Seorang gadis muda dengan mengenakan kerudung di kepalanya berjalan dengan langkah cepat seraya menoleh ke kiri dan ke kanan dengan sikap waspada. Entah kenapa, tiba-tiba saja dia merasa seperti semua orang sedang mengikutinya dan mengincar nyawanya kapan saja, walaupun faktanya tak ada yang mengikutinya saat ini.
Setelah memastikan situasi aman, dia segera berlari kecil ke arah gang kecil di samping sebuah bangunan tua yang terbengkalai. Jika biasanya dia selalu berjalan masuk melalui pintu depan dengan santai, namun tidak kali ini.
Gadis itu memilih masuk melalui sebuah pintu rahasia tersembunyi, pintu rahasia yang awalnya adalah pintu basecamp yang tertutup reruntuhan setelah gedung itu terbakar beberapa saat yang lalu.
Gedung tua terbengkalai itu dulunya adalah sebuah gedung bioskop, tempat di mana para bangsawan, keluarga Kerajaan dan bahkan rakyat biasa menghabiskan waktu mereka untuk menonton pertunjukan jika mereka merasa bosan atau suntuk.
Singkat kata, gedung itu adalah satu-satunya tempat hiburan di kota itu sebelum Tentara Merah Bolsheviks membakar dan menghancurkan gedung itu. Dengan alasan, sekarang bukan saatnya untuk bersenang-senang karena situasi politik sedang memanas dan Russia dalam keadaan krisis.
Namun walaupun gedung itu sempat terbakar, namun karena memang gedung itu dibangun dengan kokoh, bagian dalam gedung itu masih berdiri dengan kokoh bagaikan tak tersentuh api, hanya bagian luarnya saja yang tampak sedikit hancur dan menghitam karena bekas dililit api.
Di tempat inilah gadis muda itu dan temannya tinggal untuk sementara waktu setelah Panti Asuhan tempat mereka tinggal sebelumnya, dibakar oleh Pasukan Tentara Merah Bolsheviks dan menyebabkan banyak anak-anak Panti yang belum sempat melarikan diri, terbakar hidup-hidup di dalam sana.
Beruntunglah gadis muda dan temannya itu sedang menyelinap keluar untuk bermain di hutan belakang Panti Asuhan saat tragedi pembakaran itu terjadi. Gadis muda dan temannya itu berusaha menyelamatkan teman-teman mereka yang terjebak di dalam sana, namun api yang begitu besar membuat usaha mereka sia-sia, karena kebanyakan anak-anak yang masih kecil, akhirnya tak berhasil diselamatkan.
Entah apa yang membuat Tentara Merah Bolsheviks begitu kejam hingga membakar Panti Asuhan dan membunuh banyak anak yang tak bersalah. Dan kini, mereka juga mengincar nyawanya.
“Kau pikir kau bisa tenang sekarang? Walau bukan kami yang menangkapmu sekarang. Cepat atau lambat akan ada orang lain yang melakukannya. Seluruh penjuru Russia sedang mengincar nyawamu sekarang. Berhati-hatilah, Yang Mulia!” Ariadna mendadak teringat pada ucapan seorang pria yang tadi siang menculiknya dan hampir saja membuat nyawanya melayang.
“Brengsek kau, Bolsheviks! Pasukan revolusi apanya? Mereka adalah pemberontak keji yang tak punya hati!” umpat gadis muda itu seraya berjalan masuk melalui pintu rahasia dengan sikap waspada.
“Ariadna, syukurlah kau sudah kembali. Aku cemas sekali. Bukankah sudah kukatakan kalau situasinya sedang tidak aman dan lebih baik kau di sini saja? Kenapa kau justru tidak mendengarkan aku dan pergi keluar? Bagaimana jika mereka menangkapmu?” Dayana langsung menghampiri Ariadna dengan cemas dan mengomelinya saat melihat temannya itu kembali ke sana dengan selamat.
“Aku hanya ingin membuktikan ucapanmu waktu itu, dan sialnya kau benar. Mereka mengincar nyawaku karena mengira aku adalah Putri itu,” ujar Ariadna kesal, seraya mengambil teko berisi air dan meminumnya dengan cepat.
“Apa yang terjadi? Apa sesuatu terjadi padamu, teman? Kau terlihat sangat kehausan seolah baru berlari sepuluh kilometer jauhnya,” tanya Dayana dengan ekspresi khawatir.
“Kau benar. Aku berlari ketakutan sepanjang jalan. Aku takut akan ada seseorang yang akan menangkapku lagi. Aku lolos kali ini, belum tentu aku bisa lolos lain kali,” sahut Ariadna seraya menyeka dagunya yang basah karena air minum yang diminumnya tergesa-gesa.
“Apa? Menangkapmu? Sudah ada orang yang ingin menangkapmu? Ya ampun,” Dayana berseru histeris saat mendengar penuturan sahabatnya.
Ariadna mengangguk pasrah, “Aku bertemu dua orang pemuda gila yang tiba-tiba menangkap dan menyekapku di sebuah gudang tua lalu ingin menyerahkanku pada seorang pria bernama Yurovsky untuk ditukar dengan sejumlah uang,” jelas Ariadna.
“Ya Tuhan. Ini buruk sekali. Lalu bagaimana kau bisa lari?” tanya Dayana, terdengar lega.
“Untung saja mereka bodoh jadi bisa kubohongi. Tapi aku tidak yakin aku akan lolos lain kali jika ada orang yang ingin menangkapku lagi,” jawab Ariadna tak yakin.
Jika saja Monarki masih berjaya, dia akan bersorak memiliki wajah yang sama dengan Sang Putri, tapi tidak, saat Monarki sudah hancur seperti ini. Kemiripan wajahnya dengan sang Putri akan membuat hidupnya dalam bahaya. Sekarang semua orang menginginkan nyawanya.
“Ini sama sekali tidak masuk akal. Kau tahu aku bukan dia! Aku bukan Grand Duchess Anastasia Nikolaevna Romanova! Aku bahkan tak pernah keluar dari kota ini. Aku tak pernah bertemu keluarga Kerajaan sebelumnya!” seru Ariadna tak terima.
“Dan aku juga tak tahu kenapa aku bisa memiliki wajah yang sama dengannya. Ini sama sekali tidak masuk akal!” lanjut Ariadna, tampak tak percaya.
“Tapi ini fakta yang tidak bisa dibantah! Dan sekarang kau tak bisa keluar dengan mudah. Semua orang akan mengenalimu dan akan melaporkanmu ke Pasukan Revolusi Bolsheviks karena mengira kau adalah dia. Hidupmu dalam bahaya jika kau terus tinggal di Russia,” Ujar si gadis berambut coklat, Dayana tampak cemas.
“Pasukan Revolusi? Bagiku, Bolsheviks adalah sekumpulan pemberontak keji yang tega menghabisi seluruh keluarga Kerajaan Romanov, bahkan mereka tega membunuh Tsarevich Alexei yang masih sangat kecil!” seru Ariadna penuh emosi, ketika mendengar sahabatnya menyebut Bolsheviks dengan sebutan ‘Pasukan Revolusi’.
“Tak hanya itu, kau lupa bagaimana mereka tanpa alasan membakar Panti Asuhan kita dan membuat adik-adik kita meregang nyawa begitu saja? Anak-anak itu tidak bersalah! Kita tidak bersalah! Kenapa mereka membakar Panti Asuhan kita?” lanjut Ariadna, berseru marah dengan emosi dalam dadanya.
“Dan kau masih memanggil mereka dengan sebutan Pasukan Revolusi setelah semua kekejaman mereka? Bagiku, mereka adalah pemberontak keji yang tak punya hati,” tambah Ariadna dengan nada tajam penuh kebencian.
“Demi Tuhan, Ariadna! Kecilkan suaramu! Jangan sampai ada orang yang mendengarnya! Dan berhentilah bicara seolah-olah kau adalah Grand Duchess Anastasia,” ujar si gadis berambut coklat gelap, Dayana dengan khawatir.
“Bahkan walau aku tak mengatakan apa pun, mereka tetap ingin menangkapku tanpa alasan. Bukankah sudah terlambat untuk takut? Cepat atau lambat kita akan mati karena kekejaman mereka!” seru Ariadna, tak peduli.
“Aku serius Ariadna, pergilah sejauh mungkin dari Russia!” ujar Dayana, mencoba membujuk sahabatnya agar tenang.
“Dan ke mana aku harus pergi, Dayana?” tanya gadis itu, Ariadna dengan bingung.
“Ke mana pun asal tinggalkan Russia. Kau benar-benar akan mati jika pasukan Bolsheviks menemukanmu,” ujar temannya – Dayana tampak cemas.
“Aku bukan Grand Duchess Anastasia! Jadi kenapa aku harus takut pada mereka? Aku tidak melakukan kesalahan apa pun! Aku tak punya hubungan apa pun dengan keluarga kerajaan Romanov. Kenapa aku harus pergi dari tempat aku dibesarkan selama ini?” Ariadna menjerit frustasi.
Setelah memastikan situasi aman, dia segera berlari kecil ke arah gang kecil di samping sebuah bangunan tua yang terbengkalai. Jika biasanya dia selalu berjalan masuk melalui pintu depan dengan santai, namun tidak kali ini.
Gadis itu memilih masuk melalui sebuah pintu rahasia tersembunyi, pintu rahasia yang awalnya adalah pintu basecamp yang tertutup reruntuhan setelah gedung itu terbakar beberapa saat yang lalu.
Gedung tua terbengkalai itu dulunya adalah sebuah gedung bioskop, tempat di mana para bangsawan, keluarga Kerajaan dan bahkan rakyat biasa menghabiskan waktu mereka untuk menonton pertunjukan jika mereka merasa bosan atau suntuk.
Singkat kata, gedung itu adalah satu-satunya tempat hiburan di kota itu sebelum Tentara Merah Bolsheviks membakar dan menghancurkan gedung itu. Dengan alasan, sekarang bukan saatnya untuk bersenang-senang karena situasi politik sedang memanas dan Russia dalam keadaan krisis.
Namun walaupun gedung itu sempat terbakar, namun karena memang gedung itu dibangun dengan kokoh, bagian dalam gedung itu masih berdiri dengan kokoh bagaikan tak tersentuh api, hanya bagian luarnya saja yang tampak sedikit hancur dan menghitam karena bekas dililit api.
Di tempat inilah gadis muda itu dan temannya tinggal untuk sementara waktu setelah Panti Asuhan tempat mereka tinggal sebelumnya, dibakar oleh Pasukan Tentara Merah Bolsheviks dan menyebabkan banyak anak-anak Panti yang belum sempat melarikan diri, terbakar hidup-hidup di dalam sana.
Beruntunglah gadis muda dan temannya itu sedang menyelinap keluar untuk bermain di hutan belakang Panti Asuhan saat tragedi pembakaran itu terjadi. Gadis muda dan temannya itu berusaha menyelamatkan teman-teman mereka yang terjebak di dalam sana, namun api yang begitu besar membuat usaha mereka sia-sia, karena kebanyakan anak-anak yang masih kecil, akhirnya tak berhasil diselamatkan.
Entah apa yang membuat Tentara Merah Bolsheviks begitu kejam hingga membakar Panti Asuhan dan membunuh banyak anak yang tak bersalah. Dan kini, mereka juga mengincar nyawanya.
“Kau pikir kau bisa tenang sekarang? Walau bukan kami yang menangkapmu sekarang. Cepat atau lambat akan ada orang lain yang melakukannya. Seluruh penjuru Russia sedang mengincar nyawamu sekarang. Berhati-hatilah, Yang Mulia!” Ariadna mendadak teringat pada ucapan seorang pria yang tadi siang menculiknya dan hampir saja membuat nyawanya melayang.
“Brengsek kau, Bolsheviks! Pasukan revolusi apanya? Mereka adalah pemberontak keji yang tak punya hati!” umpat gadis muda itu seraya berjalan masuk melalui pintu rahasia dengan sikap waspada.
“Ariadna, syukurlah kau sudah kembali. Aku cemas sekali. Bukankah sudah kukatakan kalau situasinya sedang tidak aman dan lebih baik kau di sini saja? Kenapa kau justru tidak mendengarkan aku dan pergi keluar? Bagaimana jika mereka menangkapmu?” Dayana langsung menghampiri Ariadna dengan cemas dan mengomelinya saat melihat temannya itu kembali ke sana dengan selamat.
“Aku hanya ingin membuktikan ucapanmu waktu itu, dan sialnya kau benar. Mereka mengincar nyawaku karena mengira aku adalah Putri itu,” ujar Ariadna kesal, seraya mengambil teko berisi air dan meminumnya dengan cepat.
“Apa yang terjadi? Apa sesuatu terjadi padamu, teman? Kau terlihat sangat kehausan seolah baru berlari sepuluh kilometer jauhnya,” tanya Dayana dengan ekspresi khawatir.
“Kau benar. Aku berlari ketakutan sepanjang jalan. Aku takut akan ada seseorang yang akan menangkapku lagi. Aku lolos kali ini, belum tentu aku bisa lolos lain kali,” sahut Ariadna seraya menyeka dagunya yang basah karena air minum yang diminumnya tergesa-gesa.
“Apa? Menangkapmu? Sudah ada orang yang ingin menangkapmu? Ya ampun,” Dayana berseru histeris saat mendengar penuturan sahabatnya.
Ariadna mengangguk pasrah, “Aku bertemu dua orang pemuda gila yang tiba-tiba menangkap dan menyekapku di sebuah gudang tua lalu ingin menyerahkanku pada seorang pria bernama Yurovsky untuk ditukar dengan sejumlah uang,” jelas Ariadna.
“Ya Tuhan. Ini buruk sekali. Lalu bagaimana kau bisa lari?” tanya Dayana, terdengar lega.
“Untung saja mereka bodoh jadi bisa kubohongi. Tapi aku tidak yakin aku akan lolos lain kali jika ada orang yang ingin menangkapku lagi,” jawab Ariadna tak yakin.
Jika saja Monarki masih berjaya, dia akan bersorak memiliki wajah yang sama dengan Sang Putri, tapi tidak, saat Monarki sudah hancur seperti ini. Kemiripan wajahnya dengan sang Putri akan membuat hidupnya dalam bahaya. Sekarang semua orang menginginkan nyawanya.
“Ini sama sekali tidak masuk akal. Kau tahu aku bukan dia! Aku bukan Grand Duchess Anastasia Nikolaevna Romanova! Aku bahkan tak pernah keluar dari kota ini. Aku tak pernah bertemu keluarga Kerajaan sebelumnya!” seru Ariadna tak terima.
“Dan aku juga tak tahu kenapa aku bisa memiliki wajah yang sama dengannya. Ini sama sekali tidak masuk akal!” lanjut Ariadna, tampak tak percaya.
“Tapi ini fakta yang tidak bisa dibantah! Dan sekarang kau tak bisa keluar dengan mudah. Semua orang akan mengenalimu dan akan melaporkanmu ke Pasukan Revolusi Bolsheviks karena mengira kau adalah dia. Hidupmu dalam bahaya jika kau terus tinggal di Russia,” Ujar si gadis berambut coklat, Dayana tampak cemas.
“Pasukan Revolusi? Bagiku, Bolsheviks adalah sekumpulan pemberontak keji yang tega menghabisi seluruh keluarga Kerajaan Romanov, bahkan mereka tega membunuh Tsarevich Alexei yang masih sangat kecil!” seru Ariadna penuh emosi, ketika mendengar sahabatnya menyebut Bolsheviks dengan sebutan ‘Pasukan Revolusi’.
“Tak hanya itu, kau lupa bagaimana mereka tanpa alasan membakar Panti Asuhan kita dan membuat adik-adik kita meregang nyawa begitu saja? Anak-anak itu tidak bersalah! Kita tidak bersalah! Kenapa mereka membakar Panti Asuhan kita?” lanjut Ariadna, berseru marah dengan emosi dalam dadanya.
“Dan kau masih memanggil mereka dengan sebutan Pasukan Revolusi setelah semua kekejaman mereka? Bagiku, mereka adalah pemberontak keji yang tak punya hati,” tambah Ariadna dengan nada tajam penuh kebencian.
“Demi Tuhan, Ariadna! Kecilkan suaramu! Jangan sampai ada orang yang mendengarnya! Dan berhentilah bicara seolah-olah kau adalah Grand Duchess Anastasia,” ujar si gadis berambut coklat gelap, Dayana dengan khawatir.
“Bahkan walau aku tak mengatakan apa pun, mereka tetap ingin menangkapku tanpa alasan. Bukankah sudah terlambat untuk takut? Cepat atau lambat kita akan mati karena kekejaman mereka!” seru Ariadna, tak peduli.
“Aku serius Ariadna, pergilah sejauh mungkin dari Russia!” ujar Dayana, mencoba membujuk sahabatnya agar tenang.
“Dan ke mana aku harus pergi, Dayana?” tanya gadis itu, Ariadna dengan bingung.
“Ke mana pun asal tinggalkan Russia. Kau benar-benar akan mati jika pasukan Bolsheviks menemukanmu,” ujar temannya – Dayana tampak cemas.
“Aku bukan Grand Duchess Anastasia! Jadi kenapa aku harus takut pada mereka? Aku tidak melakukan kesalahan apa pun! Aku tak punya hubungan apa pun dengan keluarga kerajaan Romanov. Kenapa aku harus pergi dari tempat aku dibesarkan selama ini?” Ariadna menjerit frustasi.
“Tapi masalahnya kau tidak punya bukti kau bukan Anastasia?” ujar Dayana, sama frustasinya.
“Lalu apa mereka punya bukti jika aku adalah Anastasia?” Ariadna balik bertanya dengan frustasi.
“Wajahmu yang sama persis dengan Sang Putri adalah bukti yang sangat kuat,” jawab Dayana tampak pasrah.
“Tapi aku bukan dia, demi Tuhan!” lagi, Ariadna menjerit frustasi.
“Kita tumbuh besar bersama di panti asuhan, kau tahu aku tak punya keluarga. Kau bisa bersaksi untukku kalau aku bukan gadis dalam poster itu. Dan orang-orang di panti asuhan juga bisa bersaksi untukku, kan?” Ariadna masih yakin bahwa dia bisa menjelaskan semuanya dan membuktikan bahwa dia bukan gadis yang mereka cari.
“Aridna, untuk yang kedua kalinya aku katakan, mereka tidak akan peduli semua itu! Pemimpin Pasukan Tentara Merah Bolsheviks – Vladimir Lenin hanya ingin menghabisi keluarga kerajaan Romanov. Mereka ingin mengambil alih kekuasaan dan menjadi penguasa di Russia. Dan tidak peduli kau Anastasia atau bukan, mereka akan tetap menghabisimu untuk berjaga-jaga,” Jawab Dayana, terdengar masuk akal.
“Dan lagi, orang-orang yang bisa membuktikan bahwa kau bukan Grand Duchess Anastasia, sudah meninggal dalam kebakaran itu. Suster kepala Panti dan para biarawati yang memungutmu dan mengasuhmu sejak bayi, sudah meninggal dalam kebakaran itu,” lanjut Dayana mengingatkan sahabatnya.
“Dan aku, apa menurutmu Bolsheviks akan percaya dengan kata-kata gadis remaja sepertiku?” tambah Dayana putus asa. Lagi-lagi semua analisanya memang benar dan masuk akal.
“Aku yakin Grand Duchess Anastasia pasti tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Dia pasti akan kembali dan merebut kekuasaan, juga membalaskan dendam keluarganya! Dia tidak akan membiarkan Tentara Merah Bolsheviks bersikap sewenang-wenang dan membunuh rakyat yang tidak bersalah!” seru Ariadna dengan penuh keyakinan pada Anastasia.
“Tapi itupun jika dia benar-benar masih hidup di luar sana,” bantah Dayana dengan lirih, tampak kehilangan harapan.
“Ariadna, aku serius. Hanya ada dua cara agar kau bisa tetap hidup,” lanjut Dayana, mengulangi ucapannya.
“Kau ingin aku pergi meninggalkan Russia selamanya atau menemukan Grand Duchess Anastasia, kan? Apa kau tahu kalau keduanya tidak mudah, Dayana?” ujar Ariadna dengan putus asa.
“Aku tidak tahu di mana Sang Putri berada saat ini dan ditambah lagi, Russia sangat luas, butuh waktu berhari-hari atau bahkan berbulan-bulan agar aku bisa sampai ke perbatasan. Bagaimana jika mereka menemukan aku lebih dulu saat aku dalam pelarian?” lanjut Ariadna, masuk akal.
Russia sangat luas, untuk mencapai perbatasan tentu tidaklah mudah dan butuh waktu berhari-hari, berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan lamanya.
“Setidaknya kau sudah mencobanya. Jika seandainya kau gagal dan tertangkap, takkan ada penyesalan dalam hatimu. Tak ada seorangpun yang bisa memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan, Ariadna. Segala hal bisa terjadi,” ujar Dayana, memberikan semangat pada sahabatnya.
“Setidaknya kau sudah berusaha untuk tetap hidup. Itu lebih baik daripada kau diam saja di sini dan menunggu kematian menjemputmu. Tentara Merah Bolsheviks akan menggeledah tempat ini cepat atau lambat dan hanya masalah waktu sebelum mereka menemukanmu di sini,” lanjut Dayana, masuk akal.
Ariadna terdiam dan berpikir. Dayana benar. Lebih baik mencoba dan gagal daripada tidak mencoba dan diam saja menunggu kematian datang menjemput kita.
“Pergilah, Aridna! Larilah sejauh mungkin! Setidaknya kau harus berusaha untuk hidupmu!” ujar Dayana sekali lagi.
“Go! As far as you can go!” lanjut Dayana dengan mantap.
“Lalu ke mana aku harus pergi?” tanya Ariadna bingung.
“Carilah Dowager Empress Marie. Beliau adalah Nenek dari Grand Duchess Anastasia dan Ibu kandung dari Kaisar kita, Tsar Nicholas II dari Russia,” jawab Dayana, memberi usul.
“Lalu apa mereka punya bukti jika aku adalah Anastasia?” Ariadna balik bertanya dengan frustasi.
“Wajahmu yang sama persis dengan Sang Putri adalah bukti yang sangat kuat,” jawab Dayana tampak pasrah.
“Tapi aku bukan dia, demi Tuhan!” lagi, Ariadna menjerit frustasi.
“Kita tumbuh besar bersama di panti asuhan, kau tahu aku tak punya keluarga. Kau bisa bersaksi untukku kalau aku bukan gadis dalam poster itu. Dan orang-orang di panti asuhan juga bisa bersaksi untukku, kan?” Ariadna masih yakin bahwa dia bisa menjelaskan semuanya dan membuktikan bahwa dia bukan gadis yang mereka cari.
“Aridna, untuk yang kedua kalinya aku katakan, mereka tidak akan peduli semua itu! Pemimpin Pasukan Tentara Merah Bolsheviks – Vladimir Lenin hanya ingin menghabisi keluarga kerajaan Romanov. Mereka ingin mengambil alih kekuasaan dan menjadi penguasa di Russia. Dan tidak peduli kau Anastasia atau bukan, mereka akan tetap menghabisimu untuk berjaga-jaga,” Jawab Dayana, terdengar masuk akal.
“Dan lagi, orang-orang yang bisa membuktikan bahwa kau bukan Grand Duchess Anastasia, sudah meninggal dalam kebakaran itu. Suster kepala Panti dan para biarawati yang memungutmu dan mengasuhmu sejak bayi, sudah meninggal dalam kebakaran itu,” lanjut Dayana mengingatkan sahabatnya.
“Dan aku, apa menurutmu Bolsheviks akan percaya dengan kata-kata gadis remaja sepertiku?” tambah Dayana putus asa. Lagi-lagi semua analisanya memang benar dan masuk akal.
“Aku yakin Grand Duchess Anastasia pasti tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Dia pasti akan kembali dan merebut kekuasaan, juga membalaskan dendam keluarganya! Dia tidak akan membiarkan Tentara Merah Bolsheviks bersikap sewenang-wenang dan membunuh rakyat yang tidak bersalah!” seru Ariadna dengan penuh keyakinan pada Anastasia.
“Tapi itupun jika dia benar-benar masih hidup di luar sana,” bantah Dayana dengan lirih, tampak kehilangan harapan.
“Ariadna, aku serius. Hanya ada dua cara agar kau bisa tetap hidup,” lanjut Dayana, mengulangi ucapannya.
“Kau ingin aku pergi meninggalkan Russia selamanya atau menemukan Grand Duchess Anastasia, kan? Apa kau tahu kalau keduanya tidak mudah, Dayana?” ujar Ariadna dengan putus asa.
“Aku tidak tahu di mana Sang Putri berada saat ini dan ditambah lagi, Russia sangat luas, butuh waktu berhari-hari atau bahkan berbulan-bulan agar aku bisa sampai ke perbatasan. Bagaimana jika mereka menemukan aku lebih dulu saat aku dalam pelarian?” lanjut Ariadna, masuk akal.
Russia sangat luas, untuk mencapai perbatasan tentu tidaklah mudah dan butuh waktu berhari-hari, berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan lamanya.
“Setidaknya kau sudah mencobanya. Jika seandainya kau gagal dan tertangkap, takkan ada penyesalan dalam hatimu. Tak ada seorangpun yang bisa memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan, Ariadna. Segala hal bisa terjadi,” ujar Dayana, memberikan semangat pada sahabatnya.
“Setidaknya kau sudah berusaha untuk tetap hidup. Itu lebih baik daripada kau diam saja di sini dan menunggu kematian menjemputmu. Tentara Merah Bolsheviks akan menggeledah tempat ini cepat atau lambat dan hanya masalah waktu sebelum mereka menemukanmu di sini,” lanjut Dayana, masuk akal.
Ariadna terdiam dan berpikir. Dayana benar. Lebih baik mencoba dan gagal daripada tidak mencoba dan diam saja menunggu kematian datang menjemput kita.
“Pergilah, Aridna! Larilah sejauh mungkin! Setidaknya kau harus berusaha untuk hidupmu!” ujar Dayana sekali lagi.
“Go! As far as you can go!” lanjut Dayana dengan mantap.
“Lalu ke mana aku harus pergi?” tanya Ariadna bingung.
“Carilah Dowager Empress Marie. Beliau adalah Nenek dari Grand Duchess Anastasia dan Ibu kandung dari Kaisar kita, Tsar Nicholas II dari Russia,” jawab Dayana, memberi usul.
“Dan ke mana aku harus mencarinya?” Ariadna masih tampak bingung dengan semua ini.
“Dowager Empress Marie adalah seorang Putri dari Kerajaan Denmark sebelum beliau menikah dengan Tsar Alexander III dan menjadi Ratu Russia serta menjadi Ibu Tsar Nicholas II. Jadi pergilah ke Kerajaan Denmark untuk meminta perlindungan darinya,” usul Dayana.
“Kerajaan Denmark? Apa kau yakin kalau Dowager Empress Marie ada di sana?” sahut Ariadna tampak tak yakin.
“Aku mendengar gosip yang mengatakan kalau sebulan sebelum tragedi pembantaian ini terjadi, Tsar Nicholas II mengirim beliau ke Kerajaan Inggris, tepatnya London untuk bertemu dengan saudara perempuannya, Dowager Queen Alexandra.” Lanjut Ariadna dengan gaya mengingat.
“King George V, putra Dowager Queen Alexandra bahkan mengirim sebuah kapal pesiar untuk menjemput bibinya. Bukankah itu berarti beliau ada di Kerajaan Inggris sekarang?” tambah Ariadna, mencoba mengingat informasi yang pernah didengarnya.
“Dari mana kau mendengar itu?” kali ini, Dayana yang terdengar bingung.
“Entahlah. Aku lupa aku mendengarnya di mana. Hanya pernah mendengarnya saja,” jawab Ariadna dengan tersenyum kikuk.
“Baiklah. Kalau begitu kau pergi saja ke Kerajaan Inggris,” jawab Dayana mengusulkan.
“APA? Apa kau meminta aku menyamar menjadi Grand Duchess Anastasia dan menipu seorang Ibu Suri?” tanya Ariadna tak percaya.
“Aku tak memintamu untuk menyamar menjadi Grand Duchess Anastasia. Aku hanya memintamu mencari perlindungan pada Dowager Empress Marie. Melihat kemiripan wajahmu dengan Grand Duchess Anastasia kurasa tak sulit bagimu untuk menemuinya,” ujar Dayana.
“Benarkah? Kupikir kau menyuruhku untuk menyamar,” ujar Ariadna dengan tatapan penuh selidik.
“Yang benar saja! Membohongi seorang Ibu Suri, yang ada kau akan berakhir di tiang gantungan. Manfaatkan kemiripan wajahmu dengan cucunya dan setelah kau berhasil menemuinya, barulah kau jelaskan apa yang sebenarnya terjadi padanya,” sahut Dayana, mengelak.
“Minta tolong padanya untuk menerimamu sebagai pelayan atau apalah, yang penting tetaplah tinggal di sana dan jangan pernah kembali ke Russia!” usul Dayana pada temannya.
“Lalu kita tidak akan bertemu selamanya?” Ariadna terdengar sedih.
“Kita akan bertemu lagi jika Tuhan mengijinkan,” jawab Dayana tampak tak yakin.
“Tapi aku pasti akan merindukanmu, Dayana.” Ariadna tampak tak rela.
“Tapi kau akan mati konyol jika tetap di Russia. Pergi adalah satu-satunya jalan,” jawab Dayana, terdengar masuk akal.
“Aku bersyukur memilikimu sebagai temanku,” ujar Ariadna lagi lalu memeluk sahabatnya sayang.
“Aku juga. Andai saja Keluarga Kerajaan masih berjaya, mungkin kau bisa memanfaatkan kemiripan ini untuk menjadi saudara angkat Grand Duchess Anastasia. Dan aku pasti akan sangat bahagia memiliki teman seorang Putri Kerajaan,” gurau Dayana sambil membalas pelukan sahabatnya.
“Kau bercanda? Kita bahkan tak tahu Grand Duchess Anastasia masih hidup atau sudah mati,” sindir Ariadna.
“Menurutmu?” Dayana balik bertanya.
“Entahlah. Ini masih misteri. Bukankah mereka bilang mayatnya menghilang? Menurutku Grand Duchess Anastasia masih hidup, setidaknya itu yang mereka pikirkan. Jika tidak, dia tidak akan menjadi target utama pencarian Tentara Merah Bolsheviks, kan?” jawab Ariadna, walau terlihat tidak yakin.
“Tapi bicara tentang Tentara Merah Bolsheviks, bagaimana caranya aku bisa lolos dari sini? Mereka pasti akan melakukan patroli ke semua tempat dan memastikan bahwa tidak akan ada yang bisa lolos dari pantauan mereka, bahkan tidak seekor tikus sekalipun,” lanjut Ariadna tampak pasrah.
“Aku punya satu cara yang mungkin akan berhasil.” jawab Dayana dengan yakin.
“Apa itu?” tanya Ariadna dengan mata berkilat penasaran.
“Dengan menyamar menjadi pengemis kudisan,” jawab Dayana sambil tersenyum jahil.
“Apa? Menyamar menjadi pengemis kudisan?” ulang Ariadna, tampak shock mendengar usul sahabatnya.
To be continued...
“Dowager Empress Marie adalah seorang Putri dari Kerajaan Denmark sebelum beliau menikah dengan Tsar Alexander III dan menjadi Ratu Russia serta menjadi Ibu Tsar Nicholas II. Jadi pergilah ke Kerajaan Denmark untuk meminta perlindungan darinya,” usul Dayana.
“Kerajaan Denmark? Apa kau yakin kalau Dowager Empress Marie ada di sana?” sahut Ariadna tampak tak yakin.
“Aku mendengar gosip yang mengatakan kalau sebulan sebelum tragedi pembantaian ini terjadi, Tsar Nicholas II mengirim beliau ke Kerajaan Inggris, tepatnya London untuk bertemu dengan saudara perempuannya, Dowager Queen Alexandra.” Lanjut Ariadna dengan gaya mengingat.
“King George V, putra Dowager Queen Alexandra bahkan mengirim sebuah kapal pesiar untuk menjemput bibinya. Bukankah itu berarti beliau ada di Kerajaan Inggris sekarang?” tambah Ariadna, mencoba mengingat informasi yang pernah didengarnya.
“Dari mana kau mendengar itu?” kali ini, Dayana yang terdengar bingung.
“Entahlah. Aku lupa aku mendengarnya di mana. Hanya pernah mendengarnya saja,” jawab Ariadna dengan tersenyum kikuk.
“Baiklah. Kalau begitu kau pergi saja ke Kerajaan Inggris,” jawab Dayana mengusulkan.
“APA? Apa kau meminta aku menyamar menjadi Grand Duchess Anastasia dan menipu seorang Ibu Suri?” tanya Ariadna tak percaya.
“Aku tak memintamu untuk menyamar menjadi Grand Duchess Anastasia. Aku hanya memintamu mencari perlindungan pada Dowager Empress Marie. Melihat kemiripan wajahmu dengan Grand Duchess Anastasia kurasa tak sulit bagimu untuk menemuinya,” ujar Dayana.
“Benarkah? Kupikir kau menyuruhku untuk menyamar,” ujar Ariadna dengan tatapan penuh selidik.
“Yang benar saja! Membohongi seorang Ibu Suri, yang ada kau akan berakhir di tiang gantungan. Manfaatkan kemiripan wajahmu dengan cucunya dan setelah kau berhasil menemuinya, barulah kau jelaskan apa yang sebenarnya terjadi padanya,” sahut Dayana, mengelak.
“Minta tolong padanya untuk menerimamu sebagai pelayan atau apalah, yang penting tetaplah tinggal di sana dan jangan pernah kembali ke Russia!” usul Dayana pada temannya.
“Lalu kita tidak akan bertemu selamanya?” Ariadna terdengar sedih.
“Kita akan bertemu lagi jika Tuhan mengijinkan,” jawab Dayana tampak tak yakin.
“Tapi aku pasti akan merindukanmu, Dayana.” Ariadna tampak tak rela.
“Tapi kau akan mati konyol jika tetap di Russia. Pergi adalah satu-satunya jalan,” jawab Dayana, terdengar masuk akal.
“Aku bersyukur memilikimu sebagai temanku,” ujar Ariadna lagi lalu memeluk sahabatnya sayang.
“Aku juga. Andai saja Keluarga Kerajaan masih berjaya, mungkin kau bisa memanfaatkan kemiripan ini untuk menjadi saudara angkat Grand Duchess Anastasia. Dan aku pasti akan sangat bahagia memiliki teman seorang Putri Kerajaan,” gurau Dayana sambil membalas pelukan sahabatnya.
“Kau bercanda? Kita bahkan tak tahu Grand Duchess Anastasia masih hidup atau sudah mati,” sindir Ariadna.
“Menurutmu?” Dayana balik bertanya.
“Entahlah. Ini masih misteri. Bukankah mereka bilang mayatnya menghilang? Menurutku Grand Duchess Anastasia masih hidup, setidaknya itu yang mereka pikirkan. Jika tidak, dia tidak akan menjadi target utama pencarian Tentara Merah Bolsheviks, kan?” jawab Ariadna, walau terlihat tidak yakin.
“Tapi bicara tentang Tentara Merah Bolsheviks, bagaimana caranya aku bisa lolos dari sini? Mereka pasti akan melakukan patroli ke semua tempat dan memastikan bahwa tidak akan ada yang bisa lolos dari pantauan mereka, bahkan tidak seekor tikus sekalipun,” lanjut Ariadna tampak pasrah.
“Aku punya satu cara yang mungkin akan berhasil.” jawab Dayana dengan yakin.
“Apa itu?” tanya Ariadna dengan mata berkilat penasaran.
“Dengan menyamar menjadi pengemis kudisan,” jawab Dayana sambil tersenyum jahil.
“Apa? Menyamar menjadi pengemis kudisan?” ulang Ariadna, tampak shock mendengar usul sahabatnya.
To be continued...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar