Rabu, 22 Juli 2026

CH 16 : Unexpected Encounter ll The Last Princess Of Russia


“Kenapa prajurit Tentara Merah harus membawanya pada ayahmu? Siapa ayahmu memangnya? Apa Tentara Merah mengenalnya?” tanya Anastasia penasaran.

“Ayahku adalah Yakov Yurovsky,” sahut pemuda itu dengan santainya, sementara Anastasia hanya menatapnya dengan mulut ternganga karena terkejut, tidak menyangka jika pemuda yang sudah dia selamatkan dari gerombolan serigala liar ini adalah putra dari musuh besarnya, orang yang sudah menghabisi seluruh keluarganya.

“Harusnya kubiarkan kau mati saja!” maki Anastasia dalam hati dengan dendam dan kemarahan dalam dadanya.

“Lalu siapa namamu?” tanya Anastasia, mencoba mengorek informasi.
“Namaku adalah Alexander Jakovlevic Yurovsky dan nama adikku adalah Rimma Yurovskaya,” sahut pemuda itu tanpa curiga sedikitpun.

“What the F*ck! Kenapa aku malah menyelamatkan anak dari pembunuh keluargaku? Harusnya kubiarkan dia mati saja!” maki Anastasia dalam hati, merasa menyesal karena telah menyelamatkan pemuda ini.

"Tapi setidaknya anak perempuan Yurovsky telah tewas mengenaskan tercabik-cabik oleh serigala liar. Kurasa itu cukup adil. Setidaknya satu dari mereka sudah mati."

Anastasia berdiri dari samping pemuda itu dan beranjak meninggalkan goa itu untuk menenangkan dirinya dan memikirkan langkah selanjutnya.

“Kau mau ke mana? Sekarang hari sudah mulai malam,” tanya pemuda itu yang mendadak bingung dengan perubahan sikap Anastasia.

“Aku akan mencari tumbuhan obat untukmu. Aku akan segera kembali,” sahut Anastasia tanpa menoleh lalu segera beranjak pergi untuk menenangkan dirinya di tengah hutan.

Karena tahu jika hutan ini tidak aman, dia memutuskan untuk naik ke atas pohon untuk berpikir.
“Apa yang harus kulakukan? Haruskah kubunuh dia saat dia sedang tidur untuk membalaskan dendam keluargaku?” ujar Anastasia dalam hati.

“Tidak. Dia tidak boleh mati sekarang! Aku menyelamatkan putra Yakov Yurovsky, aku bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk mendekati pria tua brengsek itu dan membunuhnya saat dia lengah,” lanjut Anastasia lagi, mencoba berpikir jernih.

“Yakov Yurovsky pasti tidak akan menyangka bila orang yang dicarinya ada berada di dekatnya dan bahkan menyelamatkan putranya, dia pasti akan lengah dan tidak waspada. Saat itulah, aku bisa membunuhnya diam-diam,” Anastasia mulai memikirkan kemungkinan lain saat ini.

“Dan aku yakin, Yurovsky pasti tahu di mana Vladimir Lenin berada. Aku bisa menggunakan putranya untuk menghubungkan aku dengan kedua bajingan itu. Benar. Dia tidak boleh mati saat ini. Aku membutuhkannya untuk tetap hidup,” gumam Anastasia memutuskan.

“Setidaknya, putri Yurovsky telah berakhir tragis, dicabik-cabik oleh serigala liar. Bisa kubayangkan bagaimana histerisnya dia saat mendengar jika putrinya tewas tercabik-cabik oleh serigala,” gumam Anastasia dengan senyuman jahat di sudut bibirnya.

“Yeah, benar. Setidaknya satu dari anaknya berakhir mengenaskan. Dicabik-cabik oleh serigala liar adalah salah satu cara mati yang menyakitkan. Anggap saja ini pembalasan untuk keluargaku yang malang,” lanjut Anastasia lagi, masih bermonolog dengan dirinya sendiri.

“Vladimir Lenin, Yakov Yurovsky, aku datang! Tidak perlu repot mencariku karena aku sendiri yang akan datang mencari kalian!” ujar Anastasia dalam hati, dengan seringai sinis penuh dendam.

— 0000 —

Petrograd (Now St. Peterburg), Russia...
Aridna terbangun dengan kaget saat mendengar suara teriakan lantang dari beberapa orang pria yang berkumandang di sepanjang terowongan yang gelap, dingin dan kotor ini.

Baru tiga puluh menit yang lalu Ariadna memejamkan matanya dan mengistirahatkan sejenak tubuhnya yang lelah karena berjalan seharian, kini saat dia hampir saja terlelap, suara-suara brengsek itu membuatnya kembali terjaga.

Ariadna mulai terbangun dari tidurnya, dia duduk di atas kardus yang digunakannya sebagai alas dan menggosok-gosok matanya untuk menyesuaikan diri dengan suasana terowongan yang gelap.

“BANGUN SEMUANYA!” perintah salah satu dari sekumpulan pria berseragam merah yang berdiri lumayan jauh di depannya, dengan nada membentak.

Ariadna tersentak. Dia spontan membuka matanya lebar-lebar. Sekumpulan pria yang memegang senapan dan berseragam merah tampak berdiri dengan garang di depan kerumunan para tuna wisma yang menjadikan terowongan bawah tanah yang kotor dan kumuh ini sebagai tempat melepas lelah.

“Bolsheviks! Matilah aku!” umpat Ariadna dalam hatinya.

“Bagaimana jika seandainya mereka menemukan aku dan salah mengenali orang? Bagaimana jika mereka mengira aku Putri itu lalu membawaku pergi untuk dipancung?” lanjutnya dalam hati, spontan berdiri tegak, bersiap untuk melarikan diri bila situasi memungkinkan.

Ariadna berdiri di pojok paling belakang kerumunan para tuna wisma yang kini berdiri bergerombol seraya saling berbisik penasaran.

“Kami mendapat laporan bahwa Sang Putri kemungkinan ada di sini, di antara kalian,” ujar seorang pria berkumis tebal dengan rambut hampir botak seraya membelai-belai senapannnya seolah membelai seorang bayi yang tertidur.

Seketika bisik-bisik terdengar kencang.
“Mana mungkin?” ujar seorang tuna wisma.
“Benar. Sang Putri tentu takkan mau berada di tempat kotor dan kumuh seperti ini,” sahut yang lain.
“Pasti hanya salah lihat,” seru yang lain.

“DIAM SEMUA!” bentak pria botak berkumis itu seraya memberi tanda pada bawahannya untuk mulai memeriksa mereka satu per satu.

“TIDAK! Jangan sampai mereka melihatku!” ujar Ariadna dalam hati, mulai panik. 
Dia mencengkeram jubah hitamnya yang kotor lebih erat dan menurunkan kerudung yang menutupi wajahnya seraya perlahan-lahan berjalan mundur dan berniat pergi dari tempat tersebut tanpa ketahuan.

Seperti layaknya sebuah terowongan, tentu terowongan ini juga pasti memiliki dua sisi jalan keluar, kan? Jika Bolsheviks mengepung jalan depan, maka jalan belakang adalah satu-satunya jalan yang tersisa.

“Aku harus pergi! Aku bukan Putri itu! Aku bukan Grand Duchess Anastasia Romanova! Aku bukan orang yang kalian cari! Aku tak ada hubungannya dengan keluarga Kerajaan Russia. Aku hanya orang yang sial karena memiliki wajah yang mirip dengannya. Jadi aku tak mau menggantikan Putri itu dan mati di tiang gantungan,” tekad Ariadna dalam hati seraya berjalan mundur dengan perlahan-lahan dan berusaha pergi dari sana diam-diam.

Tapi sial bagi Ariadna karena dia tak sengaja menabrak seorang pria muda yang berdiri beberapa langkah di belakangnya.

“Hei!” ujar pria muda itu, membuat Ariadna tersentak.
Dia spontan menoleh ke arah pria muda itu dan menundukkan kepalanya meminta maaf, “Maafkan aku!” ujarnya sopan, tak ingin mencari masalah dengan siapa pun saat ini.

“Uuuhh...Kau bau sekali!” ujar pria muda itu seraya menutup hidungnya dan berjalan menjauh.
“Maafkan aku!” lagi, Ariadna meminta maaf seraya membenamkan wajahnya dalam kerudung.
“Ada apa ini?” tanya seorang pria muda yang lain kepada pria muda yang ditabrak Ariadna.

“Tidak ada yang penting, Tuan Muda. Hanya gadis busuk ini tak sengaja menabrakku,” jawab pria muda yang pertama.

“Sudahlah. Tak perlu mencari masalah dengan seorang gadis. Kita di sini untuk mencari Nastya,” ujar pria muda yang dipanggil Tuan Muda itu dengan bijaksana.

“Baik,” jawab si pria pertama lalu segera memberikan jalan untuk Ariadna agar gadis itu bisa pergi.
“Terima kasih, Tuan.” Jawab Ariadna sopan, membungkukkan badannya sekali lagi.

Namun angin malam mendadak berhembus dan menerbangkan kerudung yang menutupi wajahnya, membuat kerudungnya sedikit tersibak. Panik. Ariadna segera mencengkeram lebih erat kerudungnya lebih erat.

Dia baru saja akan beranjak pergi saat tiba-tiba seseorang mencengkeram lengannya dan menahan langkahnya.

“Anastasia?” ujar si pria kedua yang dipanggil Tuan Muda itu.

To be continued...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar