“Ini gila! Tentara Merah benar-benar memasang foto Grand Duchess Anastasia di seluruh penjuru negeri. Sepertinya mereka memang ingin menangkapnya hidup atau mati,” ujar Ariadna dalam hatinya saat dia berjalan melewati jalanan St Peterburg yang gelap dan dingin.
Matahari sudah tenggelam sejak tadi, malam yang dingin dan sunyi kini kembali datang. Sepanjang siang ini, Ariadna terus bermain kucing-kucingan dengan prajurit Tentara Merah.
Setelah berhasil meloloskan diri dari pemeriksaan prajurit Tentara Merah, Ariadna segera bergegas pergi dari tempat itu dan ingin sesegera mungkin tiba di Istana yang menjadi tujuannya.
Namun di sepanjang jalan yang dilaluinya, Ariadna melihat poster Grand Duchess Anastasia terpasang di berbagai tembok kota, jendela rumah makan, bahkan tiang listrik.
“Sepuluh juta rubel angka yang tidak main-main,” gumamnya lagi seraya mengeratkan mantelnya dan berjalan dengan cepat di sepanjang trotoar, dia ingin menemukan tempat yang aman untuk setidaknya memejamkan matanya sejenak.
Alexander Palace sangat jauh dari tempatnya tinggal. Mungkin jika berjalan kaki tanpa istirahat, dia baru akan tiba di sana sekitar tiga hari perjalanan. Tapi dia hanyalah seorang gadis biasa, tentu dia akan merasa lelah jika terus berjalan tanpa henti, kan?
“Dingin sekali. Bbrrrrrr! Kenapa hidupku jadi seperti ini?” Ariadna tampak menyesali nasibnya, kenapa dia dilahirkan ke dunia yang seolah sangat tak ramah padanya.
Ariadna baru saja berjalan beberapa langkah saat tiba-tiba sudut matanya menangkap selembar kertas yang berbeda dari yang lain, tertempel tepat di samping pengumuman yang satu lagi.
“Disediakan imbalan sebesar dua puluh juta rubel bagi yang bisa menemukan, melindungi serta membawa Grand Duchess Anastasia Romanova pulang dengan selamat ke Kerajaan Inggris, ke hadapan Dowager Empress Marie. Best Regards : Dowager Empress Marie, British Kingdom.” Ariadna membaca tulisan di pengumuman yang terpasang di tembok itu dengan mata terbelalak kaget.
“Jadi Dowager Empress Marie benar-benar ada di Kerajaan Inggris?” Ariadna akhirnya mengetahui dengan jelas ke mana dia harus pergi untuk menyelamatkan diri.
“Tapi apa ini serius? Ibu suri membuat pengumuman tandingan untuk menemukan Sang Putri? Mereka melipatgandakan uangnya. Aku sama sekali tak menyangka harga untuk Grand Duchess Anastasia sangatlah mahal,” Ariadna berdecak kagum membayangkan betapa besarnya imbalan yang ditawarkan.
Baik Keluarga Kerajaan Inggris ataupun Pasukan Tentara Merah sama-sama menginginkan Anastasia dan sama-sama menawarkan imbalan yang menggiurkan. Siapakah yang akan lebih dulu menemukan gadis itu? Hanya takdir yang mampu menjawabnya.
Di saat Ariadna terbelalak kaget membaca pengumuman di dinding itu, tak jauh dari tempatnya berdiri, juga tampak dua orang pria muda yang membaca pengumuman yang sama.
“Grand Duchess Anastasia Nikolaevna Romanova. Benarkah kabar yang mengatakan bahwa dia berhasil selamat dari pembantaian itu?” tanya seorang pria muda yang mengenakan pakaian serba hitam dan topi untuk menutupi wajahnya.
“Benar, Pangeran. Menurut laporan mata-mata kita, Tentara Merah Bolsheviks tidak berhasil menemukan tubuh Grand Duchess Anastasia di antara timbunan mayat keluarga Kerajaan. Kemungkinan besar dia selamat dari pembantaian keji yang merenggut nyawa seluruh keluarganya,” jawab pria yang satu lagi, seorang pria berjenggot tipis yang kira-kira lebih tua dari pria yang pertama.
“Jangan panggil aku Pangeran! Apa kau lupa kita sedang menyamar?” bentak sang Pangeran seraya mengamati keadaan di sekelilingnya.
“Ampuni hamba, Pa... maksud saya, Tuan Muda.” jawab pria yang satu lagi, yang tampak seperti pengawalnya.
“Baiklah. Kurasa hanya ada satu tempat di mana kita bisa menemukan Sang Putri,” jawab Sang Pangeran dengan nada penuh keyakinan dalam suaranya.
“Anda tahu di mana sang Putri berada, Tuan Muda?” pria berjenggot tipis itu tampak kaget saat mendengar majikannya seolah mengetahui di mana sang Putri berada.
“Tentu saja. Walaupun aku tak sepenuhnya yakin, tapi kurasa kemungkinan besar dia ada di tempat itu,” jawab pria muda yang berusia sekitar delapan belas hingga sembilan belas tahun tersebut.
“Dan di manakah tempat itu?” tanya sang pengawal dengan nada berbisik lirih, takut ada yang mendengar pembicaraan mereka.
“Apa kau pernah mendengar pepatah yang mengatakan, tempat yang paling berbahaya adalah tempat yang paling aman?” tanya sang Pangeran dengan tatapan mata penuh percaya diri.
“Apa maksud Anda...” si pengawal mencoba menebak namun sang Pangeran segera memotong ucapannya.
“Benar. Kemungkinan besar dia ada di tempat itu,” jawab Sang Pangeran berteka-teki dengan senyum kemenangan tersungging di bibirnya.
“Maafkan aku, Alex. Tapi sepertinya kali ini aku yang menang. Anastasia akan jadi milikku karena aku yang akan menemukannya lebih dulu,” ujar pria muda itu dalam hatinya dengan penuh keyakinan bahwa dia pasti akan menemukan Anastasia di “tempat itu”.
– 000000 —
Di dalam goa, di pinggir hutan...
“Aku sudah mengatakan semuanya, terserah jika kau tak percaya!” sahut Anastasia seraya menyodorkan buburnya ke arah pemuda itu.
“Kau benar-benar tidak melihat gadis itu?” tanya pemuda itu lagi, masih tidak percaya.
“Kau semalam demam tinggi karena gigitan serigala itu menimbulkan infeksi. Karena demam tinggi, kau jadi berhalusinasi. Aku yang menyelamatkanmu, bukan Peri Hutan!” sahut Anastasia, berusaha meyakinkannya.
“Berapa umurmu? Kenapa kau menyelamatkan aku? Kau terlihat masih sangat muda, tubuhmu pendek untuk ukuran seorang lelaki dewasa dan lagi, suaramu tidak terdengar maskulin sama sekali. Apa kau masih di bawah umur hingga suaramu bahkan belum berubah menjadi besar?” tanya si pemuda ingin tahu.
“Apa kau ingin menginterogasiku? Kenapa aku harus menjawab semua pertanyaanmu?” tanya Anastasia dengan dingin dan datar, tampak tak nyaman karena diinterogasi seperti penjahat.
“Sepertinya kau memang masih di bawah umur. Apa kau kabur dari orang tuamu?” tanya si pemuda itu lagi, benar-benar berisik.
“Bisa tidak kau tutup mulutmu?” sergah Anastasia kesal.
“Aku hanya ingin beramah tamah dengan orang yang sudah menyelamatkan aku. Jika kau punya masalah, siapa tahu saja aku bisa membantumu. Anggap saja untuk membalas semua kebaikanmu,” sahut pemuda itu, mencari alasan.
“Kenapa kau menyelamatkan aku? Apa kau hanya kebetulan lewat di hutan itu?” tanya si pemuda lagi, tampak penasaran. Dia masih menatap lekat Anastasia dan mengamatinya dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Pemuda itu tampak masih belum mempercayai cerita Anastasia mengenai halusinasi yang dilihatnya karena dia sedang demam tinggi akibat infeksi dari gigitan serigala. Dia tampak masih mencurigai “pria muda tampan” di hadapannya.
“Hei, sepertinya aku mengenali pakaian yang kau kenakan? Apa itu pakaianku?” tanya pemuda itu lagi, teringat jika sepertinya dia memiliki pakaian dengan model serupa.
“Ini memang pakaianmu. Aku meminjamnya karena pakaianku terkena noda darahmu saat aku berusaha menyelamatkanmu kemarin malam. Pakaianku kotor karenamu, jadi sudah sepantasnya kau mengganti pakaianku dengan pakaianmu! Kau tidak keberatan, kan?” jawab Anastasia dengan akting yang meyakinkan. Walaupun faktanya, dia memberikan pakaiannya kepada mayat wanita yang dicabik-cabik serigala itu.
Jawaban Anastasia yang terlihat sangat tenang, terdengar sangat masuk akal. Tentu saja, siapa pun orangnya pasti tidak akan nyaman mengenakan pakaian yang terkena noda darah apalagi jika nodanya terlalu banyak.
“Kau benar. Saat menyelamatkan aku, pakaianmu pasti kotor karena terkena noda darahku. Terima kasih. Tapi aku masih penasaran, kenapa kau menyelamatkan aku?” ujar pemuda itu ingin tahu.
“Karena aku masih punya hati dan perasaan. Aku tidak mungkin diam saja melihat kau hampir mati dikeroyok oleh gerombolan serigala,” sahut Anastasia dengan dingin dan datar.
“Bagaimana dengan adik perempuanku?” tanya pemuda malang itu ingin tahu.
“Oh, jadi itu adik perempuanmu?” tanya Anastasia, balik bertanya dengan datar.
“Maaf, tapi adik perempuanmu sudah tewas tercabik-cabik oleh serigala. Saat aku datang menyelamatkanmu, dia sudah tidak tertolong lagi.” sahut Anastasia, menjelaskan kenyataannya.
“Lalu di mana dia sekarang? Apa kau menguburkannya?” tanya pemuda itu dengan penasaran.
“Tidak! Prajurit Tentara Merah membawanya pergi,” sahut Anastasia dengan jujur.
“Apa mungkin mereka membawanya pada Ayahku? Baguslah kalau begitu, karena dia bisa dikuburkan dengan layak. Tapi kenapa mereka tidak sekalian membawaku juga?” sahut pemuda itu dengan sedikit lega.
“Kenapa prajurit Tentara Merah harus membawanya pada ayahmu? Siapa ayahmu memangnya? Apa Tentara Merah mengenalnya?” tanya Anastasia penasaran.
“Ayahku adalah Yakov Yurovsky,” sahut pemuda itu dengan santainya, sementara Anastasia hanya menatapnya dengan mulut ternganga karena terkejut, tidak menyangka jika pemuda yang sudah dia selamatkan dari gerombolan serigala liar ini adalah putra dari musuh besarnya, orang yang sudah menghabisi seluruh keluarganya.
“Harusnya kubiarkan kau mati saja!” maki Anastasia dalam hati dengan dendam dan kemarahan dalam dadanya.
To be continued...
Matahari sudah tenggelam sejak tadi, malam yang dingin dan sunyi kini kembali datang. Sepanjang siang ini, Ariadna terus bermain kucing-kucingan dengan prajurit Tentara Merah.
Setelah berhasil meloloskan diri dari pemeriksaan prajurit Tentara Merah, Ariadna segera bergegas pergi dari tempat itu dan ingin sesegera mungkin tiba di Istana yang menjadi tujuannya.
Namun di sepanjang jalan yang dilaluinya, Ariadna melihat poster Grand Duchess Anastasia terpasang di berbagai tembok kota, jendela rumah makan, bahkan tiang listrik.
“Sepuluh juta rubel angka yang tidak main-main,” gumamnya lagi seraya mengeratkan mantelnya dan berjalan dengan cepat di sepanjang trotoar, dia ingin menemukan tempat yang aman untuk setidaknya memejamkan matanya sejenak.
Alexander Palace sangat jauh dari tempatnya tinggal. Mungkin jika berjalan kaki tanpa istirahat, dia baru akan tiba di sana sekitar tiga hari perjalanan. Tapi dia hanyalah seorang gadis biasa, tentu dia akan merasa lelah jika terus berjalan tanpa henti, kan?
“Dingin sekali. Bbrrrrrr! Kenapa hidupku jadi seperti ini?” Ariadna tampak menyesali nasibnya, kenapa dia dilahirkan ke dunia yang seolah sangat tak ramah padanya.
Ariadna baru saja berjalan beberapa langkah saat tiba-tiba sudut matanya menangkap selembar kertas yang berbeda dari yang lain, tertempel tepat di samping pengumuman yang satu lagi.
“Disediakan imbalan sebesar dua puluh juta rubel bagi yang bisa menemukan, melindungi serta membawa Grand Duchess Anastasia Romanova pulang dengan selamat ke Kerajaan Inggris, ke hadapan Dowager Empress Marie. Best Regards : Dowager Empress Marie, British Kingdom.” Ariadna membaca tulisan di pengumuman yang terpasang di tembok itu dengan mata terbelalak kaget.
“Jadi Dowager Empress Marie benar-benar ada di Kerajaan Inggris?” Ariadna akhirnya mengetahui dengan jelas ke mana dia harus pergi untuk menyelamatkan diri.
“Tapi apa ini serius? Ibu suri membuat pengumuman tandingan untuk menemukan Sang Putri? Mereka melipatgandakan uangnya. Aku sama sekali tak menyangka harga untuk Grand Duchess Anastasia sangatlah mahal,” Ariadna berdecak kagum membayangkan betapa besarnya imbalan yang ditawarkan.
Baik Keluarga Kerajaan Inggris ataupun Pasukan Tentara Merah sama-sama menginginkan Anastasia dan sama-sama menawarkan imbalan yang menggiurkan. Siapakah yang akan lebih dulu menemukan gadis itu? Hanya takdir yang mampu menjawabnya.
Di saat Ariadna terbelalak kaget membaca pengumuman di dinding itu, tak jauh dari tempatnya berdiri, juga tampak dua orang pria muda yang membaca pengumuman yang sama.
“Grand Duchess Anastasia Nikolaevna Romanova. Benarkah kabar yang mengatakan bahwa dia berhasil selamat dari pembantaian itu?” tanya seorang pria muda yang mengenakan pakaian serba hitam dan topi untuk menutupi wajahnya.
“Benar, Pangeran. Menurut laporan mata-mata kita, Tentara Merah Bolsheviks tidak berhasil menemukan tubuh Grand Duchess Anastasia di antara timbunan mayat keluarga Kerajaan. Kemungkinan besar dia selamat dari pembantaian keji yang merenggut nyawa seluruh keluarganya,” jawab pria yang satu lagi, seorang pria berjenggot tipis yang kira-kira lebih tua dari pria yang pertama.
“Jangan panggil aku Pangeran! Apa kau lupa kita sedang menyamar?” bentak sang Pangeran seraya mengamati keadaan di sekelilingnya.
“Ampuni hamba, Pa... maksud saya, Tuan Muda.” jawab pria yang satu lagi, yang tampak seperti pengawalnya.
“Baiklah. Kurasa hanya ada satu tempat di mana kita bisa menemukan Sang Putri,” jawab Sang Pangeran dengan nada penuh keyakinan dalam suaranya.
“Anda tahu di mana sang Putri berada, Tuan Muda?” pria berjenggot tipis itu tampak kaget saat mendengar majikannya seolah mengetahui di mana sang Putri berada.
“Tentu saja. Walaupun aku tak sepenuhnya yakin, tapi kurasa kemungkinan besar dia ada di tempat itu,” jawab pria muda yang berusia sekitar delapan belas hingga sembilan belas tahun tersebut.
“Dan di manakah tempat itu?” tanya sang pengawal dengan nada berbisik lirih, takut ada yang mendengar pembicaraan mereka.
“Apa kau pernah mendengar pepatah yang mengatakan, tempat yang paling berbahaya adalah tempat yang paling aman?” tanya sang Pangeran dengan tatapan mata penuh percaya diri.
“Apa maksud Anda...” si pengawal mencoba menebak namun sang Pangeran segera memotong ucapannya.
“Benar. Kemungkinan besar dia ada di tempat itu,” jawab Sang Pangeran berteka-teki dengan senyum kemenangan tersungging di bibirnya.
“Maafkan aku, Alex. Tapi sepertinya kali ini aku yang menang. Anastasia akan jadi milikku karena aku yang akan menemukannya lebih dulu,” ujar pria muda itu dalam hatinya dengan penuh keyakinan bahwa dia pasti akan menemukan Anastasia di “tempat itu”.
– 000000 —
Di dalam goa, di pinggir hutan...
“Aku sudah mengatakan semuanya, terserah jika kau tak percaya!” sahut Anastasia seraya menyodorkan buburnya ke arah pemuda itu.
“Kau benar-benar tidak melihat gadis itu?” tanya pemuda itu lagi, masih tidak percaya.
“Kau semalam demam tinggi karena gigitan serigala itu menimbulkan infeksi. Karena demam tinggi, kau jadi berhalusinasi. Aku yang menyelamatkanmu, bukan Peri Hutan!” sahut Anastasia, berusaha meyakinkannya.
“Berapa umurmu? Kenapa kau menyelamatkan aku? Kau terlihat masih sangat muda, tubuhmu pendek untuk ukuran seorang lelaki dewasa dan lagi, suaramu tidak terdengar maskulin sama sekali. Apa kau masih di bawah umur hingga suaramu bahkan belum berubah menjadi besar?” tanya si pemuda ingin tahu.
“Apa kau ingin menginterogasiku? Kenapa aku harus menjawab semua pertanyaanmu?” tanya Anastasia dengan dingin dan datar, tampak tak nyaman karena diinterogasi seperti penjahat.
“Sepertinya kau memang masih di bawah umur. Apa kau kabur dari orang tuamu?” tanya si pemuda itu lagi, benar-benar berisik.
“Bisa tidak kau tutup mulutmu?” sergah Anastasia kesal.
“Aku hanya ingin beramah tamah dengan orang yang sudah menyelamatkan aku. Jika kau punya masalah, siapa tahu saja aku bisa membantumu. Anggap saja untuk membalas semua kebaikanmu,” sahut pemuda itu, mencari alasan.
“Kenapa kau menyelamatkan aku? Apa kau hanya kebetulan lewat di hutan itu?” tanya si pemuda lagi, tampak penasaran. Dia masih menatap lekat Anastasia dan mengamatinya dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Pemuda itu tampak masih belum mempercayai cerita Anastasia mengenai halusinasi yang dilihatnya karena dia sedang demam tinggi akibat infeksi dari gigitan serigala. Dia tampak masih mencurigai “pria muda tampan” di hadapannya.
“Hei, sepertinya aku mengenali pakaian yang kau kenakan? Apa itu pakaianku?” tanya pemuda itu lagi, teringat jika sepertinya dia memiliki pakaian dengan model serupa.
“Ini memang pakaianmu. Aku meminjamnya karena pakaianku terkena noda darahmu saat aku berusaha menyelamatkanmu kemarin malam. Pakaianku kotor karenamu, jadi sudah sepantasnya kau mengganti pakaianku dengan pakaianmu! Kau tidak keberatan, kan?” jawab Anastasia dengan akting yang meyakinkan. Walaupun faktanya, dia memberikan pakaiannya kepada mayat wanita yang dicabik-cabik serigala itu.
Jawaban Anastasia yang terlihat sangat tenang, terdengar sangat masuk akal. Tentu saja, siapa pun orangnya pasti tidak akan nyaman mengenakan pakaian yang terkena noda darah apalagi jika nodanya terlalu banyak.
“Kau benar. Saat menyelamatkan aku, pakaianmu pasti kotor karena terkena noda darahku. Terima kasih. Tapi aku masih penasaran, kenapa kau menyelamatkan aku?” ujar pemuda itu ingin tahu.
“Karena aku masih punya hati dan perasaan. Aku tidak mungkin diam saja melihat kau hampir mati dikeroyok oleh gerombolan serigala,” sahut Anastasia dengan dingin dan datar.
“Bagaimana dengan adik perempuanku?” tanya pemuda malang itu ingin tahu.
“Oh, jadi itu adik perempuanmu?” tanya Anastasia, balik bertanya dengan datar.
“Maaf, tapi adik perempuanmu sudah tewas tercabik-cabik oleh serigala. Saat aku datang menyelamatkanmu, dia sudah tidak tertolong lagi.” sahut Anastasia, menjelaskan kenyataannya.
“Lalu di mana dia sekarang? Apa kau menguburkannya?” tanya pemuda itu dengan penasaran.
“Tidak! Prajurit Tentara Merah membawanya pergi,” sahut Anastasia dengan jujur.
“Apa mungkin mereka membawanya pada Ayahku? Baguslah kalau begitu, karena dia bisa dikuburkan dengan layak. Tapi kenapa mereka tidak sekalian membawaku juga?” sahut pemuda itu dengan sedikit lega.
“Kenapa prajurit Tentara Merah harus membawanya pada ayahmu? Siapa ayahmu memangnya? Apa Tentara Merah mengenalnya?” tanya Anastasia penasaran.
“Ayahku adalah Yakov Yurovsky,” sahut pemuda itu dengan santainya, sementara Anastasia hanya menatapnya dengan mulut ternganga karena terkejut, tidak menyangka jika pemuda yang sudah dia selamatkan dari gerombolan serigala liar ini adalah putra dari musuh besarnya, orang yang sudah menghabisi seluruh keluarganya.
“Harusnya kubiarkan kau mati saja!” maki Anastasia dalam hati dengan dendam dan kemarahan dalam dadanya.
To be continued...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar