Minggu, 25 Desember 2016

Christmas Miracle – Chapter 4 (GOT7 Christmas Edition)



Dream Come True? Well, maybe this is the way I feel. Seeing them in person is really like Dream Come True for me. But of course, Love Story-nya Fiksi ya hehehe ^.^ Jadi tolong bedakan mana yang fiksi dan mana yang nyata. So, what about with Lily on this story? You will know if you read this story... Masih dengan “Keajaiban Natal” di Bulan Desember...

“Christmas Miracle – Chapter 4 (GOT7 Christmas Edition)”



Chapter 4 : Dream Come True?

Mount Elizabeth Hospital Orchard, Singapore 
Seorang gadis mengerjap-ngerjapkan matanya menghindari sinar mentari yang menerobos masuk melalui jendela kamarnya. Dia memalingkan kepalanya ke arah sumber cahaya hanya untuk melihat tirai di jendela tersebut terbuka cukup lebar.

Dia menoleh ke sampingnya dan menyadari jika ini bukan kamar hotel tempatnya menginap. Lalu di mana ini? Dia beranjak berdiri dari ranjangnya dan menyadari jika dia memakai piyama yang bukan piyamanya sendiri. Dan juga menyadari jika tangan kanannya sudah kembali diperban.

Dia berjalan menuju meja tempat segelas air mineral diletakkan. Tapi dia kesulitan membukanya dengan tangan kanan yang diperban. 
“This is sucks! I’m thirsty. Can I get some water?” Lily menggerutu kesal karena gagal membuka tutup botol air mineral tersebut.

“Butuh bantuanku?” tanya seorang pria muda dalam bahasa korea yang tiba-tiba saja muncul entah dari mana dan membuat gadis itu kaget lalu spontan membuat botolnya terlepas dari genggaman. Botol tersebut menghantam lantai dengan keras hingga membuat botolnya pecah dan airnya tumpah ke mana-mana.

“Oh Ya Tuhan.” Ujar Lily kaget seraya menarik rambutnya ke belakang dan menarik napas berat, kemudian berlutut dan memungut botolnya. Tanpa kata, dia berjalan menuju nakas di samping tempat tidurnya dan meraih beberapa helai tissue.

“Kau mau apa?” tanya pria itu bingung. 
“Mengepel.” Jawab Lily singkat lalu mulai berlutut.

Tapi pria muda itu menarik lengannya berdiri dan menariknya ke tempat tidur. Lily sekali lagi menarik tangannya gugup. Benar. Pria muda ini selalu membuatnya gugup. 
“Kau masih gugup?” goda pria itu.

Lily mengangguk singkat, “Aku berada dalam satu kamar dalam jarak yang berdekatan dengan JB GOT7. Siapa yang tidak gugup? Tolong jangan begitu baik padaku. Aku tidak apa-apa. Kembalilah ke tempatmu.” Ujar Lily tampak tak nyaman seraya memalingkan wajahnya, tak mau memandang JB. Memandang wajah pria muda itu membuat kegugupannya meningkat. 

“Dear Heart, just calm down, please...Dont beat so fast!” Lily merasa jantungnya hampir saja melompat keluar saat JB menggandeng tangannya dan menariknya ke atas ranjang.

“Apa aku membuatmu tidak nyaman? Bukankah aku idolamu? Aku orang yang kau sukai, benarkan? Harusnya kau senang bisa berada dekat dengan orang yang kau sukai, benarkan? Fans lain pasti akan bersorak histeris.” Ujar JB dengan percaya diri.

“Justru karena kau idolaku jadi aku harus menjaga jarak. Aku sudah menyukaimu sejak awal, jadi aku tak mau kebaikanmu itu, ah, atau aku harus menyebutnya ucapan terima kasihmu itu, membuatku jadi salah paham pada perasaanku sendiri lalu menumbuhkan perasaan yang lain dalam hatiku.” Ujar Lily sambil berjalan menjauh dari JB dan memilih berdiri di depan jendela. Dia memilih memandang apa pun itu di luar jendela daripada harus menatap JB, idolanya.

“Terima kasih sudah memberiku mimpi yang sangat indah. Tapi sekarang saatnya aku bangun dan menghadapi kenyataan. Kau adalah bintang yang bersinar terang di langit malam sementara aku hanyalah butiran debu di tanah. Jalan kita tidak seharusnya bersinggungan. Jadi kembalilah ke tempat di mana kau berasal.” Lanjut Lily lagi tanpa menoleh.

“Terima kasih telah membawaku ke Rumah Sakit. Ini pasti Rumah Sakit, kan? Aku mencium bau obat di mana-mana. Apa kau juga yang menjagaku semalaman?” lanjut Lily, kali ini menoleh singkat ke arah pria muda itu. JB mengangguk singkat membenarkan.

“Baiklah. Kurasa itu sudah cukup untuk ucapan terima kasih kalian. Aku akan menghubungi temanku agar dia datang kemari dan membawakan kartu kreditku.” Lanjut Lily lagi.

“Ah...apa nama Rumah Sakit ini?” Dia kembali bertanya bingung. 
“Mount Elizabeth Hospital Orchard.” Jawab JB singkat sambil terus memperhatikan gadis itu yang terus menjaga jarak. 
“Terima kasih banyak sudah menjagaku, JB-ssi. Kau boleh pergi sekarang.” Ujar Lily lagi, sesopan mungkin.

“Ah salah. Aku saja yang pergi. Kau seorang artis, tidak mungkin ada Fans yang berani mengusirmu, benarkan? Kau tetap di sini jika kau mau. Aku yang akan pergi.” Ujar Lily memutuskan.

Dia segera berjalan ke arah lemari untuk mencari pakaian yang dipakainya semalam lalu beranjak menuju ke kamar mandi. Tanpa dia sangka, pria itu mengikutinya ke dalam sana.  

“YYYAAA! What are you doing now? GET OUT, PLEASE!” Lily terkejut bukan kepalang saat menyadari JB mengikuti ke dalam kamar mandi dan hanya tersenyum tipis saat melihatnya ketakutan. 

“Aku bukan akan memperkosamu, tenang saja. Aku hanya ingin kita bicara sambil kau menatap mataku.” Jawab JB dengan santai. 

“Tidak ada yang perlu dibicarakan, JB-ssi. Pulanglah! Kau masih punya sederetan jadwal, kan?” ujar Lily dengan gugup, tetap menjaga jarak.

Tapi JB hanya tersenyum tipis seraya berjalan mendekatinya dan sedetik kemudian menariknya ke dalam pelukannya. “Bisakah kita bertemu lagi? Aku suka aroma rambutmu yang wangi.” Bisiknya dengan nada menggoda.

DEGGG. Gadis itu membatu seketika mendengar ucapan JB. Dia mendadak kehilangan semua kekuatannya, dia merasa kakinya terasa lemas dan tak mampu untuk berdiri tegak. Jantungnya berdetak 2 kali lebih cepat dari biasanya, mendadak seluruh kaki dan tangannya menjadi dingin dan seluruh tubuhnya mulai gemetar.

Dia benar-benar gugup. Dia tidak bisa menggambarkan betapa gugupnya dia saat ini. tak pernah terbayangkan dalam mimpinya, bahkan tidak dalam mimpinya yang paling indah, JB GOT7 akan berdiri di hadapannya. Tidak. Bukan berdiri tapi memeluknya seperti ini, membelai rambutnya lembut dan membisikkan kalimat, “Aku suka aroma rambutmu yang wangi.”

“Apa aku sedang bermimpi? Ini terlalu indah untuk jadi nyata. Tuhan, aku tak tahu ini mimpi atau reality. Tapi jika ini mimpi, aku tak mau segera pagi.” Ujar Lily dalam hati. 

“Kau gemetar lagi? Apa kau benar-benar segugup itu saat bersamaku? Kenapa jantungmu berdetak kencang sekali? Apa karena kau sangat menyukaiku? Kau benar-benar gadis yang polos, apa kau tahu itu?” bisik JB lagi, tetap tidak melepaskan pelukannya di tubuh gadis itu.

Lily tetap terdiam. Dia tak mampu bergerak sama sekali. Sementara JB hanya tersenyum tipis. 
“Kemarin kau bilang kau ingin mengganti idolamu, benarkan? Aku tidak ingin digantikan oleh siapa pun. Aku ingin menjadi satu-satunya dalam hatimu.” Ujarnya lembut dan menggoda. JB menjauhkan sedikit tubuhnya dan melonggarkan pelukannya di tubuh gadis itu.

Sambil menatap tajam ke dalam mata gadis itu, dia meletakkan sebelah tangannya di dagu gadis itu dan mulai menurunkan wajahnya. Tatapan matanya menuju ke arah bibir gadis itu dan sedetik kemudian, JB mendaratkan ciuman manis di sana.

Sekali lagi Lily membatu. Dia terdiam shock. Dia tidak membalas sama sekali, dia hanya membelalakkan matanya terkejut. JB tersenyum disela ciumannya. Dia tahu gadis itu takkan membalas. Dia tahu gadis itu sangat pemalu apalagi bila berdiri di hadapannya. Justru inilah yang membuatnya menarik di mata JB. Bukan gadis gampangan, pintar, sopan, berkelas dan baik hati.

“Dengan begini, kau takkan pernah melupakanku dan menggantiku dengan yang lain. Dengan begini, aku akan selamanya ada dalam hatimu.” Bisiknya dengan senyuman yang menggoda, seraya membelai bibir Lily dengan lembut. Bibir yang terasa sangat manis di lidahnya.

“Dokter bilang jika sedikit saja terlambat maka tanganmu pasti akan mengalami infeksi. Dan jika infeksimu menyebar, maka kau akan kehilangan tangan kananmu. Kenapa kau sangat keras kepala? Harusnya sejak awal kau pergi ke Rumah Sakit? Harusnya kau tidak menahan rasa sakit selama itu?” JB tampak khawatir saat mengatakannya. Tapi Lily tetap terdiam, sepertinya dia belum kembali dari kegugupannya.

“Kau bilang kau tinggal di Indonesia, kan? Kami juga akan datang ke negaramu bulan Februari nanti, kan? Kau bisa datang lagi ke sana. Tidak perlu memaksakan diri untuk menghadiri Fanmeeting di Singapore.” Lanjut JB lagi, masih tetap tidak melepaskan pelukannya di pinggang gadis itu.

“Aku tidak akan datang. Aku tidak akan ke Jakarta.” Jawab Lily singkat. 

JLEBBB. Entah kenapa JB merasa sangat kecewa mendengarnya. Dia kembali menatap mata Lily, tapi kali ini tampak sangat kecewa. 
“Kau...kau tidak akan datang untuk melihatku lagi?” tanya JB, entah kenapa dia sangat ingin bertemu gadis ini lagi. 

“TIDAK.” Jawab Lily singkat. 
“KENAPA?” JB menuntut sebuah jawaban. 
“Aku sudah melihatmu setiap hari.” Jawab Lily membingungkan. 
“APA?” JB tampak tak mengerti.

“Jika kuketikkan namamu di mesin pencari, aku bisa melihat wajahmu bertebaran di sana. Aku seorang blogger. Aku selalu mengikuti ke manapun kau pergi dan apa pun yang kau lakukan.” Jawab Lily dengan suara gemetar. Dia masih belum sepenuhnya kembali dari kegugupannya.

“Dan lagi, melihatmu saat ini, bagiku itu sudah cukup. Itu sudah menjadi Hadiah Natal terindah dalam hidupku. Keajaiban Natal, begitu mereka menyebutnya. Jadi aku tidak ingin menjadi orang yang tamak. Jika aku terus-terusan bertemu denganmu, aku takut perasaanku akan semakin kacau. Aku ingin segera terbangun dari mimpi yang indah ini dan kembali ke alam nyata. Melihatmu cukup dalam ponselku saja.” Lanjut Lily lirih, menyadari posisinya.

“Kau bisa melihatku tapi aku tak bisa melihatmu.” Protes JB. 
“Untuk apa kau melihatku?” tanya Lily tak mengerti. 
“Aku ingin melihatmu. Aku tak tahu kenapa. Aku hanya ingin melihatmu. Itu saja. Aku berharap aku bisa melihatmu di Jakarta.” Jawab JB, dia juga bingung dengan perasaannya sendiri. 

“Kau sudah melihatku sekarang.” Jawab Lily singkat. 
“Tapi kita akan berpisah cepat atau lambat.” Ujar JB lagi, tampak tak rela. 
“Itu sudah pasti. Kau kembali ke tempatmu dan aku akan kembali ke tempatku.” Jawab Lily lagi. 

“Dan jika kau tidak keberatan, tolong lepaskan tanganmu! Terima kasih untuk Fans Service-nya. Aku fans yang beruntung, benarkan?” ujar Lily, dengan nada yang pahit. 

“Fans Service?” ulang JB bingung. Jadi semua yang terjadi di antara mereka hanya dianggap Fans Service oleh gadis ini. 

“Kau membuat perasaanku kacau balau dan kau hanya menganggapnya Fans Service? Ciuman itu...” JB tak sempat meneruskan kalimatnya karena Lily memotongnya dengan cepat.

“Kau akan selamanya menjadi idolaku. Jangan khawatir. Aku akan selamanya mengingatmu. Itu kan yang kau inginkan? Walau aku tahu setelah ini kau pasti akan melupakanku.” Ujar Lily dengan setetes airmata di pipinya.

“JB-ssi, thank you for giving me a dream I never thought I would have.” Tambah gadis itu lagi seraya menarik tangan JB di pinggangnya. 
“TUNGGU!” JB masih berusaha menahannya.

“Sebenarnya apa yang kau inginkan? Tolong jangan buat aku semakin jatuh cinta padamu! Pergilah dan kembalilah ke tempatmu! Tolong jangan permainkan perasaanku! Aku adalah orang biasa dan kau adalah bintang idola. Aku tahu kau terlalu tinggi untukku, aku sadar di mana posisiku.” ujar Lily kesal sambil menangis. Dia tak mau jatuh cinta pada seseorang yang jelas tidak mungkin bisa diraihnya. Ini hanya akan membuat hatinya semakin sakit.

Dia segera meraih gagang pintu dan keluar secepat mungkin. Dia segera meraih tasnya di atas meja lalu segera pergi dari kamar itu. Tentang mengganti baju. Mungkin sebaiknya dia lakukan itu di toilet umum Rumah Sakit saja.

“Tunggu! LILY!” JB segera mengejar setelah dia sadar dari keterkejutannya, tapi dia tidak menemukan gadis itu di manapun. Dia sudah pergi. Menghilang entah ke mana.

Mercury Hostel - Lavender Street, Kallang Road, Singapore. 
“Sudah kembali? Lily, aku khawatir sekali. Kau tak kunjung keluar hingga Mall itu ditutup. Aku terpaksa pulang sendiri. Lalu pihak hotel memberitahuku jika ada telepon dari seseorang yang mengatakan bahwa turis dari Indonesia yang bernama Liliana sedang dirawat di Rumah Sakit dan aku tak perlu khawatir.” Stephanie tampak khawatir.

“Akan kujelaskan nanti. Sekarang kita berkemas lebih dulu. Kita pergi sekarang juga.” Ujar Lily seraya memasukkan semua barang-barangnya dengan cepat. 
“Pergi? Pulang ke Indonesia? Tapi kita belum membeli tiket, Lily.” Ujar Stephanie bingung. 
“Aku tidak bilang kita pulang. Maksudku pergi dari sini dan pindah ke hotel lain.” Jawab Lily menjelaskan. 
“Kenapa? Kita harus ke mana?” tanya temannya bingung, tapi dia mulai berkemas.

“Font Canning Lodge Hotel di Orchard Road. Saat aku berjalan pulang dari Rumah Sakit, aku melewati sebuah hotel bintang 3 yang sangat bagus di daerah Orchard. Mereka menawarkan diskon 30% untuk liburan Natal dan Tahun Baru.” Jawab Lily sambil tersenyum.

“Dari Hostel pindah ke Hotel Bintang 3? Baguslah. Ini bagus. Peningkatan. Ayo lekas pindah.” Ujar Stephanie senang, sementara Lily hanya tertawa lucu melihat temannya langsung bersemangat begitu menyebut Hotel Bintang 3.

“Tunggu dulu. Tapi kita akan tetap ke USS hari ini kan?” tanya Stephanie lagi setelah selesai mengepak. 
“Tentu saja. Kita akan lakukan sesuai keinginanmu.” Jawab Lily sambil tersenyum menenangkan. 
“That’s Great!” ujar Stephanie senang.

Shangri-la Hotel - Orchard Road, Singapore...
“Akhirnya kau pulang, Hyung. Apa kau menjaganya semalaman?” tanya Bambam penasaran saat melihat Leadernya kembali ke hotel. JB tak menjawab tapi raut wajahnya tampak sangat kecewa.
“Apa dia baik-baik saja?” tanya Mark lagi. 
“Dia hampir kehilangan tangan kanannya karena aku.” Jawab JB sedih. 

“Apa separah itu?” Jin Young tampak cemas mendengarnya. JB bisa merasakan kecemasan dari nada suaranya dan perasaannya kembali tak enak. 

“Luka di telapak tangannya bila terlambat diobati bisa menyebabkan infeksi. Dan bila infeksinya menyebar, tak ada cara lain selain mengamputasi tangan kanannya. Untung saja aku segera membawanya ke Rumah Sakit.” Jawab JB tampak merasa bersalah dan menyesal.

“Gadis yang malang.” Ujar Young Jae tampak kasihan. 
“Bukankah yang penting kau sudah menyelamatkannya sekarang?” Mark memberikan pendapatnya. 

JB mengangguk seraya menatap para membernya dengan bingung saat menyadari mereka sedang bersiap-siap pergi ke suatu tempat. 
“Kalian akan pergi ke suatu tempat?” tanyanya bingung. 
“USS. Bambam bilang dia ingin bermain. Tapi aku tidak ikut karena tidak enak badan.” Jawab Young Jae menjeleaskan. 
“Kalau begitu aku akan menemanimu di sini.” Ujar JB, tampak malas harus pergi ke pusat keramaian.

“Tidak bisa, Jae Bum. Kau Leader jadi kau harus ikut untuk menjaga membermu.” Ujar Sang Manajer yang tiba-tiba saja masuk ke dalam Guest House GOT7 dan menyerahkan tiketnya pada JB yang hanya menarik napas pasrah.

“Tapi aku juga lelah. Hyung sendiri tahu aku tidak pulang semalaman, kan?” protes JB pada manajernya.
“Aku tahu. Tapi kau harus tetap ikut.” Jawab Sang Manajer tanpa bisa dibantah. 
“Lalu siapa yang akan menjaga Young Jae?” JB beralasan. 
“Masih ada staff yang lain.” Jawab Sang Manajer singkat. 

“Istirahatlah sebentar lalu makan, mandi dan ganti bajumu. Kita akan pergi setelah makan siang nanti.” Ujar Sang Manajer sebelum akhirnya keluar dari sana seraya menepuk pundak JB pelan.

To be continued...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar