Rabu, 22 Juli 2026

CH 1 : One Bloody Night In Russia ll The Last Princess Of Russia



17 Juli 1918, Yekaterinburg – Russia...
Malam itu, keluarga Kerajaan Romanov dibangunkan secara tiba-tiba dari tidur mereka yang nyenyak. Mereka diberitahu bahwa keluarga Kerajaan akan dipindahkan ke tempat yang aman untuk menghindari serangan dari Tentara Putih.

Tapi tentu saja, itu hanyalah sebuah kebohongan keji yang dikarang oleh polisi rahasia yang bekerja di bawah pimpinan Tentara Merah Bolsheviks.

Setelah semua anggota keluarga kerajaan selesai berpakaian, mereka diarahkan ke sebuah ruangan kecil yang berada jauh di sudut istana dan diminta untuk menunggu.

Saat itu, Tsarina Alexandra, sang Permaisuri Russia and Tsarevich Alexei, Putra Mahkota kecil Rusia duduk di sebuah kursi di sudut ruangan. Sementara Tsar Nicholas II dan keempat putrinya : Olga, Tatiana, Maria dan Anastasia tampak berdiri di samping Sang Permaisuri dan Pangeran kecil.

Setelah beberapa saat menunggu, beberapa orang pria berseragam yang dipimpin oleh Yurovsky tampak memasuki ruangan. Dengan sangat kejam dan tanpa basa-basi, Yurovsky memberitahu keluarga kerajaan  Romanov bahwa mereka akan segera dieksekusi malam itu juga.

Tsar Nicholas II, Kaisar Russia saat itu, tampak sangat shock dan terkejut dan hanya mampu berkata, “APA?” seraya spontan memandang seluruh keluarganya dengan kebingungan dan kepedihan di matanya, sebelum akhirnya tembakan peluru menghantam dada dan kepala Sang Kaisar dan membuatnya tewas seketika.

Sang Permaisuri Russia, Tsarina Alexandra adalah sasaran mereka berikutnya. Tsarina Alexandra tertembak saat akan melarikan diri ke seberang ruangan seraya menggendong Sang Pangeran Kecil, Alexei. Permaisuri Russia akhirnya turut menghembuskan napasnya yang terakhir dan jatuh ke lantai dengan bergelimang darah.

Tsarevich Alexei, sang Putra Mahkota kecil Russia yang masih belum mengerti apa-apa, hanya mampu menangis ketakutan seraya memeluk tubuh sang ibu yang telah meninggal saat para pembunuh itu mendekatinya dan menendang tubuh mungilnya dengan brutal, lalu menembaki kepalanya dengan sadis. Alexei kecil bahkan baru berusia sepuluh tahun saat pembantaian keji itu terjadi.

Grand Duchess Olga dan Tatiana, dua putri sulung Romanov berlari mendekati ibu mereka yang telah meninggal sambil menangis ketakutan. Saat itulah para pemberontak mendekati kedua Putri itu. Grand Duchess Tatiana berusaha melawan hingga sebuah peluru menembus kepalanya dan membuatnya terdiam selamanya.

Grand Duchess Olga menjerit histeris melihat adiknya terbunuh dengan tragis, dia bangkit berdiri dan mencoba merebut pistol dari tangan pasukan Tentara Merah tersebut namun kejadian yang sama terulang, Grand Duchess Olga pun menemui ajalnya saat sebuah peluru menembus kepalanya. Dia terjatuh dalam genangan darah di samping adiknya – Tatiana.

Grand Duchess Olga baru berusia dua puluh dua tahun dan Grand Duchess Tatiana baru berusia dua puluh satu tahun saat mereka terbunuh dengan keji di rumah mereka sendiri.

Tak hanya keluarga Kerajaan Romanov, kejadian tragis juga menimpa Anna Demidova, pelayan pribadi Tsarina Alexandra. Secara ironis, Anna Demidova juga turut terbunuh malam itu.

Dia ditusuk hingga tewas saat akan melarikan diri dengan membawa beberapa permata dan berlian yang merupakan harta kerajaan yang disembunyikannya di dalam bantal.

Di dalam ruangan kecil itu, pembantaian keji masih terjadi. Asap yang berasal dari tembakan peluru dan bau mesiu tampak memenuhi ruangan kecil itu.

Dua anggota keluarga Kerajaan yang tersisa, Grand Duchess Maria dan Grand Duchess Anastasia lolos dari tembakan pertama, walaupun tubuh mereka dibombardir oleh tembakan peluru yang membabi buta.

Itu semua karena Anastasia yang cerdik, telah memiliki firasat jauh-jauh hari sebelumnya. Diam-diam dia menjahit banyak sekali permata dan berlian dalam korset yang dikenakannya. Korset yang pada akhirnya merangkap fungsi sebagai rompi anti peluru.

Anastasia berusaha meminta keluarganya agar memakai korset yang dia buatkan, tapi ironisnya semua orang hanya menertawakannya dan menganggapnya terlalu berlebihan. Hanya Maria yang mendengarkan usulnya dan memakainya setiap hari hanya sebagai tindakan berjaga-jaga.

Dan seperti telah diduga Anastasia, korset itulah yang sekarang membuat semua tembakan peluru itu gagal menembus tubuh mereka. Andai saja orang tua dan saudara-saudaranya mendengarkan apa katanya, maka besar kemungkinan mereka bisa lolos dari pembantaian keji ini.

Namun walaupun begitu, Maria yang malang tertembak di bagian kakinya. Anastasia spontan berlari menghampiri saudaranya yang masih tersisa dan memeluknya dengan ketakutan. Maria yang malang melihat bagaimana kedua kakak perempuannya dibunuh dengan kejam.

Keluarga Kerajaan yang tersisa berusaha melarikan diri, namun sekali lagi para penembak itu mendekati mereka. Mereka menembak dengan membabi buta ke arah Maria dan Anastasia, namun sekali lagi semua itu tidak berhasil.

Tanpa diketahui oleh si penembak, seluruh peluru yang mereka tembakkan terpental akibat korset yang dikenakan oleh Maria dan Anastasia. Maria dan Anastasia hanya terjatuh pingsan tapi Bolsheviks mengira kedua gadis itu telah tewas bersama keluarga mereka yang lain.

Gembira karena mengira telah berhasil menghabisi seluruh anggota keluarga Kerajaan Romanov, pasukan tentara merah Bolsheviks segera mengangkut tubuh seluruh anggota keluarga Kerajaan Romanov ke dalam sebuah truk besar.

Namun naas bagi Grand Duchess Maria, di tengah perjalanan, dia terbangun dari pingsannya dan menjerit histeris saat melihat dirinya berada di tengah-tengah mayat keluarganya dengan darah yang tercecer di mana-mana.

Mendengar teriakan Maria, spontan membuat para penembak itu menghentikan truk mereka dan segera menghampiri jok belakang tempat mayat keluarga Romanov ditempatkan.

Mendapati salah satu Putri Romanov masih hidup, salah seorang penembak akhirnya menusuk Maria hingga tewas hingga dia berhenti berteriak selamanya. Saat itu Grand Duchess Maria baru berusia sembilan belas tahun ketika pembantaian tragis itu terjadi.

“Sudah selesai. Benarkan? Keluarga Kerajaan Romanov telah habis, setelah ini kita bisa mengambil alih kekuasaan dan menjadi penguasa di Russia.” Ujar salah satunya seraya tertawa terkekeh lalu kembali menutup jok belakang truk tersebut dengan terpal yang tebal dan kembali ke kursi kemudi.

Tapi mereka salah. Sangat salah. Dan mereka baru menyadari kesalahan tersebut saat mereka mulai menghitung jumlah mayat yang akan mereka kuburkan.

“Satu, dua, tiga, empat, lima, enam.” Ujar seorang pria berbadan besar dengan sebuah bekas luka di pelipisnya, tampak bingung.

Dia merasa sudah menurunkan semua mayat itu dari dalam truk. Tapi saat akan menguburkan semua mayat tersebut, dia baru menyadari ada satu mayat yang hilang.

“Hanya enam?” tanya temannya yang sedari tadi sibuk menggali, menghampiri temannya yang tampak memandang kumpulan mayat tersebut dengan bingung.

“Harusnya tujuh, benarkan? Tsar Nicholas II, Tsarina Alexandra, keempat putri mereka : Olga, Tatiana, Maria dan Anastasia, serta Pangeran kecil Alexei.” Ujar si pria dengan bekas luka di pelipis seraya berusaha mengingat.

“Keempat putri Kaisar. Tunggu dulu! Di mana Grand Duchess Anastasia?” seru temannya terkejut saat menghitung ulang jumlah mayat sang Putri yang hanya menyisakan tiga Putri Romanov dan bukan empat seperti seharusnya.

“Tidak mungkin! Bukankah tadi dia sudah mati?” ujarnya bingung lalu kembali memeriksa jok belakang truknya, namun tak tersisa apa pun di sana selain bau anyir darah dan bercak-bercak darah yang tersisa di sana.

“Grand Duchess Anastasia masih hidup? Ini sulit dipercaya!” ujar pria dengan bekas luka di pelipisnya.
“Jadi ini semua belum berakhir?” tanya pria yang sejak tadi masih memegang sekop untuk menggali.

“Tidak. Sebaliknya, kurasa kisah ini baru dimulai…” jawab si pria dengan bekas luka di pelipis, mendapat firasat bahwa ini semua masih belum berakhir dengan menghilangnya Sang Putri.

To be continued....


Tidak ada komentar:

Posting Komentar