Rabu, 24 Desember 2014

Prolog : Message From Heaven II Lucifer (Teaser)

Hello Michael... First teaser starting with the scene between Lucifer and Archangel Michael. Dimulai dari adegan pertemuan dua musuh bebuyutan : Lucifer dan Michael, kisah ini dimulai...Apa gerangan yang membuat Archangel Michael, The Prince of Seraphim, The Leader of The Army of God sampai repot-repot turun ke bumi menemui Lucifer? Pesan penting apakah itu sampai Michael sendiri yang harus menyampaikannya? Hhhmm...sesuatu yang tidak biasa, kan?


Here some teaser for you, readers. Tapi seperti halnya teaser, aku tidak akan berbagi banyak. Dikit aja biar penasaran hehehe,,jika ingin membaca kelanjutannya, kalian bisa membeli E-book "Return Of The Living Dead" di Google Play Book. See ya ^.^



Seorang pria muda berwajah tampan, dengan bola mata berwarna biru terang dan rambutnya yang hitam pekat, berhidung mancung dan mengenakan jubah hitam yang membuat kulitnya yang seputih salju terlihat sangat kontras, sedang berdiri mematung dibalkon kamarnya seraya memandang bulan yang bersinar sangat terang malam itu. Dia terdiam, termenung, mengingat pertemuannya dengan seorang ‘kawan lama’ yang entah sudah berapa lama tidak ditemuinya.

Mungkin sejak dia dilempar dari Surga ke bumi, mereka tak pernah bertemu lagi. Tapi setahun yang lalu, tiba-tiba saja ‘kawan lama’ itu turun menemuinya. Menyampaikan sebuah pesan yang sama sekali tidak dimengertinya hingga saat ini.

“Hallo, Lucifer.” Kenang pria muda itu, Lucifer Sang Malaikat Yang Terbuang saat tiba-tiba saja seorang kawan lama menghalangi jalannya dan memaksanya memberi kesempatan untuk bicara. 

“Hallo, Michael. Apa yang membuat The Prince Of Seraphim, The Leader of Army Of God tiba-tiba saja turun ke bumi dan menemuiku? Apa terjadi sesuatu di Surga? Atau jangan-jangan hari Penghakiman telah tiba? Jangan bilang kau datang kemari untuk bertarung denganku sekali lagi?” sindir Lucifer tajam, tampak tak suka dengan kedatangan kawan lamanya, Michael the Archangel. Apalagi mengingat dulu Michael-lah yang telah mengalahkan Lucifer dan melemparnya dari Surga ke Bumi. Sejak itu Lucifer bersumpah bahwa dia akan memerangi langit yang telah membuangnya.

“Aku sudah bersumpah akan memerangi langit yang sudah membuangku, jadi apa tujuanmu datang kemari? Kau ingin bertarung sekali lagi?” sergah Lucifer saat Michael tak kunjung menjawab. 

“Aku datang kemari untuk menyampaikan pesan dari Yang Maha Kuasa.” Jawab Michael akhirnya, dengan nada yang sangat datar.

Michael sangat tampan, sama seperti Lucifer, Michael pun memiliki ketampanan Malaikat Surga. Sayapnya begitu lebar dan berwarna putih terang menyilaukan, dengan hidung yang mancung, dan bola mata berwarna biru langit serta rambut ikal berwarna kuning emas, membuatnya terlihat semakin bercahaya dan menyilaukan, sebagai panglima perang tentara Surgawi, pedang Malaikat selalu tergenggam di tangan kanannya. 

Lucifer menjadi penasaran. “Pesan? Bukankah itu seharusnya menjadi tugas Gabriel sebagai Pembawa Pesan Tuhan? Jika aku tidak salah ingat, Gabriel dikenal sebagai The Messenger Of God, bukankah seharusnya dia yang datang kemari menyampaikan pesan apapun itu?” ujar Lucifer semakin penasaran.

Pesan penting apakah itu hingga harus Michael sendiri, yang merupakan tangan kanan Tuhan yang harus menyampaikannya? Lagipula andaikan boleh memilih, Lucifer lebih suka bertemu dan bicara dengan Gabriel daripada Michael. 

“Sepertinya kau tidak suka bertemu denganku Lucifer?” sindir Michael, merasa kalimat Lucifer selalu terdengar tajam.

“Aku Iblis dan kau Malaikat. Kurasa jawabannya kau sudah tahu dengan jelas.” Jawab Lucifer singkat, tak ingin berlama-lama bertemu dengan Michael. 

“Baiklah. Aku langsung saja.” Ujar Michael mengerti.

“Ada seorang gadis. Dia sangat istimewa. Dia memiliki kekuatan hebat yang tersembunyi dalam dirinya, konon aku dengar dia bisa melakukan sesuatu yang tidak bisa kau bayangkan. Dia ada dibumi dan dia sangat mempesona. Ahh tidak.. tidak lagi. Hades telah menangkapnya. Hades telah mengurungnya di neraka, memaksanya menjadi Ratu Dunia Bawah..” Michael terdiam sejenak untuk melihat reaksi Lucifer yang tampak bosan mendengar penjelasannya.

“LUCIFER, PAY ATTENTION!” sentak Michael kesal. Lucifer pun berbalik kesal. 

“Kau pikir siapa dirimu, Michael? Kau datang ke wilayahku dan sekarang berani memerintahku? Kalau aku mau, kau takkan bisa keluar hidup-hidup dari sini!” Lucifer mengancam.

“Kau takkan menang melawanku, kawan. Kau sudah pernah mencobanya kan?” ujar Michael singkat, pelan dan dalam dengan penuh rasa percaya diri dalam suaranya. 

“FINE! Lalu apa hubungannya gadis itu denganku? Aku tak mengenalnya. Aku tak peduli siapa dia. Kenapa aku harus peduli pada seorang gadis manusia?” Jawab Lucifer tak tertarik.

“Seperti yang kubilang, gadis itu istimewa. Sangat istimewa. Dia sangat penting bagi kita. Jika tidak, Yang Maha Kuasa tidak akan mengutusku kemari secara pribadi untuk menyampaikan ini padamu.” Jawab Michael tegas seraya menatap Lucifer tajam. 

“Masuk akal. Siapa gadis itu hingga Michael sendiri yang diutus untuk menyampaikannya padaku?” batin Lucifer mulai menaruh perhatian pada penjelasan Michael.

“Liliana La Faye.” Ujar Michael tiba-tiba.

“Pardon me?” Lucifer tak mengerti kenapa tiba-tiba Michael mengucapkan kalimat itu. 

“Nama gadis itu Liliana La Faye. Kau harus turun ke Neraka dan menyelamatkannya, membebaskannya dari jeratan Hades.” Michael kembali menerangkan karena jelas sekali Lucifer tak mengerti maksudnya.

“Dan kenapa harus aku? Sejak kapan kau bisa memerintahku? Memang kau pikir siapa dirimu? Tuhan saja berani aku lawan apalagi hanya seorang Archangel.” Lucifer berkata dengan nada sombong. Well, sejarah mengatakan Lucifer dilempar dari Surga memang karena sombong kan? 

“Because, Lucifer, she is your soulmate.” Kata Michael dengan mantap dan tanpa keraguan.
“WHAT!” ucapan Michael sukses membuat Lucifer tercekat.

To be continued...
 

Return Of The Living Dead (aka The Last Sacrifice): Sinopsis

After "Rain and Tears" and "I Cook The Haters For You", now please welcome my Third Novel "Return Of The Living Dead" atau yang lebih dikenal di #GWP2 sebagai "The Last Sacrifice". Untuk teaser selanjutnya, karena judulnya yang terlalu panjang maka penulis akan menyingkatnya menjadi "Lucifer" aja hehehe =)


Sama seperti kedua novel yang lain, aku juga akan membagi 4 chapter teasernya plus bonus cuplikan the Last Chapter hehehe =) Jika anda penasaran dan ingin tahu kelanjutannya, kalian bisa membelinya di Google Playbook dengan judul "Return Of The Living Dead". Terima kasih sudah berkunjung =)

New Cover 2026

Sinopsis:
Sebelas tahun yang lalu, api di tiang pembakaran telah membakar Julia yang tak bersalah. Demi untuk menghidupkan kembali adiknya dari kematian, Lily rela menjual jiwanya pada Dewa Kematian, Hades. Apakah semuanya selesai sampai disini? TIDAK! Now its Julia’s turn to make the last sacrifice for her sister’s sake...

“BRING BACK MY SISTER FROM DEATH!” 

Sekali lagi mantera itu diucapkan. Tapi kali ini Julia memohon pada LUCIFER, Sang Malaikat Yang Terbuang. Mampukah Lucifer membebaskan Lily dari jerat Sang Dewa Kematian, Hades? Lalu adakah harga yang harus dibayar oleh Julia atas apa yang sudah dilakukannya ini? Tak ada sesuatu yang gratis di dunia ini. Apalagi untuk pertukaran sebuah nyawa.

========


NB : Novel ini juga saya ikutsertakan dalam #Gramedia_Writing_Project Batch 2 dengan judul “The Last Sacrifice”. Berikut ini linknya : The Last Sacrifice GWP2

Dan telah diposting ulang beberapa bab di blog Liana Land. Tapi hanya beberapa bab aja karena versi E-booknya sudah bisa dibeli di Google Playbook.

Selasa, 23 Desember 2014

(Novel) Return Of The Living Dead, Kisah tentang Lucifer – Sang Malaikat Yang Terbuang yang mengundang kontroversi

Pertama kali novel ini dirilis pada tahun 2014, penulis memilih mempercayakan novel ini kepada @NulisBuku namun karena tidak ada kesesuaian prinsip tentang masalah royalti dan hak cipta dengan pihak penerbit, akupun memindahkannya ke Penerbit Diandra, tapi lagi-lagi aku dikecewakan (sekarang aku uda kapok sama yang namanya Self Publisher) jadi setelah itu aku memutuskan untuk menjual sendiri novelku melalui Google Playbook.

New Cover 2026

Ini adalah penampakan Novel ketigaku yang bergenre Fantasy Thriller berjudul “Return Of The Living Dead” atau yang di #GWP2 aka Grameda Writing Project Batch 2 lebih dikenal dengan nama “The Last Sacrifice” saat masih dalam versi cetak. 


Sesuai dengan judul artikel ini, Novel ketigaku “Return Of The Living Dead” memang mengundang sedikit kontroversi bahkan sebelum Novel ini diterbitkan. Tema yang tidak biasa tentang Lucifer, Sang Malaikat Yang Terbuang aka The Fallen Angel, atau lebih dikenal dengan Raja Iblis Lucifer memang banyak mengundang pro dan kontra diantara para pembaca. 


Ada yang bilang terlalu ngeri. Ada yang bilang satanismenya masih terlalu kental. Ada yang bilang biasa aja, namanya juga novel, jangan terlalu dipikirin. Ada yang bilang bagus, ada yang bilang takut, macem-macem deh pokoknya. Tapi walau agak mengundang konfrontasi, kenyataannya yang PO novel ini justru jauh lebih banyak daripada kedua Novel lainnya *penulis jadi Heran*

Dan saat aku ikutkan #Gramedia_Writing_Project Batch 2 sebagai ajang uji coba pasar, Novel yang lebih dikenal disana dengan judul “The Last Sacrifice” ini duduk dengan tenang selama 2 bulan di posisi nomor 3 Cerita Paling Terpopuler disana.

Gak percaya? Nih screenshotnya :


Cerita Terpopuler Bulan November #GWP2 : The Last Sacrifice On Top 3


Cerita Terpopuler Bulan Desember #GWP2 : The Last Sacrifice On Top 3

See? Aneh tapi nyata, they love my Lucifer walaupun tidak sedikit yang kontra *sigh* Pro dan kontra memang selalu ada dalam segala hal, kan? Kita tidak bisa memuaskan semua orang. Yang penting sebagai seorang Penulis, aku sudah mencoba keluar dari zona nyamanku dengan menulis 3 genre Novel yang berbeda : Romance with “Rain and Tears”, Psycho Thriller dengan “I Cook The Haters For You” dan Fantasy Thriller with “Return Of The Living Dead”.

So, here is My Third Novel...Please Welcome "RETURN OF THE LIVING DEAD".


Sinopsis:
Sebelas tahun yang lalu, api di tiang pembakaran telah membakar Julia yang tak bersalah. Demi untuk menghidupkan kembali adiknya dari kematian, Lily rela menjual jiwanya pada Dewa Kematian, Hades. Apakah semuanya selesai sampai disini? TIDAK! Now its Julia’s turn to make the last sacrifice for her sister’s sake...

“BRING BACK MY SISTER FROM DEATH!” 

Sekali lagi mantera itu diucapkan. Tapi kali ini Julia memohon pada LUCIFER, Sang Malaikat Yang Terbuang. Mampukah Lucifer membebaskan Lily dari jerat Sang Dewa Kematian, Hades? Lalu adakah harga yang harus dibayar oleh Julia atas apa yang sudah dilakukannya ini? Tak ada sesuatu yang gratis di dunia ini. Apalagi untuk pertukaran sebuah nyawa.

========

Jika kalian tertarik dengan kelanjutan kisah Lucifer dan Lily, kalian bisa melakukan pembelian secara online di Google Playbook dengan link di bawah ini: "Return Of The Living Dead".

Akhir kata, tak ada gading yang tak retak, tak ada sesuatupun di dunia ini yang sempurna. Jika dalam novel ini terdapat kesalahan-kesalahan tertentu, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Salam, 

Liliana Tan

Chapter 4 : The New Girl II I Cook The Haters For You

The Last Teaser from "I Cook The Haters For You". Kalau kalian penasaran dengan kelanjutan novel ini dan ingin tahu siapa dalang dibalik semua pembunuhan gadis-gadis muda itu, karena versi novel cetaknya sudah tidak tersedia lagi di pasaran mengingat versi novel cetaknya hanya tersisa satu examplar (itupun proofreading punyaku sendiri), maka bagi yang penasaran dengan cerita ini, kalian bisa meninggalkan komentar di bawah ini atau menghubungi kontak IG-ku di laman "Tentang Penulis" agar kita bisa membahas lebih lanjut tentang bagaimana cara membeli novel ini. 

Tapi kalau kalian pengennya cuma gratisan, ya gak apa-apa juga sih, di masa depan jika ada waktu, aku akan menulis ulang di blog ini. Tapi entah kapan karena draft ceritaku yang lain masih banyak. Untuk sementara, hanya ada empat bab teaser yang memang sejak awal sudah ada di blog ini sebagai bagian dari promosi.



1 TAHUN KEMUDIAN…
Setahun berlalu sejak peristiwa mengerikan itu. Seorang gadis ditemukan tewas bersimbah darah terjatuh dari atap gedung Fakultas tempat dia belajar. Berita menyebar dengan cepat. Seluruh Korea Selatan menjadi gempar. Semua orang ketakutan.

“Mereka mengatakan bahwa seseorang yang tewas dengan tidak wajar, arwahnya pasti penasaran dan bergentayangan di tempat dia ditemukan..” ujar seorang mahasiswi dengan ngeri setiap kali berjalan melewati lokasi kejadian tempat gadis itu terjatuh dengan tragis.

“Hei, Kim Rae Na, bisa tidak kau tidak membahas gadis yang terjatuh itu?” omel temannya dengan nada ngeri sambil memandang waspada ke sekelilingnya.

“Tapi itu benar kan? Kau tahu tidak, aku selalu merasakan hawa dingin yang tidak enak setiap kali berjalan melewati tempat ini, karena akulah orang pertama yang menemukannya terjatuh malam itu.” jawab gadis yang dipanggil Rae Na itu dengan  ekspresi ngeri.

“Kau benar. Kalau boleh jujur sebenarnya aku juga merasa sedikit ngeri setiap kali aku lewat tempat ini.” jawab temannya sambil melirik ngeri lokasi kejadian perkara.

“Aku jadi berpikir, orang yang membunuhnya, tidakkah dia merasa ketakutan atau apa?” jawab Rae Na dengan rasa ingin tahu.

“Orang yang membunuhnya? Apa maksudmu Rae Na? Bukankah pihak Rektorat mengatakan kalau itu hanya bunuh diri? Gadis itu, Ketua Klub Kesenian, Lily Kim, sengaja melompat dari atap karena depresi?” tanya Shin Gin Rae mengingatkan kembali atas keputusan polisi yang memasukkan kasus ini sebagai kasus bunuh diri biasa.

“Bunuh diri? Yang benar saja! Untuk apa Lily bunuh diri? Dia pintar, dia satu-satunya mahasiswa yang selalu mendapatkan IPK paling tinggi  sejak dia masuk dikampus ini, dia Ketua Klub Kesenian, dia cantik dan gosipnya dia adalah anak orang kaya, dia tak punya alasan untuk bunuh diri dengan cara tragis seperti ini. Kau bercanda! Kurasa ini pembunuhan! Ada orang yang iri padanya.” jawab temannya itu, Kim Rae Na dengan nada seperti wartawan surat kabar populer.

“Hhuusshhh...Hati-hati! Jika memang  ini pembunuhan maka kemungkinan pembunuhnya ada di kampus ini kan? Jangan bicara keras-keras, bagaimana jika pembunuh itu mendengar kita?” ujar Gin Rae mengingatkan temannya.

“Kenapa harus takut? Jika si pembunuh itu berani membunuhku, maka aku akan menghantuinya seumur hidup.”  tantang Rae Na dengan berani.

“Kata-katamu sangat menakutkan tapi kurasa kau memang benar, pembunuhnya lah yang seharusnya takut.” ujar Gin Rae sambil melirik lokasi jatuhnya Lily setahun yang lalu.

“Jika aku jadi gadis yang mati itu, aku pasti akan menghantui mereka seumur hidup. Kita tak perlu takut pada Lily, karena bukan kita yang menyebabkan kematiannya. Sebaliknya, orang yang seharusnya takut adalah mereka yang telah  menyebabkan kematiannya.” lanjut Rae Na dengan senyum misterius.

“Apa kau tahu sesuatu yang tidak aku tahu?” tanya Gin Rae sambil  memandang  Rae Na  dengan heran.

“Bagaimana menurutmu?” jawabnya berteka-teki lalu segera berlalu pergi meninggalkan tempat itu setelah sebelumnya sempat melirik sekilas ke tempat Lily terjatuh.

Tak jauh dari mereka, seorang gadis mengamati dengan ekspresi yang tak terbaca. Dia masih teringat dengan jelas kalimat yang diucapkan kedua gadis itu barusan.

“Jika aku jadi gadis yang mati itu, aku pasti  akan menghantui mereka seumur hidup. Kita tak perlu takut pada Lily, karena bukan kita yang menyebabkan kematiannya. Sebaliknya, orang yang seharusnya takut adalah mereka yang telah  menyebabkan kematiannya...”

“Tidak mungkin! Hantu itu tak ada. Itu hanya omong kosong! Lily Kim sudah mati! Dia sudah terkubur dalam tanah. Aku tak punya alasan untuk takut padanya.” ujar gadis itu, menghibur dirinya sendiri.

Sambil memeluk bukunya dia berjalan cepat ke arah lokernya, entah kenapa dia ingin secepatnya pulang kerumahnya sekarang. Makin lama dia merasa kampus ini membuatnya hampir gila.

Dengan cepat dia mengeluarkan sebuah kunci loker dari dalam saku jaketnya, saat tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya perlahan.

“AAARGGHH!!” jeritnya ketakutan dan spontan menjatuhkan buku yang tadi dipeluknya.

“Kau ini kenapa? Tegang sekali!” ujar suara itu sambil tertawa cekikikan.

“Ini tidak lucu! Tidak bisakah kalian tidak mengagetkan aku seperti itu!” omel gadis itu pada teman-temannya.

“Easy Lidya.. Easy. Kami hanya bercanda!” jawab orang yang menyentuh pundaknya tadi.

Memutuskan untuk menghiraukan perkataan temannya, gadis itu kembali memunguti buku-bukunya yang terjatuh ke lantai dan kembali membuka lokernya, tanpa menyadari sebuah kejutan  lain sudah menantinya.

BRAKKKKKK...
Buku yang dipegang Lidya Choi terjatuh spontan saat melihat secarik foto bersimbah darah digantung di pintu lokernya.

“AAARRRGGGHHHH!” sekali lagi Lidya menjerit spontan karena terkejut dengan apa yang dilihatnya, dia menjerit dan terjengkang, bahunya menghantam loker yang ada dibelakangnya. Buku-buku yang tadi dipeluknya berhamburan ke lantai.

Hei, ada apa? Kau mengagetkan kami.” ujar Merry tak kalah kaget. Dada Lidya naik turun karena takut, dengan ngeri dipandangnya loker itu.

“Itu...Itu...” tunjuk Lidya kearah lokernya. Ketiga temannya berjalan mendekat kearah yang ditunjuk Lidya dan melihat foto seorang gadis yang sudah ternoda dengan cairan merah tergantung di lokernya. Cairan merah yang berasal dari foto itu menetes dari loker hingga ke lantai di dekat kaki Lidya. Cairan merah yang berwarna lebih gelap tergenang di dalam lokernya. Dengan ragu-ragu, Nathalie Jung meraba cairan merah itu dengan ngeri.

“Ini benar-benar darah...” suaranya mengambang, wajahnya mendadak pucat. Tapi Marcella Hong bertindak cepat dengan meraih foto bersimbah darah itu dan membuangnya ke tempat sampah dengan tangan gemetar ketakutan.

Bukan hanya itu saja, di dalam loker itu ternyata diselipkan sebuah surat dengan tinta merah dan setangkai bunga Lily yang disematkan di tengahnya, kelopak putih bunga Lily itu menjadi berwarna merah karena terkena noda merah dari tinta di surat itu.

“Apa itu?” tanya Merry sambil menarik secarik kertas dengan ragu-ragu dan perlahan membuka lipatannya.

“Bagaimana rasanya sudah membully dan menyakiti seseorang dan belum sempat meminta maaf padanya bahkan sampai dia meninggal? Apa kau bahagia? I KNOW WHAT YOU DID AND I WILL MAKE YOU PAY! JUST BEWARE!” itu kalimat yang tertulis dikertas  itu. Sekali lagi ditulis dengan darah yang masih menetes.

“Ini bukan tinta merah...Ini darah!” sekarang giliran Merry yang menyentuh cairan merah itu dengan  ngeri , bau anyir darah langsung menembus rongga hidungnya begitu kertasnya dibuka.

“Ini hanya ulah orang iseng...Tidak perlu dibesar-besarkan.” lanjut Merry sok berani, lebih kepada dirinya sendiri.

“Merry, tapi apa kau sadar itu foto siapa? Itu foto gadis yang mati itu.” seru Lidya tercekat.

“Lalu? Dia sudah mati. Dia tidak mungkin bangkit dari kubur lalu menuntut balas pada kita kan?” sergah Merry masih dengan sok berani.

“Lagipula kau yang menusuk dan mendorongnya sampai mati. Itu salahmu Nona Lidya Choi.” tambah Merry dingin, menyalahkan sepupunya.

“Bagaimana bisa kau bilang itu salahku? Kita semua terlibat.” protes Lidya tak terima, menatap sepupunya dengan tajam.

“Jangan lupa kau yang menyiram wajahnya dengan air keras, Merry Hwang! Lidya berkata sambil tersenyum licik pada sepupunya, yang spontan wajahnya menjadi pucat karena diingatkan pada kejadian itu.

Merasa terdesak, Merry memutuskan untuk tidak memperpanjang masalah ini.
“Kita lupakan saja! Anggap saja tidak terjadi apa-apa.” serunya dengan suara gemetar tapi kemudian melangkah pergi, diikuti ketiga temannya.

“Tapi siapa yang mengirim semua itu?” protes Lidya ketakutan, suaranya masih terdengar gemetar.

“Sudah kubilang itu hanya ulah orang iseng.” sergah Merry berusaha terlihat berani, walau sebenarnya dia juga merasa tak aman lagi.

Dari balik koridor itu, tanpa mereka sadari seorang gadis mengintai dengan seringai dingin.

“Ini baru dimulai.” gumamnya penuh dendam seraya memasukkan setangkai bunga Lily dalam saku jaketnya dan berlalu pergi dengan santai, seolah-olah tak terjadi apa-apa.

~~~~~~

NB : Penasaran dengan kelanjutan kisah ini? Ingin tahu siapa pelaku pembunuhan dan teror yang menghantui Seoul University? Pastikan kalian tidak lupa untuk mengoleksi novel thriller yang satu ini. Kebingungan bagaimana membelinya? Kalian bisa menghubungi saya di IG : @LilianaTan1708 dan saya akan membantu kalian melakukan pemesanan.

Chapter 3 : I Know What You Did! II I Cook The Haters For You

Everything Happened for reason... Semua yang terjadi di dunia ini pasti terjadi karena alasan. Begitu juga dengan semua pembantaian yang terjadi di Seoul University. Ada sebab, pasti ada akibat. Tak mungkin ada asap jika tak ada api, benarkan? Apa yang kau tabur, itulah yang kau tuai. Balas Dendam...Mungkin ini adalah alasan yang terdengar sangat klise, tapi bagaimana bila kenyataannya semua pembunuhan berantai yang terjadi selama ini memang karena sebuah balas dendam? Well, ada baiknya mulai sekarang kalian semua berhati-hati dalam bertindak, karena apa yang kita lakukan hari ini, akan berimbas pada apa yang akan terjadi pada kita di masa depan. Seseorang yang berbuat jahat pasti akan mendapatkan balasannya suatu hari nanti. So, ayo kita berbuat baik aja deh mulai sekarang, jangan menyakiti orang lain jika kita tidak ingin disakiti...



Semuanya berawal dari sini, Seoul University setahun yang lalu. Seoul University adalah sebuah kampus yang tenang dan damai, sebagai salah satu kampus terbaik di Korea Selatan, tak heran jika Seoul University mendapat predikat kampus favorit, setidaknya itulah yang tampak selama ini. Banyak calon mahasiswa yang bermimpi bisa kuliah disana, mereka menganggap kuliah disana adalah sebuah kebanggaan tersendiri. Tapi itu tidaklah lama karena sebuah tragedi mengerikan akan segera terjadi dan mungkin akan membuat para calon mahasiswa itu  berpikir dua kali sebelum memutuskan kuliah ditempat ini.

Sore itu di salah satu ruang kelas yang sepi, seorang gadis berambut panjang lurus sedang duduk menyendiri di sudut ruang kelasnya. Semua teman-teman sekelasnya sudah pulang sedari tadi, tapi dia justru duduk menyendiri disini dan asyik menulis. Menulis semua mimpinya didalam sebuah buku, tenggelam dalam lamunannya hingga tidak menyadari jika dia tidak sendiri lagi di kelas itu. 

“Dan akhirnya mereka menikah dan hidup bahagia selamanya.” cibir seorang gadis lain seraya merebut buku itu dari gadis itu.

“Kembalikan! Lidya Choi, apa yang kau mau?” seru gadis itu seraya bangkit berdiri dan mencoba merebut kembali bukunya. 

“Sungguh lucu! Berhentilah bermimpi gadis bodoh dan lihatlah kenyataan! Tidak ada hidup yang seindah itu. Lagipula apa ini? Lily Kim dan Yoon Jae Ha? Kau menulis kisahmu sendiri hah? Kau bermimpi menikah dengan Idola kampus, apa kau pikir dia akan melirikmu? Sadarlah Nona Pemimpi! Bangun dari tidurmu!” sentak gadis yang bernama Lidya Choi itu.

Lidya Choi adalah putri seorang mantan Duta Besar Korea untuk Indonesia. Memiliki ayah seorang mantan Duta Besar otomatis membuatnya menjadi salah satu gadis terkaya di Seoul University, itu sebabnya dia menjadi sangat sombong  dan  angkuh.

Bersama kedua teman  akrabnya dan sepupunya yang berasal dari level status yang sama, Marcella Hong, yang adalah Putri Rektor kampus itu, Merry Hwang, yang  adalah  sepupu Lidya dari pihak Ibu serta  Nathalie Jung, yang  adalah Putri dari Wakil Presiden Korea Selatan, keempatnya kerap kali bersikap sombong dan suka menyiksa teman-temannya yang  mereka anggap memiliki status dan kedudukan lebih rendah  dari mereka.  Bullying , mungkin itu istilah tepatnya.

Merasa menjadi gadis paling cantik, populer, kaya dan berkuasa telah membuat mereka lupa diri  dan  bersikap seenaknya. Dan kali ini sasaran pembullyan mereka adalah seorang gadis pendiam dan penyendiri  yang hobi menulis.

Apa yang kau tabur itulah yang kau tuai. Mereka berempat tak menyadari bahwa tindakan mereka saat ini akan menjadi bumerang bagi diri mereka suatu hari nanti.

“Apa yang kutulis itu bukan urusanmu! Akulah penulisnya, aku berhak menuliskan apa saja yang aku sukai. Apa hakmu melarangku? Kenapa kau begitu suka menggangguku?” gadis itu, Lily Kim berkata dengan berani.

“Jadi kau berani melawanku? Seret dia keluar!” seru gadis itu, Lidya Choi pada ketiga temannya yang langsung mengiyakan perintahnya dan seketika itu juga mereka menarik gadis malang itu dari kelas dan membawanya keatas atap dengan menjambak rambut panjangnya.

“Apa yang kalian mau? Lepaskan aku!” seru Lily, berteriak ketakutan saat keempat gadis itu, Lidya Choi, Marcella Hong, Merry Hwang dan Nathalie Jung menyeretnya ke atas atas sambil menarik rambut panjangnya yang lurus.

Lily meringis kesakitan sambil terus meronta, dia berteriak meminta pertolongan tapi tak ada seorangpun yang datang menolongnya.

Saat itu Seoul sudah memasuki akhir Musim Gugur, udara perlahan berubah menjadi dingin sehingga banyak mahasiswa yang memilih langsung pulang ke rumah  masing-masing begitu  kuliah mereka selesai, apalagi waktu saat itu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Di kampus yang sebesar itu mungkin hanya mereka berlima yang masih berkeliaran  pada jam-jam seperti ini.

“Hahahaha...Kita lihat saja apa Pangeran Berkuda Putihmu itu akan datang menolongmu.” seru Marcella dengan sinis seraya melempar tubuh gadis malang itu ke lantai  atap. 

Lily terjatuh ke lantai dan kepalanya tanpa sengaja membentur balok penyangga atap yang keras, darah menetes pelan dari pelipisnya yang terluka. Dia berusaha berdiri tapi belum sempat dia melakukannya,  sebuah siksaan lain menderanya.

PLAAAAKKKKKK…
Sebuah tamparan keras mendarat keras dipipi Lily dan darah segar meluncur deras dari bibir mungilnya. Marcella Hong, pelaku penamparan hanya menatapnya dengan sinis.

“Apa kau tahu kalau kami muak dengan wajahmu yang sok polos itu? Harusnya dulu Ayahku tidak perlu menerimamu di kampus ini. Kau hanya sampah menyebalkan!” serunya jahat.  

Dengan airmata berlinang, Lily menatap semua penyiksanya satu demi satu, dalam hati dia bersumpah bahwa mereka pasti akan membayar semua perbuatan itu padanya suatu hari nanti.

“Apa kau lihat-lihat?” tanya Nathalie Jung dengan sinis sambil menjambak rambut panjang Lily ke belakang dan terus mendorongnya ke pinggir atap. 

“Aaarrgghhh!” teriak Lily kesakitan saat wajahnya disiram air keras oleh Merry Hwang, salah satu gadis terkaya dan juga sepupu Lidya.

Lily mengerang merasakan sakit yang menerpa wajahnya, dia merasakan wajahnya memanas, gadis itu meringkuk sambil menangis tak berdaya seraya memegangi wajahnya yang terkena siraman air keras. 

“TO...LONG! Seseorang tolong aku!” batinnya miris, tak mampu menyuarakannya. Siraman air keras itu juga mengenai lehernya, membakar pita suaranya, membuatnya tak mampu berkata-kata. Tapi keempat gadis jahat didepannya terus tertawa dengan bahagia. Puas menyiksa gadis itu dan melihatnya kesakitan.

“Hahahaha...Rasakan kau! Harusnya kau tidak melawan kami.“ ucap Lidya sinis dengan tawa jahatnya yang nyaring.

“Makanya jangan sok jadi anak pintar. Lagakmu yang sok polos itu membuat kami muak. Apa hebatnya menjadi Ketua Klub Kesenian? Pintar, berbakat, cantik, kesal sekali kami mendengarnya. Bagi kami, kau hanyalah sampah yang harus disingkirkan. Apa kau tahu kalau kehadiranmu selalu membayangi kami dan itu membuat kami muak setengah mati?” lanjut Nathalie dengan kesal

“Enaknya kita apakan gadis sialan ini?” tanya Marcella dingin seraya meminta pendapat teman-temannya.

“Kita dorong saja dari atas, bagaimana? Sangat menyenangkan rasanya melihat wajahnya hancur saat menghantam tanah.” usul Lidya dengan jahatnya dengan senyum sinis tersungging di bibirnya. 

“Apa tidak apa-apa? Itu pembunuhan.” Marcella terlihat ragu sambil melirik kanan kiri seolah-olah takut jika ada seseorang yang melihat perbuatan mereka.

“Bukan pembunuhan bila dia sendiri yang melompat kan?” sanggah Merry, secara tidak langsung mendukung usulan Lidya yang sudah lebih dulu berjalan perlahan mendekati gadis itu dengan sebilah pisau di tangannya. Pisau yang sepertinya memang sejak awal sudah tersimpan rapi dalam tasnya.

Merry segera berbalik kearah sepupunya yang perlahan menghampiri Lily yang sejak tadi hanya meringkuk merasakan sakitnya siraman air keras di wajahnya. Darah segar mengalir di pipinya, kulit wajahnya mulai mengelupas dan gadis itu menangis keras dengan tubuh yang gemetaran.

“Berdiri!” perintah Lidya sambil menarik lengan Lily kasar dan mendorongnya ke tepi  atap. 

“LOMPAT! AKU INGIN KAU LOMPAT! SEKARANG!” serunya kejam, Lily hanya menggeleng takut tanpa mampu bicara, tenggorokannya tercekat merasakan siraman air keras di wajah dan lehernya, pandangannya mulai kabur, matanya terasa perih karena terkena air keras itu.

“TI...DAK! JA...NGAN!”ujarnya terbata-bata, tapi Lidya semakin melangkah dengan cepat, menyudutkannya seraya mengacungkan sebuah belati kearahnya, dan sedetik kemudian menancapkan belati itu kearah perut Lily, darah segar mengalir deras dari perut gadis itu saat belati itu menancap di perutnya.

Lily mengerang pelan, tak mampu berteriak, matanya terbelalak ngeri sambil mengamati belati yang tertancap di perutnya lalu sedetik kemudian, tubuhnya lunglai dan jatuh melayang dari gedung atap kampus dan berbedam keras di tanah. 

“Mudah sekali! Cukup satu dorongan dan matilah kau! Selamat tinggal Lily Kim! inilah akhir kisahmu. Hahahaha...” teriaknya puas, sementara ketiga temannya hanya memandangnya dengan kaget. Mereka tak menyangka Lidya benar-benar mendorongnya.

“Kau benar-benar membunuhnya? Kukira kita hanya mengancam.” ujar Marcella ketakutan. 

“Aku tidak membunuhnya, dia sendiri yang melompat dari sana.” sahut  Lidya santai lalu berlalu pergi dari sana.

Nathalie Jung, Merry Hwang dan Marcella Hong hanya mampu melihat dengan ngeri sesosok tubuh yang sekarang terkulai di tanah dengan bergelimang darah. Tanpa mereka sadari  ada seseorang yang melihat perbuatan jahat mereka. 

Sosok itu mengamati video CCTV di hadapannya dengan ngeri dan tak percaya. Dia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana keempat gadis populer yang menyebut diri mereka Ratu Kampus bisa melakukan hal sekeji itu. Mereka berempat bukan hanya menyiksa gadis malang itu tapi juga menusuknya dan mendorongnya jatuh dari  atap.

Dan sepertinya mereka melakukan semua itu tanpa mereka sadari bahwa ada kamera pengawas yang diletakkan disetiap sudut wilayah kampus itu untuk menjaga keamanan kampus dari berbagai tindak kejahatan di malam hari yang belakangan kian marak, dan kini seseorang sedang mengawasi semua yang mereka lakukan  dari sana. 

Kamera itu bukan hanya melihat tapi juga merekam setiap hal yang terjadi disana. Sosok itu masih memandang tak percaya layar komputer di hadapannya, shock, tak mampu  bergerak atau melakukan apapun selain memandang ngeri tak percaya.

To be continued...

~~~~~~~

Update 2026:
Karena versi novel cetaknya sudah tidak tersedia lagi di pasaran mengingat versi novel cetaknya hanya tersisa satu examplar (itupun proofreading punyaku sendiri), maka bagi yang penasaran dengan kelanjutan cerita ini, di masa depan jika ada waktu, aku akan menulis ulang di blog ini. Tapi entah kapan karena draft ceritaku yang lain masih banyak.

Bagi yang tidak sabar, kalian bisa meninggalkan komentar di bawah ini atau menghubungi kontak IG-ku yang ada di laman "Tentang Penulis" agar kita bisa membahas lebih lanjut tentang bagaimana cara membeli novel ini. Untuk sementara, hanya ada empat bab teaser yang memang sejak awal sudah ada di blog ini sebagai bagian dari promosi.
 

Chapter 2 : You Are Next! II I Cook The Haters For You

The Bloody Lily, mungkin tidak salah jika aku memberi judul lain dari Novel ini dengan "The Bloody Lily", karena memang bunga Lily putih yang cantik itu kini berubah menjadi bunga yang melambangkan kematian. Siapa pun penerimanya, dialah korban berikutnya! Hhhmm...apakah kini bunga Lily putih tersebut ada di sekitar kalian? Jika iya, maka berhati-hatilah, karena mungkin pembunuh itu sedang mengincarmu sekarang hehehe =)




Nathalie Jung mencengkeram kotak hadiahnya dengan gemetar, dia masih belum membukanya.

“Aku ingin lihat.” Tiba-tiba seseorang dari mereka berkata lalu segera berlari meninggalkan kelas itu diikuti yang lain. Dalam sekejap ruangan kelas itu menjadi kosong, semua orang berlari ke tempat kejadian perkara untuk mencari tahu yang sebenarnya.

Semua, kecuali Nathalie Jung yang tetap terdiam di tempatnya. Semua temannya berlari keluar tapi dia justru terdiam disini, mencengkeram erat kotak yang diletakkan diatas mejanya dengan keringat dingin meluncur dari keningnya. 

Perlahan dia membuka kotak itu untuk melihat apa isinya. Dia memasukkan tangannya ke dalam kotak itu dan segera, sebuah boneka porselin lengket menyambutnya. Nathalie menarik kepala boneka itu keluar dan dia menyadari bahwa kepala boneka itu hampir terputus, cairan merah merambat dari kepala boneka yang hampir terputus itu.

“AAARRGGHHH!” Nathalie terpekik ngeri lalu spontan menjatuhkan bonekanya ke lantai  dengan keras. Sebuah suara muncul dari dalam boneka itu, sebuah kalimat singkat  yang terdengar begitu mengerikan. 

“YOU ARE NEXT! YOU ARE NEXT! YOU ARE NEXT!” terus dan berulang-ulang, seolah-olah boneka itu sudah diprogram. Boneka bersimbah darah yang mengucapkan kalimat ancaman itu terlihat begitu mengerikan.

Nathalie terpekik ngeri dan tak sengaja menyenggol kotaknya. Kotak itu terjatuh dan setangkai bunga Lily putih terlihat terjatuh di samping kotaknya. 

Sebuah foto seorang gadis muda bersimbah darah diikatkan di tangkai bunga Lily itu, dengan sebuah kalimat ancaman yang ditulis dengan tinta merah ada dibelakang fotonya. Dengan tangan gemetar Nathalie memungutnya dan membaca isinya dengan ragu.

“Dear Bullies, she was died because of you. Are you happy about that? YOU ARE NEXT!” kembali,  kalimat yang sama dikumandangkan. 

“TIDAK! TIDAK! TIDAK! KENAPA HARUS AKU?” jeritnya ketakutan, dia berlari keluar ketakutan meninggalkan kelas itu. Entah kemana yang penting jauh dari kelas itu.

Saat itulah dia mendengar suara seorang gadis yang memanggilnya dari dalam Gedung Olahraga yang sekarang sedang kosong. 

“NATHALIE...NATHALIE...” suara itu terdengar sangat lembut dan lirih, terus memanggil. Antara takut dan penasaran, dengan perlahan dia memasuki gedung olahraga itu dan mencari sosok yang terus memanggilnya.

BLLLAAAMMMM...
Pintu gedung olahraga terbanting keras menutup. Nathalie tersentak. Dia menyesali kebodohannya karena terperangkap masuk kesana. 

“Siapa kau?” tanyanya gemetar sambil  memicingkan matanya, berusaha beradaptasi dengan kegelapan di sekelilingnya.

Namun dalam sekejap lampu mendadak menyala serentak dan seorang gadis cantik berambut panjang dan bergaun putih muncul dari balik pilar penyangga. 

“Halo, Nathalie!” sapanya lembut dan ramah, tapi meninggalkan kesan mistis dari balik suaranya. Nathalie memandang penyapanya dengan kaget. Gadis itu tersenyum manis, dia terlihat sangat tenang dan  ramah, tapi entah kenapa Nathalie justru merasa ketakutan.

Wajahnya cantik tapi sangat pucat, kecantikannya tak seperti gadis pada umumnya, Nathalie seperti merasa pernah melihatnya disuatu tempat, tapi dia tidak ingat dimana, suaranya begitu lembut dan pelan, langkahnya begitu ringan, seolah gadis itu melayang dan bukan berjalan, sekejap kemudian Nathalie menyadari bahwa gadis ini tak memiliki bayangan. 

Nathalie tersentak, karena dia melihat gadis itu jelas berdiri di bawah lampu tapi tak nampak bayangan dari sosoknya.

“Tak ada manusia yang tidak memiliki bayangan.” batinnya tercekat. 

“SIAPA KAU? Kau manusia atau hantu?” Nathalie bertanya dengan waspada.

“Kau tak ingat aku?” tanyanya lirih sambil terus berjalan mendekat. 

“Di atas atap... Setahun yang lalu.” jawabnya lembut dan pelan tapi terdengar sangat mengintimidasi.

“Setahun yang lalu?” ingatan Nathalie bekerja, kembali ke saat dia dan teman-temannya menyiksa Ketua Klub Kesenian, Lily Kim hingga terjatuh dan tewas. Bayangan mengerikan terlintas dalam otaknya, bagaikan potongan film yang dipercepat. 

Nathalie memandang gadis didepannya dengan ketakutan, wajah mereka memang mirip. Benar. Sangat mirip.

“KAU? Tidak mungkin. Bukankah kau sudah...” Nathalie tak berani melanjutkan kalimatnya, gadis itu memang mirip dengan gadis yang terjatuh setahun yang lalu, dia terdiam ketakutan saat perlahan gadis misterius itu mendekatinya. 

“Apa kau sudah lupa wajahku?” tanya gadis itu lagi seraya mendekap setangkai bunga Lily putih di dadanya dan mengacungkan sebuah pisau yang tergenggam erat di tangan kanannya sambil terus berjalan  mendekati Nathalie yang gemetar ketakutan.

To be continued...