Rabu, 05 Agustus 2015

(Teaser) Winter Tears : Prolog

Sama seperti novel-novel yang lainnya, saya juga akan memberi gambaran sekilas alias teaser mengenai Tetralogi 4 Musim pertama saya, yaitu “Winter Tears”. Gak usah banyak-banyak sih, seperti yang sebelum-sebelumnya, Cuma 4 bab aja. Kalau semuanya dibongkar di blog, tar gak ada yang mau beli donk hehehe =) So, please welcome The First From My Four Seasons Series “Winter Tears”

“(Teaser) Winter Tears : Prolog”



“Apa yang kau lakukan di sini? Apa Suster Kepala yang menyuruhmu mencariku?” tanya seorang gadis kecil berambut panjang dan bermantel putih di dalam hutan yang tertutup salju.     

“Aku tersesat. Tempat apa ini? Aku mau keluar. Apa yang kau lakukan di tempat sedingin ini?” seorang anak laki-laki balik bertanya padanya. Dia gadis kecil yang aneh, di saat anak-anak lainnya sedang merayakan Natal bersama di dalam rumah dan makan makanan yang enak, dia justru berada di dalam hutan yang dingin dan gelap.

“Aku sedang mencari Peri Salju. Peri Salju hanya muncul saat malam Natal dan akan mengabulkan permintaan anak yang selalu bersikap baik,” jawab si gadis kecil sambil tersenyum, saat menoleh, rambut hitamnya yang lurus dan tergerai sepanjang pinggang tampak berkibar ditiup angin musim dingin yang berhembus.

“PERI SALJU?” ulang si anak laki-laki bingung.
“Benar, Peri Salju,” jawabnya lagi.
“Kau dengar omong kosong itu dari mana? Lucu sekali,” cibir si anak laki-laki, menertawakannya.

“Anak orang kaya sepertimu, yang selalu mendapatkan apa yang mereka inginkan, memang tidak butuh Peri Salju untuk mengabulkan keinginanmu, benarkan? Tapi tidak begitu denganku. Ibuku meninggal dan ayahku membuangku. Kau tahu kenapa aku ingin menemukan si Peri Salju? Karena aku ingin dia membantuku membawa kembali Ayahku!” jawab gadis kecil itu, tiba-tiba menangis pelan.

Melihat airmatanya, perasaan bersalah mencengkeram si anak laki-laki.  “Maaf. Aku benar-benar minta maaf,” si anak laki-laki meminta maaf karena merasa bersalah telah membuat gadis kecil itu menangis.

“Kau ingin keluar dari hutan ini kan?” tanya si gadis kecil tiba-tiba seraya menghapus airmatanya.

“Ikutilah jalan setapak itu dan berjalanlah lurus tanpa berhenti sampai kau melihat sebuah pondok kecil. Jika kau sudah sampai di pondok kecil itu maka kau sudah bisa melihat Panti Asuhanku. Bila masih bingung, kau pandanglah bintang itu, maka dia pasti akan membantumu menemukan jalan pulang,” lanjutnya lagi seraya menuding ke langit malam.

“Bintang?” ulang si anak laki-laki bingung.
“Bintang Polaris, bintang yang cantik di langit utara  yang dijadikan penanda arah utara. Ikuti bintang itu maka kau akan bisa keluar dari hutan ini,” jawabnya lagi.
“Lalu kau?” tanya si anak laki-laki.

“Aku akan mencari Peri Salju dan aku tidak akan kembali sebelum menemukannya. Kau pergilah dulu! Sampai jumpa!” jawab si gadis kecil singkat lalu berjalan ke arah hutan.

“Tapi sekarang sudah malam, tidakkah sebaiknya kau cari dia besok pagi saja? Kita pulang bersama,“ tawar si anak laki-laki padanya.

“TIDAK! Peri Salju hanya muncul saat Natal, jika malam ini aku tidak menemukannya, aku harus menunggu tahun depan. Itu terlalu lama. Siapa yang tahu apa yang akan terjadi besok? Bagaimana jika seandainya besok aku mati? Aku harus menemukan Peri Salju sekarang juga,” jawabnya keras kepala.

“Tapi...” Si anak laki-laki berusaha memprotes tapi gadis kecil itu memotong kalimatnya.
“Setidaknya aku sudah berusaha kan? Walau gagal aku tidak akan menyesal. Sampaikan terima kasih pada Ayahmu untuk semua kebaikannya. Kami menikmati pesta Natalnya. Dan baju-baju yang dibelikannya untuk kami juga sangat indah,” jawabnya lagi sambil tersenyum manis.

“Sama-sama. Boleh aku tahu namamu?” tanya anak laki-laki itu ingin tahu.
Gadis kecil itu tersenyum dan menjawab “Little Snow,” ujarnya lalu menghilang ke dalam hutan.

Begitu dia pergi, anak laki-laki itu menyadari sesuatu terjatuh dari tempat gadis kecil itu berdiri tadi. Dia memungut benda yang berkilauan itu dan menatapnya. Sebuah kalung berliontin bintang separuh yang mirip dengan miliknya sendiri tapi di belakang liontin itu terukir sebuah huruf Xue () yang berarti “Salju”.

“Kenapa sangat mirip dengan milikku?” ujar si anak laki-laki seraya menatap heran kalung itu, kemudian dia teringat sesuatu, “Little Snow, kalungmu...” teriak si anak laki-laki tapi sepertinya si gadis kecil itu sudah tidak mendengar lagi.

To be continued...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar