMBER Saja. 

Setelah masuknya bulan Desember dan banyak penulis baru yang berdatangan, situasi kompetisi di Gramedia Writing Project berubah menjadi ajang persaingan KOTOR untuk menjadi yang terbaik aka Penulis nomor 1, point yang bertambah secara ajaib HANYA DALAM 1 MALAM saja, itu adalah salah satu contohnya. Tapi yang paling membuat sakit hati adalah saat mengetahui bahwa ada satu peserta yang memakai username : ShintaLestari41 ternyata memakai judul naskah yang SAMA PERSIS dengan saya. Well, saya rasa saya tidak bisa diam lagi kan? Bagaimana jika Anda ada di posisi saya?


“PENJIPLAKAN JUDUL NASKAH oleh #ShintaLestari41, bentuk Kekecewaan lain Terhadap #Gramedia_Writing_Project BATCH 2 Bulan Desember 2014”





Gramedia Writing Project Batch 2 yang diselenggarakan sejak tanggal 20 November dan berakhir tanggal 20 Desember 2014 ini meninggalkan BANYAK SEKALI LUKA dalam HATI saya. Bagaimana tidak? Setelah saya dikalahkan dengan cara curang oleh salah satu peserta yang dengan ajaib bisa menambah jumlah pointnya HANYA DALAM 1 MALAM saja (Well, saya punya buktinya dan akan saya beberkan di postingan berikutnya... Karena menuduh tanpa bukti adalah Fitnah, benarkan? Tapi saya punya BUKTI kok, tenang aja hehehe ^.^ ) Sekarang giliran seorang peserta baru yang baru saja memposting karyanya yang PERTAMA tanggal 21 Desember 2014 kemarin dengan judul naskah yang SAMA PERSIS dengan naskah saya yaitu  “THE TWINS PRINCESS”.


Liliana Tan "THE TWINS PRINCESS" upload tanggal 5 November 2014...

 ShintaLestari41 "THE TWINS PRINCESS" upload tanggal 21 Desember 2014... Orang bodoh pun bisa lihat siapa yang PENJIPLAK !!!!


Hhhhmmm.... Saya update naskah itu tanggal 5 November loh, berarti saya donk yang pertama. Apalagi saya adalah penulis nomor 2 di Bulan Desember dan Penulis Nomor 1 di bulan November, itu berarti gampang donk anda melihat profil saya dan melihat semua naskah saya. Jadi salahkah saya jika saya berkata, “SHINTA LESTARI MENJIPLAK JUDUL NASKAH SAYA” ?? Ini buktinya....


Liliana Tan "THE TWINS PRINCESS" Part 2 upload tanggal 2 Desember 2014...

 Liliana Tan "THE TWINS PRINCESS" Part 5 - 7 upload tanggal 19 Desember 2014...


Sang pelaku tentu bisa berdalih dengan kalimat “HANYA KEBETULAN”, tapi coba pikir deh, mana ada kebetulan yang begitu kebetulan? Sebagai seorang Penulis, masak sih gak bisa bikin judul lain? Saya yakin Anda tidak akan sebodoh itu sampai gak bisa mencari judul yang lain dan menggunakan JUDUL YANG SAMA PERSIS dengan karya LILIANA TAN...

Saya bahkan sudah meninggalkan komentar ketidakpuasan saya di ceritanya di GWP2 tapi masih belum mendapat tanggapan. Seorang peserta lain bahkan juga sudah meninggalkan komentar yang intinya serupa dengan saya “KENAPA HARUS MEMAKAI JUDUL YANG SAMA PERSIS DENGAN LILIANA TAN?” Tapi juga belum mendapat tanggapan. 
Ini Screenshotnya :




So, what do you think readers? Pantas tidak jika saya marah? Saya merasa GWP2 SUDAH MERAMPAS HAK INTELEKTUAL Saya sebagai seorang Penulis dengan membiarkan seorang PENJIPLAK BERKELIARAN SEPERTI INI !!! Walau mungkin hanya judulnya saja, tapi ini jelas melanggar UU Hak Cipta. Tidak bisakah SI SHINTA LESTARI itu menggunakan judul lain yang mencerminkan ciri khas dia sendiri? Dari segi ceritanya pun hampir mirip tentang seorang gadis yang memiliki wajah yang mirip dengan seorang Putri dan menyamar menjadi Putri Yang Hilang itu. Tema “PUTRI YANG HILANG dan PUTRI YANG MENYAMAR” pun hampir mirip.

TOLONGLAH HARGAILAH SESAMA PENULIS, bisa kan? Bagaimana jika seandainya karya anda yang dijiplak? Relakah Anda? Jika hal sederhana seperti JUDUL saja HARUS MENJIPLAK, apalagi ceritanya? TIDAK MALUKAH ANDA? Kecuali kalau urat malu anda udah putus sih,, gak tahu lagi saya...

Yang Pasti, GRAMEDIA WRITING PROJECT BATCH 2 BENAR-BENAR MENGECEWAKAN !!! Karena adminnya terlihat masa bodoh dalam menangani keluhan para peserta. Terima kasih atas pengalamannya yang menyakitkan ini. Tahun depan saya tak sudi ikut kompetisi KOTOR seperti ini.

Salam,

Dari Peserta yang merasa Hak Intelektualnya dirampas.
 

Minggu, 21 Desember 2014

(Novel) Rain And Tears New Cover

Hhhmmm...Well, percaya gak percaya, Nulis Buku telah membuatku selangkah lebih pintar. Kenapa? Karena aku yang dulunya tidak bisa babar blas yang namanya Photoshop ato Corel Draw mendadak jadi ngebet pingin belajar biar bisa bikin cover sendiri, ya karena self publishing memang gak menyediakan jasa pembuatan cover gratis. Tapi gpplah, itung-itung menambah ilmu baru.

Dan akhirnya setelah 2 hari belajar sendiri secara otodidak, tanpa ada yang mengajari dan hanya membaca panduan membuat cover novel dari Internet, akhirnya aku bisa membuat Cover pertamaku. Dari aku, oleh aku, dan untuk aku ^_^ Puas rasanya bila bisa melakukan sesuatu keinginan hati.

Dan jadilah, Tada...Cover Novel pertama buatanku untuk Novel Perdanaku “Rain And Tears”. Seumur-umur aku gak pernah bisa yang namanya Photoshop ato Corel Draw, tapi sekarang aku bisa. Seneng banget! Nulis Buku benar-benar telah memberikan pelajaran berharga bagiku . Thank you Nulis Buku. 

NB : Novel ini sudah pindah rumah ke Diandra Creative karena Nulis Buku terlalu lambat dan bertele-tele dalam pembayaran Royalti T__T Tapi ternyata Diandra Creative pun sama, jadi sejak itu aku kapok sama yang namanya Self Publishing!


First Cover made by : Liliana Tan

So, what do you think Readers? Bagus gak cover buatanku ini? Kayaknya masih jelek ya? Tar deh belajar lagi ^_^

Sabtu, 20 Desember 2014

(Novel) I Cook The Haters For You Sinopsis : Mengungkap Misteri Pembunuhan Berantai di Sebuah Kampus Terkenal di Seoul.

Sebelumnya, TERIMA KASIH yang sebesar-besarnya kepada @NulisBuku @_PlotPoint dan @BulanNarasi yang telah memberikanku kesempatan untuk berkompetisi dan yang telah mengabulkan impianku untuk menerbitkan Novel sendiri. Berawal dari “Rain and Tears” yang adalah Novel perdana saya yang bertema Hujan, di mana novel ini lahir dari sebuah kompetisi Nasional #BulanNarasi yang diselenggarakan oleh @NulisBuku @_PlotPoint dan @BulanNarasi yang melibatkan 813 peserta dari seluruh Tanah Air. Bangga rasanya menjadi bagian dari kompetisi itu dan bersaing  dengan 813 peserta dari seluruh Indonesia. Penulis Pemberani, itulah julukan yang diberikan pada kami, para peserta #BulanNarasi.


Dari hasil kompetisi itu, lahirlah Novel tersebut. Dan khususnya, terima kasih karena memberikan kesempatan agar Novelki bisa diterbitkan. Bahagia rasanya saat Novel tersebut tiba di tanganku dan aku bisa memeluknya serta memamerkannya pada semua orang.

Dan bagiku, “Rain And Tears” bukanlah  akhir dari mimpiku melainkan awal dari segalanya. Karena “Rain And Tears“ membuatku ingin terus berjalan maju dan menciptakan novel-novel berikutnya, hingga lahirlah Novel Kedua yang bergenre thriller “I COOK THE HATERS FOR YOU.”


Jauh berbeda dari karya perdana yang bergenre Sad Romance, novel kedua ini bergenre Thriller dengan serangkaian pembunuhan yang terjadi di sebuah kampus terbaik di Korea Selatan. Bagiku, seorang Penulis harus bisa menulis berbagai macam genre, itu sebabnya aku sengaja membuat genre yang bisa dibilang masih baru bagiku, dengan harapan pembaca bisa menikmatinya.



“Pembencimu adalah fans yang kehilangan cara untuk mencuri perhatianmu, sehingga mereka anarkis dan mencari kesalahanmu." – Dwitasaridwita.


Bagaikan mimpi rasanya bisa menerbitkan sebuah buku yang bertuliskan nama kita di sampulnya, apalagi saat buku itu sudah dicetak dan ada dalam genggaman kita. Rasanya bagaikan memenangkan Medali Emas Olimpide. SO GREAT !! Lebih hebat lagi saat mengetahui bahwa buku yang sudah aku tulis dengan susah payah akhirnya Go Public dan bisa di beli secara online Hehehe =)

Pernah dijual dan dicetak di "NulisBuku.com" sebelum kemudian ditarik dari peredaran karena ketidakcocokan prinsip mengenai masalah royalti.

Sama seperti novel perdanaku “Rain and Tears, Memories Of The Rain”, aku juga akan mempromosikan secara singkat tentang novel keduaku yang bergenre Psyco Thriller di blogku ini.


Sinopsis:
Seorang gadis ditemukan tewas bersimbah darah terjatuh dari atap gedung Fakultas tempat dia belajar. Apakah kematiannya murni bunuh diri atau seseorang telah dengan tega mendorongnya? Sejak peristiwa itu tak ada seorangpun yang bisa hidup dengan tenang.

Pembunuhan demi pembunuhan terjadi. Dan anehnya semua korban pembunuhan itu adalah wanita, dengan setangkai bunga Lily tergenggam di tangannya.

“I know what you did and I will make you pay! You are next! Just beware!"

Tulisan itu  ditulis dengan darah segar yang masih menetes, basah membasahi  kelopak putih bunga Lily. Benar. Surat ancaman itu tiba beserta dengan setangkai Bunga Lily putih dan foto seorang gadis muda yang tewas terjatuh dari atap. Dalam sekejap, bunga Lily putih berubah menjadi bunga yang melambangkan kematian. Siapa pun penerimanya, dialah yang akan menjadi korban berikutnya.


Siapakah pelakunya dan apa motifnya? Benarkah arwah gadis yang mati itu kembali dan menuntut balas? Dan apa hubungan setangkai bunga Lily dan foto gadis yang sudah mati itu dengan semua korban yang berjatuhan saat ini?

Penasaran? Berikut ini adalah link untuk Ringkasan cerita dan informasi soal novel ini : 

Dan ini adalah link untuk tata cara pembelian secara online Novel ini : 

Akhir kata, tak ada gading yang tak retak.. Tak ada sesuatu pun di dunia ini yang sempurna, apabila dalam Novel ini terdapat banyak kekurangan, penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya. Maklum, ini pertama kalinya aku menulis novel Psyco Thriller dan  sudah sewajarnya bila terdapat adanya kesalahan mungkin baik dalam pengetikan, karakter, setting, ataupun pengenalan karakter tokoh-tokohnya. Aku akan berusaha memperbaiki hal tersebut dalam Novel ketiga saya.

Salam,
 
Liliana Tan