Saat itu, Anastasia yang terbaring pingsan di dalam truk yang sedang mengangkut jasad keluarganya, terbangun karena teriakan kakaknya, Grand Duchess Maria yang sepertinya sangat shock saat menyadari dia terbangun di antara jasad anggota keluarganya.
Sial bagi Maria, kedua penembak itu mendengar teriakannya dan spontan menghabisinya dengan menikam lehernya berkali-kali. Anastasia mendengar semuanya, teriakan ketakutan Maria, isak tangis putus asanya dan juga jeritan kesakitan yang keluar dari mulutnya saat penjahat keji itu menikamnya bertubi-tubi hingga membuatnya tak lagi bersuara.
Anastasia ingin menolong kakaknya, tapi tubuhnya serasa mati rasa, pada akhirnya dia hanya mampu berpura-pura mati agar mereka tidak curiga. Lagipula dia terlalu takut untuk melawan.
Anastasia sangat menyadari kemampuannya sendiri, dia tak lebih dari gadis muda yang lemah, dia pasti akan berakhir seperti Maria jika dia bertindak gegabah seperti saudaranya.
“Maafkan aku, Kak Maria. Aku tak mampu menyelamatkanmu. Harusnya kau tidak perlu berteriak seperti itu. Jika saja kau menutup mulutmu, kita berdua mungkin masih memiliki kesempatan untuk melarikan diri bersama,” ujar Anastasia dalam hati seraya perlahan mengangkat tubuhnya yang penuh darah dan luka, dalam posisi duduk saat mendengar suara mesin truk kembali dinyalakan.
“Beristirahatlah dengan tenang. Jangan khawatir! Aku akan berusaha membalaskan dendam kalian. Walau aku tidak bisa menghancurkan Tentara Merah Bolsheviks ataupun merebut kembali kekuasaan d Russia, setidaknya aku akan berusaha mengirim Vladimir Lenin dan Yurovsky ke Neraka untuk menemani kalian semua!” sumpah Anastasia dalam hati seraya menatap jasad keluarganya satu demi satu.
Dia merangkak tanpa suara dan bergiliran mencium kening keluarganya sebagai salam perpisahan.
“Jangan khawatir, Papa. Nastya akan hidup dengan baik mulai sekarang. Beristirahatlah dengan tenang. Nastya akan tetap hidup untuk kalian dan Nastya tidak akan mati sebelum Lenin dan Yurovsky mendapatkan balasan mereka. Selamat tinggal, Papa. Nastya sayang Papa,” sumpah Anastasia di depan jasad sang ayah sambil berlinang air mata.
“Ma, tidurlah dengan damai. Nastya pasti akan membalaskan dendam ini. Terima kasih telah menjadi ibu Nastya, Mama adalah ibu terbaik di dunia ini. Nastya sayang Mama. Selamat tinggal,” ucap Anastasia lirih seraya mencium kening sang ibu sebagai salam perpisahan.
Kemudian setelah itu, dia merangkak ke jasad para saudaranya dan mencium kening mereka satu demi satu, “Selamat tinggal saudara-saudaraku. Kita akan bertemu kembali di kehidupan berikutnya. Kak Olga, Kak Tatiana, Nastya akan sangat merindukan candaan kalian. Nastya menyayangi kalian berdua. Tidurlah dengan damai di sana. Selamat tinggal,” ujar Anastasia lirih dengan air mata yang turun tiada henti.
“Kak Maria, maaf, Nastya tidak bisa menyelamatkanmu di saat-saat terakhir hidupmu. Jangan maafkan aku. Kau boleh membenciku. Kau boleh mengutuk sikapku yang pengecut, tapi aku ingin kau mengerti alasanku. Aku harus tetap hidup demi kalian, demi membalaskan dendam kalian semua!” batin Anastasia seraya menggenggam tangan kakak ketiganya dengan erat sambil berlinang air mata.
“Aku menyayangimu, Kak Maria. Selamat tinggal,” lanjutnya lagi seraya menghapus air mata di pipinya.
“Alexei, jangan nakal ya. Kau harus menuruti Papa dan Mama mulai sekarang. Jaga mereka untukku. Aku tahu kau pasti mampu. Selamat tinggal adikku sayang, kakak menyayangimu.” Lagi, Anastasia berpamitan pada seluruh anggota keluarganya dengan hati penuh luka.
Rasanya sangat menyesakkan dada, rasanya bagaikan mimpi buruk yang mengerikan saat teringat kembali bagaimana beberapa jam yang lalu, mereka semua masih menikmati makan malam bersama. Makan malam terakhir mereka sebagai anggota keluarga yang utuh, sebelum tragedi mengerikan itu terjadi.
Tak ada salam perpisahan, karena tak ada seorangpun yang menduga kalau malam ini adalah malam terakhir mereka.
“Aku harus keluar dari sini sebelum mereka mulai menyadari kalau aku masih bernapas,” Anastasia tersadar dari lamunannya, dan segera kembali mengumpulkan tekad dan semangatnya.
Dia mengatupkan kedua tangannya di depan dada dan mengambil sikap berdoa, “Tuhan, tolong jaga seluruh keluargaku, dan tolong…tolong lindungi aku dalam pelarianku!” do’a Anastasia dalam hati sebelum akhirnya membuka terpal yang menutupi bagian belakang truk pengangkut barang itu.
Anastasia menatap jasad keluarganya sekali lagi untuk yang terakhir kalinya sebelum mulai melompat turun, “Selamat tinggal keluargaku. Malaikat akan menggantikan aku untuk mencintai kalian. Sampai jumpa di kehidupan berikutnya,” ujarnya dalam hati dengan senyuman manis di bibirnya, senyuman di antara air mata yang berderai membasahi pipinya.
Haappp… Tubuh Anastasia terhempas dengan cukup keras ke jalanan yang lengang. Dia mengerang kesakitan saat tubuhnya yang penuh luka menghantam tanah jalanan yang keras.
“Aaargghh!” rintihnya dengan napas terengah-engah. Walaupun seluruh tulangnya bagaikan patah, dia tetap menarik tubuhnya untuk berdiri dan menyeret kakinya dengan sekuat tenaga untuk mencari tempat untuk bersembunyi.
Tubuhnya dipenuhi luka tusuk dan bekas tembakan, luka-luka itu melukis tubuhnya seperti kanvas. Warna merah darah itu bahkan menembus gaun tidurnya yang awalnya berwarna putih kini menjadi menjadi penuh dengan bercak darah.
Adrenalin di tubuhnya berpacu dengan cepat, ketika gadis muda itu berjuang untuk berlari walau kakinya yang telanjang menggores tanah hutan bersalju yang terasa sangat dingin di tengah udara malam yang dingin mencekam.
Anastasia tidak punya waktu untuk melihat ke belakang, tidak punya waktu untuk memeriksa apakah dia sedang diikuti. Dia hanya bisa melihat ke depan dan terus berlari.
Anastasia baru saja lolos dari apa yang dia pikir akan menjadi momen terakhir dalam hidupnya. Dalam pelarian itu, dia ingat dia berdiri di ruang bawah tanah di Yekaterinburg, menjadi saksi hidup atas tragedy berdarah yang merenggut nyawa seluruh keluarganya yang malang.
Ayahnya dibunuh lebih dulu dengan tembakan tepat di kepalanya. Sang Ibu menyusul tak lama kemudian, wanita malang itu harus menerima empat tembakan saat berusaha melarikan diri bersama sang adik dalam gendongannya, hingga akhirnya tembakan keempat berhasil merenggut nyawanya.
Sementara si kecil Alexei harus mengalami penganiayaan terlebih dulu sebelum mereka menembaknya bertubi-tubi. Mereka memukuli dan menendang tubuh mungil Alexei tanpa ampun, sebelum mengarahkan senjata laras panjang itu ke tubuh mungilnya dan menembaknya membabi buta.
Kedua kakak perempuannya, Olga dan Tatiana juga mengalami nasib yang serupa, mereka meregang nyawa setelah mencoba untuk melawan.
Anastasia ingat dia berdiri di samping kakaknya, Maria seraya menatap penuh horror ke arah keluarganya yang sedang sekarat sambil berpikir, “Ini adalah nafas terakhirku. Bernapaslah dengan baik, Nastya.”
Lalu tak lama kemudian, merekalah giliran berikutnya. Pasukan Tentara Merah itu menembaki dia dan Maria dengan membabi buta. Beberapa peluru sempat menyerempet lengan dan bahunya, dan beberapa di antara juga sempat bersarang di salah satu kakinya.
Namun untunglah, tak ada satupun dari peluru itu yang berhasil menembus organ vitalnya. Itu karena Anastasia dan Maria mengenakan pakaian dalam (korset) yang dijahit dengan banyak berlian yang berfungsi sebagai rompi anti peluru.
Berlian adalah batu terkuat di dunia, itu sebabnya semua peluru itu gagal menembus jantung dan organ vital mereka lainnya. Jika saja Maria tidak berteriak dan para penembak itu tidak menikam lehernya, mungkin mereka berdua masih bisa selamat.
Tapi takdir berkata lain, Maria pun turut menemui ajalnya bersama anggota keluarganya yang lain. Hanya tinggal Anastasia di sini, sendirian dalam pelarian ini.
Anastasia berlari menembus hutan. Hutan yang terlihat sangat sunyi dan gelap, namun dia tidak peduli, instingnya mengatakan kalau dia harus tetap berlari. Sejauh mungkin meninggalkan tempat ini.
Sungguh keajaiban dia bisa hidup sampai saat ini, itu sebabnya dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Dia harus bertahan, apa pun yang terjadi.
“Selalu berasumsi bahwa kau sedang diikuti. Selalu berasumsi bahwa orang yang kau temui adalah musuhmu. Jangan percaya pada siapa pun!” Anastasia berpikir dalam hati.
Kaki telanjangnya seakan mati rasa, walaupun saat itu dia berlari di atas tanah bersalju yang pastinya sangat dingin, bahkan walaupun kakinya menginjak duri dan ranting tajam di tanah, dia tidak peduli dan terus melangkah.
Dia terus berlari. Kemudian berjalan sebentar untuk mengambil napas, lalu berlari lagi. Berlari. Berlari dan terus berlari.
Butuh waktu berjam-jam lamanya sampai dia menemukan peradaban. Dia tidak tahu berapa lama lagi tubuhnya bisa berjalan. Dia tidak tahu berapa lama lagi dia bisa bertahan dalam keadaan ini.
Dia sangat haus, lelah dan lapar dan tubuhnya terasa sangat sakit. Rasanya dia ingin berhenti saat ini, tapi tidak! Dia tahu dia tidak boleh menyerah secepat ini.
Waktu seakan mulai berhenti. Langkah cepatnya melambat menjadi langkah yang stabil saat dia melihat deretan pepohonan mulai menipis. Akhirnya setelah berjam-jam berlari menembus hutan, Anastasia sampai di ujung hutan itu. Padang rumput yang tertutup salju terbentang di hadapannya.
Kemudian dia melihat beberapa rumah penduduk yang terletak di bawah lembah. Tempat ini, apa pun namanya, terlihat begitu damai dan seolah jauh dari kekacauan. Apa di sini dia akan aman untuk sementara waktu?
Setidaknya, dia harus menyembuhkan lukanya lebih dulu. Anastasia membutuhkan tempat untuk menyembuhkan luka-luka di tubuhnya sebelum memutuskan untuk mengambil langkah selanjutnya. Tapi apakah ini tempat yang tepat?
Bisakah dia meminta bantuan? Apakah para penduduk akan membantunya? Ataukah mereka justru akan membawanya kembali pada Bolsheviks?
Tubuh dan pikirannya terkuras. Semangat membara yang sebelumnya membuatnya tetap hidup, tiba-tiba saja hilang dalam sekejap. Tiba-tiba saja dia merasa kepalanya sakit luar biasa.
Dia mengangkat tangannya yang berlumuran darah untuk menahan kepalanya yang terasa berat. Lalu detik berikutnya dia terjatuh pingsan. Tubuhnya menggelinding ke bawah dari atas bukit yang tinggi, untung saja dia menggelinding di atas hamparan tanah bersalju yang tidak terlalu keras walaupun sangat dingin.
Dan Braakkk... Tubuh gadis muda itu terjatuh di antara semak-semak di dekat seorang pria tua yang sedang mengendarai traktornya.
Anastasia terbangun beberapa jam kemudian, dia tidak ingat di mana dia berada saat ini, atau bagaimana dia bisa sampai di tempat ini. Matanya terasa berat karena terlalu lelah, tubuhnya masih terasa sakit di mana-mana.
Dengan susah payah, gadis muda itu membuka matanya perlahan untuk menyesuaikan diri dengan cahaya. Dia menunduk memandangi tubuhnya yang ditutupi kain kasa putih dengan bintik-bintik merah di sana-sini.
Rambutnya acak-acakan, warna merah darah menyatu dengan rambutnya yang berwarna pirang kemerahan. Tangannya menekan dadanya, menggerakkan perban sampai dia menemukannya. Dan dia tampak lega saat menyadari liontin zamrud neneknya masih terpasang di lehernya.
“Aku harus keluar dari sini!” ujarnya dalam hati. Anastasia memindahkan selimut yang menyelimuti bagian bawah tubuhnya, perlahan berpindah ke sisi tempat tidur sehingga kakinya menyentuh tanah. Rasa sakit dingin menjalar dari kakinya ke punggungnya.
Dia menggelengkan kepalanya, mencoba menetralkan penglihatannya yang masih tampak kabur, lalu perlahan mulai berdiri. Awalnya stabil, setidaknya pada awalnya, sebelum akhirnya dia mulai goyah dan terjatuh lagi ke atas ranjang.
“Wah, wah, wah, tidak kusangka Putri terakhir Romanov masih hidup. Kau seperti kucing, punya sembilan nyawa,” sindir suara seorang pria muda dengan sinis. Pria muda itu perlahan-lahan berjalan mendekati Anastasia yang ketakutan seraya mengacungkan sebilah pisau di tangan kanannya.
Anastasia mencoba menoleh ke arah suara itu. dan ketakutan serta kepanikan terlihat jelas di wajahnya. Dia berusaha berdiri dan mencoba berlari tapi rasa pusing menghalanginya sekali lagi dan akhirnya dia hanya mampu berdiri dengan bersandar pada dinding di belakangnya.
“Sekarang pelarian kecil harus berhenti berlari!” ujar pria muda itu seraya menikamkan pisau di tangannya ke jantung Putri terakhir dari Russia itu.
“Selamat tinggal, Yang Mulia Putri. Sampaikan salamku pada Ayahmu,” ujar pria itu dengan dingin dan kejam.
“AAAARRRGGGHHH!” Anastasia berteriak kencang dan terbangun dengan napas tersengal-sengal dan spontan memegangi dada kirinya dengan air mata berlinang.
Braaakkk! Pintu terbuka keras dan seorang nenek tua berjalan masuk dengan raut wajah cemas.
“Ada apa, nak? Apa kau sedang bermimpi buruk?” tanya nenek tua itu dengan sayang. Nenek tua itu berjalan mendekati Anastasia yang tampak ketakutan di atas ranjang dan memeluknya hangat dan penuh kasih sayang.
“Jangan takut. Jangan takut. Kami bersamamu, nak.” Hiburnya, menenangkan Anastasia.
Anastasia terdiam dan mencerna semua hal yang terjadi dan akhirnya mulai mengerti bahwa dia tadi rupanya sedang memimpikan saat-saat pelariannya yang mendebarkan itu, bagaimana dia kabur dari pasukan Bolsheviks hingga sampai kemari.
Semua pelarian itu nyata adanya, kecuali bagian terakhirnya. Anastasia menarik napas lega dan bersyukur karena dia masih hidup dan baik-baik saja, walaupun dia tidak tahu hingga berapa lama.
“Apa yang kau impikan?” tanya si nenek tua dengan nada keibuan.
“Aku bermimpi mereka menemukan aku dan membunuhku,” jawab Anastasia lirih.
“Bolsheviks?” tanya nenek tua itu dengan wajah prihatin. Anastasia mengangguk mengkonfirmasi.
“Mereka memang sedang mencarimu, nak. Pasukan Bolsheviks telah memasang postermu di seluruh penjuru negeri. Mereka ingin menangkapmu hidup atau mati. Hanya ada satu cara agar kau bisa selamat, tinggalkan Russia selamanya!” ujar nenek tua itu, memberitahukan apa yang terjadi di luar sana.
“Tinggalkan Russia selamanya dan membiarkan Vladimir Lenin dan Yugov Yurovsky hidup bahagia selamanya? TIDAK AKAN PERNAH!” ujar Anastasia dalam hati penuh dendam.
“Tapi nenek ini benar. Aku butuh bantuan. Aku butuh bantuan Nenekku atau Pamanku. Aku yakin Kerajaan Denmark dan Inggris pasti bisa membantuku. Aku harus tinggalkan Russia lebih dulu untuk mencari nenekku dan meminta bantuan padanya. Benar. Itu benar.” Lanjut Anastasia dalam hati.
Sebagai gadis yang cerdas, tentu saja dia tahu dia tidak boleh bertindak gegabah. Dia harus meminta bantuan seseorang dan neneknya adalah satu-satunya harapan yang dia punya.
“Nenek benar, aku harus segera tinggalkan Russia! Aku akan mencari Nenekku, Dowager Empress Marie dan meminta perlindungan padanya,” sahut Anastasia bertekad. Sekarang dia tahu apa yang harus dia lakukan selanjutnya.
“Mereka di sini!” seru seorang kakek tua dengan panik, berlari masuk ke dalam kamar itu dengan panik dan terburu-buru.
“Bolsheviks?” tanya Anastasia mengkonfirmasi. Kakek tua itu hanya mengangguk mengkonfirmasi.
“Secepat itu?” tanya sang istri, ikut menjadi panik.
“Sepertinya mereka menemukan jejak darah di tanah bersalju itu,” sahut si Kakek tua.
“Pergilah Putri, Pergi! Anda harus tetap hidup!” seru si kakek tua seraya menarik Anastasia dan membawanya ke sebuah pintu belakang.
“Ini. Bawalah ini sebagai bekal di perjalanan. Anda harus tetap selamat!” lanjut si kakek tua itu dengan mata berkaca-kaca.
“Terima kasih, aku tidak akan melupakan kebaikan kalian.” Sahut Anastasia seraya memeluk penyelamatnya secara bergiliran sebelum memulai pelarian berikutnya.
“DIA DI SANA! TANGKAP DIA!” seru salah satu anggota tantara merah Bolsheviks yang melihat Anastasia berlari masuk ke dalam hutan.
Untung saja mereka baru melihatnya setelah Anastasia akan berlari masuk ke dalam hutan dan bukan saat berada di sekitar rumah, karena jika tidak, kakek dan nenek tua itu pasti akan menjadi korban kekejaman Bolsheviks berikutnya.
“Ingin menangkapku? Tidak semudah itu! Tangkap aku jika kalian mampu!” batin Anastasia penuh tekad sebelum berlari masuk ke dalam hutan.
To be continued...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar