Rabu, 22 Juli 2026

CH 4 : Most Wanted Princess ll The Last Princess Of Russia


Beberapa saat sebelumnya...
“Dia masih hidup. Keturunan terakhir Romanov, Anastasia Nikolaevna masih hidup? Bagaimana bisa? Bukankah kau bilang mereka semua sudah tewas?” seru seorang pria bertubuh tinggi dan berkepala botak, dengan janggut dan kumis yang lebat dengan marah.

Pria itu adalah Vladimir Lenin, pemimpin Pasukan Tentara Merah Bolsheviks yang memerintahkan untuk membantai seluruh keluarga kerajaan malam itu.

“Harusnya memang seperti itu, Tuan. Tapi entah bagaimana, Grand Duchess Anastasia tiba-tiba saja menghilang saat kami akan menguburkan mereka,” sahut seorang pria muda berusia sekitar dua puluh tahunan.

“Padahal sesaat sebelumnya, ketika kami menusuk mati Grand Duchess Maria, tubuh Grand Duchess Anastasia masih ada di dalam sana, tepat di samping jasad Tsarina Alexandra,” Lapor pria berbadan kekar dengan sebuah bekas luka di pelipisnya.

“Cari gadis itu sampai dapat! Temukan dia secepatnya, hidup atau mati! Sebarkan posternya di seluruh penjuru negeri. Tawarkan imbalan sepuluh juta rubel bagi siapa pun yang mengetahui keberadaannya,” perintah Vladimir Lenin dengan tegas.

“Tentara Putih masih mendukung Monarki, mereka pasti akan bergerak mencari gadis itu untuk kembali didudukkan di atas tahta Russia. Kita tidak bisa membiarkan Monarki kembali lagi,” ujarnya dengan marah.

“Belum lagi, bagaimana jika seandainya gadis muda yang cerdas dan banyak akal itu meminta bantuan pada Pamannya di Kerajaan Inggris atau pada neneknya di Kerajaan Denmark?” lanjut Vladimir dengan marah.

Bolsheviks baru saja menghabisi Keluarga Kerajaan Russia dan kekuatannya masih terlalu lemah sekarang. Dia masih harus menghadapi Tentara Putih dan menyingkirkan mereka agar dia bisa benar-benar menguasai Russia.

Jangan sampai, keluarga Kerajaan Russia bangkit lagi dengan dukungan Kerajaan Inggris atau Denmark.

“Baik, Tuan.” Jawab si pelapor lalu segera pergi untuk melaksanakanya. Dalam waktu kurang dari tiga hari, poster Grand Duchess Anastasia sudah tersebar di seluruh penjuru Russia, menjadi orang yang paling dicari saat ini.

Semua orang menginginkan gadis itu untuk ditukar dengan sepuluh juta rubel, jumlah yang sangat tidak sedikit.

Petrograd (now St Petersburg) – Russia...
“Ada apa dengan mereka semua? Kenapa mereka memandangiku dengan aneh seperti itu? Aku tidak suka jika ada orang yang berbisik-bisik di belakang punggungku,” ujar seorang gadis berambut pirang strawberry, tampak tak nyaman saat menyadari beberapa orang memandanginya sambil berbisik-bisik di belakang punggungnya.

Merasa tak nyaman dan menyadari ada yang aneh pada mereka, dia memutuskan untuk segera berlari pergi meninggalkan tempat itu, tapi sial baginya saat dua orang pria tidak dikenal mendadak muncul dari balik tikungan dan membungkam mulutnya serta menyeretnya ke sebuah rumah kosong yang tampak seperti gudang tua, dan jauh dari pemukiman penduduk.

“Apa mau kalian? Lepaskan aku! Apa-apaan ini?” ujarnya kesal.
“My apologize, Her Imperial Highnessess.” Ujar salah satunya seraya membungkuk dengan hormat di hadapan gadis itu namun beberapa saat kemudian dia tertawa terbahak.

“Apa kau pikir kau masih seorang Putri sekarang? Monarki sudah hancur. Seluruh keluargamu sudah dibantai habis. Kau bukan siapa-siapa lagi saat ini,” lanjutnya dengan tertawa menghina.

“Putri? Apa maksudnya?” ujar gadis itu dalam hati, tak mengerti sama sekali.

“Aku tahu Monarki sudah hancur. Tentara Merah Bolsheviks sudah membunuh mereka semua. Tapi apa hubungannya denganku? Keluarga? Aku tak punya keluarga. Keluarga mana yang kau maksud?” tanya gadis itu bingung, sama sekali tak mengerti apa yang dibicarakan lawan bicaranya.

“Jangan berakting, Her Imperial Highnesses. Kami semua mengenalimu,” ujar si penculik tak percaya.
“Hei, apa kau sudah menghubungi Yurovsky? Kapan dia akan kemari? Jangan lupa mengingatkannya untuk membawa uang itu,” lanjutnya pada seorang pria lain yang berdiri di depan pintu.

“Uang? Jadi mereka menginginkan uang? Lalu Putri? Putri siapa yang mereka maksud? Kenapa mereka mengira aku adalah Putri?” ujar gadis itu dalam hati.

“Dia akan datang sebentar lagi. Sambil menunggunya, apa yang harus kita lakukan pada gadis ini?” jawab si pria di depan pintu dengan tersenyum mesum. Mereka tampak seperti sepasang pemuda di kisaran dua puluhan. Masih muda dan bertubuh tegap.

“Lihatlah! Dia sangat cantik, bukan? Bagaimanapun juga dia terlahir sebagai seorang Putri Kaisar,” lanjut si pria yang berdiri di depan pintu seraya mendekati gadis itu lalu menarik dagunya dan menatap matanya yang berwarna hazel.

“Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu!” bentak gadis muda itu marah. Tak nyaman dipandang dengan tatapan mesum seperti itu oleh seorang pria asing yang tidak dikenalnya.

“Wah, Sang Putri sudah marah rupanya. Her Imperial Highnesses, jangan lupa kau bukan lagi seorang Putri sekarang. Kau tak punya pengawal yang akan melindungimu. Kau bukan siapa-siapa selain seorang buronan,” ujar si pria yang tadi berdiri di depan pintu dengan nada mencibir.

“Buronan? Aku benar-benar tak mengerti apa yang mereka bicarakan,” ujar gadis muda itu dalam hati.
Berpikir keras untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dan mencari cara agar bisa segera lolos dari tempat ini sebelum orang yang mereka panggil Yurovsky itu datang kemari.

“Hei, jangan keterlaluan. Kita tak boleh melukainya. Yurovsky berkata kita harus menjaganya baik-baik,” ujar pemuda yang satu lagi.

“Bukankah mereka bilang tangkap gadis ini hidup atau mati?” tanya si pria yang tadi berdiri di depan pintu dengan tidak suka.

“Hidup atau mati. Tapi jika dia masih hidup maka kita tak boleh melukainya,” jawab temannya memperingatkan.
“Tapi kenapa?” tanya si pria yang tadi berdiri di depan pintu.

“Entahlah. Yurovsky hanya berkata jangan lukai dia seujung rambut saja jika kita ingin uangnya. Mungkin Tentara Merah menginginkan informasi berharga dari anggota keluarga Kerajaan,” jawab temannya seraya berjalan ke arah pintu untuk melihat keadaan.

“Keluarga Kerajaan? Putri? Uang? Aku masih tidak mengerti apa yang terjadi, tapi setidaknya aku sudah memahami satu hal di sini,” ujar gadis itu dalam hatinya dengan tersenyum sinis. Sebuah rencana licik muncul dalam otaknya.

“Kalian ingin uang, kan? Aku bisa memberi kalian uang yang sangat banyak, asal kalian lepaskan aku!” ujar gadis muda itu dengan berani, memberikan penawaran.

“Kau pikir kami percaya? Kau sudah miskin sekarang. Bukan lagi seorang Putri,” cibir si pria pertama.

“Lalu kau pikir, bagaimana aku bisa tetap hidup sampai saat ini jika aku tak punya uang? Tentu saja itu karena aku menyuap salah satu dari mereka,” jawab gadis muda itu dengan santai, mulai membual.

Kedua pria bodoh itu tampak berpkir, dan merasa bahwa ucapan gadis itu masuk akal.
“Kalian percaya aku adalah Putri, kan? Fine. Let’s play to be Princess. Anggap saja aku sedang bermain theater sekarang,” lanjut gadis muda itu dalam hati.

“Apa yang bisa kau tawarkan?” lanjut pria yang tadi berdiri di depan pintu.

“Aku tak tahu berapa yang ditawarkan oleh Yurovsky itu, tapi aku hanya bisa bilang bahwa berlian di mahkotaku berharga lebih dari itu. Akan kuberikan mahkotaku pada kalian. Kalian bisa mencopot semua berlian itu dan menjualnya,” dusta gadis muda itu, Ariadna Alexandrova dengan lancar. Ehem, berbohong demi keselamatan sepertinya bukanlah dosa, kan?

Akhirnya setelah melalui banyak pertimbangan, kedua pria bodoh itupun mempercayai ucapan gadis itu dan mengantarnya ke suatu tempat yang mereka percaya sebagai tempat gadis itu menyembunyikan mahkotanya.

Sebuah perpustakaan tua yang konon berhantu dan pernah dijadikan tempat pembantaian massal oleh pasukan tentara merah dipilih oleh si gadis sebagai tempatnya melarikan diri.

“Apa kau tidak sedang membohongi kami?” tanya si pria berambut hitam lurus pada gadis itu, menatapnya curiga.

“Kau mau berlian, tidak? Jika mau, maka ikuti aku! Mahkota itu adalah harta terakhirku, apa kau pikir aku akan meletakkannya di sembarang tempat? Yang benar saja!” jawab Ariadna dengan santai seraya melangkah masuk dan mengamati sekelilingnya, mencari cara untuk melarikan diri dari mereka.

Dan akhirnya dia menemukan caranya saat dia melihat sebuah celah terbuka di antara jendela yang retak yang ada di salah satu ruangan. Kondisi tempat itu cukup gelap, pengap dan penuh dengan sarang laba-laba, ah, jangan lupakan juga debu yang beterbangan di mana-mana.

“Apa menurutmu ini tidak apa-apa? Bagaimana dengan uang yang ditawarkan Yurovsky?” tanya temannya, si pria mesum yang tadi sempat menggoda gadis itu.

Gadis itu mendengarnya lalu tersenyum tipis pada dirinya sendiri, “Di sana!” ujarnya seraya menunjuk sebuah pintu di ujung ruangan.

“Tapi karena aku takut tikus, bisakah kalian masuk lebih dulu untuk memastikan bahwa tak ada tikus di dalam ruangan itu?” pinta si gadis dengan tenang.

“Jika kau takut tikus, lalu bagaimana caramu meletakkan mahkotamu di sana?” tanya si pria berambut hitam lurus dengan curiga.

“Tak ada tikus di sana pada awalnya, itu sebabnya aku sembunyikan mahkotaku di sana. Lalu aku keluar untuk mencari makanan, tapi saat aku kembali, aku melihat banyak tikus berlarian. Itu sebabnya sampai sekarang aku tak berani masuk lagi untuk mengambil mahkotaku,” sahut Ariadna dengan santai, berbohong dengan lancar.

“Oh ya ampun, Ariadna. Kau memang penipu yang hebat. Ya Tuhan, tolong ampuni aku,” lanjut Ariadna dalam hati.

“Dasar wanita!” omel si pria mesum yang sebelumnya berdiri di depan pintu. Dia berjalan masuk lebih dulu untuk memeriksa keadaan di dalam ruangan.
“Apa di dalam sana aman?” tanya Ariadna, berteriak dari depan pintu masuk.
“Aku tidak melihat apa pun di sini,” jawab si pria mesum.
“Lihat di bawah meja!” seru Ariadna dari kejauhan.

“Hei, kau masuk dan bantu dia. Ambil mahkotaku dan berikan sebutir berlian padaku, lalu kalian boleh ambil sisanya!” Perintah Ariadna dengan gaya seorang putri.

“Apa? Kau ingin meminta sebutir?” ulang si pria berambut hitam.

“Hei, mahkotaku bertahtakan sembilan puluh sembilan butir berlian. Aku hanya meminta satu dari sembilan puluh sembilan apa salahnya? Jangan serakah! Mahkota itu milikku, sebagai pemilik aku hanya meminta satu, masa tidak boleh? Aku juga membutuhkan berlian itu untuk bertahan hidup,” Omel Ariadna, dengan akting yang sangat meyakinkan.

Pria berambut hitam itu tampak berpikir sejenak namun kemudian mengangguk singkat lalu mengikuti temannya masuk ke dalam sana.

Ariadna mengikuti kedua pria itu masuk ke dalam sana dan melirik sebuah lampu hias berukuran besar yang tergantung di atas kepala kedua pria tersebut dan tampak bergoyang-goyang, seolah-olah hampir terjatuh.

Dia melihat sebuah tali yang terjuntai tak jatuh dari tempatnya berdiri yang mengarah ke arah lampu hias tersebut. Ariadna tersenyum sinis lalu menarik tali tersebut dengan sekuat tenaga.

“Maafkan aku. Aku tak punya pilihan,” bisiknya pada dirinya sendiri saat melihat lampu hias itu terjatuh menimpa kedua pria tersebut.

BRAAAKKK… Bunyi berdebam keras terdengar di ruangan yang sunyi tersebut disertai seruan keras, “Aaaarrrgghhh!” dari kedua pria tersebut.

“Dasar kau gadis tengik!” seru si pria mesum yang tadi menggodanya.
Dia meringis kesakitan saat lampu hias besar itu menimpa kakinya, membuatnya tak mampu bergerak.

“Hei ayolah, kalian bukan wanita! Jangan merengek seperti wanita. Tertimpa lampu hias tidak akan membuat kalian mati. Paling parah hanya terluka sedikit,” ujar Ariadna dengan tersenyum geli.

“Sial kau gadis tengik!” umpat si pria mesum sekali lagi.
“Kita memang bodoh. Bukankah seluruh Russia sudah tahu jika Grand Duchess Anastasia memang sangat cerdik?” omel si pria berambut hitam, menyalahkan dirinya sendiri.

“Grand Duchess Anastasia?” ulang Ariadna dalam hati, bingung.

“Maafkan aku. Aku hanya tak ingin mati konyol di tangan Yurovsky itu. Aaahh, dan juga lain kali, bekerjalah jika kalian ingin mendapatkan uang. Bukan mencari uang dengan cara keji seperti ini. Kalian berdua memang pecundang!” sindir Ariadna dengan berkacak pinggang.

“Kau pikir kau bisa tenang sekarang? Walau bukan kami yang menangkapmu sekarang. Cepat atau lambat akan ada orang lain yang melakukannya. Seluruh penjuru Russia sedang mengincar nyawamu sekarang. Berhati-hatilah, Yang Mulia!” cibir si pria mesum dengan seringai dingin.

“APA?” Ariadna tampak tak percaya dengan kalimat “Seluruh penjuru Russia” yang dikatakan pemuda itu.

To be continued...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar