“Her Imperial Highnessess Anastasia, please don’t running around. Please Show us some mercy, our little Grand Duchess.” ujar salah seorang pengawal yang tampak tersengal-sengal mengejar seorang gadis kecil berambut pirang stroberi yang berlarian ke sana-kemari. Di belakang pengawal tersebut, tampak beberapa pengawal lain mengikuti.
“Berhentilah mengikutiku! Aku tak mau ke tempat itu!” seru gadis kecil berambut pirang stroberi itu dengan lantang, berseru dari tempat dia berdiri, beberapa meter di depan para pengawal tersebut seraya berkacak pinggang.
“Tapi Anda harus ke Ballroom Istana sekarang. Tsar Nicholas II, ayah Anda memerintahkan agar Anda segera ke sana untuk menyambut para tamu yang mulai berdatangan. Kami harus segera mendandani Anda, Yang Mulia Putri.” jawab salah satu pengawal, berusaha menyakinkan Little Anastasia yang keras kepala.
“Sudah kubilang aku tak suka pesta. Kenapa Papa terus memaksa?” omel Little Anastasia dengan ekspresi tak suka.
“Tapi pesta ini diadakan khusus untuk Anda, Her Imperial Highnesses. Ini adalah pesta untuk merayakan hari ulang tahun Anda yang ke-12,” ujar pengawal tersebut seraya mendekat secara perlahan agar gadis itu tak menyadari. Sepertinya dia adalah Kepala Pengawal yang ditugaskan untuk menjaga dan mengawal Little Anastasia.
“Sudah kubilang aku tak minta ulang tahunku dirayakan,” lagi, Anastasia kecil tampak menolak keras.
“Her Imperial Highnessess, tolong kasihanilah kami. Ayah Anda akan menghukum kami jika Anda tak segera hadir di sana. Kami masih memiliki anak dan istri yang harus diberi makan,” ujar pengawal tersebut dengan wajah memelas, berharap bisa membuat Tuan Putri-nya tersentuh.
Little Anastasia tampak berpikir sejenak seraya memandang para pengawalnya dengan iba, tapi kemudian dia kembali menggeleng-gelengkan kepalanya keras.
“Aku tak mau ke sana!” ujarnya keras kepala lalu berlari dengan kencang ke arah salah satu pohon di taman belakang Istana.
“Oh My Dear Lord! Grand Duchess, please don’t do this to us!” Kepala pengawal tersebut memekik ngeri saat melihat Tuan Putri-nya yang keras kepala dan sedikit nakal nekat memanjat pohon demi agar tak perlu menghadiri Pesta Dansa Istana.
“Ya Tuhan! Jika Tuan Putri sampai terjatuh, kita pasti akan mati,” ujar yang lain dengan wajah ketakutan.
“Her Imperial Highnessess, kami mohon turunlah.” Para pengawal mulai memohon kepada Tuan Putri mereka yang nakal dan keras kepala.
“Aku tak mau turun sebelum pestanya dibatalkan!” seru Little Anastasia dengan keras kepala.
“Itu tidak mungkin, Yang Mulia. Para tamu sudah mulai berdatangan. Keluarga Kerajaan Russia tidak mungkin mengusir mereka semua,” jawab Kepala Pengawal menjelaskan.
“Oh My Dear Little Princess, apakah Anda tidak ingin bertemu dan bermain dengan para sepupu Anda? Keluarga Kerajaan Russia, Inggris, Swedia, Denmark dan Norwegia sudah datang kemari. Tidakkah sebaiknya Anda turun dan menyambut mereka?” Pengawal lain tampak berusaha membujuk their Little Princess.
Little Anastasia tampak berpikir sejenak. Dia tampak sedikit tergoda dengan kalimat “bermain bersama sepupu” yang diucapkan oleh pengawalnya. Well, bagaimanapun juga dia masih seorang gadis kecil berusia dua belas tahun yang masih senang bermain.
Biasanya, Little Anastasia yang pintar dan ramah selalu menjadi orang pertama yang akan menyambut para sepupunya jika mereka berkunjung ke Russia. Bahkan para pengawal dan dayang Istana pun menyebut Anastasia sebagai “Putri Kecil yang pintar dan ramah” walaupun sedikit nakal dan keras kepala.
Para putri Romanov dibesarkan dengan kesederhanaan. Mereka tumbuh menjadi para Putri yang sederhana, tidak sombong dan selalu rendah hati kepada siapa saja. Little Anastasia bahkan suka sekali jika diajak mengunjungi para korban perang dan membantu merawat mereka.
Dia tidak seperti Para Putri pada umumnya yang angkuh dan selalu menjaga jarak dengan rakyatnya. Little Anastasia justru sebaliknya, dia sangat menyukai kegiatan sosial dan membaur dengan rakyat kecil apalagi para korban perang yang terluka.
Dia terkenal sebagai seorang Putri yang memiliki jiwa sosial yang sangat tinggi sehingga membuat semua orang yang pernah bertemu dengannya pasti akan menyukai kebaikan hatinya.
“Jadi, Grand Duchess Anastasia, bersediakah Anda turun dari sana sekarang?” lagi, sang kepala pengawal bertanya dengan penuh harap.
Little Anastasia tampak berpikir sebelum akhirnya menjawab ragu, “Baiklah,” ujarnya dengan cemberut.
Para pengawal di bawah sana tampak lega mendengar jawaban dari Sang Putri, tapi kelegaan tersebut tak berlangsung lama setelah mendengar teriakan melengking dari Sang Putri Kecil yang tak sengaja terpeleset dari pohon saat dia mencoba untuk turun.
“Aaarrggghhh!” Little Anastasia menjerit takut saat tubuhnya terpeleset dari atas dahan pohon dan meluncur dengan cepat ke tanah.
“Oh ya Tuhan! Her Imperial Highnessess!” seru para pengawal serentak seraya berlari ke arah bawah pohon dan berniat menolong sang Putri Kecil.
Namun langkah mereka terhenti saat melihat tubuh mungil Sang Putri Kecil tidak jadi menghantam tanah tapi justru jatuh menimpa seorang anak laki-laki yang entah bagaimana tiba-tiba ada di sana.
“Yang Mulia, Anda tidak apa-apa?” tanya kepala pengawal dengan panik kepada sang Putri Kecil yang hanya terdiam menatap anak laki-laki bermata biru dan berambut coklat terang yang saat ini tertindih oleh tubuh mungilnya.
“Apa yang kau lakukan di atas sana, dasar gadis bodoh? Apa kau tidak tahu itu sangat berbahaya? Dan apa kau tahu kalau tubuhku sakit karena tertimpa tubuhmu yang berat?” seru anak laki-laki bermata biru tersebut, menghardik Little Anastasia yang tampak kaget karena ada yang berani membentaknya seperti itu.
Dia menatap anak laki-laki bermata biru tersebut cukup lama dan merasa tidak pernah mengenalnya sebelum ini, jadi siapa dia berani membentak Grand Duchess Anastasia dari Russia? Berani sekali!
Little Anastasia spontan bangkit dari tubuh anak laki-laki bermata biru tersebut dan berlutut di tanah, tepat di hadapannya. Dia menatap anak laki-laki tersebut dengan kesal seraya mengacungkan telunjuknya ke arah anak laki-laki asing tersebut.
“Hei, kau! Beraninya kau bicara tidak sopan padaku! Apa kau tidak tahu siapa aku?” Little Anastasia balik menantang dengan berani.
“Tentu saja aku tahu! Kau adalah gadis kecil yang nakal dan keras kepala yang baru saja jatuh menimpa tubuhku dan membuatku kesakitan, tapi bukannya meminta maaf, kau justru dengan berani mengarahkan telunjuk ke arahku. Dasar tidak sopan!” Jawab si anak laki-laki tak mau kalah.
“KAU!” Little Anastasia tampak kaget melihat keberanian anak laki-laki bermata biru itu.
“Harusnya aku yang bertanya siapa kau hingga berani mengarahkan telunjuk ke arahku? Apa kau tidak tahu itu tidak sopan?” lagi, si anak laki-laki bertanya dengan berani.
“Kau ingin tahu siapa aku? Baiklah akan kuberitahu. Aku adalah Grand Duchess Anastasia Nikolaevna Romanova dari Russia dan kau sedang berada di istanaku. Siapa kau berani bersikap lancang padaku?” Little Anastasia tampak kesal dengan kesombongan anak laki-laki di hadapannya itu.
Si anak laki-laki bermata biru itu tertegun sesaat sebelum akhirnya tertawa terbahak, “Grand Duchess Anastasia? Apa kau bercanda?” ujarnya sambil tertawa terbahak. Dia tampak tak percaya pada ucapan Little Anastasia.
Namun bukannnya marah, Little Anastasia justru mengerucutkan bibirnya imut lalu bangkit berdiri dan menghentak-hentakkan kedua kakinya dengan kesal ke tanah.
“Aaaahhh…Ini menyebalkan! Kenapa hari ini aku begitu sial? Siapa dia? Bawa dia pergi dari hadapanku!” seru Little Anastasia kesal. Namun ekspresi kekesalannya yang lucu justru membuat si anak laki-laki tampak terpesona.
Dia menatap Little Nastya seraya tersenyum kecil, “Dia sangat manis jika sedang kesal seperti itu. Apa benar dia seorang Putri? Benarkah dia gadis yang berulang tahun hari ini?’ ujar si anak laki-laki tersebut dalam hati.
“Yang Mulia, daripada Anda kesal berada di sini, bukankah lebih baik Anda kembali ke kamar Anda untuk bersiap? Nenek Anda sudah menunggu Anda di sana dengan banyak sekali hadiah yang indah,” ujar seorang Dayang Istana dengan lembut, nampak membujuk sang Putri Kecil.
Little Anastasia spontan terdiam dan memandang dayang istananya dengan mata berbinar senang begitu mendengar kata hadiah dan nenek diucapkan.
“Nenek? Nenekku sudah datang kemari? Benarkah?” ulangnya dengan mata berbinar bahagia.
Si dayang istana kembali mengangguk mantap, “Dan beliau datang dengan membawa banyak hadiah yang indah untuk Anda,” tambahnya dengan tersenyum penuh rayuan.
Mata Anastasia kecil membulat senang, dia segera bersorak girang mendengarnya, “Nenek datang. Asyik!” serunya riang. Kekesalannya spontan terlupakan begitu saja.
“Bukankah seharusnya Anda menemui beliau sekarang, Tuan Putri?” lagi, Dayang Istana kembali membujuk.
“Benar. Benar. Nastya harus temui Nenek sekarang,” ujarnya riang seraya mengangguk senang.
Para Dayang Istana dan pengawal tampak tersenyum lega karena berhasil membujuk Sang Putri Kecil. Little Anastasia hampir saja melangkah pergi, namun kemudian dia terhenti dan kembali menatap tamu asing di hadapannya.
Kembali, dengan berani dia mengacungkan telunjuknya ke arah anak laki-laki bermata biru tersebut, “Hei kau! Akan kuurus kau nanti. Saat ini, aku harus mengurus sesuatu yang jauh lebih penting.” ujarnya dengan galak seraya mengerucutkan bibirnya imut dan mengacungkan jari telunjuknya kemudian berbalik pergi dengan berlari riang.
“Her Imperial Highnessess, tolong jangan berlari! Anda bisa terjatuh!” seru si Dayang Istana yang tampak tersengal-sengal mengejar Sang Putri Kecil yang berlari dengan cepat.
“Anastasia, kau memang menarik. Keras kepala namun sangat berani. Kau adalah orang pertama yang berani mengacungkan telunjuk ke wajahku. Putri Kecil yang unik, kurasa tak lama lagi kita akan bertemu lagi.” ujar si anak laki-laki bermata biru seraya menatap Little Anastasia berlari riang kembali ke dalam Istana.
“Dia sangat unik, kan? Dan dia adalah calon Ratu pilihanku. Jadi jangan coba-coba bersaing denganku, adik kecil.” ujar seorang remaja laki-laki yang kira-kira berusia dua tahun lebih tua dari bocah laki-laki itu.
Remaja itu memiliki mata coklat terang yang bening yang senada dengan warna rambutnya, entah dia datang dari mana, yang pasti sepertinya dia juga tampak tertarik dengan si kecil Nastya.
“Melihat dari umurmu, bukankah kau akan tampak lebih serasi bila bersanding dengan Grand Duchess Maria Nikolaevna?” tanya si bocah laki-laki dengan nada menyelidik.
“Memang benar. Tapi sayangnya aku lebih menyukai seorang gadis yang berjiwa pemberontak namun berani dan baik hati seperti Our Little Princess Anastasia. Dia benar-benar typeku. Dan akan kupastikan kelak dia akan jadi milikku,” jawab si remaja laki-laki tersebut dengan senyuman di wajahnya.
“Benarkah? Tidakkah kau berpikir tidak ada seorangpun yang bisa menebak apa yang akan terjadi di masa depan, Kakak.” jawab si bocah laki-laki itu dengan nada menantang.
“Dia akan jadi Ratuku, lihat saja!” ujar si remaja laki-laki dengan rasa percaya diri dalam suaranya, sesaat sebelum dia melangkah ke arah yang sama dengan si Putri Kecil, Anastasia.
To be continued....
“Berhentilah mengikutiku! Aku tak mau ke tempat itu!” seru gadis kecil berambut pirang stroberi itu dengan lantang, berseru dari tempat dia berdiri, beberapa meter di depan para pengawal tersebut seraya berkacak pinggang.
“Tapi Anda harus ke Ballroom Istana sekarang. Tsar Nicholas II, ayah Anda memerintahkan agar Anda segera ke sana untuk menyambut para tamu yang mulai berdatangan. Kami harus segera mendandani Anda, Yang Mulia Putri.” jawab salah satu pengawal, berusaha menyakinkan Little Anastasia yang keras kepala.
“Sudah kubilang aku tak suka pesta. Kenapa Papa terus memaksa?” omel Little Anastasia dengan ekspresi tak suka.
“Tapi pesta ini diadakan khusus untuk Anda, Her Imperial Highnesses. Ini adalah pesta untuk merayakan hari ulang tahun Anda yang ke-12,” ujar pengawal tersebut seraya mendekat secara perlahan agar gadis itu tak menyadari. Sepertinya dia adalah Kepala Pengawal yang ditugaskan untuk menjaga dan mengawal Little Anastasia.
“Sudah kubilang aku tak minta ulang tahunku dirayakan,” lagi, Anastasia kecil tampak menolak keras.
“Her Imperial Highnessess, tolong kasihanilah kami. Ayah Anda akan menghukum kami jika Anda tak segera hadir di sana. Kami masih memiliki anak dan istri yang harus diberi makan,” ujar pengawal tersebut dengan wajah memelas, berharap bisa membuat Tuan Putri-nya tersentuh.
Little Anastasia tampak berpikir sejenak seraya memandang para pengawalnya dengan iba, tapi kemudian dia kembali menggeleng-gelengkan kepalanya keras.
“Aku tak mau ke sana!” ujarnya keras kepala lalu berlari dengan kencang ke arah salah satu pohon di taman belakang Istana.
“Oh My Dear Lord! Grand Duchess, please don’t do this to us!” Kepala pengawal tersebut memekik ngeri saat melihat Tuan Putri-nya yang keras kepala dan sedikit nakal nekat memanjat pohon demi agar tak perlu menghadiri Pesta Dansa Istana.
“Ya Tuhan! Jika Tuan Putri sampai terjatuh, kita pasti akan mati,” ujar yang lain dengan wajah ketakutan.
“Her Imperial Highnessess, kami mohon turunlah.” Para pengawal mulai memohon kepada Tuan Putri mereka yang nakal dan keras kepala.
“Aku tak mau turun sebelum pestanya dibatalkan!” seru Little Anastasia dengan keras kepala.
“Itu tidak mungkin, Yang Mulia. Para tamu sudah mulai berdatangan. Keluarga Kerajaan Russia tidak mungkin mengusir mereka semua,” jawab Kepala Pengawal menjelaskan.
“Oh My Dear Little Princess, apakah Anda tidak ingin bertemu dan bermain dengan para sepupu Anda? Keluarga Kerajaan Russia, Inggris, Swedia, Denmark dan Norwegia sudah datang kemari. Tidakkah sebaiknya Anda turun dan menyambut mereka?” Pengawal lain tampak berusaha membujuk their Little Princess.
Little Anastasia tampak berpikir sejenak. Dia tampak sedikit tergoda dengan kalimat “bermain bersama sepupu” yang diucapkan oleh pengawalnya. Well, bagaimanapun juga dia masih seorang gadis kecil berusia dua belas tahun yang masih senang bermain.
Biasanya, Little Anastasia yang pintar dan ramah selalu menjadi orang pertama yang akan menyambut para sepupunya jika mereka berkunjung ke Russia. Bahkan para pengawal dan dayang Istana pun menyebut Anastasia sebagai “Putri Kecil yang pintar dan ramah” walaupun sedikit nakal dan keras kepala.
Para putri Romanov dibesarkan dengan kesederhanaan. Mereka tumbuh menjadi para Putri yang sederhana, tidak sombong dan selalu rendah hati kepada siapa saja. Little Anastasia bahkan suka sekali jika diajak mengunjungi para korban perang dan membantu merawat mereka.
Dia tidak seperti Para Putri pada umumnya yang angkuh dan selalu menjaga jarak dengan rakyatnya. Little Anastasia justru sebaliknya, dia sangat menyukai kegiatan sosial dan membaur dengan rakyat kecil apalagi para korban perang yang terluka.
Dia terkenal sebagai seorang Putri yang memiliki jiwa sosial yang sangat tinggi sehingga membuat semua orang yang pernah bertemu dengannya pasti akan menyukai kebaikan hatinya.
“Jadi, Grand Duchess Anastasia, bersediakah Anda turun dari sana sekarang?” lagi, sang kepala pengawal bertanya dengan penuh harap.
Little Anastasia tampak berpikir sebelum akhirnya menjawab ragu, “Baiklah,” ujarnya dengan cemberut.
Para pengawal di bawah sana tampak lega mendengar jawaban dari Sang Putri, tapi kelegaan tersebut tak berlangsung lama setelah mendengar teriakan melengking dari Sang Putri Kecil yang tak sengaja terpeleset dari pohon saat dia mencoba untuk turun.
“Aaarrggghhh!” Little Anastasia menjerit takut saat tubuhnya terpeleset dari atas dahan pohon dan meluncur dengan cepat ke tanah.
“Oh ya Tuhan! Her Imperial Highnessess!” seru para pengawal serentak seraya berlari ke arah bawah pohon dan berniat menolong sang Putri Kecil.
Namun langkah mereka terhenti saat melihat tubuh mungil Sang Putri Kecil tidak jadi menghantam tanah tapi justru jatuh menimpa seorang anak laki-laki yang entah bagaimana tiba-tiba ada di sana.
“Yang Mulia, Anda tidak apa-apa?” tanya kepala pengawal dengan panik kepada sang Putri Kecil yang hanya terdiam menatap anak laki-laki bermata biru dan berambut coklat terang yang saat ini tertindih oleh tubuh mungilnya.
“Apa yang kau lakukan di atas sana, dasar gadis bodoh? Apa kau tidak tahu itu sangat berbahaya? Dan apa kau tahu kalau tubuhku sakit karena tertimpa tubuhmu yang berat?” seru anak laki-laki bermata biru tersebut, menghardik Little Anastasia yang tampak kaget karena ada yang berani membentaknya seperti itu.
Dia menatap anak laki-laki bermata biru tersebut cukup lama dan merasa tidak pernah mengenalnya sebelum ini, jadi siapa dia berani membentak Grand Duchess Anastasia dari Russia? Berani sekali!
Little Anastasia spontan bangkit dari tubuh anak laki-laki bermata biru tersebut dan berlutut di tanah, tepat di hadapannya. Dia menatap anak laki-laki tersebut dengan kesal seraya mengacungkan telunjuknya ke arah anak laki-laki asing tersebut.
“Hei, kau! Beraninya kau bicara tidak sopan padaku! Apa kau tidak tahu siapa aku?” Little Anastasia balik menantang dengan berani.
“Tentu saja aku tahu! Kau adalah gadis kecil yang nakal dan keras kepala yang baru saja jatuh menimpa tubuhku dan membuatku kesakitan, tapi bukannya meminta maaf, kau justru dengan berani mengarahkan telunjuk ke arahku. Dasar tidak sopan!” Jawab si anak laki-laki tak mau kalah.
“KAU!” Little Anastasia tampak kaget melihat keberanian anak laki-laki bermata biru itu.
“Harusnya aku yang bertanya siapa kau hingga berani mengarahkan telunjuk ke arahku? Apa kau tidak tahu itu tidak sopan?” lagi, si anak laki-laki bertanya dengan berani.
“Kau ingin tahu siapa aku? Baiklah akan kuberitahu. Aku adalah Grand Duchess Anastasia Nikolaevna Romanova dari Russia dan kau sedang berada di istanaku. Siapa kau berani bersikap lancang padaku?” Little Anastasia tampak kesal dengan kesombongan anak laki-laki di hadapannya itu.
Si anak laki-laki bermata biru itu tertegun sesaat sebelum akhirnya tertawa terbahak, “Grand Duchess Anastasia? Apa kau bercanda?” ujarnya sambil tertawa terbahak. Dia tampak tak percaya pada ucapan Little Anastasia.
Namun bukannnya marah, Little Anastasia justru mengerucutkan bibirnya imut lalu bangkit berdiri dan menghentak-hentakkan kedua kakinya dengan kesal ke tanah.
“Aaaahhh…Ini menyebalkan! Kenapa hari ini aku begitu sial? Siapa dia? Bawa dia pergi dari hadapanku!” seru Little Anastasia kesal. Namun ekspresi kekesalannya yang lucu justru membuat si anak laki-laki tampak terpesona.
Dia menatap Little Nastya seraya tersenyum kecil, “Dia sangat manis jika sedang kesal seperti itu. Apa benar dia seorang Putri? Benarkah dia gadis yang berulang tahun hari ini?’ ujar si anak laki-laki tersebut dalam hati.
“Yang Mulia, daripada Anda kesal berada di sini, bukankah lebih baik Anda kembali ke kamar Anda untuk bersiap? Nenek Anda sudah menunggu Anda di sana dengan banyak sekali hadiah yang indah,” ujar seorang Dayang Istana dengan lembut, nampak membujuk sang Putri Kecil.
Little Anastasia spontan terdiam dan memandang dayang istananya dengan mata berbinar senang begitu mendengar kata hadiah dan nenek diucapkan.
“Nenek? Nenekku sudah datang kemari? Benarkah?” ulangnya dengan mata berbinar bahagia.
Si dayang istana kembali mengangguk mantap, “Dan beliau datang dengan membawa banyak hadiah yang indah untuk Anda,” tambahnya dengan tersenyum penuh rayuan.
Mata Anastasia kecil membulat senang, dia segera bersorak girang mendengarnya, “Nenek datang. Asyik!” serunya riang. Kekesalannya spontan terlupakan begitu saja.
“Bukankah seharusnya Anda menemui beliau sekarang, Tuan Putri?” lagi, Dayang Istana kembali membujuk.
“Benar. Benar. Nastya harus temui Nenek sekarang,” ujarnya riang seraya mengangguk senang.
Para Dayang Istana dan pengawal tampak tersenyum lega karena berhasil membujuk Sang Putri Kecil. Little Anastasia hampir saja melangkah pergi, namun kemudian dia terhenti dan kembali menatap tamu asing di hadapannya.
Kembali, dengan berani dia mengacungkan telunjuknya ke arah anak laki-laki bermata biru tersebut, “Hei kau! Akan kuurus kau nanti. Saat ini, aku harus mengurus sesuatu yang jauh lebih penting.” ujarnya dengan galak seraya mengerucutkan bibirnya imut dan mengacungkan jari telunjuknya kemudian berbalik pergi dengan berlari riang.
“Her Imperial Highnessess, tolong jangan berlari! Anda bisa terjatuh!” seru si Dayang Istana yang tampak tersengal-sengal mengejar Sang Putri Kecil yang berlari dengan cepat.
“Anastasia, kau memang menarik. Keras kepala namun sangat berani. Kau adalah orang pertama yang berani mengacungkan telunjuk ke wajahku. Putri Kecil yang unik, kurasa tak lama lagi kita akan bertemu lagi.” ujar si anak laki-laki bermata biru seraya menatap Little Anastasia berlari riang kembali ke dalam Istana.
“Dia sangat unik, kan? Dan dia adalah calon Ratu pilihanku. Jadi jangan coba-coba bersaing denganku, adik kecil.” ujar seorang remaja laki-laki yang kira-kira berusia dua tahun lebih tua dari bocah laki-laki itu.
Remaja itu memiliki mata coklat terang yang bening yang senada dengan warna rambutnya, entah dia datang dari mana, yang pasti sepertinya dia juga tampak tertarik dengan si kecil Nastya.
“Melihat dari umurmu, bukankah kau akan tampak lebih serasi bila bersanding dengan Grand Duchess Maria Nikolaevna?” tanya si bocah laki-laki dengan nada menyelidik.
“Memang benar. Tapi sayangnya aku lebih menyukai seorang gadis yang berjiwa pemberontak namun berani dan baik hati seperti Our Little Princess Anastasia. Dia benar-benar typeku. Dan akan kupastikan kelak dia akan jadi milikku,” jawab si remaja laki-laki tersebut dengan senyuman di wajahnya.
“Benarkah? Tidakkah kau berpikir tidak ada seorangpun yang bisa menebak apa yang akan terjadi di masa depan, Kakak.” jawab si bocah laki-laki itu dengan nada menantang.
“Dia akan jadi Ratuku, lihat saja!” ujar si remaja laki-laki dengan rasa percaya diri dalam suaranya, sesaat sebelum dia melangkah ke arah yang sama dengan si Putri Kecil, Anastasia.
To be continued....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar