Sabtu, 21 November 2015

(Teaser) Winter Memories : Chapter 3

Dilupakan oleh orang yang kita cintai adalah sesuatu yang paling menyakitkan di dunia ini. Tapi manakah yang lebih menyakitkan, benar-benar dilupakan ataukah berpura-pura dilupakan? Antara cinta dan hubungan persaudaraan, manakah yang lebih penting? Ji Teng ingat betul bagaimana dia sangat mencintai Chi Xue Tung, tapi dengan kejam dan tanpa perasaan dia justru meminta gadis itu melupakannya dan kembali ke sisi kakaknya Chi Xing Feng. Pantaskah Ji Teng berbuat seperti ini, mencampakkan wanita yang dicintainya demi kebahagiaan kakak kandungnya walau sebenarnya kakak kandungnya sendiri tak pernah memikirkan kebahagiannya? Walau Chi Xing Feng tahu bahwa Ji Teng adalah adik kandungnya yang telah lama hilang, dia tetap dengan egois berusaha memisahkan Ji Teng dan Xue Tung dengan mengarang sebuah kebohongan keji bahwa Ji Teng sudah meninggal. Lalu pantaskah demi Xing Feng yang egois, Ji Teng melepaskan Xue Tung begitu saja dan membiarkannya menderita seorang diri bersama bayi dalam kandungannya. Jika saat ini mereka bertemu kembali, pantaskah Xue Tung memberikan maaf padanya dan juga kesempatan kedua seperti yang Ji Teng inginkan? Pantaskah Ji Teng meminta pengakuan atas anak mereka? Anak yang bahkan sebelumnya tidak pernah dia ketahui keberadaannya? Bagaimana dengan Anda jika Anda adalah Chi Xue Tung? Apa yang akan Xue Tung lakukan jika takdir ternyata membuat mereka bertemu kembali setelah bertahun-tahun lamanya? You will know if you read this stories...

“Winter Memories : Chapter 3 (Teaser)”




“Hanya satu pertanyaanku, kenapa kau memberinya nama sama seperti namaku? Apa dia adalah putraku?” tanya pria muda itu tanpa basa basi dan langsung tepat pada sasaran. Wanita muda itu hanya terdiam, lalu segera menggendong Ji Teng dan membawanya pergi dari sana.

“Ke mana lagi kau ingin lari? Tidakkah kau bosan terus berlari? Kembalilah, Chi Xue Tung! Aku Ji Teng, sangat merindukanmu,” pinta pria muda dengan mata berkaca-kaca dan suara bergetar.

Xue Tung masih menutup mulutnya rapat-rapat, dia berdiri membelakangi Ji Teng sambil menggendong Ji Teng kecil dalam pelukannya. Kenangan lima tahun yang lalu masih teringat jelas dalam ingatannya. Bagaimana Ji Teng melupakannya, bagaimana Ji Teng menolaknya, bagaimana Ji Teng yang walaupun akhirnya bisa mengingat semuanya tetap memintanya untuk berada di sisi Chi Xing Feng dan melupakan cinta mereka, apalagi setelah Xue Tung menyerahkan dirinya untuk yang kesekian kalinya pada Ji Teng, kekasihnya masih tetap memintanya untuk kembali ke sisi “suami” yang telah membohonginya dan menikahinya dengan paksa, Chi Xing Feng.

Walau Chi Xing Feng telah meninggal, walau dia sudah memaafkannya, tapi fakta bahwa Chi Xing Feng telah membohonginya dengan mengatakan bahwa Ji Teng telah meninggal saat mereka jatuh ke dasar jurang, tak bisa semudah itu dilupakan.

Xue Tung teringat hari di mana dia terbangun dari komanya, semua hal di sekitarnya mendadak menjadi gelap. Walau tidak kehilangan nyawanya, Xue Tung telah kehilangan penglihatannya. Bukan hanya penglihatannya, tapi juga seluruh hidupnya. Bayi dalam rahimnya juga turut mati bersama dengan Ji Teng-nya. Benar. Chi Xing Feng dengan kejam mengatakan sebuah kebohongan yang memporakporandakan hidup Xue Tung selamanya.

Dengan licik, Chi Xing Feng mengatakan jika Ji Teng telah meninggal dan dia juga telah kehilangan bayi dalam kandungannya. Dunia Xue Tung serasa runtuh. Dia menolak operasi, dia memilih hidup dalam kegelapan selama dua tahun lamanya. Xue Tung berpikir, untuk apa dia bisa melihat bila orang yang ingin dilihatnya tak ada lagi di dunia ini.

Tapi tak lama kemudian, sebuah telepon salah sambung telah menghubungkan Xue Tung dengan seorang pria yang memiliki suara mirip dengan Ji Teng. Dialah yang membujuk Xue Tung untuk mengoperasi matanya dan memberinya harapan baru dalam hidupnya.

Dan kenyataan lain segera menghampiri Xue Tung saat dia menyadari jika pria bernama Reno, yang selama ini berteman dengannya lewat telepon dan selalu memberinya semangat ternyata adalah Ji Teng sendiri, orang yang selama ini dia kira telah meninggal.

Betapa bencinya Xue Tung pada Xing Feng saat mengetahui kenyataan jika ternyata Ji Teng masih hidup dan kehilangan ingatannya, dan Xing Feng sengaja memanfaatkan kesempatan ini untuk menjauhkan mereka berdua.

Tapi Xue Tung tak menyerah, dia berusaha mengembalikan ingatan Ji Teng tentangnya juga tentang cinta mereka walaupun untuk itu dia harus melalui berbagai macam penolakan yang menyakitkan.

“Apa yang ingin kau tahu?” tanya Xue Tung dingin tanpa berbalik.
“Malam itu... Apa semuanya terjadi malam itu? Apa aku telah membuatmu hamil malam itu?” tanya Ji Teng dengan canggung. Tapi dia harus mengkonfirmasi kebenarannya.

“Apa karena alasan ini kau mendadak menghilang dari hidupku? Aku menerima usulmu untuk berteman. Asalkan aku masih bisa melihatmu setiap hari, walaupun aku harus menahan rindu padamu setiap hari, aku tetap mencoba bertahan. Tapi mendadak kau menghilang tanpa jejak. Katakan padaku apa alasannya?” Ji Teng menuntut jawaban.

Xue Tung masih terdiam, kenangan malam itu kembali muncul dalam otaknya. Benar, Semuanya memang terjadi malam itu. Malam di mana Ji Teng mendapatkan kembali ingatannya.

Setelah Xue Tung memberikan buku hariannya dan memaksa Ji Teng membacanya, Ji Teng pun kembali menelusuri semua tempat di mana mereka pernah mendatanginya bersama. Ji Teng ingat bagaimana mereka melarikan diri bersama, bagaimana mereka pernah menikah di sebuah gereja kecil dan meminta seorang penjaga gereja untuk menjadi saksi mereka, bagaimana mereka menghabiskan malam pertama bersama, bagaimana dia tahu tentang kehamilan Xue Tung. Akhirnya dia ingat semuanya.

Airmata mengalir di pipinya, hatinya kembali merasakan cinta yang selama ini hilang. Saat itulah tanpa sengaja, Xue Tung muncul di hadapannya. Di sebuah rumah kontrakan kecil tempat di mana mereka pernah tinggal bersama dan merasakan kebahagiaan selama beberapa saat. Tempat dia mengetahui tentang kehamilan Xue Tung dan perasaan bahagia saat akan menjadi seorang ayah.

“Xue Tung...” ujar Ji Teng kaget saat tiba-tiba Xue Tung muncul di depan pintu.
“Ji Teng, apa kau sudah ingat aku?” tanya Xue Tung sambil menangis.

“Xue Tung, maafkan aku! Aku tidak seharusnya melupakanmu,” ujar Ji Teng penuh penyesalan, airmata masih menggenang di sudut matanya. Xue Tung segera berlari memeluk Ji Teng dengan erat. Mereka berpelukan erat selama beberapa saat. Ji Teng mengucapkan kata “maaf” berulang-ulang seraya mendekap erat Xue Tung dalam pelukannya. Hingga sebuah ingatan lain menghampirinya.

“Di mana anak kita?” tanya Ji Teng seraya melepaskan pelukannya dan menatap Xue Tung penuh tanya. Xue Tung menangis mengingat bayinya yang meninggal saat mereka melompat ke dasar jurang. Dia berjalan ke arah sofa dan duduk di sana dengan airmata mengalir semakin deras.

To Be Continued...

#Liliana Tan#

Tidak ada komentar:

Posting Komentar