Minggu, 25 Desember 2016

Christmas Miracle – Chapter 9 (GOT7 Christmas Edition)



Apakah mungkin seorang gadis biasa menjadi pacar seorang Superstar? Well, unfortunately it is only happened on Fiction or maybe only happened on your dream hehehe ^.^ Jika memang hal itu benar-benar terjadi, maka KEAJAIBAN itu memang benar-benar ada. They said “There can be Miracle when you believe.” So, what about you? Do you believe in Miracle?

“Christmas Miracle – Chapter 9 (GOT7 Christmas Edition)”





Chapter 9 : Am I Dreaming Now?

Christmas Time, 25 Desember 2016... 
“Lily, kau seharusnya tak perlu melakukan ini, sayang. Kau adalah tamu kami.” ujar seorang wanita setengah baya berusia sekitar lima puluh tahunan pada Lily. Mereka sedang berdiri di depan pintu masuk utama Ewha Girl High School untuk mengecek dekorasi Natal.

“Tidak apa-apa. Aku senang bisa membantu.” Jawab Lily rendah hati. 
“Tapi Kepala Sekolah, bisakah Anda memberi instruksi agar anak-anak dan para staff tidak lewat di tempat ini selama beberapa saat? Aku ingin menggantung lonceng besar itu di atas sana.” Ujar Lily seraya menunjuk hiasan lonceng yang akan digantungnya di dinding pintu masuk utama sekolah.

"Oh. Baiklah. Berapa lama waktu yang kalian perlukan untuk menggantungnya?” tanya Kepala Sekolah dengan sabar. 
“Sekitar 1 jam.” Jawab Lily seraya menelengkan kepalanya menebak perkiraan waktunya. 

“Baiklah. Aku akan melarang semua orang lewat di sekitar sini selama 1 jam. Minta orang-orangmu menggantungnya dengan cepat dan akurat agar tidak sampai jatuh ke bawah dan melukai orang yang lewat di bawahnya.” Jawab Kepala Sekolah.

Lily mengangguk mantap dan membungkuk memberi hormat sebelum akhirnya Kepala Sekolah berjalan masuk kembali ke dalam sekolah. Begitu Kepala Sekolah pergi, Lily meminta tolong kepada para pekerja untuk segera menggantung lonceng itu dengan hati-hati dan kuat.

“Apa itu sudah kuat? Kalian yakin tidak akan jatuh menimpa orang di bawahnya, kan?” Lily tampak memastikan. 

“Tidak akan, Nona. Kami yakin itu sudah tergantung kuat dan tidak akan jatuh.” Jawab salah satu pekerja, memberi jaminan. Lalu kemudian turun dari atas tangga kayu dan mulai membenahi barang-barang mereka untuk segera berpindah mengurus yang lainnya.

“Kalian yakin? Tapi kenapa aku melihatnya seperti miring. Apa itu tidak apa-apa?” tanya Lily dengan ragu seraya memandang lonceng itu dari kejauhan. 
“Itu hanya perasaan Anda saja.” Jawab pekerja yang lain. 
 
“Kami harus membantu memasang dekorasi Natal di aula. Jika Anda membutuhkan kami, Anda bisa mencari kami di sana.” Jawab yang lain lagi lalu mulai beranjak pergi meninggalkan Lily yang tampak tak yakin.

Dan sepertinya ketakutan Lily terbukti karena saat dia baru saja akan melangkah pergi, dia melihat lonceng besar itu bergerak-gerak dan hampir menimpa wanita setengah baya yang lewat di bawahnya. 

“Oh Tidak. Nyonya, awas!” Lily berlari secepat kilat ke arah wanita tua itu dan mendorongnya menjauh dari sana.

BRAAKKKK... Lonceng besar itu benar-benar jatuh dari atas sana dengan suara keras. Wanita setengah baya itu menjerit kaget saat menyadari lonceng besar itu hampir saja menimpa tubuhnya jika saja tidak ada seorang gadis muda yang tiba-tiba berlari ke arahnya dan mendorongnya menjauh.

“Ya Tuhan. Tidak. Nona...” ujar wanita setengah baya itu panik saat melihat Lily terbaring pingsan tak jauh dari tempat lonceng itu terjatuh tadi. Darah segar mengucur dari punggung kanannya.

“Eomma, ada apa?” tanya seorang pria muda berwajah tampan dan bertubuh tinggi yang segera berlari ke arah ibunya yang ketakutan. 

“Gadis itu menyelamatkan Ibu. Lonceng itu hampir jatuh mengenai Ibu dan gadis itu menyelamatkan ibu.” Ujar Ibu itu seraya menuding ke arah gadis yang terbaring pingsan tertelungkup dengan darah mengucur di punggungnya.

“Oh tidak. Kita harus menyelamatkannya.” Seru si anak seraya berjalan mendekati gadis muda itu. Pria muda itu membalik tubuh gadis muda itu dengan perlahan dan tampak shock saat menyadari siapa gadis yang kini terbaring pingsan bersimbah darah di hadapannya.

“LILY! TIDAK! KENAPA BISA KAU?” ujarnya shock. Wajahhnya tampak shock dan tangannya mulai gemetar saat melihat gadis yang dirindukannya dalam keadaan seperti ini. 

“Jae Bum-ah, apa kau mengenal gadis itu?” tanya sang Ibu. 
“Dia gadis yang kucintai.” Jawab JB lirih dengan airmata menetes pelan. 
“MWO?” Sang Ibu tampak terkejut mendengar pengakuan putranya.

“Oh astaga, Lily! Apa yang terjadi padamu, sayang?” Kepala Sekolah Ewha segera berlari ke lokasi kejadian dengan panik saat melihat tamunya terbaring bersimbah darah. 

“Lonceng itu terjatuh dan hampir mengenaiku tapi gadis ini menyelamatkan nyawaku.” jelas Ibu JB pada Kepala Sekolah. 

“Aku akan membawanya ke Rumah Sakit.” Ujar JB yang sudah pulih dari keterkejutannya. Dia segera meraih tubuh Lily dan menggendongnya ke dalam mobilnya.

“Kau harus selamat. Kau harus selamat. Kau tak boleh tinggalkan aku, Lily.” Ujar JB dalam hati, berdoa dari lubuk hatinya yang paling dalam. 

Seoul Hospital... 
“Di mana kalian bertemu? Kenapa kau tidak pernah menceritakan pada Ibu tentang gadis yang kau sukai itu?” tanya seorang wanita setengah baya pada putranya yang tampak sangat sedih dan gugup. 
“GOT7 sangat sibuk. Aku tak punya waktu menceritakannya pada Ibu.” Jawab JB lirih. 
“Di mana kalian bertemu?” tanya wanita itu lagi. 
“Singapore. Dia adalah fansku.” Jawab JB jujur. 
“Oh...kau jatuh cinta pada fansmu?” tebak sang Ibu dan JB mengangguk pelan membenarkan.

“Dia fans yang istimewa, Ibu. Dia juga telah menyelamatkan aku saat sebuah lampu hias hampir menimpaku waktu itu. Demi menyelamatkan aku, dia hampir kehilangan tangan kanannya. Tapi aku menyukainya bukan karena dia penyelamatku, tapi karena dia adalah gadis yang baik dan rendah hati.” Ujar JB dengan mata berseri-seri saat menceritakan tentang gadisnya.

“Matamu berbinar saat membicarakannya. Ibu bisa melihat kau sangat menyukainya.” Jawab Sang Ibu dan JB hanya bisa tersenyum malu mendengarnya. 
“Tapi dia tidak percaya padaku. Dia menganggap perasaanku hanyalah Fans Service.” Jawab JB pahit. 
“Oh...Itu pasti menyakitkan untukmu.” Ibu JB menepuk pundak putranya lembut. 

“Lebih menyakitkan melihatnya terbaring bersimbah darah seperti itu. Kemarin malam aku mengobrol dengannya tapi dia sama sekali tidak mengatakan padaku jika dia ada di Korea.” Jawab JB lirih. 
“Mungkin karena dia tak ingin mengganggumu.” Sang Ibu tampak menghibur putranya. 

“Maafkan Ibu, Jae Bum-ah. Ibu yang telah membuat gadis yang kau cintai terbaring di dalam sana.” Ibu JB tampak menyesal karena demi dia, gadis yang dicintai JB jadi terluka.

“Tidak. Jika Lily mendengarnya dia pasti akan sangat sedih.” Jawab JB. 
“Ibu bisa melihat dia adalah gadis yang baik. Tak heran kau menyukainya.” Jawab si ibu. 
“Tapi JYP...” Ibu JB tampak ingin mengingatkan putranya kalau dia masih terikat kontrak tak boleh pacaran. 

“Ibu jangan khawatir. Lily sangat pendiam. Dia bukan orang yang akan mengumbar cerita di mana-mana. Lagipula, dia juga tidak menerima perasaanku. Setidaknya belum.” Jawab JB sedih.

Sang Ibu baru saja akan mengatakan sesuatu saat tiba-tiba pintu ruang operasi terbuka dan seorang Dokter pria setengah baya keluar dari dalam ruang operasi dan mencari keluarga pasien. 

“Dia seorang turis. Keluarganya ada di Indonesia. Tapi dia terluka karena melindungi Ibuku, anggap saja kami yang bertanggung jawab padanya sekarang.” Jawab JB menjelaskan kondisi yang sebenarnya. 

“Punggung kanannya tertimpa sesuatu yang besar dan berat. Tulang punggungnya mengalami keretakan. Nyawanya mungkin tidak berada dalam bahaya tapi untuk sementara lengan kanannya harus di gips selama proses penyembuhan.” Jawab si dokter menjelaskannya.

“Apakah tidak akan ada masalah dengan tangan kanannya di masa depan?” JB tampak ingin memastikan semua baik-baik saja untuk gadisnya. 

“Aku masih belum bisa menjawab bila belum melihat perkembangannya. Tapi untuk sementara, dia sudah dalam kondisi aman.” Jawab si dokter.

“Terima kasih, Dokter.” Jawab JB penuh syukur. 
“Kami akan segera memindahkannya ke ruang perawatan. Kalian bisa menjenguknya di sana.“ Dokter itu kembali menginformasikan sebelum kembali masuk ke dalam ruang operasi untuk mempersiapkan proses pemindahan.

“For me, you are my Christmas Miracle. Jika kita bisa bertemu secara tak sengaja di Hari Natal, maka aku akan memberimu kesempatan.” JB membaca kembali pesan yang dikirimkan Lily kemarin malam dengan sedih.

“Ini pasti adalah Hari Natal yang buruk untukmu, kan? Aku ingin kau segera sembuh dan memenuhi janjimu untuk memberiku kesempatan.” ujar JB dalam hatinya, sedih dan merasa bersalah.

Tak lama kemudian, Kepala Sekolah Ewha datang ke tempat itu setelah sebelumnya sibuk menelpon Kepala Sekolah Maria di Indonesia untuk mengabarkan apa yang terjadi pada Lily dan meminta maaf dari lubuk hatinya yang paling dalam.

“Apa kita perlu menghubungi keluarganya di Indonesia? Kepala Sekolah Maria mengatakan baru akan memutuskan setelah mendengar hasilnya.” Ujar Kepala Sekolah Kim. 

“Dia baik-baik saja. Hanya saja tangan kanannya harus di gips untuk sementara.” Jawab Ibu JB mengulangi penjelasan dokter sekali lagi.

“Maafkan aku. Ini terjadi karena dia melindungiku.” Lanjut Ibu JB lalu membungkukkan badannya meminta maaf. 
“Anda tak perlu meminta maaf padaku.” Jawab Kepala Sekolah Kim canggung. 

“Ah benar. Seharusnya aku minta maaf pada anak itu. Aku akan melakukannya saat dia sadar nanti.” Ujarnya lagi.

@@@@@@@ 

Siang itu, sekali lagi Lily terbangun dalam sebuah ruangan asing yang dipenuhi warna putih dan bau obat menyengat. Dia memalingkan wajahnya ke arah lain ruangan untuk menghindari sinar matahari yang menerpa wajahnya.

“Aaahhh...Not again?” keluhnya pada dirinya sendiri dan mencoba untuk bangun, hanya untuk menyadari jika ada gips di lengan kanannya. 

“Great, Lily! Harusnya kau berhenti bersikap sok pahlawan. Aku tidak tahu kenapa aku begitu bodoh.” Lily memaki dirinya sendiri.

“Dan sekarang aku haus. Di mana minumnya?” ujarnya kesal seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Dan akhirnya Lily menemukan sebotol air mineral di atas meja yang tak jauh darinya.

“Oh...Cai che li ah (Di sini rupanya).” Ujar Lily senang dalam bahasa mandarin yang lancar. 
“This is sucks! I’m thirsty. Can I get some water?” Lily menggerutu kesal karena gagal membuka tutup botol air mineral tersebut.

“Butuh bantuanku?” tanya seorang pria muda dalam bahasa korea yang tiba-tiba saja muncul entah dari mana dan membuat gadis itu kaget lalu spontan membuat botolnya terlepas dari genggaman. Botol tersebut menghantam lantai dengan keras hingga membuat botolnya pecah dan airnya tumpah ke mana-mana.

“Oh Ya Tuhan.” Ujar Lily kaget seraya menarik rambutnya ke belakang dan menarik napas berat, kemudian berlutut dan memungut botolnya. Tanpa kata, dia berjalan menuju nakas di samping tempat tidurnya dan meraih beberapa helai tissue. 

“I feel like dejavu. Or am I dreaming now?” Gumamnya seraya mengelap lantainya. 
“Hei, sayang. Kau tidak sedang bermimpi. Bangun dari sana. Aku akan panggil clening service.” Ujar JB lembut seraya menarik lengan kiri Lily agar berdiri.

Gadis itu tersentak saat JB menyentuh lengannya. Dia spontan mundur selangkah dan menatap pria muda itu dengan ekspresi terkejut di matanya. 
“Are you real?” tanyanya, kembali menjadi gugup.

“Kau merasa gugup lagi? Ini bukan pertama kalinya kita bertemu. Berhentilah gugup di hadapanku! Aku takkan memakanmu, Lily. Apa kau masih belum terbiasa dengan kehadiranku?” JB tampak tak percaya karena hingga kini gadis itu masih tampak gugup bila berdekatan dengannya.

Lily terdiam tak menjawab, dia kembali menjadi gadis yang pemalu dan hanya berdiri menatap lantai dengan gugup. JB benar-benar frustasi melihatnya. Tanpa pikir panjang dia berjalan mendekati gadis itu yang tampak ketakutan.

“Kau mau apa?” tanya Lily gugup. 
“Apa kau tahu aku begitu merindukanmu? Bukan reaksi seperti ini yang kuharapkan darimu.” Ujar JB tampak serius. 
“I...itu...” Lily benar-benar tak tahu harus menjawab apa.

“Aku berharap kau akan gembira melihatku atau setidaknya berkata dengan ceria, “Jae Bumie, aku senang melihatmu lagi.” Bagaimana caranya agar aku bisa selangkah lebih dekat denganmu? Jangan lari, Lily. Berhentilah takut padaku.” Pinta JB tampak benar-benar frustasi.

Lily terus berjalan mundur dengan panik saat tiba-tiba tidak sengaja kakinya tersandung apa pun itu yang ada di belakangnya dan membuatnya hampir terjengkang ke belakang. Dia hampir saja terjatuh jika saja JB tidak menangkap tubuhnya tepat waktu.
“Awas!” ujar JB dengan sigap segera menangkap tubuh Lily agar tak terjatuh ke lantai. 

Tangan JB ada di pinggang gadis itu dan mereka saling memandang dalam jarak yang berdekatan. Jantung Lily berdetak lebih cepat dari biasanya saat perlahan tapi pasti, JB mulai menundukkan wajahnya dan mencium bibir gadis itu lembut.

Terlalu terkejut untuk bereaksi, Lily hanya mematung saat JB menciumnya. “Aku merindukanmu. Sangat.” Bisik JB di sela ciumannya sebelum kembali melumat bibir Lily dengan lembut.

“Apa aku sedang bermimpi lagi?” ujar Lily dalam hati, masih belum percaya apa yang terjadi.

“Oh ya Tuhan...” ujar Ibu JB yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar perawatan Lily dan tak sengaja menangkap basah putranya sedang berciuman mesra dengan gadis yang sudah menyelamatkan nyawanya. Tangan JB terlihat memeluk pinggang gadis itu erat.

Mendengar suara ibunya, spontan JB menoleh kaget dengan wajah semerah tomat. “Eomma...” ujarnya tampak malu. 
“Wah, putra Ibu sudah dewasa sekarang. Kau bahkan tahu bagaimana cara mencium seorang wanita.” Goda ibunya.

Lily spontan melepaskan pelukan JB dan berjalan menjauh darinya. Dia duduk di atas ranjang perawatannya dengan wajah tertunduk gugup dan jantung berdetak kencang. 
“Jantung bodoh. Berhentilah berdetak sekencang itu! Kau membuatku semakin gugup.” Lily memarahi jantungnya sendiri.

“Lihat apa yang Ibu lakukan! Ibu membuatnya semakin takut padaku.” Bisik JB frustasi pada Ibunya. 
“Dasar anak bodoh! Apa kau tak tahu bagaimana menghadapi seorang wanita? Jika kau memang menyukainya maka kau harus bersabar dan menunjukkan ketulusanmu.” Ibu JB memarahi putranya yang tampak kacau saat ini.

“Kau benar-benar menyukainya?” tanya Ibu memastikan. JB mengangguk malu, “Aku selalu ingin bertemu dengannya setiap waktu. Aku ingin melihatnya, aku ingin mendengar suaranya, aku ingin memeluknya, aku ingin menciumnya dan aku kesal saat melihat Jin Young bersikap lembut padanya. Katakan padaku perasaan apa itu, Ibu?” JB bertanya pada ibunya dengan wajah frustasi.

“I think you fall in love with her.” Ujar sang Ibu lembut seraya menepuk pelan punggung putranya. 
“Bagaimana dengan gadis itu? Apa dia juga menyukaimu?” tanya sang Ibu dan JB mengangguk membenarkan.

“Baguslah kalau begitu.” Jawab sang Ibu, tanpa tahu masalahnya. 
“Tapi dia menyukai JB di atas panggung, bukan pria biasa Im Jae Bum. Dia tidak percaya dengan apa yang kurasakan. Aku tak tahu bagaimana cara meyakinkannya.” Jawab JB sedih. 

“Serahkan pada Ibu. Ibu akan membantumu.” Ujar Sang Ibu seraya tersenyum lembut pada putranya lalu mulai berjalan mendekati Lily yang hanya terduduk diam di atas tempat tidurnya.

“Hallo, Lily...” Sapa Ibu JB memulai kalimatnya seraya menatap gadis itu dengan lembut. 
“Selamat siang, Nyonya. Boleh aku tahu siapa Anda?” tanya Lily dengan sopan, dia bangkit berdiri sejenak dari duduknya dan membungkuk memberi hormat. Ibu JB tampak senang dengan sopan santun yang dimilikinya.

“Aku adalah wanita yang kau selamatkan tadi. Terima kasih banyak, Nak. Jika bukan karena kau menyelamatkan aku, mungkin akulah yang sekarang terbaring di tempat tidur.” Jawab Ibu JB seraya duduk di samping Lily dan menggenggam tangannya lembut.


“Aku berhutang padamu. Terima kasih sudah menyelamatkan aku dan juga putraku waktu itu. Aku sudah mendengarnya dari JB. Terima kasih sekali lagi. Kau gadis yang baik.” Lanjutnya dengan menunjukkan senyum keibuannya.

"JB?” Lily tampak tak percaya dengan apa yang didengarnya.

To be continued...



Tidak ada komentar:

Posting Komentar