“Tapi bagaimana dengan rambutku?” batin Anastasia berpikir lalu kemudian menemukan sebuah topi dan beberapa ribu rubel di dalam tas.
“Uang dan topi. Benar. Aku bisa membeli wig dengan uang ini. Kemudian dengan mengenakan topi dan pakaian pria, aku tidak akan ketahuan oleh siapa pun saat membeli wig tersebut,” gumamnya senang.
“Hei, aku telah menyelamatkan nyawamu. Tentunya kau harus berterima kasih padaku, kan? Jadi kurasa kau tidak akan keberatan jika aku meminjam pakaianmu dan meminta sedikit uangmu,” ujar Anastasia lirih seraya mengambil pakaian pemuda di dalam tas itu dan berganti baju di balik pepohonan dengan secepat kilat.
Kemudian dia memakaikan pakaiannya sendiri ke mayat wanita malang yang tubuh dan wajahnya telah dicabik-cabik oleh serigala liar itu hingga tak bisa dikenali lagi.
“Anggap saja Anastasia Nikolaevna Romanova telah mati dicabik-cabik oleh serigala liar,” gumam Anastasia saat melihat pakaiannya yang dia pakaikan ke mayat wanita malang itu.
“Untunglah kita punya warna rambut yang mirip. Kuharap Vladimir Lenin dan Yakov Yurovsky terkecoh dengan ini,” lanjutnya lagi.
“Sekarang aku harus menyelamatkan pemuda itu dulu, kemudian meminta uang darinya sebagai imbalan menyelamatkan nyawanya. Jadi dengan begitu, aku bisa menggunakan uang itu sebagai bekal perjalananku meninggalkan Russia,” gumam Anastasia seraya melirik pemuda yang masih pingsan itu.
“Hanya ada satu tempat yang aman untuk digunakan sebagai jalur untuk melarikan diri, yaitu ruang rahasia Alexander Palace!” batin Anastasia.
“Aku harus kembali ke sana, mengambil uangku lalu pergi meninggalkan negara ini melalui jalan rahasia untuk bertemu nenekku. Lalu kemudian barulah kembali untuk membalas dendam!” ujar Anastasia dalam hati, dengan berbagai rencana dalam otaknya.
Dia kembali ke arah pemuda itu dan membawanya pergi dari sana dengan menyeret kedua kakinya karena terlalu berat. Kemudian dia membawanya ke dalam sebuah goa yang terletak di pinggir hutan dan merawat lukanya dengan tumbuhan herbal yang dia temukan di dalam hutan.
Untung saja Anastasia dan kakak-kakaknya telah sangat berpengalaman dalam merawat korban perang, jadi sedikit banyak dia tahu bagaimana merawat luka dan mengenal berbagai macam tumbuhan herbal dan obat-obatan.
— 00000 —-
Petrograd (Now St. Peterburgh), Russia...
“Ini gila! Banyak sekali pasukan di sini! Bagaimana aku bisa lolos dari pemeriksaan mereka? Aku tak yakin ini akan berhasil,” ujar seorang gadis berkerudung abu-abu yang kumal dan penuh tambalan di mana-mana. Bukan hanya kerudung yang dikenakannya namun juga gaun yang dikenakannya penuh tambalan di mana-mana dan tampak sangat kumal dan kotor.
Bau menyengat tercium jelas dari seluruh tubuhnya. Wajah gadis itu pun terlihat penuh bintik-bintik hitam dan luka menganga tampak di mana-mana, sangat menjijikkan.
“Hei, kau yang di sana! Gadis berkerudung kumal! Kemari kau!” ujar seorang pria muda di awal dua puluhan yang mengenakan seragam pasukan berwarna merah menyala.
Note : Jangan dibayangkan “kerudung” adalah jilbab. Namun murni kerudung yang hanya dipakaikan di kepala, seperti dalam serial dongeng “Gadis berkerudung Merah”. Seperti itu penggambarannya. Bagi yang gak tahu, cari tahu tentang “Gadis Berkerudung Merah” di google.
Gadis itu terdiam membatu, jantungnya berdetak kencang saat pria itu menyadari kehadirannya.
“Hei, kau tidak dengar aku? Kau tampak sangat mencurigakan, apa kau tahu itu?” ujarnya lagi.
Gadis itu terdiam, dia mendengar suara langkah kaki yang semakin mendekat ke arahnya. Dia mencengkeram kerudungnya dan bersiap lari dengan menendang selangkangan pria itu jika itu memang perlu.
“Hei!” lagi, pria muda berseragam merah itu mengulurkan sebelah tangannya untuk menyentuh pundak gadis itu saat tiba-tiba gadis itu menoleh lebih dulu dan menjawab singkat, “Tuan memanggilku?” ujarnya lirih, dia menundukkan wajahnya, takut pria itu mengenalinya.
“Ihhh…kau bau sekali! Berapa lama kau tidak mandi? Dasar pengemis busuk!” ujar pria muda berseragam merah itu dengan menutup hidungnya menggunakan salah satu tangannya.
“Tuan memanggil saya?” gadis itu memutuskan untuk menghiraukan pertanyaan prajurit itu dan menantangnya dengan semakin mendekatinya.
“Jangan dekat-dekat denganku! Kau begitu bau!” kini keadaan berbalik, prajurit itu yang justru berjalan menjauh.
“Bukankah tadi Tuan memanggil saya?” lagi, gadis itu berpura-pura mendekat seraya membuka sedikit kerudung yang menutupi wajahnya.
Malam yang semakin larut ditambah langit yang mendung tertutup awan hitam, membuat pandangan prajurit itu menjadi samar. Dalam pandangannya yang samar, dia melihat luka-luka menganga di wajah gadis itu, wajahnya juga tampak kotor dan penuh bintik-bintik hitam. Sangat menjijikkan.
“Sudahlah, lupakan! Sepertinya kau bukan orang yang kami cari. Grand Duchess Anastasia tidak mungkin berubah menjadi sejelek ini. Kau pengemis kudisan sama sekali tidak tampak seperti seorang Putri. Pergi sana!” ujarnya mengusir.
Dalam hati, gadis itu bersorak girang. Rencananya berhasil dengan gemilang. Yup, rencananya. Rencana yang dia susun dengan sang sahabat yang membantunya dalam pelarian.
“Terima kasih, Dayana! Aku berhutang padamu,” ujar gadis itu dalam hati, Ariadna Alexandrova seraya bergegas pergi dari tempat itu sebelum prajurit tersebut berubah pikiran.
Karena hari sudah sangat larut, Ariadna memutuskan untuk mencari sebuah gang yang sempit dan gelap dan tertidur di antara tumpukan kardus bekas hingga pagi menjelang.
– 00000 –
Di dalam goa di tepi hutan...
Pagi menjelang, Anastasia membuka matanya dengan malas saat sinar matahari menerobos masuk ke dalam goa dan membuatnya mau tidak mau harus terbangun untuk melanjutkan perjuangan hidupnya. Semalaman dia menjaga pemuda itu hingga akhirnya dia tertidur dengan bersandar di dinding goa.
Anastasia melirik pemuda itu yang saat ini masih terbaring pingsan. Saat mengetahui pemuda itu masih pingsan, Anastasia dengan nekat memasuki kota dengan penyamarannya.
Dia kemudian membeli banyak makanan, wig pria dengan warna rambut abu-abu, obat-obatan dan beberapa setel pakaian pria untuknya.
Namun saat di tengah perjalanan, dia dihadang oleh dua orang pasukan Tentara Merah yang memeriksa barang bawaannya, untung saja, Anastasia telah memakai wig tersebut jadi mereka hanya menemukan makanan dan pakaian pria di dalamnya.
“Untuk siapa obat-obatan ini?” tanya mereka yang tampak tidak mengenali Anastasia yang menyamar sebagai pria.
“Temanku baru saja digigit oleh serigala liar di dalam hutan di pinggir kota. Dia terluka lumayan parah. Jika kalian tidak percaya, silakan datang dan lihat saja!” jawab Anastasia dengan berani.
Dia bahkan menantang kedua tentara itu untuk melihat kondisi pemuda yang ditolongnya. Tentara itu sedikit curiga dan kemudian memintanya menunjukkan di mana temannya itu dirawat. Anastasia sempat mengutuk dalam hati namun dia tetap membawa mereka ke sana.
Kedua tentara itu tiba di dalam goa di pinggir hutan dan dengan santai, Anastasia menunjukkan sosok pemuda yang sedang terbaring pingsan di atas tanah yang hanya beralaskan selimut yang dia temukan di dalam tas pemuda itu.
Pemuda itu bertelanjang dada dengan bagian perut, pundak, lengan dan kakinya tampak diperban di mana-mana.
“Apa sekarang kalian percaya?” tanya Anastasia dengan santai seraya mulai menyalakan api unggun agar bisa meracik obatnya.
“Apa kau tidak melihat seorang gadis berambut pirang kemerahan saat berada di dalam hutan?” tanya salah seorang di antara mereka.
“Ah, maksudmu gadis bergaun putih dan berambut kemerahan yang tewas dicabik-cabik serigala itu?” tanya Anastasia, dengan aktingnya yang sempurna.
“Benar. Kau melihatnya?” tanya mereka penasaran.
“Dia tewas dicabik-cabik serigala liar. Serigala yang sama seperti yang menyerang temanku itu. Lihat saja sendiri mayatnya di dalam hutan sana,” sahut Anastasia dengan santai, walaupun jantungnya berdetak kencang, takut jika penyamarannya terbongkar.
“Lalu bagaimana kau bisa selamat?” sindir pria berseragam merah yang satu lagi.
“Karena aku pengecut. Aku langsung melarikan diri dari tempat itu. Begitu situasi aman, aku kembali untuk melihat keadaan temanku,” jawabnya santai, masuk akal.
“Dasar tidak setia kawan!” maki Tentara Merah yang satu lagi.
“Kalian tidak mau melihat mayat gadis itu? Cepatlah! Sebelum tubuhnya habis dimakan serigala,” ujar Anastasia dengan santai, namun sebenarnya dia hanya ingin mengusir secara halus.
Kedua tentara itu diam, namun mereka berdua pergi meninggalkan goa itu dan berjalan ke arah hutan. Dan benar apa kata Anastasia, saat mereka tiba di sana, mayat gadis malang itu sudah hampir habis dimakan oleh serigala liar. Gaunnya tampak tercabik-cabik dan bahkan penutup dadanya pun mulai terkoyak.
Lengannya bahkan hilang separuh, begitu juga dengan wajahnya yang sudah hilang separuh karena menjadi santapan serigala lapar. Singkat kata, mayat itu bahkan sudah tidak bisa dikenali lagi.
“Astaga! Dia benar-benar mati mengenaskan!” ujar salah satunya seraya menggeleng-gelengkan kepalanya pasrah.
“Kau yakin itu Tuan Putri?” tanya rekannya yang lain.
“Bukankah itu gaun tidur yang dia gunakan semalam saat kita mengejarnya?” sahut si pria pertama mengingatkan.
“Kau benar. Kalau begitu, kita harus melaporkan hal ini, benarkan? Apa kita harus bawa mayatnya juga sebagai bukti?” tanya si pria kedua.
“Kita bawa saja untuk berjaga-jaga. Ayo! Kita harus segera pergi sebelum mayatnya mulai membusuk,” sahut si pria pertama, seraya memberi tanda pada temannya untuk mencari kayu agar bisa dibuat tandu.
Dari balik pohon rindang, Anastasia mengamati kedua tentara itu membawa mayat gadis malang yang sudah tercabik-cabik itu dengan senyum lega.
Kemudian dia kembali ke dalam goa untuk melihat keadaan pemuda yang ditolongnya. Anastasia duduk di samping pemuda itu, membuka perban di perut pemuda itu dengan hati-hati dan mulai mengolesinya dengan obat serta berniat mengganti perbannya, saat tiba-tiba saja pemuda itu terbangun dan mencekal tangannya.
“Ini aneh! Bukankah seharusnya kau wanita?” tanya pemuda itu seraya menggenggam tangan Anastasia dan membuatnya sedikit terperanjat.
To be continued...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar