Sabtu, 27 Desember 2014

(Teaser) Autumn Rainbow : Chapter 1

The Betrayal aka Pengkhianatan. Kisah dimulai dengan sebuah pengkhianatan yang dilakukan oleh kekasih dan sahabatnya sendiri. Poor Moon Yu Jin! Pasti sakit rasanya ditikam dari belakang dan semuanya itu terjadi di musim gugur yang indah, disebuah tempat yang sarat akan sebuah kisah dongeng romantis namun berakhir duka. Akankah Moon Yu Jin membenci musim gugur selamanya? The first teaser from "Autumn Rainbow" Novel... Bila Anda tertarik dengan kelanjutan kisah ini, you can find me on twitter and I will help you to buy this Novel ^.^


"Chapter 1 : The Betrayal"




Flashback...
Autumn 2011, The Broken Bridge, Hangzhou – China.
“Aku tak pernah ke Hangzhou sebelumnya. Terima kasih sudah mengajakku kemari, Oppa. Wah, musim gugur di Hangzhou memang sangat indah.” Seruku riang pada seorang pria muda yang berdiri di sampingku. 

Park Seung Gi. Dia adalah pria yang sudah kupacari selama tiga tahun ini. Sejak aku masuk ke SMU, dia sudah mengejarku. Saat itu dia adalah ketua OSIS di sekolah kami, dia seniorku, siswa terbaik, kesayangan para guru dan pujaan semua gadis di sekolah, juga putra dari seorang pengusaha kaya. Sempurna. Itulah definisi yang tepat untuknya, dengan postur tubuh 180 cm, hidung mancung, pintar dan kaya, siapa yang tidak jatuh cinta padanya? Aku sangat terkejut saat dia menyatakan cinta padaku dan memintaku menjadi pacarnya. Bagaikan mimpi di siang bolong, kalimat ‘kenapa aku?’ selalu ku ucapkan berulang kali dalam hatiku setiap kali kami jalan bersama.

Tatapan mata sinis dan penuh kecemburuan selalu ku dapatkan dari semua gadis di sekolah ini, termasuk sahabatku sendiri, Hwang Chae Won. 

“Siapa yang tidak iri melihat kalian? Kau punya kekasih yang tampan, padahal kau hanya gadis biasa. Lihat betapa beruntungnya kau, Yu Jin. Jujur, aku saja iri padamu.” Ujar Chae Won padaku berulang-ulang, membuatku tidak enak padanya.

“Tapi jangan khawatir, selama kau bahagia, tidak perlu pikirkan apa kata orang lain tentangmu, okay? Aku akan selalu mendukungmu.” Ujarnya padaku sambil tersenyum manis. Hwang Chae Won yang baik, saat semua orang memalingkan punggungnya padaku, hanya dia yang setia menemaniku melewati tiga tahun yang melelahkan ini. Hanya dia dan Seung Gi Oppa. 

“Kau tahu kenapa aku mengajakmu berlibur ke Hangzhou?” tanya Seung Gi Oppa padaku saat kami sedang berdiri dia atas kapal pesiar yang membawa para turis mengelilingi Danau Sihu, danau tempat legenda siluman Ular Putih, Pai Shu Chen berasal.

“Tidak. Kenapa?” tanyaku polos sambil mengagumi keindahan Danau Sihu di bulan ke sepuluh. Danau Sihu atau yang sering disebut dengan nama West Lake dikelilingi oleh pegunungan di tiga sisi dengan luas sekitar 6,5 kilometer persegi. Di salah satu Danau Sihu terdapat Pagoda yang indah bernama Pagoda Lei Feng yang bertingkat lima. Aku ingat legenda tentang siluman Ular Putih yang di kurung di dalam sana oleh seorang Biksu jahat bernama Fa Hai. Indah tapi penuh kisah sedih, itulah kesanku tentang Danau Sihu. 

“Happiest City. Banyak yang menjuluki kota Hangzhou sebagai The Happiest City in the world. Itu sebabnya aku mengajakmu kemari. Aku berharap bisa memberikanmu kebahagiaan yang mungkin setelah ini tak bisa lagi kuberikan. Aku ingin kau mengingat kebahagiaan saat bersamaku, walau mungkin saat itu kita tak lagi bersama.” Ujarnya dengan lirih dan tampak keragu-raguan dari caranya bicara, seketika membuyarkan lamunanku tentang kisah sedih sang siluman Ular Putih.

“Aku tak mengerti. Apa maksud kalimatmu Oppa?” tanyaku bingung sambil menengadahkan kepalaku menatapnya.

“Tidak ada. Aku hanya asal bicara. Oh ya, untuk merayakan kelulusanmu, bagaimana jika kita merayakannya dengan makan malam yang romantis? Candle light dinner. Malam ini berdandanlah yang cantik, aku akan menjemputmu pukul tujuh malam ini.” Jawabnya, mengalihkan pembicaraan. Tapi dari caranya bicara, aku bisa melihat dia sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Tapi apa? Itu yang belum aku tahu.

“Apa ini yang namanya The Broken Bridge?” tanyaku setelah kapal kami sampai di dermaga dan dia membantuku turun dari atas kapal itu dan berjalan di atas dermaga.

“Ya. Ini adalah The Broken Bridge atau Jembatan Patah Hati, tempat Pai Shu Chen berpisah dengan suaminya, Xu Xian.” Jawabnya lirih dan terdengar sedih. Dia menatapku dengan tatapan mata yang aneh dan tidak bisa di tebak. 

“Danau Sihu, The Broken Bridge, Pagoda Lei Feng, semuanya sangat indah tapi sayang menyimpan banyak sekali kisah sedih yang membuat siapapun yang mendengarnya ingin menangis. Kenapa dua orang yang saling mencintai tidak bisa bersama? Bukankah itu sangat tidak adil?” ujarku sambil membaca kisah tentang siluman Ular Putih yang diukir di batu-batuan yang ada disana.

“Karena takdir tidak mengizinkan mereka bersama. Karena jodoh mereka sudah selesai dan tidak ada gunanya lagi diteruskan.” Jawabnya, tetap dengan nada pelan dan dalam. 

“Apa karena mereka siluman dan manusia? Jika memang takdir tidak mengizinkan mereka bersama, kenapa mereka harus dipertemukan?” mendadak aku merasa takdir itu sangat kejam karena memisahkan dua orang yang saling mencintai dengan cara yang begini kejam.

“Karena cinta tidak selamanya harus saling memiliki. Kadang kala melepaskan adalah hal yang terbaik.” Jawabnya menerawang. 

“Cinta itu datang tanpa diduga dan kita tidak bisa mengatur untuk siapa cinta itu harus diberikan. Mencintai seseorang bukanlah kejahatan. Kenapa Pai Shu Chen harus dihukum hanya karena dia mencintai manusia? Itu sangat tidak adil, benarkan?” protesku tak setuju, tanpa sadar meninggikan suaraku, membuatnya menatapku heran.

“Kenapa kau jadi marah? Ini kan hanya legenda. Sudahlah. Lebih baik kita kembali ke hotel dan bersiap untuk makan malam, bagaimana?” ujarnya dengan tersenyum manis, tetapi aku bisa melihat kegalauan dalam matanya. 

Aku merasakan keanehan dalam sikapnya, tapi aku mencoba menepiskan semua keraguan dalam hatiku karena mencurigai orang bukanlah sifatku. Malam itu aku berdandan dengan cantik karena dia mengajakku untuk menikmati makan malam yang romantis di sebuah restoran mewah di kota Hangzhou yang indah ini. Candle light dinner, membayangkannya saja sudah membuat hatiku bahagia.

Aku mengenakan Gaun seksi berwarna hitam dan berleher rendah, dengan ujung gaun menjuntai hingga ke tanah. Aku membiarkan rambutku yang panjang, lurus dan berwarna hitam terurai lepas dengan hanya menggunakan sebuah tiara mungil sebagai hiasan. Pelayan di restoran itu bahkan memujiku bagaikan seorang Putri dalam dongeng. Aku hanya tersenyum mendengar pujiannya karena hatiku berdebar kencang memikirkan aku akan menikmati kencan yang romantis dengan kekasihku. Saat aku tiba di restoran itu, dia sudah menunggu, duduk disebuah meja ditengah ruangan membelakangiku.

“Oppa, aku datang. Maaf sudah membuatmu menunggu lama.” Ujarku malu-malu. Dia segera berbalik dan menarikkan sebuah kursi untukku. Untuk sementara semua tampak normal, kami menikmati makan malam sambil mengobrol dan tertawa dengan bahagia. Tapi itu tidaklah lama, karena tiba-tiba saja sikap anehnya kembali muncul. Mendadak dia terdiam saat aku mengungkit soal kencan pertama kami dulu. 

“Oppa, ada sesuatu yang terjadi? Kenapa kau terlihat gelisah sejak tadi?” tanyaku saat kami sedang menikmati makanan penutupnya.

“Yu Jin-ah, jika seandainya aku tak lagi bersamamu. Apa kau akan hidup dengan baik?” tanyanya tiba-tiba, lagi, sebuah pertanyaan yang tidak kuduga akan muncul dari mulutnya.

“Apa? Apa terjadi sesuatu? Kenapa hari ini kau sangat aneh, Oppa?” tanyaku bingung, rasa penasaran semakin memenuhi pikiranku. Aku menatapnya tajam, menunggunya meneruskan tapi dia hanya menggelengkan kepalanya dan berkata pelan “Tidak! Ayo kita makan! Bukankah kau sangat suka es krim?” ujarnya lembut, menyuruhku makan. 

“Sebenarnya aku suka semua yang pernah kau belikan untukku. Pasta, es krim, mie ramen yang kau masakkan untukku saat kita berkemah di malam musim panas itu, dan bahkan kimbab yang kita beli di Convenience Store, aku suka semuanya. Terima kasih, Oppa.” Jawabku sambil tersenyum manis padanya, mengingat semua yang pernah kami lakukan bersama selama tiga tahun ini. Dia terdiam. Seolah sedang berpikir lalu kemudian menatapku dengan mata berkaca-kaca kemudian berdiri dan berkata dia akan permisi sebentar.

“Kau mau kemana?” tanyaku polos. Dia menggeleng pelan dan dengan tersenyum tipis berkata “Aku akan segera kembali. Kau tunggu disini!” ujarnya lirih seraya mencium keningku lalu bergegas pergi. 

Tiga puluh menit berlalu dan dia tak kunjung kembali, aku mulai cemas memikirkannya, kemana kira-kira dia pergi hingga selama ini saat tiba-tiba ponselku berbunyi, sebuah pesan muncul di layar.

“Ada sesuatu yang harus kulakukan. kau teruskan saja makan malammu. Maaf, aku tak bisa menemanimu.” Bunyi pesan di ponselku. Aku terhenyak dan diam. Sesuatu penting apakah yang membuatnya harus meninggalkan aku dengan tiba-tiba di restoran ini? Dia yang mengusulkan Candle Light dinner ini, tapi dia juga yang memilih pergi tiba-tiba begini. Apa yang terjadi sebenarnya? Lama aku berpikir dan kusadari entah sejak kapan sikapnya padaku mulai berubah. Dia disisiku, tapi seolah dia tak ada bersamaku, pikirannya menerawang entah kemana.

Makan? Seorang diri? Tidak. Aku tak punya selera makan lagi. Aku putuskan untuk mencari tahu apa yang terjadi. Aku putuskan untuk kembali ke hotel dan mencari Seung Gi Oppa.

Tapi saat aku sampai di lorong hotel yang menuju kamarku, aku melihat mereka. Sepasang pria dan wanita yang sedang bercumbu dengan mesra, membuatku jengah saat menyaksikannya secara tak sengaja.

Sepasang pria dan wanita, mereka berpelukan erat, si wanita bersandar pada dinding sementara si pria menciumnya bertubi-tubi. Pria itu memunggungiku. Aku baru saja akan melangkah pergi saat tiba-tiba pria itu menarik kepalanya dan pelan-pelan menoleh padaku, kurasa dia bisa merasakan ada orang lain disekitarnya saat itu. Ia menoleh dan wajahnya tampak olehku. Wajahnya. Aku melihat wajahnya, aku nyaris tak percaya. 

“TIDAK!” teriakku tak percaya.

“Ternyata kau! Tidak mungkin! Kenapa kalian lakukan ini padaku?” jeritku terluka, airmata mengalir turun dari pipiku seketika. Hatiku sakit bagai dihantam ribuan meriam. Aku hanya bisa berdiri menatap mereka berdua dengan shock dengan airmata menetes pelan.

======

NB : Entah kenapa saya tiba-tiba memutuskan ingin mengganti nama pengkhianatnya dari Jung Jae Min (nama peran Jo In Sung di Memories In Bali) menjadi Park Seung Gi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar