Minggu, 25 Desember 2016

Christmas Miracle – Chapter 8 (GOT7 Christmas Edition)



Still on Christmas Day. Merry Christmas for all who celebrates, including Me hehehe ^.^ White Christmas in Korea. Bagaimana jika seandainya ada orang yang menyuruhmu untuk pergi ke Korea dan merayakan Natal di sana? Well, sayangnya itu hanya terjadi dalam Fanfiction semata hahaha ^.^ So, what about your Christmas day? Did you already receive your Christmas Gift? What do you want for Christmas? What will you do if your idol say “All I want for Christmas is you”? Well, maybe it will only happened on Fanfiction hehehe ^.^ Apa reaksi Lily saat JB mengatakan seperti itu? You will know if you read this story below...

“Christmas Miracle – Chapter 8 (GOT7 Christmas Edition)”



 
Chapter 8 : All I Want For Christmas Is You

One day before Christmas, Incheon Airport, South Korea... 
Dan keajaiban Natal benar-benar terjadi dalam hidup Lily saat tiba-tiba dia mendapat email dari kepala sekolah yang memintanya untuk menggantikannya memenuhi undangan kepala sekolah Ewha Girl High School untuk menghadiri acara Natal di sekolahnya karena sang kepala sekolah terhalang oleh urusan keluarga.

Kepala sekolah bahkan sudah mempersiapkan segalanya. Visa untuk Lily tak sulit untuk dibuat mengingat dia pernah membuat visa sebelumnya, jadi pihak kedutaan besar Korea Selatan sudah memiliki semua data-datanya dan hanya tinggal membuat visa perpanjangannya.

Kepala sekolah bahkan sudah mengirimkan semua yang Lily butuhkan yaitu Visa Korea, uang saku 200.000 Won, Tiket pesawat ke Korea, surat undangan dari Ewha Girl High School dan beberapa mantel untuk musim dingin, mengingat Lily hanya membawa pakaian biasa saat pergi ke Singapore.

“Kenapa harus aku?” Lily bertanya terkejut saat kepala sekolah menelponnya. 
“Pertama, karena hanya kau yang menguasai bahasa Korea. Kedua, karena kau pernah ke Korea. Ketiga, karena kau pernah mengunjungi Ewha Girl High School sebelumnya dan keempat, karena kepala sekolah Kim sangat menyukaimu. Jadi kau adalah kandidat yang paling tepat.” ujar kepala sekolah Maria, seorang wanita baik hati berusia sekitar enam puluh tahunan.

“Berapa lama aku harus ke sana?” tanya Lily ingin tahu. 
“Kau akan berangkat dari Singapore tanggal 23 Desember tapi sayangnya kami tidak bisa mendapatkan tiket pulang untukmu karena semua sudah penuh.” Jawab Sang Kepala sekolah dengan nada menyesal.

“Tapi jangan khawatir, jika kau kehabisan uang, kau bisa menggunakan kartu kreditmu dan sekolah akan membayarnya. Soal tempat tinggal, kepala sekolah Ewha Girl High School bersedia menawarkan asramanya.” Jawab Kepala Sekolah Maria.

“Baiklah. Demi menjalin persahabatan kedua belah pihak, sepertinya aku tidak punya pilihan.” Jawab Lily akhirnya. 

“Kau bisa kembali setelah tahun baru, sayang. Sekolah akan dimulai tanggal 9 jadi kau masih memiliki banyak waktu untuk pulang.” Kepala sekolah menenangkannya. 
“Baiklah. Terima kasih banyak, Kepala Sekolah.” Jawab Lily rendah hati. 

“Kami yang seharusnya berterima kasih karena sudah merepotkanmu.” Jawab Sang Kepala Sekolah sebelum memutuskan sambungan teleponnya.

“Natal di Korea. Aku iri padamu.” Ujar Stephanie dengan nada iri yang tidak ditutupi. 
“Kau mau berangkat? Akan kukatakan untuk mengubah tiketnya.” Ujar Lily. 
“Kau gila! Aku tak punya visa. Lagipula aku tak bisa bahasa korea.” Jawab Stephanie. 
“Ah ya kau benar.” Lily tampak merasa bersalah pada temannya.

“Jangan memasang tampang seperti itu. Tidak apa-apa. Lagipula kau memang pantas ke sana. Kau bisa bahasa korea, kau pernah belajar di sana saat SMU untuk pertukaran pelajar dan kau juga mengenal kepala sekolah Ewha. Jadi memang kau kandidat yang paling tepat. Pergilah. Bersenang-senanglah. Nikmati Natalmu di sana.” Ujar Stephanie berbesar hati.

“Kuharap kau bisa bertemu JB.” Lanjutnya lagi, menggoda Lily. 
“APA?” Lily tampak shock mendengar Stephanie menyebut nama JB, karena seingatnya dia tidak pernah menceritakan apa pun pada Stephanie. 

“Kenapa tampak terkejut? GOT7 kan ada di Korea. Mungkin kau ingin mampir ke JYP.” Jawab Stephanie dengan polosnya. Lily menarik napas lega mendengar kalimat temannya.

Dan di sinilah dia sekarang, di Incheon Airport Korea. Lily berdiri di pintu kedatangan seraya menunggu seseorang dari Ewha menjemputnya. Dan akhirnya dia melihat orang tersebut saat orang itu mengangkat tinggi-tinggi sebuah kertas besar bertuliskan, “Miss Liliana from Indonesia. Welcome to Korea.”

“Apa kabar? Aku Liliana dari Indonesia. Apa Anda dari Ewha Girl High School?” tanya Lily dengan sopan kepada seorang wanita muda yang kira-kira sebaya dengannya. 
Wanita itu tampak senang karena akhirnya tamu yang mereka tunggu akhirnya datang juga.

“Bahasa Koreamu sangat lancar. Tak salah jika Kepala Sekolah kami pernah memilihmu sebagai siswa pertukaran pelajar.” Puji gadis muda itu seraya membungkukkan badannya memberi salam. Lily juga melakukan hal yang sama sebagai tanda sopan santunnya.

@@@@@@@

Malam itu, Lily baru saja akan berbaring di tempat tidurnya setelah seharian lelah membantu para staff di sekolah Ewha untuk mengatur dekorasi Natal untuk perayaan Natal besok sore. Selama di Korea, Lily diijinkan tinggal di asrama sekolah hingga dia mendapatkan tiket pesawat untuk pulang. Bukan hanya Kepala Sekolah Kim yang sangat baik padanya tapi juga semua staff dan guru di sana. Khususnya pada guru yang masih mengingatnya sebagai siswa pertukaran pelajar yang pintar namun tertutup.

Tinggal di asrama sekolah ini mengingatkannya pada masa-masa SMU-nya, hanya saja bedanya kali ini dia hanya seorang diri tanpa teman-temannya seperti waktu itu. Merasa kedinginan, Lily bangkit dari ranjangnya dan duduk di depan mesin pemanas seraya menggosok-gosokkan tangannya. Tangan kanannya sudah mulai sembuh setelah hampir 2 minggu berlalu.

Natal bersalju. A white Christmas. Sejujurnya sudah lama Lily memimpikan hal ini. Salju, hal yang tak pernah ada di Indonesia, ditambah lagi dengan suasana Natal yang damai dan penuh sukacita.

Well, setidaknya di Korea ini, Lily tak perlu takut dengan ancaman bom di gereja-gereja atau ancaman sweeping dari FPI soal atribut Natal yang kerap terjadi di tanah airnya. Lily menarik napas pasrah setiap kali mengingat semakin memudarnya toleransi antar umat beragama di Indonesia.

Lily muak dengan sebutan China Kafir yang kerap ditujukan padanya. Tapi sebagai warga minoritas, dia tak bisa melakukan apa-apa selain hanya mampu berdoa supaya orang-orang yang memakinya segera sadar dan bertobat.

Jadi Natal Bersalju di Korea bagaikan sebuah Keajaiban Natal yang lain untuknya. Suasana yang damai, tenang tanpa ancaman bom dari teroris, dekorasi Natal yang sangat indah, serta salju yang turun semakin menambah indah suasana Natal.

JB ada di sini, Lily baru saja membaca info yang mengatakan kalau GOT7 baru saja kembali dari Fanmeeting di Philipina dan aktivitas selanjutnya baru dimulai tanggal 26 Desember nanti.

“Baguslah. Mereka butuh istirahat. Sangat tidak berperasaan jika menyuruh mereka tetap bekerja di hari Natal.” Gumam Lily seraya membaca berita tentang GOT7 di ponselnya. Dia baru saja akan menscroll layarnya untuk membaca berita yang lain saat tiba-tiba sebuah pesan Whats App masuk dan mengejutkannya.

Nama Jae Bum GOT7 muncul di layar. Lily tersentak. Kenapa tiba-tiba ada nama JB dalam WA-nya? Lily benar-benar lupa jika saat JB mengambil paksa ponselnya saat itu, JB telah memasukkan nomornya sendiri ke dalam ponsel Lily.

Jae Bumie : “I miss you.” Hanya 3 kata tapi membuat hati Lily berdebar kencang. Lily tak tahu bagaimana harus menjawabnya. 
Jae Bumie : “Aku sangat lelah dan aku merindukanmu.” Lagi, sebuah pesan lain kembali masuk. 

Jae Bumie : “Apa kau sudah tidur? Kau ada di mana sekarang? Singapore atau Indonesia? Apa di sana sudah malam?” lagi, pesan lain kembali masuk. 

Jae Bumie : “Baiklah. Jika kau sudah tidur maka aku takkan mengganggumu. Selamat malam.” JB tampak menyerah saat Lily tak kunjung membalas pesannya. 

Lily : “Aku belum tidur.” Lily akhirnya memutuskan untuk menjawab. 
Jae Bumie : “Apa yang sedang kau lakukan sekarang?” sebuah balasan kembali masuk. 
Lily : “Mengobrol denganmu.” Jawab Lily asal. 

Jae Bumie : “Sebelum itu, apa yang kau lakukan?” JB tampak tak puas dengan jawaban yang diberikan Lily padanya. 
Lily : “Kedinginan.” Jawab Lily singkat. 

Jae Bumie : “Kau mau aku menghangatkanmu?” goda JB di pesannya demgan sebuah emoticon smile yang imut. 
Lily : “Dalam mimpimu.” Jawab Lily sambil tersenyum lucu. 

Jae Bumie : “Aku merindukanmu. Apa kau tak rindu padaku?” JB kembali mengatakan dia meridukkan Lily. 
Lily : “Tidak.” Jawab Lily sambil tersenyum pada dirinya sendiri. 
Jae Bumie : “Kau jahat sekali.” JB memprotes disertai dengan emoticon menangis.
Lily : “Aku tidak merindukanmu karena aku melihatmu setiap hari.” Jawab Lily menghiburnya. 
Jae Bumie : “Iya. Hanya dari internet.” Jawab JB terdengar sedih. 
Lily : “Bagiku itu sudah lebih dari cukup.” Jawab Lily bersadar diri. 

Jae Bumie : “Kau benar akan datang ke Taipei? Kau akan datang pada hari ulang tahunku, kan?” JB tampak tak sabar menunggu hari itu. 

Lily : “Maaf. Aku tak dapat tiketnya.” Lily sengaja berbohong untuk mengerjainya. 
Jae Bumie : “MWO? ANDWEE !!! You already promise me!” JB memprotes keras. 
Lily : “But all the ticket sold out, Jae Bumie...” Lily mengetikkan kalimat itu dengan tersenyum geli membayangkan JB yang kesal di ujung sana. 
Lily : “I’m really sorry. Are you mad at me?” Lily kembali mengetik. 
Jae Bumie : “Tak ada gunanya aku marah.” Jawabnya, terdengar sedih. 
Lily : “Apa yang kau lakukan saat Natal? Apa kau pergi berkencan dengan pacarmu” Lily mengubah topik. 

Jae Bumie : “Pacarku sedang ada di luar negeri. Dia tak peduli padaku. Dia tak peduli betapa aku sangat merindukannya.” JB membalas. Deggg... Hati Lily serasa dihantam ribuan pedang.

“Apa dia serius? Benarkah JB GOT7 sudah punya pacar?” entah kenapa mendadak Lily merasakan sakit di hatinya. Dia hanya menggenggam ponselnya dengan gemetar.

Jae Bumie : “Lily, kau masih di sana? Kenapa tidak menjawab? Kau sudah tidur, ya?” JB tampak bingung saat tak ada respon dari lawan bicaranya. 

Jae Bumie : “Aaahhh...Sepertinya pacarku marah padaku. Lihat! Dia bahkan tak mau membalas pesanku lagi.” Lagi, JB mencoba memancing. 

Jae Bumie : “Apa kau tak ingin tahu siapa gadis itu?” pesan yang lain kembali masuk dan Lily hanya menatap ponselnya tanpa ekspresi.

Jae Bumie : “Dia adalah gadis paling unik yang pernah kutemui. Dia bilang dia menyukaiku, tapi saat bertemu denganku, dia selalu tampak gugup dan takut seperti melihat hantu. Saat fans yang lain akan bersorak girang, dia justru hanya menunduk malu. Pertama kali bertemu, dia tak mau menatap mataku. Sepertinya lantai di bawah sana lebih menarik daripada aku.” JB menjelaskan tentang gadis yang diakuinya sebagai “Pacar”.

Jae Bumie : “Tapi dia adalah gadis paling baik dan rendah hati di dunia. Demi aku, dia hampir kehilangan tangan kanannya. Jika bukan karena dia, mungkin akulah yang terbaring di Rumah Sakit saat itu. Tapi walau begitu, dia juga sangat menyebalkan. Dia tak pernah percaya padaku saat aku berkata aku menyukainya. Apakah aneh menyukai seorang fans?”

Lily tersenyum geli membaca pesan yang ditulis JB untuknya. 
Lily : “Karena sepertinya kau sudah memiliki seseorang yang kau sukai. Aku tak mau gadis itu cemburu padaku. Jadi kita akhiri saja obrolan ini. Selamat malam.” Goda Lily sambil tersenyum mengerjai JB. 

Jae Bumie : “Gadis itu adalah kau, bodoh. I like you, Lily. Tidak bisakah kau percaya padaku?” jawab JB dengan cepat. 

Lily : “Aku tahu. Aku tahu kalian mencintai Ahgase di seluruh dunia.” Ujar Lily seraya tersenyum manis di depan ponselnya. 

Jae Bumie : “Bukan itu. Sudahlah. Aku tahu kau masih belum percaya.” JB tampak pasrah. 
Jae Bumie : “Apa yang kau lakukan di hari Natal besok?” pesan lain kembali masuk. 

Lily : “Tak ada yang istimewa. Aku akan ke gereja di pagi hari lalu merayakan Natal bersama teman-temanku.” Jawab Lily menjelaskan apa yang akan dilakukannya besok pagi. 
Jae Bumie : “Aku mendapat libur selama 2 hari. Aku berharap bisa merayakan Natal bersamamu.”

Lily : “Semoga hari Natalmu menyenangkan.” Jawab Lily dengan sebuah smiley di pesannya. 
Jae Bumie : “You too. Merry Christmas, Lily.” Tulis JB di pesannya. 
Lily : “What do you want for Christmas?” 
Jae Bumie : “All I want for christmas is you.” Jawab JB di pesannya. 

Lily : “Do you believe in Miracle?” tanya Lily ingin tahu. 
Jae Bumie : “I believe.” Jawab JB mantap. 

Lily : “For me, you are my Christmas Miracle. Jika kita bisa bertemu secara tak sengaja di Hari Natal, maka aku akan memberimu kesempatan.” Jawab Lily di pesannya. 

Jae Bumie : “You are not here. How can...” JB tak melanjutkan pesannya. 
Jae Bumie : “Wait a minute. Where are you now?” sebuah pesan lain masuk, JB tampak penasaran dengan kalimat yang dituliskan Lily beberapa saat yang lalu. 

Lily : “Jaljayo, Jae Bumie.” Tulis Lily sebelum mematikan ponselnya dan mulai naik ke atas tempat tidur untuk tidur karena dia sudah sangat lelah hari ini.

“Dia pasti penasaran setengah hidup hehehe...” batin Lily terkikik geli membayangkan reaksi JB di ujung sana.

Dan seperti yang dibayangkan Lily, JB tampak kesal karena Lily tak kunjung membalas pesannya. Dia mencoba menelpon gadis itu tapi hanya pesan suara yang didapatnya. 
“Let’s meet in our dream, Jae Bumie...” ujar Lily sebelum mulai bermimpi indah.

To be continued...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar