“Apa saja yang kau dengar, Pangeran?” tanya Dowager Queen Alexandra pada cucu laki-lakinya.
“Semuanya. Tentang hilangnya Nastya, tentang pembantaian di Russia, dan tentang memanasnya situasi di Russia saat ini,” jawab Pangeran Alex dengan jujur seraya perlahan mendekat ke arah kedua Neneknya dan Ibunya berada.
“Kau tahu situasi di Russia sedang memanas dan kau masih ingin mencari Nastya?” tanya Dowager Queen Alexandra dengan tak percaya.
“Aku sudah berjanji pada diriku sendiri sejak malam itu, bahwa aku ingin Anastasia menjadi milikku. Aku sudah menunggu selama lima tahun hingga dia tumbuh dewasa agar bisa melamarnya. Tapi tiba-tiba saja semuanya terjadi di luar rencana,” jawab sang Pangeran muda dengan ekspresi tak percaya.
“Malam itu? Maksudmu malam di mana kita menghadiri ulang tahun Nastya lima tahun yang lalu?” tanya sang Ibu memastikan kembali. Pangeran muda itu mengangguk tegas walau dengan wajah malu.
“Dia putri kecil yang nakal dan galak, namun sangat cerdik, berani dan sebenarnya memiliki hati yang baik. Mungkin dia hanya galak padaku saja,” jawab Pangeran muda itu seraya tersenyum sedih.
“Dia juga sangat unik. Hanya dia satu-satunya yang berani mengacungkan jari telunjuknya di depan hidungku. Aku sempat kesal padanya, sikapnya sangat tidak sopan waktu itu, tapi kemudian aku justru terpesona padanya,” lanjut Pangeran muda itu, Alexander dengan senyum pahit mengenang gadis pujaannya yang kini menghilang ditelan bumi.
“Apalagi mendengar ucapan para pengawal bahwa Anastasia adalah seorang Putri yang baik hati yang begitu dekat dengan rakyatnya. Bukankah dia sangat cocok sebagai kandidat Ratu Norwegia?” sambung si Pangeran Muda dengan tersenyum tipis namun dengan kesedihan di matanya.
“Mom, bukankah Mom juga menginginkan Anastasia menjadi menantu Mommy? Bukankah Mommy juga ingin menukar kalung itu dengan cincin pernikahan? Jadi biarkan aku ikut mencari Anastasia!” lanjut Pangeran muda dengan penuh semangat.
Ratu Maud hanya menatap bingung putranya, dia sama sekali tidak tahu jika putranya ternyata memiliki keinginan yang sama dengannya. Ratu Maud menganggap putranya terlalu kecil untuk memahami masalah perjodohan atau sejenisnya, itu sebabnya dia tidak pernah mengatakan apa-apa.
Ratu Maud ingin kedua anak muda itu saling mengenal dengan alami. Itu sebabnya dia sering berkunjung ke Russia dengan membawa putra semata wayangnya ikut serta.
Walau awalnya Anastasia tampak tidak menyukai Pangeran Alex, namun lama kelamaan akhirnya mereka menjadi teman sepermainan yang sangat dekat.
Ratu Maud berencana akan melamar Grand Duchess Anastasia untuk putranya – Pangeran Alexander tepat di hari ulang tahun Anastasia yang ke-17, namun sayang saat ulang tahun Anastasia yang berlangsung sebulan yang lalu, Ratu Maud jatuh sakit dan tak bisa menghadiri undangan ulang tahun keponakan kesayangannya.
Siapa yang menyangka itu akan menjadi hari ulang tahun Kerajaan yang terakhir untuk Anastasia, dan sebulan setelah ulang tahunnya, tragedi pembantaian terjadi dan kini Anastasia hilang entah ke mana.
“Dari mana kau tahu bahwa Mommy juga menginginkan Nastya menjadi menantu Mommy? Mommy bahkan tidak mengatakan apa-apa padamu, kan? Mommy ingin kalian saling mengenal lebih dulu dan semuanya terjadi secara alami,” ujar sang Ibu dengan ekspresi bingung.
“Kalung itu,” jawab Sang pangeran muda.
“Kalung?” Ratu Maud masih berusaha mencerna.
“Ah…maksudmu kalung yang Mommy hadiahkan pada Nastya di hari ulang tahunnya yang ke-12?” lanjut Ratu Maud dan sang Pangeran mengangguk mantap.
“Together In Norway. Itu memiliki arti khusus, kan?” jawab Sang Pangeran Muda dengan tegas.
“Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, suatu hari nanti aku akan datang ke Russia dan membawanya ke Norwegia. Kurasa sekarang sudah tiba saatnya,” jawab Pangeran Muda itu, tampak keras kepala.
“Tapi keadaan di Russia sangat panas belakangan ini,” ujar Sang Ibu.
“Tapi Nastya pasti sangat ketakutan sekarang. Dia sendirian dan kesepian. Dengan tentara Bolsheviks yang mengincar nyawanya, Nastya pasti sangat ketakutan dan tidak tahu apa yang harus dia lakukan,” Pangeran Muda itu terus bersikeras.
“Vladimir Lenin pasti akan...” Dowager Empress Marie ingin mengatakan sesuatu namun Pangeran Alex memotongnya.
“Maafkan ketidaksopananku, namun Russia tidak sepenuhnya berada di bawah kendali Tentara Merah, kan? Pasukan Tentara Putih yang mendukung Monarki, yang dipimpin oleh Alexander Kolchak pasti bersedia membantu kita. Aku akan datang bersama Paman Nikolai Sokolov dengan menyamar menjadi rakyat biasa,” ujar Pangeran Alex dengan berani.
“Lagipula, bukankah Nenek juga telah membuat pengumuman tandingan untuk siapa pun yang berhasil melindungi Anastasia dan membawanya dengan selamat ke Inggris? Bukankah itu justru akan membuat hidup Nastya dalam bahaya?” lanjut Pangeran Alex.
“Dengan adanya dua pengumuman yang berbeda, Nastya tidak akan tahu siapa yang akan membantunya dan siapa yang mengincar nyawanya. Semua orang itu, entah orang baik atau orang jahat pasti akan berlomba-lomba untuk menangkap Nastya,” sambung Pangeran Alex, mengungkapkan analisinya.
Perkataannya terdengar masuk akal. Dua pengumuman yang berbeda, tentu akan membuat Anastasia merasa kebingungan dan tidak bisa membedakan kawan atau lawan.
“Dia benar. Kenapa aku tidak berpikir sampai ke sana? Dengan adanya pengumuman tandingan, Nastya pasti akan semakin kebingungan siapa yang akan membantunya dan siapa yang berniat mengincar nyawanya,” ujar Dowager Queen Alexandra yang sedari tadi hanya terdiam.
“Tapi kita harus segera menemukan Nastya. Kita tidak tahu bagaimana keadaannya. Hidupnya dalam bahaya, sister Alix. Jika kita tidak membuat pengumuman tandingan ini, semua orang di Russia pasti akan berlomba-lomba untuk mengincar nyawanya,” bantah Dowager Empress Marie.
“Tapi jika kita membuat pengumuman tandingan maka kemungkinan besar perhatian massa akan terpecah. Mereka pasti akan lebih memilih untuk membantu kita yang menawarkan uang lebih banyak,” Dowager Empress Marie bersikeras bahwa mereka sebaiknya tetap pada rencana semula.
“Itu juga benar,” jawab Dowager Queen Alexandra, bingung bagaimana harus mengambil sikap di saat situasi genting seperti ini.
“Baiklah. Lakukan yang Nenek suka, tapi ijinkan aku ke sana untuk menolong Nastya. Dia harus segera diselamatkan. Lagipula, aku tidak mau kalah dengannya. Orang itu pasti kini juga tengah menyusup ke Russia untuk menyelamatkan si ‘Putri Yang Hilang’. Aku tak mau dia menemukan Nastya lebih dulu dan merebut hatinya,” ujar Sang Pangeran yang tampak kesal.
“Dia? Maksudmu Pangeran dari Denmark? Kakak sepupumu itu? Jangan bilang pada Mommy kalau kalian menyukai gadis yang sama? Ya ampun...” Ratu Maud tampak baru menyadari persaingan dan cinta segitiga antara sang putra dengan sang keponakan.
“Sejak awal dia selalu mengatakan bahwa dia ingin Nastya menjadi Ratunya kelak. Orang itu pasti akan segera bertindak bila dia mendengar sesuatu yang buruk telah menimpa Russia. Aku tak mau dia muncul sebagai pahlawan yang menyelamatkan Anastasia lalu merebut hatinya,” jawab Pangeran Alex dengan kecemburuan di matanya.
“Cinta segitiga yang rumit. Ya ampun, sister Marie. Aku tak menyangka cucumu Anastasia sangat populer. Jika saja Nicky dan istrinya masih hidup, mereka pasti akan sangat gembira mengetahui ada dua Pangeran tampan yang berlomba mendapatkan hati putrinya,” ujar Dowager Queen Alexandra pada adiknya, Dowager Empress Marie.
“Kurasa sekarang bukan saatnya membicarakan itu, sister Alix. Nasib cucuku Nastya masih belum diketahui,” jawab Dowager Empress Marie dengan nada sedih.
“Aku tahu. Maafkan aku, adik.” Dowager Queen Alexandra tampak menyesali kata-kata yang dia lontarkan.
“Aku yang seharusnya minta maaf, kakak. Aku tahu kau hanya ingin menghiburku,” jawab Dowager Empress Marie, juga tampak menyesal.
“Tapi apa kau tahu kalau tidak sopan menyebut kakak sepupumu dengan sebutan “orang itu”, Pangeran? Dia adalah kakakmu. Walau kalian menyukai gadis yang sama, namun kalian berdua tetap saudara. Mommy tidak mau masalah cinta segitiga yang rumit ini akan membuat kedua Kerajaan saling berseteru. Kau harus ingat bahwa Denmark dan Norwegia selamanya bersaudara,” ujar Ratu Maud mengingatkan sang Putra.
“Aku tahu. Maafkan aku, Mom. Jadi, apakah Ibu akan mengijinkanku untuk menyelamatkan Nastya?” tanya Pangeran Alex bersikeras.
“Tapi bagaimana jika Ayahmu tidak mengijinkan? Kau adalah putra kami satu-satunya, Alex.” ujar Sang Ibu, Ratu Maud tampak khawatir.
“Aku tidak sendiri, benarkan? Paman Nikolai Sokolov akan menemaniku. Bukankah Nenek Alexandra juga akan memberikan pasukan bantuan secara diam-diam? Ditambah lagi, aku juga membawa pasukan pribadiku yang mengawalku kemari. Jadi tak ada yang perlu dicemaskan,” jawab Sang Pangeran dengan keras kepala.
“Tapi terlalu banyak orang justru akan mengundang kecurigaan,” ujar Dowager Queen Alexandra.
“Kami akan berjalan terpisah. Aku akan membagi mereka dalam beberapa kelompok yang akan berjalan dalam jarak beberapa meter dan berbaur dengan masyarakat agar tidak menimbulkan kecurigaan Tentara Merah,” lagi, Sang Pangeran muda berusaha meyakinkan sang Ibu.
“Tapi...” Ratu Maud masih tampak khawatir.
“Kumohon, Ibu! Aku sungguh ingin menyelamatkan Nastya! Aku harus menyelamatkannya, setidaknya sebelum orang itu…maksudku, Kakak menyelamatkannya lebih dulu,” Alex tetap bersikeras pada rencananya.
“Baiklah. Tapi kau harus berjanji untuk pulang dengan selamat,” ujar Sang Ibu, akhirnya pasrah dengan keinginan sang putra.
“Pasti! Dan aku akan membawa Anastasia bersamaku,” janji Sang Pangeran Muda dengan penuh semangat.
“Terima kasih, Alex sayang.” Ujar Dowager Empress Marie dengan mata berkaca-kaca lalu mengulurkan tangannya untuk memeluk cucu keponakannya.
“Aku melakukannya untuk diriku sendiri, Nenek. Tak perlu berterima kasih,” jawab Sang Pangeran tulus.
“Semoga Tuhan memberkatimu dan Nastya,” ujar Dowager Empress Marie memberikan restu dan doa terbaiknya.
“Together In Norway. Nastya, aku akan membuat tulisan di kalung itu menjadi kenyataan. Tunggulah aku! Aku akan segera datang menolongmu,” janji Pangeran Alex dalam hati.
To be continued...
“Aku melakukannya untuk diriku sendiri, Nenek. Tak perlu berterima kasih,” jawab Sang Pangeran tulus.
“Semoga Tuhan memberkatimu dan Nastya,” ujar Dowager Empress Marie memberikan restu dan doa terbaiknya.
“Together In Norway. Nastya, aku akan membuat tulisan di kalung itu menjadi kenyataan. Tunggulah aku! Aku akan segera datang menolongmu,” janji Pangeran Alex dalam hati.
To be continued...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar