Rabu, 22 Juli 2026

CH 7 : Dark Cloud On Marlborough House in London ll The Last Princess Of Russia


Seorang wanita tua yang tampak berada di usia tujuh puluh tahunan, dengan rambut yang mulai memutih sepenuhnya dan keriput di wajahnya yang terlihat jelas di mana-mana tampak asyik mendengarkan alunan merdu suara musik dari sebuah kotak musik dalam genggamannya.

Wanita tua tersebut berdiri di depan balkon kamarnya dan tampak memandang kosong ke apa pun itu yang ada di hadapannya.

Gaunnya yang panjang dan terjuntai hingga ke tanah tampak bergerak-gerak tertiup angin sepoi-sepoi yang juga menyapu helai-helai rambut putihnya yang jatuh mengenai keningnya dan tampak lolos dari ikatan rambutnya yang digelung anggun layaknya wanita bangsawan.

Senyum kadang terkembang di wajah tuanya saat mendengar alunan merdu kotak musik tersebut.
“Melodi yang indah, Dowager Empress Marie.” ujar seorang wanita tua lainnya yang tampak berjalan anggun memasuki ruangan tersebut diikuti oleh sejumlah pelayan dan pengawal.

Wanita tua itu juga tampak berada di kisaran umur tujuh puluh tahunan namun masih terlihat sangat kuat dan anggun, sepertinya usia senja tidak mampu mengikis kecantikan dan keanggunannya.

Tamu tersebut terlihat sama anggunnya dengan sang pemilik kamar, gaun mahal berbahan sutera tampak membalut indah tubuhnya yang mulai renta, namun sisa-sisa keanggunan seorang Ratu Yang Mulia masih tampak jelas di sana.

Wanita tua di depan balkon kamar spontan menoleh ke arah suara yang memanggilnya dan senyumannya melebar saat melihat tamu istimewanya berjalan masuk dan perlahan mendekatinya.

“Dowager Queen Alexandra, Anda mengagetkanku.” ujar wanita tua di depan balkon kamar itu, Dowager Empress Marie dengan sopan dan anggun.

“Berhenti memanggilku dengan gelar membosankan itu, adik. Kita tampak seperti dua orang asing. Panggil aku Alix seperti saat dulu kita masih kecil,” jawab tamu tersebut, Dowager Queen Alexandra sambil tersenyum menggoda adik kesayangannya.

Dowager Empress Marie dan Dowager Queen Alexandra adalah sepasang saudara yang saling menyayangi, sebelum mereka menikah dengan suami mereka masing-masing.

Dowager Empress Marie (71 y.o) atau yang terlahir dengan nama Princess Marie Sophie Frederikke Dagmar of Denmark sebelum akhirnya menikah dengan Tsarevich Alexander Alexandrovich of Russia dan menjadi Ratu di Russia dan Dowager Queen Alexandra (74 y.o) atau yang terlahir dengan nama Princess Alexandra Caroline Marie Charlotte Louise Julia of Denmark sebelum akhirnya menikah dengan Prince Of Wales – His Royal Highness Albert Edward VII (later on King Edward) adalah para Putri yang berasal dari Kerajaan Denmark.

Di antara saudara mereka yang lain, Princess Marie dan Princess Alix memiliki hubungan yang sangat dekat satu sama lain.

Bahkan hingga saat mereka sudah memiliki keluarga masing-masing, kedekatan tersebut masih terjalin. Marie dan Alexandra sering saling menginap di Istana masing-masing walaupun mereka terpisah negara yang berbeda.

“Kau yang memulainya lebih dulu, Sister Alix.” jawab sang adik, Dowager Empress Marie dengan mulai berjalan menghampiri kakaknya dan duduk dengan nyaman di sampingnya.

“Apa yang kau pikirkan? Kau tampak melamun sambil tersenyum sendiri, Marie. Dan dari mana kau dapatkan kotak musik yang indah itu?” tanya Sang Kakak seraya memberi tanda para seorang pelayan di sampingnya untuk menuangkan secangkir teh hangat untuk mereka berdua.

“Cucu kesayanganku, Anastasia. Dia yang memberiku hadiah kotak musik ini saat ulang tahunku tahun lalu. Dia sangat manis dan pintar. Aku sangat menyayanginya,” Jawab Dowager Empress Marie tampak berseri-seri saat menceritakan tentang cucu kesayangannya.

“Dan sekarang, aku merindukannya. Semalam aku bermimpi buruk tentang Russia, itu sebabnya aku mendengarkan kotak musik ini agar merasa sedikit tenang,” Lanjutnya lagi, terlihat sedih, seraya menutup kotak musik tersebut dan spontan membuat alunan musiknya terhenti.

“Jangan berpikir seperti itu, Marie. Takkan terjadi sesuatu yang buruk pada Russia. Putramu dan cucumu akan baik-baik saja,” Jawab Dowager Queen Alexandra mencoba menghibur adik kesayangannya yang tampak sedih dan khawatir.

“Dan bicara tentang cucumu, Nastya memang gadis kecil yang manis. Cucuku Alexander terlihat sangat menyukainya saat mereka bertemu di ulang tahun Nastya lima tahun yang lalu,” lanjut Dowager Queen Alexandra.

“Benar. Aku masih ingat hal itu. Bahkan si kecil Alex mengatakan dia ingin melamar Nastya dan menjadikan Nastya Ratunya, padahal mereka masih kecil saat itu. Ya ampun. Anak-anak memang lucu,” jawab Dowager Empress Marie, mengenang pertemuan antara cucu kesayangannya – Anastasia dengan cucu keponakannya, Crown Prince of Norway, Alexander pada saat ulang tahun Anastasia yang ke-12.

“Bagaimana kabar Nastya?  Bukankah seharusnya dia sudah dewasa sekarang? Dia pasti sudah menjelma menjadi gadis muda yang cantik dan mempesona. Apa Tsarina Alexandra tidak berniat mencarikan jodoh untuknya? Kurasa sudah saatnya dia menikah,” tanya Dowager Queen Alexandra pada adiknya.

“Kurasa mereka tak punya waktu untuk memikirkanhal tersebut. Russia sedang mengalami konflik politik yang cukup berat belakangan ini,” jawab Dowager Empress Marie dengan wajah khawatir.

“Baiklah. Lupakan masalah politik yang membuat kita pusing. Aku yakin putramu – Nicky pasti bisa mengatasinya,” jawab Dowager Queen Alexandra.

Dia bangkit dari sofa yang didudukinya dan berjalan ke arah-arah bunga-bunga indah yang sengaja ditanam di balkon kamar.

“Bunganya sangat cantik, benarkan?” ujarnya seraya menghirup seuntai bunga di hadapannya, tampak asyik mengagumi bunga-bunga yang tumbuh indah di sana.

“Kau tahu apa yang membuatku senang berada di Inggris?” tanya Dowager Empresss Marie pada kakaknya.

“Apa karena ada aku di sini?” gurau kakaknya sambil tersenyum manis.
“Itu dan ada lagi yang lain,” jawab Dowager Empress Marie dengan tersenyum penuh arti.
“Dan apa itu, adikku Marie?” tanya Dowager Queen Alexandra tampak penasaran.

“Karena bunga-bunga di sini sangat indah. Di Russia terlampau dingin, Alix. Sepertinya musim dingin terjadi sepanjang tahun. Bahkan di bulan seharusnya musim semi telah tiba, salju masih bertebaran di mana-mana. Kami sangat jarang melihat keindahan bunga seperti ini. Indah dan berwarna-warni,” Jawab Dowager Empress Marie.

Beliau adalah nenek kandung Grand Duchess Anastasia dan Ibu kandung dari Tsar Nicholas II dari Russia.

“Terima kasih atas pujiannya. Kalau begitu aku sangat beruntung bisa menikah dengan Edward dan menjadi Ratu di Inggris. Benarkan?” gurau Dowager Queen Marie sambil tersenyum manis.

“Tentu saja Anda sangat beruntung, Dowager Queen Alexandra.” jawab Dowager Empress Marie sambil tersenyum pada kakaknya tersayang.

Dowager Queen Alexandra tampak tersenyum manis lalu mulai berjalan masuk dan duduk di salah satu sofa yang ada di dalam kamar.

Dia mengambil secangkir teh yang telah dihidangkan oleh pelayannya dan meminumnya dengan anggun layaknya seorang Ratu.

“Aku sudah melarangmu memanggilku dengan gelar membosankan itu, kenapa kau mengulanginya? Apa kau tahu dengan memanggilku Dowager Queen Alexandra, kau mengingatkan aku bahwa sekarang aku bukan lagi seorang Ratu tapi seorang Ibu Suri. Terima kasih sudah mengingatkan aku betapa tuanya aku sekarang, Dowager Empress Marie,” ujar Dowager Queen Alexandra menggoda adiknya.

Ibu Suri Marie tertawa manis dan buru-buru menggeleng mantap, “Tidak. Kau masih cantik seperti gadis berumur belasan tahun, Alix. Jika kau dan cucu kesayanganku, Anastasia berdiri berdampingan, orang-orang pasti akan mengira kalian kakak adik,” gurau Dowager Empress Marie sambil tertawa lagi.

“Ya ampun, bagaimana bisa kau bandingkan aku dengan our Little Princess, Nastya? Aku hanyalah wanita tua yang malang, yang sudah kehilangan semua kecantikannya dan semua kejayaannya dan hanya tinggal menunggu mati,” gurau Dowager Queen Alexandra lagi seraya meneguk teh di cangkirnya.

“Kau ini bicara apa, kakakku sayang? Kau akan berumur panjang. Kau akan bisa melihat cucu-cucu kita menikah dan kita akan melihat cicit-cicit kita yang lucu,” Jawab Dowager Empress Marie dengan yakin.

“Aku sudah bersyukur bisa melihat cucu-cucuku tumbuh dengan sehat. Aku tak boleh serakah menginginkan melihat cicit-cicitku nanti,” Jawab Dowager Queen Alexandra dengan bijaksana.

“Benar. Asal aku bisa melihat cucu-cucuku tumbuh dengan sehat, aku juga sudah sangat bahagia,” jawab Dowager Empress Marie, setuju dengan pendapat kakaknya.

“Ahh, aku belum berterima kasih pada putramu, King George V karena telah mengirimkan kapal khusus untuk membawaku kemari,” ujar Dowager Empress Marie.

“Itu bukan masalah besar. Kau tahu kalau putraku George sangat menyayangi bibinya,” jawab Dowager Queen Alexandra.

“Aku tahu aku tidak seharusnya bertanya tentang ini mengingat kau terlihat sedih tadi, tapi bagaimana keadaan Russia sekarang? Apa Nicky sudah mengirim kabar?” lanjutnya lagi, dengan nada sedikit cemas.

“Entahlah. Sejak Nicky meminta bantuan George untuk membawaku kemari, aku belum mendengar kabar tentang mereka. Tapi aku sudah menugaskan orang-orangku untuk mencari tahu perkembangan di Russia,” jawab Dowager Empress Marie.

“Kuharap semuanya baik-baik saja,” ujar Dowager Queen Alexandra dengan penuh harap.
“Aku juga  berharap demikian,” jawab Dowager Empress Marie.
“Tapi sejujurnya, Alix, aku merasakan firasat buruk akhir-akhir ini. Semoga ini tidak ada hubungannya dengan putraku, Nicky dan cucu-cucuku di Russia,” lanjut Dowager Empress Marie.

“Soal mimpimu lagi. Marie, itu hanya mimpi.” Dowager Queen Alexandra mencoba menghibur adiknya yang tampak gundah.

Dia tampak ingin mengatakan sesuatu lagi saat tiba-tiba seorang pria berpakaian pengawal buru-buru datang menghadap.

“Hormat pada kedua Ibu Suri. Utusan dari Russia meminta untuk bertemu segera dengan Dowager Empress Marie. Ada hal penting yang harus disampaikannya. Ini sangat mendesak,” ujar pengawal itu seraya membungkuk memberi hormat.

“Hal penting apakah itu? Oh ya Tuhan, Alix. Jangan sampai firasatku menjadi kenyataan,” ujar Dowager Empress Marie, mulai merasakan sesuatu yang tidak beres.

“Perintahkan utusan itu untuk segera menghadap!” ujar Dowager Empress Marie pada pengawal tersebut.

“Yes, Her Majesty.” jawab pengawal itu dengan hormat lalu segera melangkah pergi.

Tak berapa lama kemudian, seorang pria yang tampak berusia sekitar tiga puluh tahunan, berambut hitam pekat yang tampak rapi dengan tatapan mata yang tajam tampak memasuki ruangan. Pria itu langsung membungkuk memberi hormat pada kedua Ibu Suri tersebut.

“Hormat pada Kedua Ibu Suri. Saya tidak tahu bagaimana harus menyampaikan kabar ini. Mohon Ibu Suri yang terhormat mengampuni saya setelah mendengar berita ini,” ujarnya dengan nada sedikit ragu dan takut.

“Apa yang terjadi, Nikolai? Apakah sesuatu yang buruk telah menimpa Russia? Apa kau mendapat kabar tentang putraku Nicholas dan anak-anaknya?” tanya Dowager Empress Marie tampak tak sabar kepada seorang pria muda yang sekarang berdiri di hadapannya, Nikolai Sokolov, seorang mata-mata yang ditugaskan secara khusus untuk mengamati keadaan di Russia.

“Harap Yang Mulia Ibu Suri kuat mendengar berita ini,” ujarnya ragu.
“Apa yang terjadi sebenarnya? Apa kau adalah mata-mata yang diutus adikku untuk menyelidiki keadaan di Russia?” tanya Dowager Queen Alexandra pada pemuda itu. Pemuda itu mengangguk dengan mantap.

“Benar, Yang Mulia. Saya adalah Nikolai Sokolov, saya yang ditugaskan oleh Dowager Empress Marie untuk menyelidiki situasi di Russia,” jawab Nikolai dengan mantap.

“Lalu kabar apa yang kau bawa tentang keponakanku?” tanya Dowager Queen Alexandra, dia juga tampak tak sabar untuk mendengar apa pun berita yang dibawa orang itu.

“Kuatkan diri Anda, Yang Mulia.” ujarnya lirih seraya menatap Ibu Suri Marie yang tampak mulai tegang duduk di kursinya.

“Saya mendengar kabar yang sangat menyakitkan.  Pada tanggal 17 Juli 1918, Tsar Nicholas II dari Russia beserta seluruh keluarganya dibunuh dengan brutal oleh Pasukan polisi rahasia yang dikirim oleh Bolsheviks. Tak ada seorangpun yang selamat, itu yang mereka katakan,” ujar Nikolai, menjeda kalimatnya sejenak untuk melihat reaksi kedua Ibu Suri.

“Namun sesosok tubuh menghilang secara misterius beberapa jam sesudah pembantaian. Grand Duchess Anastasia Nikolaevna Romanova, dikabarkan lolos dari kematian dan menghilang begitu saja,” lanjut Nikolai, pria muda yang ditugaskan untuk menyelidiki situasi di Russia.

“Grand Duchess Anastasia yang dikabarkan lolos dari pembunuhan keji yang merenggut nyawa seluruh keluarganya kini menjadi target utama pencarian Tentara Merah Bolsheviks yang memasang posternya di seluruh penjuru negeri. Mereka menawarkan sepuluh juta rubel bagi siapapun yang berhasil menemukan Grand Duchess Anastasia hidup atau mati,” ujar Nikolai melanjutkan laporannya.

“Saya turut berduka yang sedalam-dalamnya, Yang Mulia,” lanjutnya lagi, sebelum mengakhiri laporannya.

Dowager Empress Marie hanya mampu terdiam shock di tempat duduknya dengan air mata mengalir deras. Sementara Dowager Queen Alexandra menutup mulutnya karena terkejut dan menangis terisak saat mendengar kabar tentang keponakan dan juga cucu-cucunya.

“Aku sudah bisa merasakannya. Aku selalu bermimpi buruk, Alix.” ujar Dowager Empress Marie terisak.

“Ya Tuhan, cobaan apa ini? Ini tidak mungkin benar, kan? Kau pasti salah memberi laporan, kan? Keponakanku Nicky tak mungkin meninggal dengan cara yang begitu keji. Oh, cucu-cucuku yang malang. Apa salah mereka?” Dowager Queen Alexandra berseru marah disela tangisannya. Dia berharap kabar yang diterimanya ini sama sekali tidak benar.

“Ampuni saya, Yang Mulia.” jawab Nikolai pasrah. Dia pasrah jika kedua Ibu Suri memberikannya hukuman akibat menyampaikan berita yang menyakitkan ini.

“Bagaimana dengan putraku – Michael?” tanya Dowager Empress Marie, teringat pada putranya yang satu lagi.

“Ampuni hamba, Yang Mulia. Grand Duke Michael Alexandrovich of Russia tertembak saat berusaha melarikan diri dari Istana. Rumor yang beredar hanya Grand Duchess Anastasia yang berhasil lolos dari pembantaian keji itu. Tentu saja selain kedua putri Anda : Grand Duchess Xenia dan Grand Duchess Olga yang berada di luar Russia karena mengikuti suami mereka,” jawab Nikolai dengan tertunduk takut.

Note : Ada dua Grand Duchess Olga ya, yang kakaknya Anastasia yang tewas dibantai dan Grand Duchess Olga yang bibinya Anastasia (putri Dowager Empress Marie) yang kebetulan selamat karena berada di luar Russia.

Dowager Empress Marie hanya mampu terisak dengan sedih mendengar kabar putra-putranya yang dibantai dengan keji, “TIDAKKKKK! Nicky, Michael… putraku….” isaknya keras.

“Marie, tenanglah adik.” ujar Dowager Queen Alexandra yang spontan berlulut di sampingnya dan memeluk tubuh adiknya yang gemetar hebat.

“Anastasia. Kau bilang, cucuku Anastasia dikabarkan lolos dari pembunuhan keji yang merenggut nyawa seluruh keluarganya, kan?” seru Dowager Empress Marie dengan tatapan penuh harap.

“Pergi dan cari cucuku sampai dapat! Bawa orang-orang terbaikmu. Pergi dan temukan cucuku sebelum Tentara Merah Bolsheviks menemukannya lebih dulu. Lindungi dia! Bawa dia ke hadapanku dalam keadaan hidup. Hanya dia yang kumiliki sekarang. Hanya dia!” Dowager Empress Marie memberi perintah di tengah isakan tangisnya.

Dia menangis terisak mendengar nasib tragis putra kesayangannya. Dan dia bertekad akan menyelamatkan cucu kesayangannya yang masih tersisa.

“Sepuluh Juta rubel? Kau bilang tadi Tentara Merah Bolsheviks menawarkan sepuluh juta rubel bagi siapapun yang bisa menemukan cucuku Anastasia hidup atau mati, benarkan?” Dowager Empress Marie bertanya dengan berapi-api dan Nikolai mengangguk mantap.

“Kalau begitu kita buat pengumuman tandingan. Lipat gandakan uangnya! Tawarkan dua puluh juta rubel bagi siapapun yang bisa melindungi Grand Duchess Anastasia dan membawanya ke Inggris, ke hadapan Dowager Empress Marie dalam keadaan hidup dan selamat!” usul Dowager Queen Alexandra memberi perintah tegas seraya menatap adiknya.

“Nicky…Oh Nicky. Putra kesayanganku. Cucu-cucuku…Kenapa ini bisa terjadi?” Dowager Empress Marie kembali meratapi kematian putra kesayangan dan cucu-cucunya.

“Adik, aku tahu ini menyakitkan. Tapi demi cucumu, Anastasia, kau harus tetap kuat. Hanya Nastya yang tersisa sekarang. Kau harus kuat agar bisa melindunginya. Anastasia pasti sangat ketakutan di sana. Tetaplah kuat demi cucumu, Marie.” Hibur sang kakak, terdengar masuk akal.

Dowager Empress Marie menatap kakaknya dan dia tahu bahwa wanita itu benar. “You right, Sister Alix. Cucuku Anastasia pasti sangat ketakutan sendirian di sana. Kita harus menyelamatkannya dan membawanya kemari secepatnya.” Ujar Sang Ibu Suri, seperti mendapat secercah harapan.

Dia segera menghapus air matanya dengan cepat, meski kesedihan mendalam masih tampak di matanya yang keriput.

“Apalagi yang kau tunggu? Cepat bawa orang-orang terbaikmu dan selamatkan cucuku! Aku mau kau membawa cucuku kemari dalam keadaan hidup!” lanjut Dowager Empress Marie memberi perintah.

“Yes, Her Majesty!” jawab Nikolai mantap.
“Jangan lupa tawarkan dua puluh juta rubel itu dan sebarkan ke seluruh penjuru Russia!” Dowager Queen Alexandra ikut menimpali.

“Kau juga harus meminta bantuan dari Tentara Putih. Hubungi Alexander Kolchak, minta bantuan padanya. Alexander Kolchak adalah pimpinan Tentara Putih. Aku tahu Tentara Putih masih mendukung Monarki dan mereka pasti tidak ingin Tentara Merah berkuasa di Russia,” lanjut Dowager Empress Marie.

“Yes, Her Majesty!” lagi, Nikolai meyakinkan bahwa semuanya akan berjalan sesuai dengan perintah.

“Misimu adalah membawa kembali Anastasia dengan selamat ke Inggris. Jangan kembali sebelum kau berhasil membawa cucuku bersamamu!” Dowager Empress Marie mempertegas perintahnya.

“Saya mengerti, Yang Mulia.” Jawab Nikolai tegas dan mantap.

“Bolehkan aku ikut mencari Nastya, Nenek?” tanya seorang pemuda tampan berambut coklat terang dan bermata biru yang kira-kira berusia tujuh belas hingga delapan belas tahun tersebut kepada kedua wanita tua yang duduk tak jauh dari tempatnya berdiri.

“Crown Prince Alexander? Sejak kapan kau di sini?” tanya Dowager Queen Alexandra, tampak kaget dengan kehadiran cucu laki-lakinya.

To be continued...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar