“Entahlah. Dia hanya tertembak di bagian kaki. Tapi aku sudah mengeluarkan peluru yang bersarang di kakinya. Namun soal luka di kepalanya, aku tidak yakin apa itu baik-baik saja?” sahut si pria tua itu dengan cemas.
“Di mana kau menemukannya, suamiku?” tanya si nenek tua seraya membelai rambut gadis itu dengan lembut.
“Aku tak sengaja menemukannya di antara semak-semak saat dia terbaring pingsan. Kulihat tubuhnya penuh luka dan kakinya tertembak, tapi dia masih bernapas. Itu sebabnya kubawa dia pulang dengan traktor yang kunaiki,” Jawab si suami.
“Mungkin Tuhan mengirim gadis ini untuk menggantikan cucu kita yang sudah meninggal. Dia sangat cantik, kan? Mereka memiliki rambut pirang yang sama,” ujar si nenek tua dengan senyum manis di wajahnya, keriput terlihat jelas di wajahnya saat dia tersenyum.
Si suami baru saja akan mengatakan sesuatu saat tiba-tiba gadis cantik itu terbangun dari pingsannya dan memandang bingung keadaan di sekelilingnya.
“Kau sudah sadar, nak?” tanya si nenek tua dengan lembut.
“Di mana aku?” tanya gadis muda itu dengan bingung.
“Suamiku tak sengaja menemukanmu saat kau pingsan di semak-semak. Kakimu tertembak. Apa kau baik-baik saja? Apa kau mau kami membawamu ke kota?” jawab si nenek dengan sabar.
Gadis itu berusaha untuk duduk dari tidurnya dan memejamkan matanya sejenak, mencoba untuk mengingat. Lalu beberapa saat kemudian, dia menjerit histeris ketika adegan penembakan dan pembantaian sadis itu melintas di kepalanya.
“TIDAK! Jangan! Jangan bunuh aku! Kenapa? Kenapa?” jeritnya ketakutan seraya meraih bantal yang tadi ditidurinya lalu membenamkan kepalanya di sana.
“Nak, nak, tenanglah! Kau aman sekarang. Tidak ada yang akan membunuhmu,” ujar si nenek menenangkan.
“Benarkah?” tanya gadis muda itu dengan takut, seraya perlahan mengintip dari balik bantal.
“Benar. Lihat! Hanya ada kami di sini,” ujar si nenek dengan sabar.
Gadis muda itu mengintip dengan ragu seraya mengamati sekelilingnya dan dia tampak lega saat menyadari dia berada di sebuah gubuk mungil yang tampak reyot dengan sepasang suami istri renta yang terlihat seperti orang-orang baik.
“Di mana ini?” tanyanya lagi, untuk lebih meyakinkan dirinya sendiri.
“Kita ada di perbatasan Rusia dan Finlandia,” jawab si kakek tua menjelaskan.
“Bolsheviks tidak akan bisa menemukan tempat ini, kan?” tanyanya lagi, lirih, tampak seperti berbisik, seolah takut jika seandainya ada yang mendengar perkataannya.
“Bolsheviks?” ulang si kakek tua dengan bingung. Gadis itu mengangguk mantap.
“Pasukan Tentara Merah. Pemberontak yang telah menghabisi seluruh keluargaku dengan kejam,” ujar si gadis muda itu dengan pilu.
Air mata menetes di sudut matanya yang indah setiap kali dia mengingat peristiwa tragis itu. Menjadi satu-satunya saksi hidup dan korban yang selamat dari sebuah pembantaian keji bukanlah sebuah pengalaman yang menyenangkan.
“Bolsheviks membunuh seluruh keluargamu?” ulang si nenek kaget, dia segera memeluk gadis itu dengan lembut, menenangkannya.
“Gadis malang. Kau pasti sangat sedih dan ketakutan,” lanjut wanita tua itu seraya mendekap kepala gadis muda itu di dadanya dan memeluknya hangat.
“Pelukan Anda sangat hangat. Rasanya aku seperti memeluk nenekku sendiri,” ujar gadis muda itu sambil menangis pilu.
“Nak, kalau boleh tahu siapa namamu? Kenapa Bolsheviks membunuh seluruh keluargamu?” tanya si kakek tua penasaran.
“Aku adalah Putri dari Kaisar, putri penguasa Russia, Anastasia Nikolaevna Romanova.” jawab gadis muda itu dengan mantap, memberitahukan identitasnya.
To be continued...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar