Rabu, 22 Juli 2026

CH 13 : Anastasia, The Warrior Princess ll The Last Princess Of Russia


Sementara itu, di dalam hutan yang gelap...
Seorang gadis muda berambut pirang stroberi tampak mengamati sekumpulan pria berseragam merah yang berjalan mondar-mandir di bawah kakinya.

Sekumpulan pria berseragam merah itu tampak sibuk menggeledah semak-semak belukar setinggi badan manusia dan juga di balik pohon-pohon rindang, hanya untuk berjaga-jaga jika mereka menemukannya di sana.

“Aku lelah. Sampai kapan para pria bodoh itu akan berada di bawah sana? Aku ingin tidur dan istirahat sejenak. Tapi tidak mungkin kan aku tidur di atas dahan pohon seperti ini?” umpat gadis berambut pirang stroberi itu, Anastasia Nikolaevna Romanova dalam hati.

“Kalau jatuh kan tidak lucu,” lanjutnya pasrah.

Benar. Sang Putri Yang Hilang itu, Anastasia memutuskan untuk memanjat salah satu pohon rindang dan bersembunyi di sana. Dia tahu bahwa para pria bodoh itu pasti tidak akan terpikirkan bahwa Sang Putri yang mereka cari naik dan bersembunyi di atas pohon.

Dan sepertinya para pria bodoh itu memang lupa, atau mungkin mereka tidak tahu kalau Anastasia Nikolaevna Romanova memang terkenal nakal dan hobi memanjat pohon.

“Sepertinya gadis itu tak ada di sini! Ayo kita pergi!” seru salah satu pria berseragam merah pada yang lain.

“Ya, ya. Sana pergi! Cari saja aku di tempat lain!” batin Anastasia seraya tersenyum menang.

Apalagi saat melihat segerombolan pria berseragam merah itu akhirnya berjalan meninggalkan hutan.

“Ini aneh sekali! Jelas-jelas kita melihatnya masuk ke dalam sini. Tapi kenapa sekarang dia menghilang tanpa jejak?” seru salah satu pria itu dengan heran.

“Mungkinkah gadis itu dimakan oleh serigala liar?” tanya rekannya yang lain, si pria kedua.

“Hah? Apa mungkin ada serigala liar di hutan ini?” seru yang lain lagi dengan nada merinding, pria ketiga berambut hitam keriting dengan ekspresi ngeri di wajahnya.

“Kudengar memang ada,” jawab si pria kedua.

Lalu tak lama kemudian, terdengar lolongan serigala liar dari tempat yang tak jauh dari mereka.
“AAAUUUUUUU!” suara lolongan itu terdengar cukup keras hingga cukup membuat merinding siapa pun yang mendengarnya.

“Kalian dengar itu? Itu lolongan serigala liar!” seru pria ketiga dengan wajah ketakutan.

“Kalau begitu kita cepat tinggalkan hutan ini. Aku tidak mau menjadi santapan serigala liar!” jawab si pria keempat lalu segera berlari pergi terbirit-birit diikuti oleh rekan-rekannya yang lain.

Di atas dahan pohon yang rindang, Anastasia tampak tertawa cekikikan saat melihat para pengejarnya berlari terbirit-birit saat mendengar suara lolongan serigala.

“Hahaha! Dasar bodoh! Itu kan aku! Andai saja aku tahu kalau cara ini akan berhasil, sudah kulakukan sejak awal,” ujarnya tertawa geli.

“Hei, terima kasih sudah memberiku ide!” lanjut Anastasia seraya melambaikan tangannya ke arah pasukan Tentara Merah yang berlari ketakutan meninggalkan tempat itu.

“Baguslah. Setidaknya aku bisa bernapas lega untuk sementara. Tapi aku harus tetap menemukan cara lain untuk kabur. Penampilanku terlalu menarik perhatian, aku tidak bisa berkeliaran dengan penampilan seperti ini,” ujar Anastasia dalam hati, berpikir keras bagaimana caranya agar terhindar dari perhatian Pasukan Tentara Merah Bolsheviks.

Saat sedang berpikir itulah, dia mendengar suara lolongan serigala liar dari kejauhan. Gadis yang masih berada di atas dahan pohon itu tampak terkejut untuk sesaat.

“Apa ada orang lain yang juga melakukan trik yang sama denganku?” tanyanya dalam hati.

“Atau mungkin benar-benar ada serigala liar dalam hutan ini dan aku tak sengaja memanggil mereka kemari?” tebaknya lagi, menerka segala kemungkinan yang terjadi.

“Ah, Ya Tuhan. Untung saja aku masih belum turun,” tambahnya dalam hati, lega.

Tapi tak lama kemudian, dia mendengar teriakan seorang pria dari lokasi yang tak jauh darinya.
“TOLONG! TOLONG KAMI!” serunya lantang.

Penasaran, Anastasia memutuskan untuk mencari asal suara itu, namun tentu saja, dia tidak mau turun dari atas pohon dan memilih untuk melompat dari atas pohon ke pohon yang satu lagi, hingga menemukan asal suara itu.

Dan akhirnya dia menemukannya, seorang pemuda berpakaian mewah tampak dikelilingi oleh gerombolan serigala liar. Cukup jauh dari sana, ada seorang wanita berambut panjang merah yang sudah terkapar bersimbah darah dengan tubuh penuh luka koyakan dan cakaran. Wanita itu tampak terdiam tak bergerak.

“Apa dia sudah mati dimakan serigala?” tebak Anastasia dalam hati. Lalu dia melihat tak jauh dari tubuh pemuda itu, ada sebuah busur tergeletak beserta anak panahnya.

“Apa mereka pemburu yang diserang oleh serigala liar?” tebak Anastasia lagi, lalu mencoba turun dari atas pohon itu dan diam-diam mengambil panah itu kemudian kembali naik ke atas.

Untunglah lima ekor serigala liar itu tampak sangat fokus dengan mangsa di depan mereka jadi mereka tidak mendengar Anastasia yang bergerak diam-diam untuk mengambil panah dan kembali naik ke atas pohon.

Bersamaan dengan gadis itu yang telah sampai kembali di atas pohon, gerombolan serigala itu sudah mulai menyerang si pemuda malang dengan brutal.

“AAARGGHH!” terdengar teriakan kesakitan pemuda itu saat sebelah tangannya digigit oleh serigala liar itu.

Anastasia melihat pemuda malang itu tampak ingin melawan namun sepertinya semuanya sia-sia saja, karena serigala itu menyerangnya dari segala sisi.

“Kau berhutang nyawa padaku, ingatlah untuk membayarnya!” seru Anastasia lantang seraya berdiri di atas dahan pohon dan mulai melesatkan panahnya ke arah gerombolan serigala yang menyerang pemuda itu.

Jleb. Panah pertama berhasil mengenai serigala pertama yang segera jatuh terjengkang dan berlari tunggang langgang meninggalkan tempat itu.

Lalu kemudian, satu persatu panah kembali dilesatkan ke arah gerombolan serigala yang lain. Karena berada di ketinggian, Anastasia memenangkan pertempuran itu dengan mudahnya. Satu persatu serigala itu terkapar di tanah akibat serangan panah yang dilesatkan oleh Putri Terakhir Russia itu.

Anastasia tersenyum senang saat melihat empat ekor serigala mati dan satu melarikan diri dalam keadaan terpanah.

“Ada gunanya juga aku belajar memanah sejak kecil,” ujarnya dalam hati dengan penuh kebanggaan, kemudian melompat turun dari atas dahan pohon dengan masih menggenggam panah di tangannya untuk berjaga-jaga.

Pemuda yang terkapar di tanah itu, hanya menatap takjub siluet seorang wanita bergaun putih dan berambut pirang kemerahan turun dari atas pohon dengan memegang sebuah panah.

Karena dia sudah terluka parah dan hampir pingsan saat ini, jadi dia tidak bisa melihat dengan jelas wajah gadis muda itu, namun samar-samar dia melihat sepertinya gadis itu sangat cantik melihat dari rambutnya yang panjang dan gaun putihnya yang berkibar saat tertiup angin.

“Peri Hutan, terima kasih sudah menyelamatkan aku,” bisik pemuda itu lirih sebelum memejamkan matanya dan terjatuh pingsan.

“Peri Hutan?” ulang Anastasia dengan bingung.

Dia berlutut di samping pemuda itu dan memeriksa luka-luka bekas cakaran dan gigitan di seluruh tubuhnya, dan entah kenapa gadis itu merasa iba.

“Hei, kau tidak apa-apa? Bangunlah!” seru Anastasia seraya menepuk-nepuk pipi pria itu namun pria itu tetap terdiam membisu. Pingsan. Pemuda itu sudah terlanjur pingsan.

Menarik napas pasrah, Anastasia kemudian berdiri dan mengamati sekitar hutan itu saat matanya menangkap mayat seorang wanita yang terkapar bersimbah darah tak jauh dari sana.

Anastasia mendekati mayat wanita malang yang tubuh dan wajahnya sudah tercabik-cabik oleh serigala liar itu dengan ngeri.

Dia kembali ke sisi pemuda yang pingsan itu dan menyadari ada sebuah tas tergeletak tak jauh darinya, Anastasia memeriksa tas itu dan tersenyum saat menemukan beberapa setel pakaian pria.

Sebuah ide melintas di kepalanya, “Tentu saja. Ini penyamaran yang sempurna,” batin Anastasia berpikir dengan senyum sinis tersungging di bibirnya.

To be continued...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar