“Bicara tentang Tentara Merah Bolsheviks, bagaimana caranya aku bisa lolos dari sini? Mereka pasti akan melakukan patroli ke semua tempat dan memastikan bahwa tidak akan ada yang bisa lolos dari pantauan mereka, bahkan tidak seekor tikus sekalipun,” ujar Ariadna tampak pasrah.
“Aku punya satu cara yang mungkin akan berhasil,” jawab Dayana dengan yakin.
“Apa itu?” tanya Ariadna dengan mata berkilat penasaran.
“Dengan menyamar menjadi pengemis kudisan,” jawab Dayana sambil tersenyum jahil.
“Apa? Menyamar menjadi pengemis kudisan?” ulang Ariadna, tampak shock mendengar usul sahabatnya.
“Hanya itu satu-satunya cara teraman yang bisa kupikirkan sekarang. Atau mungkin, kau punya cara lain?” gadis bernama Dayana itu balik bertanya. Ariadna terdiam, dia menggeleng pelan.
“Saat ini aku tidak bisa memikirkan rencana apa pun,” jawab Ariadna pasrah.
“Jangan khawatir. Aku yakin cara ini pasti akan berhasil, tapi kau harus rela menderita sedikit,” jawab Dayana meyakinkan.
“Menderita? Selama ini hidupku sudah sangat menderita, penderitaan mana lagi yang tak bisa kutanggung?” jawab Ariadna dengan percaya diri.
“Baiklah. Aku akan membantu mendandanimu. Aku akan membuatmu menjadi sekotor mungkin hingga tak ada seorangpun yang mau mendekatimu. Dengan begitu kau bisa dengan mudah lolos dari pemeriksaan Tentara Merah itu,” sahut Dayana dengan yakin.
“Aku jamin tak ada seorangpun yang mau dekat-dekat dengan seorang gadis berbau busuk, benarkan?” lanjut Dayana, terdengar santai tapi disertai senyuman jahil di wajahnya.
“Sial kau, Dayana! Kenapa aku merasa kau mengerjaiku?” tanya Ariadna sangsi.
“Kau mau selamat sampai ke Istana, tidak?” Dayana memprotes sahabatnya.
“Istana? Kenapa aku harus ke Istana?” tanya Ariadna tak mengerti.
“Karena di sanalah tempat teraman untukmu meloloskan diri,” jawab Dayana membingungkan.
“Bagaimana bisa? Bukankah kau bilang aku harus keluar dari Russia? Kenapa malah menyuruhku ke Istana? Lagipula, di Istana itu pernah terjadi pembantaian keluarga Kerajaan,” Ariadna tampak memprotes rencana sahabatnya.
“Dasar bodoh! Keluarga Kerajaan Romanov bukan dibantai di Istana, tapi di Ipatiev House di Yekaterinburg. Yang harus kau tuju sekarang adalah Alexander Palace, tempat di mana keluarga Kerajaan Romanov tinggal sebelum Tsar Nicholas II diturunkan dari tahtanya,” sahut Dayana, menjelaskan dengan sabar.
“Ah, benar. Aku lupa kalau mereka semua dibantai dengan keji di Ipatiev House dan bukan di Istana Kaisar,” ujar Ariadna teringat.
“Menurut Pamanku, di dalam salah satu sudut Alexander Palace, ada sebuah jalan rahasia yang menghubungkan Istana dengan wilayah perbatasan. Jika kau bisa menemukan jalan rahasia itu maka kau akan bisa keluar dari Russia dengan aman tanpa perlu menyamar menjadi pengemis kudisan lagi. Bukankah itu bagus?” ujar Dayana, menceritakan kembali apa yang didengarnya dari sang Paman.
“Tapi Istana itu begitu luas, dan aku belum pernah sekalipun ke sana. Bagaimana aku bisa menemukan jalan rahasia tersebut?” Ariadna tampak tak yakin dengan ide sahabatnya.
“Kurasa ada di sekitar koridor panjang yang menghubungkan taman belakang dengan Aula Istana,” jawab Dayana seraya mengingat.
“Suatu malam, Pamanku pernah tak sengaja mendengar kedua putri Romanov yaitu Grand Duchess Maria dan Grand Duchess Anastasia berjalan di sekitar koridor itu di tengah malam dengan tertawa cekikikan. Pamanku yang awalnya mengira hanya salah mendengar akhirnya memutuskan untuk mencari sumber suara itu dan dia melihat kedua putri sedang berjalan beriringan sambil bercanda,” Dayana memulai kisahnya.
“Tapi aneh, saat mereka berbelok di suatu belokan di koridor, kedua putri tiba-tiba saja menghilang,” Dayana kembali menjelaskan dengan mata berkilat penasaran.
“Apa Pamanmu tidak sedang melihat hantu? Atau mungkin berhalusinasi? Atau mungkin saja dia sedang mabuk? Mana mungkin kedua putri hilang begitu saja?” Ariadna mendadak penasaran dengan cerita yang didengarnya.
“Tidak. Kaisar tidak akan mengijinkan siapapun yang bekerja di Istana mabuk-mabukan. Lagipula, itu memang kedua putri. Karena saat Pamanku memeriksa lokasi tersebut, Paman menemukan sebuah kancing yang terlepas,” bantah Dayana.
“Kancing itu terbuat dari emas dan keesokan harinya, Grand Duchess Anastasia berkata bahwa dia tak sengaja menghilangkan salah satu kancing emas dari baju bonekanya,” lanjut Dayana bersikukuh.
“Maksudmu mungkin kancing itu adalah….” Dayana tak menunggu sahabatnya selesai bicara dan segera memotongnya, “Kancing itu memang tak sengaja terlepas dari baju boneka yang saat itu dipeluk oleh Grand Duchess Anastasia. Jadi jelas sekali bahwa ada jalan rahasia di sekitar tempat itu,” jawabnya dengan yakin.
“Tapi koridor Istana sangat luas dan panjang, koridor yang mana yang dimaksud Pamanmu?” tanya Ariadna, memastikan sekali lagi.
“Kalau tidak salah, Paman mengatakan koridor itu adalah koridor di mana terdapat lima lukisan besar keluarga Kerajaan digantung dan di bawah lukisan itu terdapat patung ksatria yang membawa pedang,” jawab Dayana dengan gaya mengingat.
“Tapi, apa menurutmu Tentara Merah takkan ada di sana?” Ariadna tampak ragu bila harus berhadapan dengan orang-orang dari Tentara Merah.
“Tidak. Mereka tidak mungkin masih di sana. Aku mendengar kabar bahwa mereka sudah lama pergi dari sana sejak mereka tidak menemukan harta kerajaan di dalam Istana. Kupikir mungkin, harta kerajaan itu sengaja disimpan di ruang rahasia,” jawab Dayana dengan yakin.
“Jadi menurutmu di dalam jalan rahasia itu kemungkinan tertimbun emas dan permata?” tanya Ariadna sekali lagi.
“Yeah, tepat sekali!” jawab Dayana membenarkan.
“Pergilah bersamaku! Kita akan kaya raya jika menemukan harta itu,” ujar Ariadna dengan mata berbinar membayangkan pundi-pundi uang yang akan ditemukannya.
“Jadi kau punya rencana untuk merampok keluarga kerajaan begitu?” sindir Dayana.
“Hei, mereka kan sudah meninggal,” jawab Ariadna dengan santai.
“Jangan lupa kalau tubuh Grand Duchess Anastasia tidak ditemukan di antara kumpulan mayat,” Dayana mengingatkan sahabatnya.
“Lagipula, bagaimana jika seandainya Dowager Empress Marie juga mencari harta itu dan menemukan fakta bahwa kita yang mencurinya? Walaupun kita lolos dari Tentara Merah Bolsheviks, kita takkan lolos dari hukuman pancung Kerajaan Denmark,” cibir Dayana, tak mau mengambil resiko.
“Ah iya, kau benar. Dowager Empress Marie dulu adalah Putri dari Kerajaan Denmark,” Ariadna sesaat tampak melupakan fakta itu.
“Ambillah sedikit saja untukmu sebagai bekal perjalanan. Bagaimanapun juga, kau butuh uang untuk membeli makanan, menyewa penginapan dan membeli tiket kapal atau kereta, bukan?” usul Dayana pada sahabatnya.
“Ambil sedikit saja sesuai kebutuhanmu. Jangan terlalu serakah. Karena merepotkan juga jika kau membawa uang terlalu banyak, aku takut kau akan kesulitan untuk berlari,” lanjut Dayana, masuk akal. Ariadna mengangguk mengerti.
“Tapi kenapa kau tidak ikut pergi bersamaku saja? Sejujurnya aku takut sendirian,” ujar Ariadna yang tampak takut membayangkan harus sendirian menghadapi semua ini.
“Aku ingin pergi bersamamu, tapi aku juga takut, Ariadna. Aku takut mereka akan membunuhku jika aku berjalan bersamamu. Kau sangat mirip dengan Putri itu,” jawab Dayana dengan jujur.
“Aku tahu. Aku tak bisa memaksamu, kan? Kau sahabat terbaikku. Aku tak mau kau terlibat bahaya karena aku. Maafkan keegoisanku, Dayana. Kau sudah cukup membantu dengan semua informasimu dan juga idemu tentang penyamaran ini. Kurasa itu cukup untukku,” sahut Ariadna tampak sedih.
“Maafkan aku, Ariadna. Sungguh. Andai saja aku lebih berani,” Dayana tampak tak enak karena membiarkan sahabatnya pergi menghadapi bahaya seorang diri.
“Tidak apa-apa. Aku mengerti. Sampai jumpa lagi. Itupun kalau Tuhan mengijinkan kita berjumpa lagi,” ujar Ariadna tulus, lalu memeluk sahabatnya cukup lama. Dayana menghapus air matanya karena tak tahu kapan mereka bisa bertemu lagi.
“Semoga beruntung, kawan. Ingat! Tujuanmu adalah mencari Dowager Empress Marie dan meminta perlindungan padanya. Jangan lakukan yang macam-macam karena aku tak ingin kau berakhir di tiang gantungan,” pesan Dayana dengan tersenyum manis.
“Aku akan mengingat itu. Sampai jumpa, kawan.” sahut Ariadna dengan tersenyum tulus pada sahabatnya.
Tak lama kemudian, Dayana berkata dia akan keluar sebentar untuk menyiapkan semua hal yang dibutuhkan untuk penyamaran Ariadna.
Dia kembali dua jam kemudian dengan membawa dua potong roti yang keras, dua botol air putih yang didapatnya entah dari mana, gaun kotor dan penuh tambalan di mana-mana juga sepatu robek yang kelihatannya sudah dibuang oleh pemiliknya.
“Aku punya satu cara yang mungkin akan berhasil,” jawab Dayana dengan yakin.
“Apa itu?” tanya Ariadna dengan mata berkilat penasaran.
“Dengan menyamar menjadi pengemis kudisan,” jawab Dayana sambil tersenyum jahil.
“Apa? Menyamar menjadi pengemis kudisan?” ulang Ariadna, tampak shock mendengar usul sahabatnya.
“Hanya itu satu-satunya cara teraman yang bisa kupikirkan sekarang. Atau mungkin, kau punya cara lain?” gadis bernama Dayana itu balik bertanya. Ariadna terdiam, dia menggeleng pelan.
“Saat ini aku tidak bisa memikirkan rencana apa pun,” jawab Ariadna pasrah.
“Jangan khawatir. Aku yakin cara ini pasti akan berhasil, tapi kau harus rela menderita sedikit,” jawab Dayana meyakinkan.
“Menderita? Selama ini hidupku sudah sangat menderita, penderitaan mana lagi yang tak bisa kutanggung?” jawab Ariadna dengan percaya diri.
“Baiklah. Aku akan membantu mendandanimu. Aku akan membuatmu menjadi sekotor mungkin hingga tak ada seorangpun yang mau mendekatimu. Dengan begitu kau bisa dengan mudah lolos dari pemeriksaan Tentara Merah itu,” sahut Dayana dengan yakin.
“Aku jamin tak ada seorangpun yang mau dekat-dekat dengan seorang gadis berbau busuk, benarkan?” lanjut Dayana, terdengar santai tapi disertai senyuman jahil di wajahnya.
“Sial kau, Dayana! Kenapa aku merasa kau mengerjaiku?” tanya Ariadna sangsi.
“Kau mau selamat sampai ke Istana, tidak?” Dayana memprotes sahabatnya.
“Istana? Kenapa aku harus ke Istana?” tanya Ariadna tak mengerti.
“Karena di sanalah tempat teraman untukmu meloloskan diri,” jawab Dayana membingungkan.
“Bagaimana bisa? Bukankah kau bilang aku harus keluar dari Russia? Kenapa malah menyuruhku ke Istana? Lagipula, di Istana itu pernah terjadi pembantaian keluarga Kerajaan,” Ariadna tampak memprotes rencana sahabatnya.
“Dasar bodoh! Keluarga Kerajaan Romanov bukan dibantai di Istana, tapi di Ipatiev House di Yekaterinburg. Yang harus kau tuju sekarang adalah Alexander Palace, tempat di mana keluarga Kerajaan Romanov tinggal sebelum Tsar Nicholas II diturunkan dari tahtanya,” sahut Dayana, menjelaskan dengan sabar.
“Ah, benar. Aku lupa kalau mereka semua dibantai dengan keji di Ipatiev House dan bukan di Istana Kaisar,” ujar Ariadna teringat.
“Menurut Pamanku, di dalam salah satu sudut Alexander Palace, ada sebuah jalan rahasia yang menghubungkan Istana dengan wilayah perbatasan. Jika kau bisa menemukan jalan rahasia itu maka kau akan bisa keluar dari Russia dengan aman tanpa perlu menyamar menjadi pengemis kudisan lagi. Bukankah itu bagus?” ujar Dayana, menceritakan kembali apa yang didengarnya dari sang Paman.
“Tapi Istana itu begitu luas, dan aku belum pernah sekalipun ke sana. Bagaimana aku bisa menemukan jalan rahasia tersebut?” Ariadna tampak tak yakin dengan ide sahabatnya.
“Kurasa ada di sekitar koridor panjang yang menghubungkan taman belakang dengan Aula Istana,” jawab Dayana seraya mengingat.
“Suatu malam, Pamanku pernah tak sengaja mendengar kedua putri Romanov yaitu Grand Duchess Maria dan Grand Duchess Anastasia berjalan di sekitar koridor itu di tengah malam dengan tertawa cekikikan. Pamanku yang awalnya mengira hanya salah mendengar akhirnya memutuskan untuk mencari sumber suara itu dan dia melihat kedua putri sedang berjalan beriringan sambil bercanda,” Dayana memulai kisahnya.
“Tapi aneh, saat mereka berbelok di suatu belokan di koridor, kedua putri tiba-tiba saja menghilang,” Dayana kembali menjelaskan dengan mata berkilat penasaran.
“Apa Pamanmu tidak sedang melihat hantu? Atau mungkin berhalusinasi? Atau mungkin saja dia sedang mabuk? Mana mungkin kedua putri hilang begitu saja?” Ariadna mendadak penasaran dengan cerita yang didengarnya.
“Tidak. Kaisar tidak akan mengijinkan siapapun yang bekerja di Istana mabuk-mabukan. Lagipula, itu memang kedua putri. Karena saat Pamanku memeriksa lokasi tersebut, Paman menemukan sebuah kancing yang terlepas,” bantah Dayana.
“Kancing itu terbuat dari emas dan keesokan harinya, Grand Duchess Anastasia berkata bahwa dia tak sengaja menghilangkan salah satu kancing emas dari baju bonekanya,” lanjut Dayana bersikukuh.
“Maksudmu mungkin kancing itu adalah….” Dayana tak menunggu sahabatnya selesai bicara dan segera memotongnya, “Kancing itu memang tak sengaja terlepas dari baju boneka yang saat itu dipeluk oleh Grand Duchess Anastasia. Jadi jelas sekali bahwa ada jalan rahasia di sekitar tempat itu,” jawabnya dengan yakin.
“Tapi koridor Istana sangat luas dan panjang, koridor yang mana yang dimaksud Pamanmu?” tanya Ariadna, memastikan sekali lagi.
“Kalau tidak salah, Paman mengatakan koridor itu adalah koridor di mana terdapat lima lukisan besar keluarga Kerajaan digantung dan di bawah lukisan itu terdapat patung ksatria yang membawa pedang,” jawab Dayana dengan gaya mengingat.
“Tapi, apa menurutmu Tentara Merah takkan ada di sana?” Ariadna tampak ragu bila harus berhadapan dengan orang-orang dari Tentara Merah.
“Tidak. Mereka tidak mungkin masih di sana. Aku mendengar kabar bahwa mereka sudah lama pergi dari sana sejak mereka tidak menemukan harta kerajaan di dalam Istana. Kupikir mungkin, harta kerajaan itu sengaja disimpan di ruang rahasia,” jawab Dayana dengan yakin.
“Jadi menurutmu di dalam jalan rahasia itu kemungkinan tertimbun emas dan permata?” tanya Ariadna sekali lagi.
“Yeah, tepat sekali!” jawab Dayana membenarkan.
“Pergilah bersamaku! Kita akan kaya raya jika menemukan harta itu,” ujar Ariadna dengan mata berbinar membayangkan pundi-pundi uang yang akan ditemukannya.
“Jadi kau punya rencana untuk merampok keluarga kerajaan begitu?” sindir Dayana.
“Hei, mereka kan sudah meninggal,” jawab Ariadna dengan santai.
“Jangan lupa kalau tubuh Grand Duchess Anastasia tidak ditemukan di antara kumpulan mayat,” Dayana mengingatkan sahabatnya.
“Lagipula, bagaimana jika seandainya Dowager Empress Marie juga mencari harta itu dan menemukan fakta bahwa kita yang mencurinya? Walaupun kita lolos dari Tentara Merah Bolsheviks, kita takkan lolos dari hukuman pancung Kerajaan Denmark,” cibir Dayana, tak mau mengambil resiko.
“Ah iya, kau benar. Dowager Empress Marie dulu adalah Putri dari Kerajaan Denmark,” Ariadna sesaat tampak melupakan fakta itu.
“Ambillah sedikit saja untukmu sebagai bekal perjalanan. Bagaimanapun juga, kau butuh uang untuk membeli makanan, menyewa penginapan dan membeli tiket kapal atau kereta, bukan?” usul Dayana pada sahabatnya.
“Ambil sedikit saja sesuai kebutuhanmu. Jangan terlalu serakah. Karena merepotkan juga jika kau membawa uang terlalu banyak, aku takut kau akan kesulitan untuk berlari,” lanjut Dayana, masuk akal. Ariadna mengangguk mengerti.
“Tapi kenapa kau tidak ikut pergi bersamaku saja? Sejujurnya aku takut sendirian,” ujar Ariadna yang tampak takut membayangkan harus sendirian menghadapi semua ini.
“Aku ingin pergi bersamamu, tapi aku juga takut, Ariadna. Aku takut mereka akan membunuhku jika aku berjalan bersamamu. Kau sangat mirip dengan Putri itu,” jawab Dayana dengan jujur.
“Aku tahu. Aku tak bisa memaksamu, kan? Kau sahabat terbaikku. Aku tak mau kau terlibat bahaya karena aku. Maafkan keegoisanku, Dayana. Kau sudah cukup membantu dengan semua informasimu dan juga idemu tentang penyamaran ini. Kurasa itu cukup untukku,” sahut Ariadna tampak sedih.
“Maafkan aku, Ariadna. Sungguh. Andai saja aku lebih berani,” Dayana tampak tak enak karena membiarkan sahabatnya pergi menghadapi bahaya seorang diri.
“Tidak apa-apa. Aku mengerti. Sampai jumpa lagi. Itupun kalau Tuhan mengijinkan kita berjumpa lagi,” ujar Ariadna tulus, lalu memeluk sahabatnya cukup lama. Dayana menghapus air matanya karena tak tahu kapan mereka bisa bertemu lagi.
“Semoga beruntung, kawan. Ingat! Tujuanmu adalah mencari Dowager Empress Marie dan meminta perlindungan padanya. Jangan lakukan yang macam-macam karena aku tak ingin kau berakhir di tiang gantungan,” pesan Dayana dengan tersenyum manis.
“Aku akan mengingat itu. Sampai jumpa, kawan.” sahut Ariadna dengan tersenyum tulus pada sahabatnya.
Tak lama kemudian, Dayana berkata dia akan keluar sebentar untuk menyiapkan semua hal yang dibutuhkan untuk penyamaran Ariadna.
Dia kembali dua jam kemudian dengan membawa dua potong roti yang keras, dua botol air putih yang didapatnya entah dari mana, gaun kotor dan penuh tambalan di mana-mana juga sepatu robek yang kelihatannya sudah dibuang oleh pemiliknya.
Setelah memakan makan malam mereka, Dayana segera mendandani sahabatnya dengan gaun kotor, lusuh dan penuh tambalan itu, lengkap dengan sepatu hitam yang robek dan juga kerudung dengan bau yang tidak enak.
Belum cukup sampai di sana, dia pun membubuhkan sedikit lumpur ke wajah cantik Ariadna. Membuatnya tampak sekotor dan sejelek mungkin, setelah sebelumnya membubuhkan sedikit make up yang membuat wajah Ariadna tampak penuh luka.
Dayana pernah bercita-cita menjadi seorang penata rias, dan dia pernah mempelajari cara merias dari bibinya yang bekerja sebagai penata rias untuk para Bintang theater sebelum theater mereka dibakar dan dihancurkan.
Kini wajah Ariadna yang sebelumnya cantik bagai Putri telah benar-benar mirip dengan pengemis kudisan.
Belum lagi dengan gaun kotor penuh tambalan, sepatu robek, kerudung lusuh yang bau dan juga make up luka yang menganga serta lumpur hitam di wajah Ariadna. Penderitaan Ariadna semakin lengkap saat Dayana kembali menyiram tubuhnya dengan seember air comberan.
“Great! Tak ada lagi Tuan Putri yang cantik di sini. Yang ada hanyalah seorang pengemis kudisan yang harus dijauhi,” Dayana tampak bangga dengan hasil kerjanya.
Dia bertepuk tangan dengan gembira karena berhasil mengubah sahabatnya menjadi pengemis jelek.
“Sejak awal memang tak ada Putri Cantik di sini. Kau bermimpi?” ujar Ariadna kesal, sementara Dayana hanya tertawa riang.
“Maksudku, kau kan sebelumnya sangat mirip Grand Duchess Anastasia yang cantik itu. Tapi sekarang sudah tidak mirip lagi. Aku yakin kau bisa mengecoh orang-orang Tentara Merah,” jawab Dayana seraya berusaha menahan tawanya.
“Sepertinya kau sangat menikmati ya mendandaniku seperti ini?” sindir Ariadna, bercanda.
“Ini semua demi keselamatanmu, sayang.” jawab Dayana membela diri. Dia kemudian menoleh perlahan ke arah jam dinding yang ada di belakang kepalanya.
“Pergilah sekarang!” ujar Dayana, mendadak serius.
“Sekarang? Tengah malam begini?” protes Ariadna.
“Tengah malam adalah waktu yang tepat. Para prajurit itu pasti sudah tidur sekarang, kalaupun ada yang berjaga, jumlahnya pasti tidak akan sebanyak di siang hari,” jawab Dayana, masuk akal.
“Baiklah. Sepertinya terdengar masuk akal,” Ariadna akhirnya tak punya pilihan selain menyetujui usulan itu.
Dia segera meraih mantelnya yang juga tampak kotor dan tas kecil yang berisi beberapa ratus rubel yang didapatnya dari menjual lukisan selama ini.
“Bawalah ini,” ujar Dayana seraya menyerahkan beberapa ratus rubel lagi pada sahabatnya.
“Tapi...” Ariadna tampak ingin menolak tapi Dayana tetap meletakkannya di tangan kanan Ariadna.
“Aku akan kembali ke rumah Pamanku, kau tidak perlu cemaskan aku. Sebaiknya, kau cemaskan saja dirimu. Mulai sekarang, hidupmu akan berada dalam bahaya. Semoga Tuhan melindungimu, Ariadna.” ujar sahabatnya dengan tulus lalu memeluk sahabatnya sekali lagi.
“Jika aku berhasil bertemu Ibu Suri dan mendapatkan pekerjaan yang bagus, aku akan mencarimu, Dayana. Aku akan membawamu tinggal di Istana,” janji Ariadna seraya memeluk sahabatnya penuh kasih sayang.
“Aku menunggu hari itu tiba, Ariadna. Semoga nasib baik menaungimu,” ujar Dayana lalu melepaskan pelukannya dan dengan lembut mendorong Ariadna keluar pintu.
“Cepat pergi! Cepat tinggalkan negara ini sebelum kau mati konyol di tangan orang-orang itu. Selamat tinggal, Ariadna.” ujar Dayana lirih seraya melambaikan tangannya dengan hati berat saat melihat Ariadna perlahan menghilang ditelan gelapnya malam.
To be continued...
Belum cukup sampai di sana, dia pun membubuhkan sedikit lumpur ke wajah cantik Ariadna. Membuatnya tampak sekotor dan sejelek mungkin, setelah sebelumnya membubuhkan sedikit make up yang membuat wajah Ariadna tampak penuh luka.
Dayana pernah bercita-cita menjadi seorang penata rias, dan dia pernah mempelajari cara merias dari bibinya yang bekerja sebagai penata rias untuk para Bintang theater sebelum theater mereka dibakar dan dihancurkan.
Kini wajah Ariadna yang sebelumnya cantik bagai Putri telah benar-benar mirip dengan pengemis kudisan.
Belum lagi dengan gaun kotor penuh tambalan, sepatu robek, kerudung lusuh yang bau dan juga make up luka yang menganga serta lumpur hitam di wajah Ariadna. Penderitaan Ariadna semakin lengkap saat Dayana kembali menyiram tubuhnya dengan seember air comberan.
“Great! Tak ada lagi Tuan Putri yang cantik di sini. Yang ada hanyalah seorang pengemis kudisan yang harus dijauhi,” Dayana tampak bangga dengan hasil kerjanya.
Dia bertepuk tangan dengan gembira karena berhasil mengubah sahabatnya menjadi pengemis jelek.
“Sejak awal memang tak ada Putri Cantik di sini. Kau bermimpi?” ujar Ariadna kesal, sementara Dayana hanya tertawa riang.
“Maksudku, kau kan sebelumnya sangat mirip Grand Duchess Anastasia yang cantik itu. Tapi sekarang sudah tidak mirip lagi. Aku yakin kau bisa mengecoh orang-orang Tentara Merah,” jawab Dayana seraya berusaha menahan tawanya.
“Sepertinya kau sangat menikmati ya mendandaniku seperti ini?” sindir Ariadna, bercanda.
“Ini semua demi keselamatanmu, sayang.” jawab Dayana membela diri. Dia kemudian menoleh perlahan ke arah jam dinding yang ada di belakang kepalanya.
“Pergilah sekarang!” ujar Dayana, mendadak serius.
“Sekarang? Tengah malam begini?” protes Ariadna.
“Tengah malam adalah waktu yang tepat. Para prajurit itu pasti sudah tidur sekarang, kalaupun ada yang berjaga, jumlahnya pasti tidak akan sebanyak di siang hari,” jawab Dayana, masuk akal.
“Baiklah. Sepertinya terdengar masuk akal,” Ariadna akhirnya tak punya pilihan selain menyetujui usulan itu.
Dia segera meraih mantelnya yang juga tampak kotor dan tas kecil yang berisi beberapa ratus rubel yang didapatnya dari menjual lukisan selama ini.
“Bawalah ini,” ujar Dayana seraya menyerahkan beberapa ratus rubel lagi pada sahabatnya.
“Tapi...” Ariadna tampak ingin menolak tapi Dayana tetap meletakkannya di tangan kanan Ariadna.
“Aku akan kembali ke rumah Pamanku, kau tidak perlu cemaskan aku. Sebaiknya, kau cemaskan saja dirimu. Mulai sekarang, hidupmu akan berada dalam bahaya. Semoga Tuhan melindungimu, Ariadna.” ujar sahabatnya dengan tulus lalu memeluk sahabatnya sekali lagi.
“Jika aku berhasil bertemu Ibu Suri dan mendapatkan pekerjaan yang bagus, aku akan mencarimu, Dayana. Aku akan membawamu tinggal di Istana,” janji Ariadna seraya memeluk sahabatnya penuh kasih sayang.
“Aku menunggu hari itu tiba, Ariadna. Semoga nasib baik menaungimu,” ujar Dayana lalu melepaskan pelukannya dan dengan lembut mendorong Ariadna keluar pintu.
“Cepat pergi! Cepat tinggalkan negara ini sebelum kau mati konyol di tangan orang-orang itu. Selamat tinggal, Ariadna.” ujar Dayana lirih seraya melambaikan tangannya dengan hati berat saat melihat Ariadna perlahan menghilang ditelan gelapnya malam.
To be continued...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar